NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.Ancaman Balik

HAPPY READING!!!!

FLASHBACK.

 Pagi harinya saat baru sampai di kantor......

Sebelum masuk ke dalam ruangan divisi keuangan, langkah Lora sempat terhenti ketika ia melihat Steven berjalan tergesa-gesa melewati lorong kantor. Pria itu terlihat aneh. Cara berjalannya terburu-buru, sementara matanya sesekali menoleh ke kanan dan kiri seolah memastikan tidak ada yang memperhatikan dirinya.

Beberapa detik kemudian ponselnya berdering. Steven segera menjawabnya, tetapi bukannya berbicara di tempat, ia justru berjalan semakin jauh menuju lorong belakang yang jarang dilewati karyawan.

Kecurigaan langsung muncul di benak Lora.

Tanpa bersuara ia mengikuti pria itu dari kejauhan. Langkahnya ringan namun penuh kehati-hatian. Sepatu haknya hampir tidak menimbulkan bunyi saat menyentuh lantai. Ia terus membuntuti Steven hingga pria itu berhenti di sudut lorong yang sepi, tempat yang nyaris tidak pernah dilewati siapa pun.

Di sana Steven akhirnya mengangkat panggilan itu.

“📞Halo, Pak Donni.”

Lora yang berdiri di balik dinding langsung menajamkan pendengarannya. Nama itu membuat alisnya sedikit terangkat. Dari ponsel Steven terdengar suara pria yang dingin dan penuh dendam.

📞“Steven, aku punya tugas bagus untukmu hari ini.”

📞“Tugas apa itu, Pak?”

📞“Aku ingin kamu membawa Lora keluar dari kantor siang ini. Anak buahku akan menyapanya dan memberikannya sedikit pelajaran karena sudah mencelakaiku. Gadis rendahan itu harus merasakan apa yang aku rasakan, bahkan harus lebih.”

Di balik dinding, sudut bibir Lora perlahan terangkat. Ia tersenyum tipis, matanya menyipit penuh ejekan.

"Jadi begitu rencananya."

Namun Steven tampaknya masih ragu.

📞“Bisa saja pak .Tapi.... bagaimana dengan bayarannya? Ini jauh berbeda dari rencana Ibu Delia.”

Donni tertawa kecil dari seberang sana. Suaranya terdengar licik.

📞“Soal bayaran kamu tenang saja. Aku akan mentransfer uang sepuluh juta ke rekeningmu jika kamu berhasil membawanya pada orang-orangku nanti.”

Wajah Steven langsung berubah cerah. Tawa kecil keluar dari bibirnya.

📞“Baiklah, aku akan melakukannya.”

📞" Aku akan mengirimkan alamat tempat kamu harus membawa Lora nanti.

📞"Baik pak aku pastikan semuanya akan berjalan dengan mulus."

Setelah mengatakan itu, ia segera mematikan panggilan.

Di balik dinding, Lora menutup mulutnya menahan tawa. Senyum sinis perlahan muncul di wajahnya.

“Ternyata banci itu mau mencoba mengeroyokku?” gumamnya pelan.

Ia lalu berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa. Namun sorot matanya berubah tajam.

_____

“AAKKHH…!”

Teriakan Lora tiba-tiba memecah suasana ruangan divisi keuangan. Tubuhnya kehilangan keseimbangan setelah kakinya tersandung sesuatu yang sengaja diluruskan di jalannya.

Namun sebelum ia benar-benar jatuh, sepasang tangan dengan cepat menangkap tubuhnya.

Steven.

Pria itu memegang pinggang Lora dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.

“Kamu baik-baik saja? Untung saja aku dengan cepat menangkapmu.”

Lora menatapnya beberapa detik.

Di dalam hatinya ia justru tersenyum puas.

"Bagus. Dia akhirnya masuk ke dalam perangkapku.kaki sialan itu harusnya aku hanya pura -pura terjatuh tapi dia membuatku hampir saja mencium lantai.''

Namun di wajahnya ia memasang ekspresi rapuh. Tubuhnya sedikit gemetar seolah benar-benar terkejut oleh kejadian itu.

“Terima kasih. Andai saja tidak ada kamu, mungkin wajahku akan membentur lantai.”

Lora perlahan melepaskan diri dari pelukan Steven lalu berdiri dengan sikap lemah seolah tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Ia sengaja memainkan perannya dengan sempurna. Ia tampak seperti gadis yang rapuh dan tak berdaya, seolah membutuhkan perlindungan.

