NovelToon NovelToon
Setelah 100 Hari

Setelah 100 Hari

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:8.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Itha Sulfiana

"Setelah aku pulang dari dinas di luar kota, kita akan langsung bercerai."

Aryan mengucapkan kata-kata itu dengan nada datar cenderung tegas. Ia meraih kopernya. Berjalan dengan langkah mantap keluar dari rumah.

"Baik, Mas," angguk Anjani dengan suara serak.

Kali ini, dia tak akan menahan langkah Aryan lagi. Kali ini, Anjani memutuskan untuk berhenti bertahan.

Jika kebahagiaan suaminya terletak pada saudari tirinya, maka Anjani akan menyerah. Demi kebahagiaan dua orang itu, dan juga demi kebahagiaan dirinya sendiri, Anjani memutuskan untuk meninggalkan segalanya.

Ya, walaupun dia tahu bahwa konsekuensi yang akan dia hadapi sangatlah berat. Terutama, dari sang Ibu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meninggalkan rumah

Pulang dari kantor, Aryan merasakan tubuhnya begitu sangat lelah. Saat tiba di rumah, suasana terasa begitu sangat sepi.

Tak ada sambutan hangat seperti yang biasa dia dapatkan. Tak ada yang membantunya membuka jas yang masih dipakai. Tak ada yang memijat kaki dan tangannya saat dia duduk di sofa.

Kini, Aryan benar-benar sadar jika rumahnya tidak memiliki nyawa saat Anjani tak ada. Namun, penyesalan itu sudah tak berguna lagi.

Hubungannya dan Anjani sudah terlanjur rusak. Dan, tersangka utamanya bukan orang lain, melainkan Aryan sendiri.

"Bagaimana keadaan kamu sekarang, Anjani?" gumam Aryan sembari duduk di sofa sambil menatap langit-langit ruangan.

Ia merasa telah mengambil keputusan yang salah. Namun, mau bagaimana lagi? Janji tetaplah janji. Dia harus menunaikan janji itu kepada Luna.

Tak! Tak! Tak!

Suara langkah kaki yang menuruni tangga sontak membuat Aryan jadi menegakkan punggungnya kembali. Dia menoleh.

Dalam sepersekian detik, tubuhnya mematung.

"Anjani? Kamu pulang?" seru Aryan kaget sekaligus bahagia.

Tanpa pikir panjang, dia langsung berdiri dan menghambur memeluk sosok Anjani. Dipeluknya wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu sambil tersenyum bahagia.

Segala penat dan lelah yang semula terasa, kini langsung luruh. Anjani benar-benar menjadi obat yang sangat mujarab untuk Aryan.

"Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu baik-baik saja, sekarang? Kenapa pulang tidak bilang-bilang, hm?"

Aryan mencecar Anjani dengan banyak pertanyaan. Ia memeriksa keadaan Anjani dengan seksama. Matanya berbinar, saat menyadari jika Anjani yang ada dihadapannya memang benar-benar nyata.

"Minggir," desis Anjani.

Saat itulah Aryan sadar jika tangan kiri Anjani sedang memegang sebuah koper. Perasaan Aryan langsung berubah jadi tak karuan.

"Kamu... mau kemana?" tanya Aryan dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

"Setelah satu bulan, perceraian kita akan otomatis disahkan oleh pengadilan. Jadi, mulai sekarang kita harus tinggal terpisah. Aku akan keluar dari rumah ini."

"Anjani..." Mulut Aryan tampak terbuka. Tapi, dia tidak tahu harus melanjutkan kata-katanya dengan kalimat seperti apa.

"Kenapa kamu buru-buru ingin pergi?" Akhirnya, hanya kata-kata itu yang berhasil Aryan pikirkan.

"Karena aku tidak tahan tinggal bersama orang seperti kamu," jawab Anjani dengan sorot kebencian yang memenuhi sepasang matanya.

"Memangnya, aku orang yang seperti apa?" tanya Aryan dengan dada yang terasa berdenyut nyeri sekali.

"Jahat," balas Anjani seraya tersenyum miring.

Langkah Aryan surut ke belakang. Cara Anjani mengucapkan kata-kata itu sangat menyakitinya.

"Anjani... sejak kapan aku berbuat jahat kepadamu? Aku tidak pernah seperti itu, Anjani."

Plak!

Anjani langsung menampar Aryan. Sebenarnya, dia sudah menahan diri sedari tadi. Namun, tetap saja emosi menang melawan akal sehatnya.

