Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Satu per satu sosok bertumbangan. Suasana di dalam bus dipenuhi oleh pekikan kesakitan dan dentum benturan fisik. Sopir bus, yang sejak awal sudah kehilangan keberaniannya, segera menghentikan bus secara mendadak di pinggir jalan dan melarikan diri dari tempat kejadian karena ketakutan setengah mati.
Sepuluh menit berlalu. Keheningan yang mencekam mulai menyelimuti kabin bus, hanya diinterupsi oleh rintihan dan erangan kesakitan. Kecuali si gadis yang masih meringkuk di pojokan dengan wajah pucat pasi, seluruh penumpang pria yang tadi menyerang Zhang Yuze telah tumbang. Mereka terkapar di lantai, memenuhi lorong bus dalam kondisi yang mengenaskan.
Zhang Yuze dengan tenang memungut tasnya yang sempat terjatuh. Ia melangkah perlahan mendekati gadis itu. Melihat targetnya mendekat, sang gadis gemetar hebat, menatap Zhang Yuze dengan mata bulat yang ketakutan layaknya seekor anak rusa yang terpojok.
Zhang Yuze menyunggingkan senyum jenaka yang penuh kemenangan. "Semua ini adalah hasil karyamu sendiri, jadi jangan salahkan aku! Kau yang harus bertanggung jawab atas kekacauan ini. Aku hanya membela diri, bukan?"
Setelah itu, ia tertawa terbahak-bahak dengan gaya kemenangan yang sangat mirip dengan karakter ikonik Stephen Chow—penuh kemenangan sekaligus menjengkelkan.
Namun, saat ia melangkah menuju pintu bus untuk keluar, ia baru menyadari bahwa pintu tersebut terkunci rapat. Sopir bus yang ketakutan tadi ternyata telah mengunci pintu sebelum kabur entah ke mana.
"Sialan!" umpat Zhang Yuze kesal.
Tanpa pilihan lain, ia berjalan menuju jendela bus yang terbuka. Sebelum melompat keluar, ia sempat menoleh kembali ke arah gadis itu, melambaikan tinjunya di udara sebagai pesan peringatan yang jelas: 'jangan cari masalah denganku lagi'. Dengan sekali gerakan tangkas, ia melompat keluar jendela dan menghilang.
Gadis itu terpaku di tempatnya. Ia menatap nanar ke sekelilingnya, melihat orang-orang yang terluka dan mengerang kesakitan karena ulahnya. Matanya mulai berkaca-kaca, dadanya sesak oleh rasa sesal dan amarah yang bercampur aduk. Ia merasa sangat terhina.
"Dasar bocah nakal... jika aku sampai bertemu denganmu lagi, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu begitu saja!"
Napas gadis itu memburu, dadanya naik-turun dengan cepat saat ia menggertakkan gigi, menyimpan dendam baru yang jauh lebih dalam di dalam hatinya.
***
Dalam perjalanan pulang, Zhang Yuze diliputi perasaan yang bertolak belakang—takut sekaligus bersemangat—oleh apa yang baru saja terjadi. Dadanya naik turun, napasnya masih belum sepenuhnya teratur, seakan seluruh ketegangan yang lama mengendap di dalam dirinya akhirnya menemukan jalan keluar. Ia merasa seolah-olah telah meluapkan semua amarah dan tekanan yang selama ini terpendam, dilepaskan sekaligus tanpa sisa.
Namun justru perasaan bersemangat itulah yang membuatnya terkejut. Zhang Yuze tersentak oleh kesadaran itu sendiri. Mengapa aku merasa senang? pikirnya. Apa jangan-jangan aku ini orang yang gemar kekerasan? Jika tidak, bagaimana mungkin hatinya berdebar oleh sensasi semacam ini? Pikiran itu membuatnya bergidik. Ia menggelengkan kepala, mencoba menepis rasa gelisah yang perlahan merayap.
Ketika tiba di gedung apartemennya, Zhang Yuze merasa cukup beruntung karena tidak berpapasan dengan siapa pun yang ia kenal. Dengan penampilannya yang kusut dan aura yang masih menyisakan kegaduhan, ia tampak lebih mirip pencuri ketimbang penghuni tetap. Andai para petugas keamanan yang telah menjalani pelatihan ketat itu tidak mengenalnya sebagai warga, mustahil mereka akan membiarkannya masuk begitu saja.
