NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Sahabat Yang Terlalu Pintar

Nara tiba pukul dua siang dengan dua kantong plastik, satu ransel, dan ekspresi seseorang yang sudah menahan rasa penasaran selama empat minggu dan baru sekarang diizinkan melepaskannya.

Aku membukakan pintu. Dia masuk satu langkah, berhenti, dan tidak bergerak selama sepuluh detik penuh.

Matanya menyapu ruang tamu dari kiri ke kanan — jendela besar, langit-langit tinggi, sofa abu-abu yang ukurannya lebih besar dari kamar kos pertamanya, pemandangan Jakarta yang dari ketinggian ini terlihat seperti model miniatur yang sangat mahal.

"Nara."

"Satu menit."

"Kamu bilang itu juga waktu pertama kali ke sini."

"Waktu itu aku belum lihat langsung. Sekarang aku lihat langsung dan butuh lebih dari satu menit." Dia akhirnya bergerak — masuk sepenuhnya, melepas sepatu di depan pintu, dan berjalan ke jendela besar dengan langkah yang seperti orang mendekati sesuatu yang tidak sepenuhnya dipercaya nyata. "Ariana. Ariana, dari sini kelihatan Monas."

"Aku tahu."

"Kamu bangun setiap pagi dan dari jendelamu kelihatan Monas."

"Jendela kamarku menghadap timur, jadi—"

"Aku tidak mau tahu detailnya, aku sedang menikmati momen." Nara meletakkan keningnya di kaca jendela selama tiga detik, lalu berbalik dengan ekspresi yang sudah kembali ke mode normalnya — campuran antara antusias dan awas yang selalu jadi kombinasi andalannya. "Oke. Aku sudah selesai kagum. Sekarang cerita."

Kami duduk di sofa dengan makanan yang dibawa Nara tersebar di meja — martabak lagi, karena rupanya Nara sudah memutuskan bahwa martabak adalah makanan resminya untuk semua kunjungan ke tempat tinggalku apapun kondisinya, ditambah es teh yang dia beli di bawah dan sudah setengah diminum dalam perjalanan naik.

"Jadi," Nara memulai dengan nada yang terlalu casual untuk genuinely casual, "gimana?"

"Gimana apanya?"

"Semuanya. Tinggal di sini, orangnya, hidupnya, semuanya." Dia mengambil sepotong martabak. "Aku sudah menahan diri tidak bertanya detailnya selama sebulan penuh, Ri. Itu rekor dunia untuk aku."

"Aku tahu. Aku menghargainya."

"Jadi sekarang giliran kamu menghargaiku dengan cerita yang jujur."

Aku minum es tehku. Mempertimbangkan.

"Baik," kataku. "Apa yang mau kamu tahu?"

"Orangnya. Revano." Nara menatapku dengan cara yang sudah kukenal sejak semester pertama kuliah — cara yang tidak bisa dibohongi, bukan karena dia punya kemampuan supernatural seperti Oma Suri, tapi karena dia sudah terlalu lama mengenal wajahku untuk tidak tahu kapan ada sesuatu yang tidak sepenuhnya ada di permukaan. "Dari yang kamu cerita sebelumnya — singkat, dan aku tahu kamu menyingkatnya dengan sengaja — dia kedengarannya seperti orang yang susah dibaca."

"Itu deskripsi yang akurat."

"Tapi kamu masih di sini."

"Kita baru sebulan, Nara."

"Itu bukan yang aku tanyakan." Dia meletakkan martabaknya. "Kamu baik-baik saja? Beneran?"

Ada momen dalam persahabatan yang panjang ketika pertanyaan sederhana tiba dengan bobot yang tidak proporsional ukurannya — bukan karena pertanyaannya besar, tapi karena orang yang mengajukannya tahu persis celah mana yang perlu disentuh untuk membuat pertahanan yang sudah dibangun dengan sangat hati-hati mulai retak di tepinya.

Nara selalu tahu celah yang tepat.

"Aku baik-baik saja," jawabku.

"Versi yang lebih lengkap dari itu."

"Masih menyesuaikan diri." Aku memilih kata dengan hati-hati — bukan karena takut pada Nara, tapi karena ada batasan yang tidak bisa kulewati meski ingin. "Ini situasi yang tidak sederhana dan ada banyak hal yang perlu dipelajari. Tapi aku baik."

Nara menatapku. Lima detik yang terasa lebih panjang.

"Kalian tidur di kamar yang sama?"

"Nara—"

"Pertanyaan logistik, bukan gosip."

"Kamar terpisah."

Alisnya naik sedikit. "Pilihan atau kondisi?"

