Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Arga berdiri mematung di depan pusara Yura. Tatapannya nanar menatap kelopak mawar putih yang telah mengering dan kecokelatan di atas gundukan tanah itu. Angin pemakaman yang dingin menerpa wajahnya, namun hatinya jauh lebih beku.
"Penjaga makam bilang, Nona Ayu baru saja datang seminggu yang lalu, Tuan. Katanya, itu sudah menjadi ritual rutinnya setiap minggu sejak Nona Yura tiada," lapor Damar yang berdiri selangkah di belakangnya.
"Kenapa Ayu tidak pernah mengatakannya padaku..." bisik Arga lirih. Ada rasa perih yang aneh saat menyadari Ayu ternyata mengetahui tentang Yura.
"Mar, bagaimana dengan Bimo CS?" tanya Arga, suaranya mendadak berubah tajam dan dingin.
"Mereka belum tersentuh hukum, Tuan. Karena laporan Nona Yura terhenti setelah beliau tiada. Namun, info terbaru dari anak buah kita... Bimo CS jugalah yang beberapa waktu lalu berusaha menyerang Nona Ayu."
Arga tersentak. Rahangnya mengeras. "Maksudmu, orang-orang yang mengejar Ayu sampai ke kompleks rumahku malam itu?"
"Benar, Tuan."
Arga terdiam. Ingatannya berputar pada malam mencekam itu, saat ia menemukan Ayu yang ketakutan dan hampir diculik. Ia juga teringat betapa protektifnya Ayu terhadap kameranya seolah nyawanya tergantung pada benda itu. Kini semuanya masuk akal; Ayu menyimpan bukti yang bisa memenjarakan iblis-iblis itu.
Begitu sampai di rumah, Arga tidak memedulikan hal lain. Ia bergegas masuk ke kamar, membuka laci meja dengan kasar, dan mengembuskan napas lega saat menemukan kamera milik Ayu masih ada di sana.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arga menyalakan kamera tersebut. Ia bermaksud mencari bukti kejahatan Bimo, namun detik berikutnya, jemarinya membeku di atas tombol navigasi.
Layar kecil itu menampilkan potret dirinya sendiri.
"Kapan dia mengambil ini?" gumam Arga pada kesunyian kamar.
Ia memperbesar gambar itu. Latar belakangnya adalah pesta pernikahan Alvin,pesta di mana Arga merasa sangat asing dan sendirian. Namun di lensa Ayu, Arga tampak seperti pusat semesta yang begitu maskulin dan misterius.
Arga terkekeh pelan, sebuah tawa yang sarat akan ironi sekaligus haru. "Dasar rubah betina..." bisiknya lirih.
Arga terus menggeser foto-foto itu. Nyatanya, ia tidak hanya menemukan satu. Ada ratusan foto dirinya dari berbagai sisi. Ada potret saat ia duduk melamun di kafe menghadap kursi kosong, ada saat ia berdiri di atas gedung konstruksi dengan tatapan kosong menantang langit. Semuanya diabadikan dengan sudut pandang yang begitu penuh perasaan.
Ayu selalu ada di sana. Di setiap sudut kegelapan hidup Arga, lensa Ayu selalu menjaganya. Wanita itu tidak hanya membawa kebahagiaan bagi Arga, tapi juga mengurangi rasa sakit saat ia mengetahui saat Yura telah tiada.
"Entah apa yang kamu lakukan YU, hingga aku tak bisa membencimu."Bisik Arga lirih.
*
Hendrik tengah menyesap kopi hitamnya dengan nikmat di teras rumah baru pemberian Arga. Ia merasa di atas angin, menyangka hidupnya akan terus bergelimang kemewahan tanpa tahu bahwa kemewahan itu tinggal sesaat.
Kesenangan itu berakhir seketika saat segerombolan petugas berseragam bergerak taktis mengepungnya. Hendrik tersedak, ia berdiri dengan tubuh gemetar hebat saat mereka bersiap memborgolnya.
"Ada apa ini, Pak?" tanyanya dengan suara serak ketakutan.