Di area parkir, pandangannya tertumbuk pada sebuah mobil sport Bentley berwarna abu-abu yang entah sejak kapan terparkir di sana. Zhang Yuze tertegun sejenak. Mobil semacam itu sangat langka di Nanmin. Kalaupun ada, pasti milik tokoh berpengaruh atau orang berkantong tebal. Ia tidak menyangka kendaraan semewah itu muncul tepat di bawah tempat tinggalnya. Siapa yang dicari pemiliknya?
Ia menatap mobil itu dengan rasa iri yang jujur, namun tak berlama-lama. Dalam benaknya terlintas keyakinan yang samar namun kuat: jika kelak ia mampu memperoleh kemampuan luar biasa yang lebih hebat lagi, memiliki mobil seperti itu bukanlah hal mustahil. Dengan pikiran itu, ia melangkah pergi.
Seperti pencuri yang takut ketahuan, Zhang Yuze berjalan hati-hati menuju pintu unitnya. Namun tepat ketika ia hendak membuka pintu, pintu di seberang terbuka. Guo Xiaolu melangkah keluar bersama seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian kasual rapi. Pemuda itu memancarkan aura elegan dan terpelajar; tipe pria yang, jika berjalan di jalanan, pasti akan menarik perhatian banyak wanita.
Melihat Guo Xiaolu berjalan berdampingan dengannya, hati Zhang Yuze seketika tenggelam.
Namun, ia sadar dirinya tidak berada pada posisi untuk mengomentari apa pun. Dengan ekspresi datar, ia sekadar melirik mereka berdua, tidak menyapa, lalu masuk ke unitnya sendiri.
Guo Xiaolu sebenarnya hendak menyapanya. Namun ketika melihat Zhang Yuze hanya menoleh sekilas lalu menghilang di balik pintu, ia merasa aneh. Ia tidak mengerti mengapa Zhang Yuze bersikap dingin padanya. Apakah ia sedang tidak enak hati? Guo Xiaolu tidak memikirkannya terlalu jauh. Yang justru memperhatikan adalah pemuda di sampingnya. Ia menatap pintu Zhang Yuze dengan sorot mata yang dalam, cahaya ganjil berkelebat di matanya—jelas sedang memikirkan sesuatu.
Di dalam kamarnya, Zhang Yuze berdiri terdiam cukup lama. Ia baru menyadari bahwa sasaran utamanya kini telah memiliki pesaing—dan pesaing itu tampak kuat. Ini bukan kabar baik. Ia melangkah ke jendela dan menatap ke bawah. Guo Xiaolu dan pemuda itu terlihat berjalan berdampingan, berbincang dengan suasana akrab.
Ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dadanya.
Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu yang pahit: hampir setiap gadis luar biasa pasti memiliki pengejar yang sama luar biasanya. Anggapan bahwa para gadis cantik dalam novel daring akan menunggu tanpa syarat hingga sang tokoh utama datang menjemput mereka satu per satu hanyalah khayalan belaka.
Saat perasaannya kian terpuruk, sebuah mobil sport mewah meluncur keluar dari area parkir. Bentley abu-abu itu.
“Sial… dia benar-benar kaya,” gumam Zhang Yuze, terkejut. Lawannya dalam urusan perasaan ternyata bukan orang sembarangan. Bentley itu saja mungkin bernilai lebih dari seluruh kekayaan keluarganya. Orang tuanya memang pegawai negeri, namun meski ada penghasilan tambahan, rasanya mustahil menembus angka satu juta. Dengan kenyataan itu, Zhang Yuze tiba-tiba merasa masa depannya tampak suram. Jangankan gadis berperingkat tinggi, bahkan untuk meraih yang biasa pun terasa mustahil.
“Tidak bisa begini,” katanya lirih. Aku sudah punya modal batin—sekarang aku harus mengejar modal lahiriah. Ia meneguhkan tekadnya untuk mencari cara menghasilkan uang dalam jumlah besar. Jika tidak, jangan bicara soal mendekati gadis, bahkan mempertahankan kebutuhan harian pun akan sulit.
Bentley itu menjauh. Zhang Yuze menghela napas lega ketika melihat Guo Xiaolu tidak ikut pergi. Namun rasa lega itu segera berubah menjadi kecemasan saat ia melihat pemuda tersebut menyerahkan sebuket mawar kepada Guo Xiaolu—dan Guo Xiaolu menerimanya. Krisis pun terasa nyata.