"Jangan berpura-pura baik di sini, Aryan! Kamu pikir, aku akan memaafkan kamu, hah?" geram Anjani penuh amarah.

"Sebenarnya, apa salahku?" tanya Aryan dengan tatapan memelas.

Anjani mengerjap sebentar. Dia menarik kerah jas Aryan dengan kuat.

"Kenapa kamu merantai Mama ku?" tanya Anjani dengan sorot mata tajam penuh amarah.

Wajah Aryan seketika jadi pias. "A-aku..."

"Mama ku manusia, Aryan. Tapi, kenapa kamu memperlakukannya seperti binatang, hah?" potong Anjani penuh emosi.

"Anjani..." lirih Aryan. "Aku melakukannya karena terpaksa. Aku hanya tidak ingin Tante Mariana menyakiti kamu lagi."

"Siapa yang memberimu hak untuk memperlakukan Mama ku seperti itu, hah? Siapa yang memberimu hak untuk mengikat Mama ku dengan rantai besi? Dia bukan anjing. Dia manusia, brengsek!" teriak Anjani sambil mendorong dada Aryan.

Aryan mundur beberapa langkah akibat dorongan Anjani. Sang istri benar-benar marah. Bahkan, Aryan dibuat takut oleh amarah Anjani saat ini.

"Aku minta maaf. Tolong maafkan aku. Aku tidak tahu jika hal itu akan menyakitimu, Anjani," ucap Aryan penuh penyesalan.

Niatnya hanya untuk memberi sedikit pelajaran pada Mariana karena telah tega melukai putrinya sendiri. Mana Aryan tahu jika ternyata perbuatannya itu malah membuat Anjani semakin murka kepadanya. Padahal, Aryan melakukan hal itu demi Anjani juga. Dia hanya ingin membalas perbuatan Mariana yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.

"Aku hanya berusaha membela kamu. Aku hanya tidak ingin Tante Mariana melukai kamu lagi."

Aryan kembali melangkah maju. Dia berniat memeluk perempuan itu.

"Mundur!" teriak Anjani. "Jangan dekati aku!" ucapnya dengan tegas.

Tangan Aryan menggantung di udara. Perasaannya semakin tak karuan. Kali ini, dia mengaku kalah. Kali ini, dia benar-benar mengakui bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada Anjani.

"Anjani... Maafkan aku. Aku menyesal. Jangan marah lagi! Aku mohon," pinta Aryan memelas.

"Dengar ini baik-baik! Aku pasti akan membalas dendam pada kamu, Luna, Anton, dan juga Sandra. Kalian semua pasti akan mendapatkan balasan atas perbuatan jahat kalian!" desis Anjani.

Aryan tidak tahu lagi harus membujuk Anjani dengan cara seperti apa. Sungguh! Dia menyesal telah melakukan semua itu kepada Ibu mertuanya sendiri.

Seharusnya, dia tahu jika Anjani tak pernah bisa terima jika Ibunya yang diusik. Anjani selalu bersedia bersabar jika hanya dirinya yang diganggu. Tapi, jika yang diganggu adalah sang Ibu, maka Anjani akan langsung berubah menjadi begitu buas.

Dengan sedikit kerepotan, Anjani menggeret kopernya untuk keluar dari rumah itu. Hubungannya dengan Aryan sudah selesai. Yang tersisa diantara mereka tinggal benci yang harus mendapatkan pelampiasan.

"Anjani, jangan pergi!" teriak Aryan. Dia berlari. Memeluk Anjani dari belakang dengan begitu erat.

"Tolong jangan tinggalkan aku. Aku... aku mencintaimu," ucap Aryan yang akhirnya menyerah pada dirinya sendiri.

Membohongi diri sendiri ternyata tidak berhasil. Di detik-detik perpisahan, Aryan justru merasa tak rela jika Anjani benar-benar keluar dari dunianya.

"Cinta?" Anjani tertawa. "Berhenti membual, Aryan! Tidak akan ada yang tertipu dengan kata cintamu yang murahan itu," imbuhnya sambil menginjak kaki Aryan dengan keras.

Reflek, Aryan mengaduh kesakitan lalu melepaskan tubuh ramping Anjani. Kesempatan itu pun segera diambil Anjani untuk segera kabur.

"Anjani, tunggu! Jangan keluar dari rumah!"

Aryan masih berusaha mengejar meski sebelah kakinya terlihat pincang.

"Biar aku saja yang keluar. Kamu... Tetaplah tinggal di sini," pinta Aryan memohon.

