Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Akting yang Memukau
Malam itu, hujan gerimis mulai membasuh Jakarta, menambah kesan kelabu di kediaman Erian dan Nadya. Di sebuah hotel berbintang yang tak jauh dari sana, Erian sedang termenung menatap lampu kota, mencoba mencari titik terang dari kekacauan hidupnya tanpa menyadari bahwa setiap langkahnya sudah diprediksi.
Marlon menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah. Ia merapikan kemejanya, memasang wajah lelah namun bersahabat—topeng yang sudah ia latih dengan sempurna di depan cermin. Ia tahu Erian tidak ada di sana. Ia tahu Nadya sedang rapuh. Dan ia tahu, ini adalah saatnya serigala masuk ke dalam kandang domba dengan bulu domba yang paling putih.
TING-NONG...
Suara bel rumah memecah keheningan yang menyesakkan. Nadya, dengan mata yang masih merah dan bengkak, berjalan perlahan membuka pintu. Ia terkejut melihat sosok pria tinggi yang berdiri di sana dengan tas kerja di tangannya.
"Marlon?" sapa Nadya lirih, suaranya serak.
Marlon langsung memasang ekspresi terkejut yang sangat natural. Ia membelalakkan matanya sedikit, lalu menatap Nadya dengan tatapan khawatir yang dalam.
"Mbak Nadya? Ya Tuhan... Mbak kenapa? Kok wajahnya... Mbak habis menangis?" tanya Marlon dengan nada yang sangat tulus, seolah ia benar-benar baru menyadari kondisi Nadya.
Nadya hanya menunduk, mencoba menyeka sisa air mata di sudut matanya. "Nggak apa-apa, Lon. Ada apa malam-malam ke sini?"
"Oh, ini Mbak... Mas Erian ada? Tadi di kantor kami belum sempat menyelesaikan bahasan soal berkas audit yang tadi siang bermasalah. Saya pikir dia pulang lebih awal karena mau lanjut di rumah, jadi saya mampir sebentar mau kasih data tambahan," ucap Marlon sambil melongok ke dalam rumah, pura-pura mencari keberadaan Erian.
Nadya terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekat. "Mas Erian... dia nggak ada di rumah, Lon."
"Lho? Nggak ada? Jam segini biasanya dia sudah santai di depan TV," sahut Marlon dengan nada bingung yang dibuat-buat. "Lalu dia di mana, Mbak? Apa ke rumah orang tuanya? Ponselnya tadi saya hubungi juga susah masuk."
"Dia... dia menginap di hotel," jawab Nadya singkat, bibirnya bergetar saat mengucapkan kata 'hotel'. Bayangan Erian bergumul dengan Stefani semalam kembali melintas.
Marlon tertegun, mulutnya sedikit terbuka seolah ia baru saja mendengar berita yang paling mustahil di dunia. "Di hotel? Sendirian? Tapi kenapa, Mbak? Bukannya Mas Erian itu orangnya sangat family man? Dia nggak pernah mau tidur jauh dari Mbak Nadya, kan?"
Nadya tidak kuat lagi. Pertanyaan-pertanyaan "polos" dari Marlon justru semakin menyayat lukanya. Ia kembali terisak pelan di ambang pintu.
Marlon segera melangkah maju, tangannya menggantung di udara seolah ingin merangkul namun ia menahan diri agar terlihat sopan. "Ya ampun, Mbak... maafkan saya. Saya benar-benar nggak tahu kalau kalian lagi ada masalah. Saya pikir semuanya baik-baik saja."
Ia menghela napas panjang, wajahnya berubah menjadi sangat prihatin. "Mbak, saya ini sahabat Mas Erian, tapi melihat Mbak seperti ini... hati saya ikut sakit. Apa karena masalah audit di kantor tadi siang ya, Mas Erian jadi emosional di rumah?"
Nadya mendongak, matanya yang basah menatap Marlon. "Audit? Masalah apa di kantor, Lon?"
Marlon menggigit bibir bawahnya, berakting seolah ia salah bicara. "Aduh... saya bodoh. Seharusnya saya nggak bilang sekarang. Tapi... ya, Mas Erian sedang dalam investigasi internal, Mbak. Ada masalah keuangan. Tapi saya yakin Mas Erian orang baik! Cuma ya itu... belakangan ini dia memang agak... berubah."
