Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 10 - SUSU KOTAK YANG TAK DIMINTA
Malam di kamar Ara selalu sama.
Lampu belajar yang kuning, buku-buku yang rapi, catatan yang tersusun di pojok kiri meja. Teratur. Terkendali. Namun seperti tanpa nyawa.
Ara berbaring di kasurnya dan menatap langit-langit untuk malam ketiga berturut-turut dengan pikiran yang tidak mau diajak beristirahat.
Tawaran Gill masih ada di kepalanya. Masih duduk di sana dengan caranya yang tidak meminta perhatian tapi tidak bisa diabaikan, seperti lagu yang tidak kamu pilih tapi terus berputar karena sudah terlanjur masuk.
Pura-pura pacaran.
Ara memejamkan matanya.
Dari sudut pandang yang paling praktis, itu bukan ide yang sepenuhnya buruk. Via butuh bukti bahwa Ara punya alasan sendiri untuk tidak memilih Mike. Gosip yang sudah terlanjur menyebar membutuhkan sesuatu yang mengkonfirmasi atau membantahnya dengan tegas. Dan Ara sudah terlalu lelah dengan posisi di tengah yang tidak memberikan kejelasan kepada siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Tapi dari sudut pandang yang lain.
Ini adalah Gian William. Seseorang yang bahkan tidak ingat wajah Ara sampai pertemuan ketiga. Seseorang yang memanggil Ara cewe gila dengan nada yang sama seperti orang menyebut menu kantin. Seseorang yang bermain ponsel sementara Ara bercerita tentang hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada banyak orang.
Seseorang yang juga, tanpa diminta, melihat sesuatu yang bahkan orang-orang yang sudah mengenal Ara bertahun-tahun tidak melihat atau tidak mau melihat.
Kamu kelihatan lelah.
Ara membuka matanya.
Menatap langit-langit.
Apa yang sebenarnya ia takutkan dari tawaran itu? Bukan reputasinya, karena gosip sudah terlanjur berjalan sendiri. Bukan perasaan Via, karena justru ini untuk Via. Bukan Mike, karena Mike adalah masalah yang berbeda dan terpisah.
Ara menelusuri jujurnya sendiri pelan-pelan.
Yang ia takutkan adalah hal yang lebih sederhana dan lebih memalukan dari itu.
Bahwa ia mungkin tidak sepenuhnya tidak suka dengan ide tersebut. Dan itu menakutkan bukan karena Gill, tapi karena itu berarti ada bagian dari dirinya yang sudah bergerak ke arah tertentu tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Dan Tiara Alexsandra tidak terbiasa dengan bagian dari dirinya yang bergerak tanpa izin.
Ara menarik napas panjang.
Lalu membuangnya pelan.
Lalu mengambil ponselnya dari meja dan membuka layarnya.
Ada notifikasi dari Via yang masuk sekitar sejam lalu dan belum ia buka. Ara mengetuknya.
*Ara. Besok cerita yang beneran ya. Aku masih belum percaya sepenuhnya. Tapi aku mau dengerin.*
Ara menatap pesan itu lama.
Via tidak menuntut. Tidak marah. Hanya meminta kejujuran dengan cara Via yang tidak pernah memperhalus permintaannya tapi selalu menyampaikannya dengan niat yang jelas.
Dan Ara tahu, membaca pesan itu, bahwa ia tidak bisa terus setengah-setengah.
Gill benar soal itu.
Kalau kamu mau berbohong, berbohonglah sampai akhir.
Ara meletakkan ponselnya di dada, menatap langit-langit sekali lagi, dan membuat keputusan yang mungkin akan ia sesali atau mungkin tidak tapi yang pasti tidak bisa ia tunda lebih lama.
Besok ia akan menerima tawaran Gill.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Tidak tahu bagaimana cara Gill menjalani ini, tidak tahu seberapa jauh ini perlu dibawa, tidak tahu apakah akhirnya akan baik-baik saja atau tidak. Tapi ia tahu bahwa tetap diam dan membiarkan semuanya menggantung tidak akan membantu siapa pun, termasuk Via yang sudah cukup lama menanggung sesuatu sendirian.
Ara menutup matanya.
Tidur datang lebih cepat dari malam-malam sebelumnya.
---
Pagi di Eldria International.
Ara tiba di kelas dengan langkah yang lebih teratur dari dua hari terakhir. Bukan karena semuanya sudah selesai, tapi karena setidaknya ia sudah tahu ke mana ia berjalan bahkan kalau jalannya masih sedikit kabur di tepianya.
Ia meletakkan tasnya. Duduk. Mengeluarkan buku catatannya.
Via belum datang.
Mike juga belum ada.
Kelas masih setengah kosong, suasananya masih pagi yang belum sepenuhnya terbangun, dan Ara duduk di bangkunya dengan kepala yang untuk pertama kalinya dalam tiga hari tidak langsung berpacu ke mana-mana begitu ia berhenti bergerak.
