Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah yang Tersembunyi
–Dokumen "The Golden Phoenix"–
Pagi di Kantor Tizon Tech & Property Shaneen telah berganti menjadi siang yang sibuk. Di balik jendela kaca besar yang menghadap ke arah pelabuhan, Shaneen duduk tenang dengan laptop di pangkuannya. Di hadapannya, Damian berdiri tegak, melaporkan sabotase birokrasi yang dilakukan oleh Ayah Clara.
"Tuan Bramasta menggunakan pengaruhnya untuk menunda izin amdal proyek pesisir kita, Nona," lapor Damian. "Sepertinya dia sangat bersemangat untuk menjatuhkan Tizon Tech & Property."
Shaneen menyesap tehnya, matanya menatap tajam ke arah dokumen digital di layar. "Bramasta ya? Aku tidak mengerti kenapa pria itu begitu terobsesi menghancurkan proyekku. Apakah ini murni karena Don, atau dia punya dendam pribadi pada keluarga Tizon?"
Shaneen tidak pernah tahu tentang sejarah kelam antara Bramasta dan orang tua Michael. Baginya, Bramasta hanyalah seorang pengusaha rakus yang kebetulan menjadi kaki tangan Don. Ia tidak tahu bahwa ada kebencian yang jauh lebih dalam yang menghubungkan pria itu dengan suaminya.
"Fokus kita tetap pada Don, Damian," lanjut Shaneen. "Biarkan Don merasa aman dengan bantuan Bramasta. Kita butuh Don tetap berada di posisinya sebagai umpan. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu di mana dokumen 'The Golden Phoenix' itu disembunyikan."
Dokumen yang dicari Shaneen bukanlah sekadar surat biasa. Ayahnya, Orlando Tizon, difitnah telah melakukan pendanaan terorisme internasional dan pencucian uang dari pasar gelap senjata. Dokumen asli yang membuktikan bahwa Orlando sebenarnya adalah "agen ganda" pemerintah yang sedang menyamar—yang dikenal dengan kode The Golden Phoenix—telah dicuri oleh Don saat malam mension pribadi milik Orlando Tizon terbakar.
Tanpa dokumen itu, Orlando Tizon tetap dianggap sebagai pengkhianat negara di catatan rahasia intelijen. Shaneen ingin membersihkan nama ayahnya agar ia bisa memulihkan kehormatan keluarga Tizon secara legal, bukan hanya sebagai penguasa bayangan.
Shaneen mengepalkan tangannya. Dokumen itu adalah kunci untuk membersihkan nama ayahnya, Orlando Tizon, yang hingga kini masih dianggap sebagai pendana terorisme di catatan hitam negara. Ini adalah misi pribadinya yang bahkan Michael tidak boleh tahu—setidaknya untuk saat ini.
Sementara itu di menara SM Corporation. Di saat yang sama, Michael Miguel sedang menatap foto lama di dalam laci mejanya. Foto yang menunjukkan ayahnya sedang bersulang dengan Bramasta muda. Rahangnya mengeras.
"Bramasta belum berubah," gumam Michael dingin.
Rans, yang berdiri di samping meja, memberikan laporan pembelian lahan di sekitar proyek pesisir. "Lahan sudah diamankan, Tuan. Tapi, apakah Anda tidak ingin memberi tahu Nyonya Shaneen alasan sebenarnya kenapa Bramasta begitu membencinya?"
"Tidak perlu," potong Michael cepat. "Dia tidak perlu tahu bahwa Bramasta membenci ayahnya karena iri, dan membenciku karena dendam masa lalu kepada ibuku. Biarkan dia melihat Bramasta hanya sebagai kerikil dalam bisnisnya. Aku tidak ingin dia terbebani oleh dosa-dosa masa lalu keluargaku."
Michael belum tahu bahwa Shaneen sedang memburu sebuah dokumen negara yang sangat berbahaya. Baginya, Shaneen adalah wanita kuat yang sedang menuntut balas atas kematian ayahnya, tanpa ia sadari bahwa skala permainan Shaneen jauh lebih besar dari sekadar balas dendam.
Tiba-tiba, ponsel Michael berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:
"Michael Miguel, selamat atas pertunanganmu. Tapi hati-hati, sebuah hadiah pernikahan dari masa lalu akan segera tiba di depan pintumu."
Mata Michael menyipit. Hadiah dari masa lalu?
"Rans,"
"Iya tuan,"
"Cari tau siapa pengirim pesan aneh ini."
"Baik tuan,"
***
Malam harinya, Michael kembali ke apartemen. Ia melihat Shaneen sedang memasak makan malam dengan tenang, seolah tidak ada beban yang ia pikul. Michael menghampirinya, memeluknya dari belakang, dan mencium lehernya dengan lembut.
"Bagaimana harimu?" Tanya Michael, menyembunyikan kecemasannya.
"Melelahkan, tapi Damian bilang semuanya terkendali," jawab Shaneen bohong, ia tidak ingin Michael tahu dia baru saja meretas basis data militer untuk mencari petunjuk dokumen Phoenix.
"Sama. Hanya urusan investor yang membosankan," balas Michael.
Mereka berdiri di sana, saling berpelukan erat di tengah dapur yang hangat. Dua orang yang saling mencintai, saling melindungi, namun sama-sama menggenggam rahasia besar di balik punggung mereka. Mereka belum menyadari bahwa rahasia-rahasia itulah yang nantinya akan memaksa mereka untuk benar-benar memilih: kepercayaan mutlak atau kehancuran bersama.