Namun, Anjani tak peduli sama sekali. Tepat didepan gerbang, sebuah mobil Bentley berwarna hitam ternyata sudah menunggunya.

Ketika melihat kedatangan Anjani, sang supir langsung keluar kemudian membantu memasukkan koper Anjani ke dalam bagasi.

"Anjani, kamu mau pergi kemana? Apa kamu punya tempat tujuan selain rumah ini?" tanya Aryan yang tetap kekeuh mengejar Anjani.

Anjani tak menoleh sama sekali. Ia masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa-apa kepada Aryan.

"Dia..." lirih Aryan tertahan. Sekilas, dia dapat melihat sosok pria yang tak asing di matanya didalam mobil yang dinaiki oleh Anjani.

"Dia laki-laki yang di rumah sakit itu, kan?" tebak Aryan.

Ingin sekali dia memastikan siapa sebenarnya pria itu. Namun, terlambat! Mobil Bentley hitam itu sudah bergerak meninggalkan tempat tersebut.

"Tunggu! Anjani!" teriak Aryan. Dia berusaha mengejar mobil itu namun tidak berhasil.

"Sial!! Sebenarnya, siapa laki-laki itu? Kenapa dia bisa sedekat itu dengan Anjani? Atasan? Heh, mana ada atasan yang bebas mengelus kepala bawahannya seperti itu," gerutu Aryan yang merasakan dadanya kembali panas seperti terbakar api.

"Semua ini gara-gara Om Anton," lanjut Aryan dengan penuh emosi.

Malam itu juga, dia langsung menuju ke rumah keluarga Permana. Aryan harus melampiaskan kemarahannya pada Anton.