"Saudara Hendrik, silakan ikut kami untuk pemeriksaan atas kasus penjualan manusia, dengan korban putri kandung Anda sendiri," ucap petugas itu dingin.
"Apa?! Tidak mungkin! Ini fitnah, Pak! Saya tidak pernah menjual putri saya!" sangkalnya kasar.
"Silakan jelaskan pembelaan Anda di kantor polisi."
Hendrik mencoba memutar badan untuk kabur, namun dengan sigap petugas meringkusnya, menekan wajahnya ke tanah sebelum menyeretnya masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
Di dalam ruang interogasi yang remang, Arga duduk dengan tenang, namun tatapannya penuh kebencian yang mendidih. Di depannya, Hendrik tampak berantakan dengan wajah babak belur akibat perlawanan sia-sia saat penangkapan tadi.
"Apa kamu yang melaporkanku, Ga?" tanya Hendrik, mencoba mencari sisa-sisa keberanian.
"Menurutmu?" balas Arga pendek, suaranya sedingin es.
Hendrik terkekeh getir. "Aku tidak menyangka kamu tega melaporkan calon mertuamu sendiri. Bukankah selama ini kamu sangat mencintai Yura?"
"Justru karena aku sangat mencintai Yura, aku harus memberikan keadilan untuknya. Agar dia bisa beristirahat dengan tenang di sana," ucap Arga dengan penekanan di setiap kata.
Dahi Hendrik berkerut. "Apa? Apa maksudmu, Ga?"
Arga menyunggingkan senyum sinis yang mengerikan. "Apa kamu benar-benar tidak tahu di mana Yura sekarang?"
Hendrik memalingkan wajah, mencoba berbohong untuk terakhir kalinya. "Dia sedang di luar negeri dengan pacar barunya. Dia bahagia di sana."
"Kau yakin dia di luar negeri? Bukan sedang kembali kau jual pada pria hidung belang?"
"Itu tidak mungkin!" bentak Hendrik.
Kesabaran Arga habis. Ia berdiri dan menyambar kerah baju Hendrik, menariknya hingga wajah pria tua itu hanya berjarak beberapa senti darinya. Arga tidak lagi peduli pada etika atau usia; baginya, pria di depannya hanyalah iblis dalam wujud manusia.
"Kau tahu kenapa aku melaporkanmu?" bisik Arga dengan suara yang bergetar karena amarah. "Karena kau telah menjual putrimu sendiri saat dia masih remaja! Karena keserakahanmu, dia terjangkit HIV! Dan karena kelalaianmu membiarkan pelangganmu mengejarnya, Yuraku tertabrak sampai mati! Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan pada darah dagingmu sendiri, hah?!"
BUGHHH!
Satu tinjuan keras mendarat di rahang Hendrik. Arga seolah kesetanan, ia melayangkan pukulan berkali-kali seolah ingin menghancurkan pria itu dengan tangannya sendiri.
"Arga, cukup! Berhenti!" teriak para petugas yang langsung merangsek masuk dan menarik tubuh Arga menjauh.
Hendrik tersungkur di lantai, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Namun, matanya membelalak bukan karena rasa sakit, melainkan karena guncangan berita yang baru saja ia dengar.
"Apa? Yura... mati?" tanya Hendrik dengan suara yang hilang timbul. Tubuhnya mendadak lemas, seluruh sendinya seolah lolos. Bagaimanapun bejatnya dia, kenyataan bahwa Yura telah tiada dan itu semua karena ulahnya,menghantam nuraninya yang telah lama mati.
Arga merapikan jasnya yang sedikit berantakan, menatap Hendrik dengan pandangan menghina. "Dia sudah mati dua tahun yang lalu. Dan kau... kau akan menghabiskan sisa umurmu membusuk di penjara, meratapi setiap sen yang kau dapatkan dari penderitaan putrimu."
Arga berbalik meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Hendrik yang kini mulai meraung meratapi dosa-dosanya di atas lantai dingin kantor polisi.
Bersambung...
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it