NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Ancaman yang Tak Terduga

Pagi itu, mansion Wijaya terasa hening.

Namun ketenangan hanyalah ilusi.

Alya tahu bahwa dunia di luar sana sedang bergerak lebih cepat daripada yang bisa ia prediksi.

Dan Bima… Bima berdiri di ruang kerja, matanya menatap layar laptop dengan serius, seolah menyiapkan diri untuk menghadapi badai yang pasti datang.

“Alya,” ucapnya, suara rendah tapi tegas.

“Aku baru saja menerima laporan media dan investor. Ada beberapa artikel yang mulai menyorot… kamu secara pribadi.”

Alya menelan napas. Ia sudah memprediksi langkah ini. Tapi kenyataan tetap menekan.

Judul-judul itu bukan lagi spekulasi bisnis, tetapi serangan pribadi terhadap karakter dan reputasinya:

"Istri CEO atau wanita ambisius? Kontroversi kontrak pernikahan menjadi sorotan."

"Apakah Alya benar-benar kompeten, atau hanya bayangan suaminya?"

"Pernikahan kontrak: Apakah ini pilihan atau strategi manipulatif?"

Alya menutup mata sejenak, merasakan jantungnya berdebar.

Ia tahu, Arsen sedang mencoba memprovokasi. Bukan hanya untuk menjatuhkan Bima, tetapi juga untuk melemahkan mentalnya.

Bima menatapnya penuh perhatian.

“Kamu tahu ini tak akan berhenti di sini,” katanya.

Alya membuka mata, menatap Bima.

“Ya. Tapi aku tidak takut. Tidak lagi.”

Bima mengangguk, dan tanpa kata lebih banyak, mereka mulai menyusun strategi.

Setiap artikel dianalisis: sumber, nada tulisan, kemungkinan tujuan Arsen, dan bagaimana publik akan menanggapinya.

Tidak ada emosi, tidak ada rasa takut. Hanya strategi.

Sementara itu, Arsen tersenyum di kantornya.

Ia menikmati setiap langkah yang ia buat.

“Kita akan membuatnya bereaksi. Kalau perlu, kita buat berita yang memprovokasi emosinya. Dia tidak akan bisa menahan diri,” katanya pada asistennya.

Dan memang, Arsen tahu betul karakter Alya: ia cerdas, profesional, tapi memiliki harga diri yang tinggi.

Dan harga diri itu akan menjadi celah.

Di mansion, Alya dan Bima duduk berdampingan, membahas respons resmi.

Bima menatap Alya.

“Kita harus jawab tanpa terlihat defensif. Jangan biarkan Arsen memancing kita menjadi emosional.”

Alya mengangguk.

“Setiap kata harus dihitung. Kita tidak menulis untuk dia, tapi untuk publik dan investor yang menilai integritas kita.”

Mereka bekerja sepanjang pagi.

Draft pernyataan dibuat, diperiksa, dan disempurnakan.

Bima memberi masukan singkat, namun setiap saran terasa penuh perhatian: bukan kritik, tapi dukungan nyata.

Alya tersenyum samar. Ia menyadari, ini bukan hanya tentang bisnis.

Ini tentang bagaimana mereka bisa tetap berdiri sebagai satu tim—melawan tekanan dunia, bukan hanya Arsen.

Siang hari, pernyataan resmi diluncurkan.

“Wijaya Corp memastikan semua langkah transparansi telah dilakukan. Pernikahan kontrak yang menjadi sorotan bukanlah indikator kompetensi, melainkan kesepakatan formal yang tidak memengaruhi kinerja perusahaan. Setiap spekulasi yang muncul adalah bagian dari strategi pihak ketiga untuk merusak reputasi kami.”

Efeknya langsung terasa.

Investor melihat ketegasan Alya.

Media mulai menulis ulang berita dengan nada netral.

Dan publik, meskipun penasaran, melihat Alya bukan sekadar istri CEO kontrak, tetapi profesional yang mampu menahan tekanan.

Bima menatap Alya dengan bangga.

“Lihat? Kamu tidak perlu membiarkan siapa pun menilai kamu dari luar. Kamu punya kontrol penuh.”

Alya menatap Bima.

“Dan kamu selalu di sini, memastikan aku tidak sendirian.”

Bima tersenyum tipis.

“Selalu.”

Malamnya, ketika mansion mulai tenang, Alya duduk di balkon, menatap kota.

Bima berdiri di belakangnya, jaraknya tidak jauh.

“Besok Arsen pasti akan mencoba langkah baru. Lebih pribadi. Lebih licik.”

Alya mengangguk.

“Aku sudah siap. Kita harus tetap tenang, tidak bereaksi emosional.”

Bima menatapnya lama.

“Kamu tahu… apa yang terjadi kemarin malam, di balkon?”

Alya tersenyum tipis.

“Ya. Aku ingat.”

Bima melangkah lebih dekat.

“Dan itu… membuatku yakin bahwa apapun yang terjadi, kita bisa menghadapi semuanya bersama.”

Alya menelan napas dalam.

“Bima… aku tidak lagi takut. Aku siap.”