Lima menit berlalu.
Lalu Sepuluh.
Lalu Lima belas.
Beberapa siswa masuk, meletakkan tas, mulai mengobrol. Suara kelas perlahan naik dari sunyi menjadi ramai dengan ritme yang sudah sangat Ara hafal.
Dan kemudian Mike masuk.
Ia melihat Ara langsung begitu masuk pintu, seperti biasa, karena Mike adalah tipe orang yang selalu tahu di mana mencari orang yang ia cari tanpa harus melihat ke seluruh ruangan terlebih dahulu. Senyumnya sudah terpasang, langkahnya sudah mengarah ke bangku Ara sebelum ia selesai menutup pintu di belakangnya.
Ara menarik napas pelan.
Baik.
Mike berdiri di sisi mejanya, tangan dimasukkan ke saku celana, postur yang santai tapi matanya yang bertanya tidak santai sama sekali. "Kemarin keburu gurunya masuk," ia membuka percakapan. "Jadi, gimana? Gosip itu bener?"
Ara mengangkat kepalanya menatap Mike.
Selama tiga detik ia hanya menatap wajah yang sangat familiar itu. Wajah yang sudah ia kenal sejak kelas satu. Wajah yang pernah, atau mungkin ia pikir pernah, membuat sesuatu di dadanya bergerak dengan cara tertentu.
Dan sekarang ia duduk di sini, hendak mengkonfirmasi sesuatu yang dua hari lalu adalah kebohongan dan sekarang sedang dalam proses menjadi sesuatu yang ia sendiri belum tahu namanya.
Ara membuka mulutnya.
Namun sebelum satu kata pun keluar, sesuatu diletakkan di meja di depannya.
Kotak susu.
Kecil, persegi, dengan sedotan kecil yang sudah ditusukkan di lubangnya. Full cream. Merek yang sama dengan yang ibunya beli di minimarket.
Ara menatap kotak susu itu.
Lalu mengangkat kepala mengikuti tangan yang meletakkannya.
Gill berdiri di sisi mejanya yang lain, tas di punggung, seragam rapi, wajah dengan ekspresi yang sama sekali tidak menyiratkan bahwa ia baru saja berjalan masuk ke kelas yang bukan kelasnya dan meletakkan susu di meja seseorang di hadapan puluhan saksi.
Matanya tidak ke Ara.
Matanya ke Mike.
"Gosip itu benar," Gill berkata. Bukan dengan nada yang menantang, tidak pula dengan nada yang membutuhkan konfirmasi dari siapa pun. Hanya datar, langsung, seperti seseorang yang menyampaikan fakta yang sudah ada sebelum ditanyakan. "Kami pacaran."
Hening.
Bukan hening yang kecil dan terbatas di antara tiga orang. Hening yang menyebar ke seluruh kelas seperti gelombang, melewati bangku-bangku, memutus semua obrolan yang sedang berlangsung, membuat kepala demi kepala berbalik ke arah meja Ara dengan kecepatan yang hampir seragam.
Ara duduk diam.
Tidak bergerak.
Di dalam kepalanya, satu suara kecil yang terdengar sangat mirip dengan dirinya sendiri berkata. Ini bukan cara yang ia bayangkan menerima tawaran itu.
Mike menatap Gill selama dua detik. Lalu menatap Ara. Lalu kembali ke Gill. Ekspresi di wajahnya berubah dengan cara yang halus tapi cukup untuk Ara tangkap, sesuatu yang bergeser di balik senyumnya yang biasanya tidak pernah bergeser.
"Eh," Mike berkata akhirnya. Satu suku kata yang tidak memberikan informasi apa pun.
Gill tidak menunggu respons lebih lanjut.
Ia menoleh ke Ara sebentar, matanya memberikan sesuatu yang kalau harus Ara terjemahkan berbunyi seperti 'sudah, beres, dan sekarang terserah kamu mau berbuat apa dengan ini.'
Lalu ia berbalik dan berjalan keluar kelas.
Seluruh kelas XI-A menatap punggungnya sampai ia menghilang di balik pintu.
Lalu seluruh kelas XI-A menatap Ara.
Ara duduk di bangkunya, kotak susu di depannya, tangan di atas meja, dengan ekspresi yang ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ditampilkannya karena otaknya sedang terlalu sibuk memproses apa yang baru saja terjadi untuk juga mengurus wajahnya.
Mike masih berdiri di sisi mejanya. Ia menarik napas pelan, senyumnya kembali ke tempatnya meski terasa sedikit berbeda dari sebelumnya. "Itu.. " ia berkata, nadanya dijaga sangat hati-hati. "Aku lupa ada tugas OSIS, aku pergi dulu."
Lalu ia berjalan keluar kelas juga.
Keheningan bertahan dua detik lagi setelah pintu kelas tertutup.
Lalu semua orang mulai berbicara sekaligus.
---
Ara tidak ingat dengan jelas bagaimana pelajaran jam pertama berlangsung.