"Kondisi yang keduanya setujui."

Dia mengangguk pelan — bukan karena puas dengan jawaban, tapi karena sedang menyusun puzzle dari potongan yang diberikan dan potongan yang tidak.

"Dia baik sama kamu?"

Pertanyaan yang lebih susah dijawab dari yang terlihat, karena jawabannya tidak bisa disederhanakan menjadi ya atau tidak tanpa kehilangan sesuatu yang penting di tengahnya.

"Dia tidak baik dengan cara yang mudah dikenali sebagai baik," kataku akhirnya. "Tapi kalau dipikir ulang, hampir semua yang dia lakukan ada maksudnya yang lebih baik dari yang kelihatan di permukaan."

Nara diam sebentar. "Itu deskripsi yang sangat hati-hati juga."

"Aku sedang belajar cara yang tepat untuk mendeskripsikannya."

"Sebulan dan masih belajar cara mendeskripsikan suami sendiri."

"Dia tidak mudah dideskripsikan."

Nara mengambil martabaknya lagi. Makan satu gigitan besar dengan ekspresi orang yang sedang berpikir keras sambil mengunyah — kombinasi yang selalu menghasilkan sesuatu yang aku tidak bisa sepenuhnya antisipasi.

"Ri," katanya setelah menelan, "aku mau tanya sesuatu dan aku minta kamu tidak langsung defensif."

"Aku tidak pernah defensif."

"Kamu selalu defensif kalau aku mulai kalimat dengan 'aku mau tanya sesuatu.'"

Aku tidak membantah karena itu benar.

"Tanya."

"Pernikahan ini—" Nara menatapku langsung, "—seratus persen konvensional? Maksudnya, kalian ketemu, jatuh cinta, nikah — itu urutannya?"

Dua belas detik. Aku menghitung di kepala karena harus melakukan sesuatu selain langsung menjawab.

"Urutannya tidak persis seperti itu," kataku. "Tapi kami menikah dengan kesadaran penuh dan keputusan yang keduanya buat sendiri. Itu yang penting."

Nara tidak berkedip. "Itu jawaban pengacara, bukan jawaban kamu."

"Nara—"

"Aku tidak akan cerita ke siapapun." Suaranya turun satu nada — bukan berbisik, tapi jenis bicara yang digunakan ketika menyampaikan sesuatu yang perlu didengar dengan serius. "Kamu tahu itu. Apapun yang kamu bilang ke aku, mati di sini."

Aku menatapnya.

Nara yang sudah kukenal sejak kami sama-sama salah masuk kelas di semester pertama dan memutuskan untuk duduk saja daripada pindah karena sudah nyaman. Nara yang tahu tentang utang Bapak sebelum siapapun karena dia yang menemukanku menangis di kamar mandi kampus dua tahun lalu dan tidak pergi sampai aku selesai bercerita. Nara yang tidak pernah menceritakan rahasia orang lain bahkan ketika itu akan menguntungkannya.

Ada batas yang tidak bisa kulewati. Kontrak adalah kontrak.

Tapi ada juga Nara, di sofa penthouse yang bukan milikku, dengan martabak di tangan dan mata yang tidak bisa kubohongi sepenuhnya sejak empat tahun lalu.

"Situasinya kompleks," kataku akhirnya. "Bukan seperti kebanyakan pernikahan. Tapi aku masuk dengan mata terbuka dan aku tidak menyesal dengan keputusan yang kubuat."

Nara menatapku lama.

Lalu, dengan cara yang hanya bisa dilakukan seseorang yang sudah cukup lama mengenalmu untuk tahu kapan mendorong dan kapan berhenti: dia mengangguk.

"Oke," katanya.

Hanya itu.

Aku menunggu pertanyaan lanjutan yang tidak datang.

"Oke?" ulangku.

"Oke." Dia mengambil martabaknya lagi. "Kamu bilang masuk dengan mata terbuka dan tidak menyesal. Itu cukup untuk aku sekarang."

"Kamu tidak penasaran lebih?"

"Sangat penasaran." Dia menggigit martabaknya. "Tapi ada bedanya antara penasaran dan mendesak. Kalau kamu mau cerita lebih, kamu akan cerita. Kalau belum mau, aku tidak akan memaksa." Jeda. "Yang penting aku tahu kamu baik-baik saja."

Kami menghabiskan dua jam berikutnya dengan percakapan yang lebih ringan — proyek Nara yang sedang berjalan, kabar teman-teman yang masih sesekali muncul di grup yang sudah jarang aktif, rencana liburan akhir tahun yang seperti biasa masih di tahap wacana.