Marlon menatap Nadya dalam-dalam, sebuah tatapan yang penuh dengan empati palsu. "Boleh saya masuk sebentar, Mbak? Hanya untuk memastikan Mbak Nadya tenang. Saya nggak tega meninggalkan Mbak dalam keadaan seperti ini sendirian di rumah besar ini."
Nadya, yang merasa sangat kesepian dan butuh sandaran, akhirnya mengangguk pelan. Ia tidak tahu bahwa dengan mengizinkan Marlon masuk, ia baru saja mengizinkan sang pemangsa untuk lebih dekat dengan jantung pertahanannya.
Marlon melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah yang sangat terjaga, seolah-olah ia merasa sangat bersalah karena telah mengganggu privasi keluarga itu di saat yang tidak tepat. Begitu ia sampai di ruang tamu, pandangannya langsung tertuju pada Stefani.
Wanita itu sedang duduk bersandar di sofa tunggal dengan kaki yang menyilang, tampak sangat santai seolah rumah itu sudah menjadi miliknya sendiri. Di tangannya terdapat sebuah buku katalog mobil mewah yang sedang ia baca dengan serius.
"Mbak Stefani? Lho, ada di sini juga?" tanya Marlon, kembali memainkan perannya dengan wajah kaget yang sempurna.
Stefani mendongak, menutup katalog mobilnya perlahan. Ia memberikan tatapan yang terlihat lelah namun tetap sopan di depan Nadya. "Iya, Lon. Mbak Nadya memintaku tinggal dulu di sini. Habis kejadian semalam... aku merasa nggak aman kalau sendirian di apartemen, dan Mbak Nadya juga butuh teman."
Marlon mengangguk-angguk kecil, lalu matanya melirik katalog di tangan Stefani. "Katalog mobil? Wah, mau beli mobil baru, Stef?"
"Iya, Lon," jawab Stefani sambil menghela napas panjang, matanya melirik Nadya dengan tatapan 'korban'. "Capek juga kalau harus naik taksi terus. Apalagi setelah kejadian traumatis kemarin... aku rasa punya mobil sendiri jauh lebih aman buat aku yang cuma asisten butik ini. Aku lagi cari yang compact tapi nyaman."
Marlon tersenyum tipis—senyum yang hanya dipahami oleh Stefani sebagai sinyal bahwa "dana hasil kerja sama mereka" akan segera mengalir. "Bagus itu. Keamanan memang nomor satu, apalagi buat wanita seperti kalian."
Marlon kemudian menoleh kembali pada Nadya yang duduk di sofa seberang dengan wajah tertunduk. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"Mbak Nadya, maaf kalau saya lancang," bisik Marlon dengan nada suara yang rendah dan sangat lembut. "Tapi melihat Mbak Nadya, Mbak Stefani... dan Mas Erian yang justru memilih tidur di hotel di saat kalian sedang butuh penjelasan... saya merasa ada yang salah. Mas Erian sahabat saya, tapi sebagai pria, saya nggak bisa membenarkan tindakannya yang lari dari tanggung jawab seperti ini."
Stefani menimpali dengan suara yang bergetar. "Benar, Lon. Mas Erian malah pergi gitu aja... meninggalkan Mbak Nadya yang hancur. Aku jadi merasa bersalah banget ada di sini, tapi kalau aku pergi, aku takut Mbak Nadya kenapa-kenapa."
Nadya hanya terisak pelan mendengar pembicaraan mereka. Di kepalanya, narasi yang dibangun Marlon dan Stefani menyatu dengan sempurna: Erian adalah suami yang melakukan kesalahan, lari dari masalah ke hotel, dan mungkin saja sedang "merayakan" kebebasannya di sana sementara Nadya merana.
"Sudah, Mbak... jangan menangis lagi," Marlon bergeser sedikit lebih dekat, memberikan selembar tisu pada Nadya. "Kalau Mas Erian nggak mau pulang, biar saya yang di sini sebentar menemani kalian. Saya akan pastikan nggak akan ada yang menyakiti Mbak Nadya lagi malam ini."
Di atas meja, katalog mobil itu tetap terbuka, menjadi simbol dari "bayaran" yang sedang dinikmati Stefani atas kehancuran rumah tangga sahabatnya sendiri.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