Yang ia ingat adalah duduk di bangkunya dengan kepala yang tidak sepenuhnya hadir sementara guru menjelaskan sesuatu di depan kelas. Yang ia ingat adalah beberapa kepala menoleh ke arahnya lebih dari biasanya. Yang ia ingat adalah kotak susu yang masih ada di sudut mejanya karena ia tidak tahu harus diapakan dan membuangnya terasa seperti tindakan yang terlalu simbolis untuk dilakukan di depan orang banyak.
Yang paling ia ingat adalah satu kalimat yang terus berputar di kepala.
*Kami pacaran.*
Diucapkan oleh Gill. Di depan seluruh kelas. Tanpa meminta konfirmasi darinya terlebih dahulu.
Tepat seperti tawaran kemarin yang juga datang tanpa didahului oleh terlalu banyak basa-basi.
Ara menopang dagunya dengan satu tangan, menatap papan tulis yang penuh tulisan, dan menyadari bahwa ia sekarang secara resmi berada di dalam situasi yang ia setujui semalam sebelum tidur tapi tidak dengan cara yang ia bayangkan, lebih cepat dari yang ia siapkan, dan dengan saksi lebih banyak dari yang seharusnya diperlukan.
Via.
Ara menoleh ke bangku Via yang masih kosong. Belum datang sejak tadi.
Ini akan menjadi percakapan yang menarik.
---
Via datang terlambat tepat saat jam pertama selesai dan jam kedua belum mulai.
Ia masuk dengan surat izin di tangan, menyerahkannya ke guru yang sedang berganti di depan kelas, lalu berjalan ke bangkunya sambil melirik berkeliling dengan cara yang menyampaikan bahwa ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari atmosfer kelas ini tapi belum tahu apa.
Ia duduk di sebelah Ara.
Meletakkan tasnya.
Lalu matanya jatuh ke kotak susu di sudut meja Ara.
Via menoleh ke Ara. "Itu apa?"
"Susu," Ara menjawab.
"Aku tau itu susu. Dari siapa?"
Ara membuka mulutnya, dan Via langsung menatapnya dengan ekspresi yang menyampaikan bahwa ia sudah setengah tahu jawabannya dan sedang menunggu konfirmasi.
"Gill," Ara menjawab.
Via diam selama tiga detik penuh. Lalu, dengan nada yang sangat terkontrol, "Kapan?"
"Tadi pagi. Sebelum kamu datang."
"Dia masuk ke kelas ini?"
"Iya."
"Dan ngasih kamu susu."
"Iya."
"Di depan semua orang."
"Iya."
Via menatap kotak susu itu beberapa detik lagi. Lalu menatap Ara. Lalu menatap ke depan kelas dengan ekspresi seseorang yang sedang memproses informasi dalam jumlah yang cukup besar.
"Dia juga bilang sesuatu?" Via bertanya akhirnya.
Ara menarik napas. "Dia bilang ke Mike bahwa gosip itu benar dan kami pacaran."
Hening.
Guru jam kedua sudah masuk dan mulai menulis di papan tulis. Suara kapur berderak mengisi ruangan.
Via tidak bergerak dari posisinya. Tidak menoleh ke Ara. Hanya menatap ke depan dengan rahang yang sedikit mengencang dan bahu yang naik setengah tingkat dari posisi normalnya.
"Via," Ara berkata pelan.
"Pelajaran mau mulai," Via menjawab, mengambil buku catatannya dari tas.
"Via—"
"Nanti." Satu kata. Datar. Tapi bukan marah, Ara bisa membedakannya. Lebih seperti seseorang yang membutuhkan sedikit waktu sebelum bisa memproses sesuatu dengan cara yang tepat.
Ara menutup mulutnya dan menghadap ke depan.
Guru mulai menjelaskan. Pelajaran berjalan. Kapur berderak dan halaman buku dibalik dan waktu terus berjalan seperti biasanya.
Di bawah meja, tanpa berkata apa-apa, Via menggeser tangannya dan menyentil lengan Ara satu kali dengan cara yang mereka berdua sudah gunakan sejak kelas satu untuk menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata di dalam kelas.
Dalam bahasa rahasia yang sudah lama tidak terpakai itu, satu sentilan berarti. Aku baik-baik saja, hanya butuh waktu.
Ara menarik napas lega yang sangat pelan.
Menatap ke depan kelas.
Di luar jendela, langit Eldria yang tadi pagi mendung mulai terbuka sedikit di satu sudutnya, membiarkan cahaya masuk dengan ragu-ragu seperti seseorang yang mengetuk pintu tapi belum yakin akan disambut.
Ara menatap celah cahaya itu.
Dan di sudut kepalanya yang kecil, di tempat yang tadi malam membuat keputusan tanpa terlalu banyak berpikir, sesuatu yang ia belum bisa beri nama mulai bergerak dengan sangat pelan ke arah yang belum ia tahu ujungnya.