1
Nur Aendah
bawang nya lumayan pedih thor
Nisa Nisa
Teruslah bodoh jangan pintar Aryan sampai kamu jadi tikus got yg tdk seorangpun mau menolongmu demi membela seorang Luna. Aneh ada banyak hal buruk yg Luna lakukan dari menjadikan dia ATM berjalan, mempermalukan, bahkan dgn kemanjaan yg gk jelas bahkan berani menyiram laptopnya dgn air hanya krn ditolak jalan ke mall. itu baru jd selingkuhan, terbayang kalau sdh jadi istri bagaimana sikap Luna
Nisa Nisa
semua keluarga dlm cerita ini keluarga perselingkuhan ternyata oh ternyata.. tp mertua perempuan Anjani tampak sangat membela Luna.. 🤣🤣
Nisa Nisa
kenapa baru ribut sekarang bukanlah selama ini kalian menyia-nyiakan Anjani dan memuja Luna??
Nisa Nisa
Dan itu berkat seorang pembantu yg setia dan cerdas, kamu sdh seharusnya berterimakasih padanya Anjani jangan dianggap biasa saja. Bahkan kamu putrinya tdk bisa menjaganya, ya krn ibumu yg terlalu bucin hingga kehilangan seorang lelaki brensek seperti Anton dia mengabaikan putrinya. like mother like daughter
Atim Hariyani
👍
Tia Supriyanto
nah benerkan, gak konsisten atau pikun? pertama otor bilang saham anjani 20 % terus bilang lagi 20% +5%, eh skrg balik lagi 20%
Angela Vidya: betul..gak konsisten
total 1 replies
Tia Supriyanto
si othor sering gak konsisten
Tia Supriyanto
Kok Aryan gk berpikir, bukankah luna dan anjani satu rumah? tokoh aryan dibuat bodoh
Tia Supriyanto
lah sudah tau rancun jenis apa dan pungsinya, kok dibilang masih misterius
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚊𝚝𝚊 𝚙𝚎𝚗𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚊𝚙 𝚝𝚞𝚕𝚒𝚜𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚐𝚞𝚜 𝚝𝚑𝚘𝚛 𝚖𝚠𝚜𝚔𝚒𝚙𝚞𝚗 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚊𝚍𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚔𝚘𝚛𝚎𝚔𝚜𝚒 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚔𝚊𝚛𝚗𝚊 𝚊𝚍𝚊 𝚜𝚎𝚍𝚒𝚔𝚒𝚝 𝚝𝚢𝚙𝚘 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚋𝚒𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚐𝚘𝚘𝚍 𝚐𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚎𝚕𝚎2, 𝚙𝚎𝚖𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚞𝚝𝚊𝚖𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚓𝚞𝚐𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚞𝚔𝚊.
𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚖𝚊𝚛𝚊𝚝𝚑𝚘𝚗 𝚐𝚊 𝚗𝚐𝚎𝚋𝚘𝚜𝚎𝚗𝚒𝚗, 𝚝𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚊𝚛𝚢𝚊 𝚝𝚑𝚘𝚛.👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚢𝚞𝚞𝚑𝚞𝚞𝚞𝚞.. 𝚙𝚊𝚗𝚎𝚗 𝚙𝚊𝚗𝚎𝚗 𝚔𝚎𝚕𝚞𝚊𝚛𝚐𝚊 𝚜𝚒𝚕𝚞𝚖𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝𝚔𝚊𝚗 𝚑𝚊𝚜𝚒𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚔𝚓𝚞𝚋𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚔𝚎𝚜𝚎𝚛𝚊𝚑𝚊𝚗𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚓𝚊𝚑𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚖𝚖𝚑 𝚖𝚊𝚛𝚒𝚊𝚗𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚊𝚗𝚓𝚊𝚗𝚒.👏🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚙𝚎𝚝𝚛𝚊 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚊𝚔𝚊 𝚑𝚊𝚗𝚌𝚞𝚛 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚜𝚊𝚗𝚍𝚛𝚊 𝚕𝚞𝚗𝚊 𝚊𝚗𝚝𝚘𝚗, 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚖𝚊𝚝 𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚑𝚊𝚗𝚌𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚕𝚒𝚊𝚗 𝚗𝚠𝚛𝚝𝚒𝚐𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚓𝚞𝚐𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚞𝚊𝚛𝚐𝚊 𝚊𝚛𝚢𝚊𝚗.👍👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚝𝚢𝚙𝚘 𝚝𝚑𝚘𝚛 𝚗𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚊𝚗𝚍𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚒𝚜𝚎𝚋𝚞𝚝 𝚘𝚕𝚎𝚑 𝚜𝚊𝚗𝚍𝚛𝚊 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚗𝚝𝚘𝚗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚜𝚢𝚞𝚔𝚒𝚛𝚒𝚒𝚗𝚗... 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚜𝚒𝚕𝚞𝚖𝚊𝚗 𝚒𝚍𝚊𝚑 𝚔𝚎𝚝𝚊𝚞𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚗 𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐𝚖𝚞 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚊𝚛𝚢𝚊𝚗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚑𝚒𝚑𝚒𝚑𝚒𝚒𝚒... 𝚊𝚢𝚘 𝚙𝚊𝚔 𝚝𝚛𝚒𝚜𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚜𝚜 𝚕𝚊𝚑 𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 𝚛𝚎𝚜𝚝𝚞 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚌𝚊𝚕𝚘𝚗 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐𝚖𝚞 𝚝𝚞𝚑.🤭
𝚊𝚗𝚓𝚊𝚗𝚒 𝚘𝚑 𝚊𝚗𝚓𝚊𝚗𝚒 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚜𝚎𝚖𝚎𝚍𝚒 𝚜𝚒𝚊𝚙𝚊 𝚝𝚊𝚞 𝚍𝚠𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚠𝚐𝚒𝚝𝚞 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚕𝚠𝚋𝚒𝚑 𝚙𝚎𝚔𝚊 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚍𝚠𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊𝚊𝚗 𝚙𝚊𝚔 𝙲𝚒 𝚎𝚘.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚗𝚓𝚊𝚗𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎𝚗𝚊 𝚜𝚒𝚊𝚕 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚝𝚛𝚜 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚊𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚞𝚊𝚛𝚐𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚒𝚊𝚗
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚖𝚒𝚖𝚙𝚒 𝚋𝚒𝚛𝚞𝚔𝚖𝚞 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚗𝚢𝚊𝚝𝚊 𝚜𝚊𝚗𝚍𝚛𝚊
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚙𝚛𝚘𝚔𝚔 𝚙𝚎𝚘𝚔𝚔 𝚙𝚛𝚘𝚔𝚔 ... 𝚔𝚎𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚍𝚞𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚊𝚛𝚊 𝚋𝚎𝚗𝚊𝚕𝚞..👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚊𝚗𝚓𝚊𝚗𝚒 𝚕𝚊𝚑 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚌𝚊𝚛𝚒 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚖𝚊 𝚒𝚗𝚒, 𝚍𝚊𝚜𝚊𝚛𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚌𝚞𝚖𝚊 𝚙𝚊𝚔𝚎 𝚕𝚘𝚐𝚒𝚔𝚊 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊𝚊𝚗 𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚗𝚐𝚎𝚗𝚊𝚕𝚒𝚗 𝚜𝚘𝚜𝚘𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚎𝚖𝚙𝚞𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚝𝚞𝚓𝚞𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚊𝚛𝚢𝚊𝚗.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!