Padahal sebenarnya ia hanya sedang menarik simpati dari seekor buaya buntung yang bahkan tanpa dipancing pun sudah siap menelan umpan.

Beberapa detik kemudian mata Lora melirik tajam ke arah kaki perempuan yang tadi sengaja menjegalnya. Tatapannya berubah dingin. Wajah perempuan itu langsung ia tandai di dalam ingatannya.

"Kamu akan mendapatkan balasanku… tapi tunggu setelah aku menyelesaikan urusanku ini dulu."

Lora kembali menoleh pada Steven dengan tatapan lembut seolah tidak terjadi apa-apa.

Di sekitar mereka, para karyawan mulai berbisik-bisik dengan nada mengejek.

“Sepertinya benar ucapan adik tirinya. Dia ke sini untuk menggoda pria-pria tampan karena tidak puas dengan suaminya yang cacat itu.”

“Hati-hati, nanti suamimu juga digoda olehnya.”

“Aku justru lebih takut jika dia menggoda kakak iparnya.”

“Apa? Maksudmu Pak Donni?”

“Iya. Karena perempuan jalang biasanya menggoda orang terdekatnya agar mudah untuk diterkam.”

Ucapan itu langsung disambut tawa kecil para karyawan.

Lora yang mendengar semuanya hanya menundukkan kepala sejenak. Wajahnya tampak tenang, tetapi di dalam hatinya amarah sedang mendidih.

"Aakkkhhh… ingin sekali aku mencabik-cabik mulut-mulut para kuman ini."

Namun ia menahan dirinya.

"Tapi.....Tidak sekarang. Aku harus menyingkirkan induk kumannya lebih dulu sebelum aku terinfeksi. Imunku masih cukup kuat untuk kuman-kuman kecil seperti mereka."

Lora masih tenggelam dalam pikirannya ketika tiba-tiba ia merasakan sentuhan di tangannya.

Ia tersentak kecil.

Steven baru saja menggenggam tangannya.

Steven menggenggam tangan Lora dengan cukup erat, seolah khawatir perempuan itu akan menolak ajakannya. Ia kemudian menarik Lora keluar dari ruangan divisi keuangan yang masih dipenuhi bisik-bisik para karyawan. Beberapa orang bahkan masih menatap mereka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, sementara sebagian lainnya terus berbisik sinis. Namun Steven sama sekali tidak peduli pada keributan itu. Ia tetap berjalan dengan santai, seolah sedang melakukan sesuatu yang sangat wajar.

“Kamu pasti sangat tidak nyaman berada di sini, ayo kita keluar dan mencari udara segar. Aku punya restoran rekomendasi untuk menyegarkan pikiranmu.”

Lora tidak menolak. Ia hanya mengikuti langkah Steven sambil membiarkan pria itu menggandeng tangannya keluar dari ruangan tersebut.

"Menenangkan pikiran, cih… aku tahu kamu bukan mau mengajakku ke restoran, tapi akan mengantarkanku pada anak buah Donni untuk menghabisiku."

Lora berjalan dengan tenang di samping Steven, seolah benar-benar mempercayai niat baik pria itu. Padahal di dalam kepalanya, ia sudah menyiapkan rencana lain.

Sesampainya di area parkir, Steven segera membuka pintu mobilnya dengan gaya yang berusaha terlihat elegan. Ia berdiri di samping pintu, menundukkan tubuh sedikit sambil menebar senyum yang menurutnya menawan.

“Silakan, nona cantik. Kecantikanmu itu pantas untuk mendapatkan perlakuan layaknya princes.”

Lora hampir saja memutar bola matanya mendengar kalimat itu. Rasanya seperti ingin memuntahkan isi perutnya saat mendengar rayuan murahan tersebut. Namun ia tetap memasang wajah tenang dan masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara.

Steven lalu menutup pintu mobil dengan hati-hati sebelum bergegas masuk ke kursi pengemudi di sampingnya.

Ketika pria itu baru saja duduk dan hendak menyalakan mobil, Lora tiba-tiba mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.

Gerakannya begitu cepat.

Dalam sekejap, ujung pisau itu sudah menempel tepat di leher Steven.

Tubuh pria itu langsung membeku.

Matanya melebar ketika merasakan ujung logam dingin menekan kulit lehernya.“Lora… jangan bermain-main dengan benda berbahaya seperti itu. Kamu tahu ini bisa mengancam nyawaku.”

.

.

.

💐💐💐Bersambung 💐💐💐

Dikira lora doyan buaya buntung apa yaa sorry dulu yaa Devon lebih menggoda di banding buaya buntung suruhan Delia🤣

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!