Nara tidak bertanya tentang Revano lagi. Tidak bertanya tentang pernikahan lagi. Dia bercerita dan mendengarkan dengan cara yang membuat dua jam itu terasa seperti dua jam normal di antara dua orang yang sudah lama berteman — bukan sesi interogasi yang tertunda, bukan pengumpulan informasi yang disamarkan.

Tapi di satu titik, ketika aku ke dapur mengambil air minum, aku mendengar Nara berdiri dan berjalan ke arah rak buku.

Ketika aku kembali, dia sedang memeriksa punggung-punggung buku dengan ekspresi yang sudah beralih ke mode analitisnya.

"Koleksi yang menarik," katanya tanpa menoleh. "Campuran antara bisnis, sejarah, dan—" dia menarik satu buku tipis, "—puisi."

"Itu miliknya."

"Aku tahu." Nara meletakkan buku itu kembali dengan hati-hati. "Seseorang yang punya buku puisi di antara laporan keuangan dan biografi tokoh bisnis adalah seseorang yang lebih kompleks dari yang ditampilkan ke permukaan."

"Aku tahu."

"Kamu sudah tahu itu?"

"Sudah mulai belajar tahu itu."

Nara berbalik dan menatapku dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa kudeskripsikan — sesuatu di antara lega dan khawatir dan sesuatu lain yang belum punya namanya.

"Hati-hati, Ri," katanya pelan.

Bukan peringatan tentang Revano. Bukan tentang situasinya. Dari cara mengatakannya — lembut, tanpa tekanan — aku mengerti bahwa yang dia maksud lebih ke arah yang lain.

Hati-hati dengan apa yang mungkin tumbuh di tempat yang tidak disiapkan untuk ditumbuhi.

"Aku tahu," kataku.

Dan kami sama-sama tahu bahwa kami sama-sama tahu apa yang baru saja disampaikan dan diterima tanpa harus diucapkan dengan lebih jelas dari itu.

Nara pulang pukul lima kurang sepuluh.

Di pintu, dia memelukku — bukan pelukan singkat basa-basi, tapi pelukan yang punya bobot, jenis pelukan yang digunakan ketika kata-kata sudah disampaikan semua yang bisa disampaikan dan yang tersisa hanya kehadiran.

"Telepon kalau butuh apapun," katanya ke bahuku. "Siang, malam, subuh, kapanpun."

"Aku tahu."

"Dan Ri—" dia melepaskan pelukannya, menatapku, "—apapun situasinya, kamu layak bahagia. Jangan lupa itu."

Pintu menutup.

Aku berdiri di ruang tamu yang kembali sunyi.

Martabak yang tersisa masih ada di meja. Dua gelas es teh yang sudah lama tidak berisi es lagi. Jejak dua jam yang terasa lebih penuh dari yang seharusnya untuk kunjungan sore yang tidak direncanakan besar.

Aku mengambil sisa martabak, membungkusnya, menyimpannya di kulkas — karena Revano belum pulang dan mungkin lapar ketika pulang nanti, dan itu bukan alasan yang perlu dianalisis lebih jauh dari sekadar logika praktis.

Lalu aku berdiri di dapur dan memikirkan satu hal yang Nara katakan — bukan yang terakhir, tapi yang sebelumnya, di depan rak buku:

Seseorang yang lebih kompleks dari yang ditampilkan ke permukaan.

Nara melihat itu dari satu buku puisi di antara deretan laporan keuangan. Dalam dua jam pertama kunjungannya. Tanpa pernah bertemu Revano langsung.

Dan aku — yang sudah sebulan tinggal di tempat yang sama, yang sudah hafal pola suara wing kanannya, yang sudah pernah berdiri di ruang kerjanya pukul dua pagi dan melihat rambut yang tidak sempurna dan monitor yang tidak dimatikan — masih belum selesai memetakan seberapa jauh kompleksitas itu.

Mungkin karena memetakannya memerlukan lebih dari sekadar observasi.

Memerlukan percakapan yang belum terjadi. Pertanyaan yang belum diajukan. Dan kemauan untuk berdiri cukup dekat dengan sesuatu yang kompleks tanpa langsung mundur ketika kompleksitasnya mulai terasa.

Hati-hati, Ri.

Aku menutup kulkas.

Kembali ke wing kiri, duduk di meja kerja, membuka laptop.

Dan mencoba — dengan tingkat keberhasilan yang tidak seratus persen — untuk tidak memikirkan buku puisi tipis di rak buku yang pemiliknya belum pernah menyebut keberadaannya sekali pun dalam sebulan terakhir.

— Selesai Bab 18 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!