Bima mengangguk, matanya menatap Alya dengan penuh arti.

“Dan aku juga. Tidak ada yang bisa memisahkan kita sekarang. Tidak Arsen, tidak media, tidak siapapun.”

Mereka berdiri diam, menikmati keheningan yang penuh makna.

Tidak ada kata-kata romantis yang berlebihan, tidak ada gestur dramatis.

Hanya dua orang dewasa yang tahu bahwa langkah mereka besok adalah ujian nyata—dan mereka siap menanggungnya bersama.

Dan Alya menyadari, untuk pertama kalinya sejak kontrak pernikahan ini dimulai, tidak ada ketakutan yang lebih besar daripada berjalan bersisian dengan orang yang dipilihnya—karena itu berarti bertanggung jawab terhadap perasaan sendiri, sekaligus siap menghadapi risiko dunia nyata.

Dan malam itu berakhir dengan satu kesadaran yang kuat:

Bahwa memilih Bima bukan lagi tentang kontrak, bukan lagi tentang formalitas, tapi tentang hidup, tentang keberanian, dan tentang cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka—di tengah ancaman yang tidak pernah berhenti datang.

Alya menatap gelapnya kota dari balkon, merasakan angin malam menyentuh kulitnya.

Setiap lampu jalan, setiap mobil yang lewat, seolah memberi tanda bahwa dunia terus berjalan, tidak menunggu siapapun.

Dan ia sadar, keputusan untuk berdiri bersama Bima bukan sekadar langkah emosional.

Ini adalah pilihan yang membutuhkan keberanian, kesabaran, dan keteguhan hati.

Ia mengingat semua hari sebelumnya—titik-titik kecil di mana ia merasa terpojok oleh kontrak, oleh tatapan dingin Bima, oleh ancaman Arsen.

Setiap momen itu kini terasa berbeda.

Bukan lagi tekanan yang membelenggu, tapi pelajaran yang menguatkan, membuatnya lebih siap menghadapi badai berikutnya.

Bima berdiri di belakangnya, diam, memberikan ruang namun tetap dekat.

Alya menyadari hal itu: kehadiran Bima tidak mengekang, tapi memberi kekuatan.

Kekuatan yang membuatnya percaya bahwa apapun yang terjadi esok hari, mereka akan menghadapi bersama, dengan kepala tegak dan hati yang tidak takut.

“Bima…” Alya akhirnya berbisik, hampir tak terdengar, “aku tidak ingin langkah ini sia-sia. Tidak ingin rasa ini sia-sia.”

Bima menatapnya, wajahnya tetap tenang, namun matanya berbicara lebih dari kata-kata.

“Kita tidak akan sia-siakan,” jawabnya pelan.

“Apapun yang datang, apapun ancaman yang menunggu, aku berdiri bersamamu. Bukan karena kontrak, bukan karena formalitas… tapi karena aku memilihmu.”

Kata-kata itu membuat Alya merasakan sesuatu yang hangat, namun bukan manis berlebihan.

Ini adalah kehangatan yang lahir dari kepastian, dari kesadaran, dan dari komitmen yang nyata.

Bukan pura-pura, bukan sekadar peran, tetapi sebuah keputusan yang dibangun di atas keberanian mereka sendiri.

Alya menoleh, menatap Bima lebih dekat.

Ia melihat lelaki di depannya bukan hanya CEO muda yang dingin dan perfeksionis, tetapi seseorang yang memahami arti tanggung jawab, loyalitas, dan keberanian.

Seseorang yang bisa ia percayai untuk tetap di sisi bahkan saat dunia menentang mereka.

Dan di antara keheningan malam itu, Alya merasakan satu hal yang lebih kuat dari ketegangan bisnis, lebih kuat dari ancaman Arsen, lebih kuat dari ketidakpastian yang menyelimuti masa depan:

Ia merasa benar-benar hidup, karena ia memilih sendiri, dan langkah itu kini diambil bersama Bima.

Bima menaruh tangan di tepi balkon, dekat dengan Alya, tanpa menyentuh.

Hanya kehadiran yang cukup untuk membuat Alya merasa aman.

“Besok akan menjadi ujian,” ucapnya rendah, “bukan hanya bagi kita sebagai CEO dan istri, tapi sebagai dua orang yang saling memilih di tengah badai.”

Alya mengangguk, menahan napas.

“Dan kita akan melewatinya. Bersama.”

Mereka berdiri diam, menatap lampu kota yang berkelap-kelip.

Malam terasa panjang, namun tidak menakutkan.

Karena malam ini, Alya menyadari kekuatan sesungguhnya bukan datang dari kontrak, bukan dari jabatan, dan bukan dari status sosial—tetapi dari keberanian memilih dan melangkah bersama seseorang yang benar-benar bisa dipercaya.

Dan ketika lampu di mansion mulai dipadamkan, satu hal menjadi jelas di hatinya:

Bahwa perjalanan mereka baru dimulai.

Ancaman Arsen mungkin belum berakhir.

Media mungkin akan terus menguji kesabaran mereka.

Tapi kini, Alya tahu:

tidak ada badai yang bisa memisahkan mereka, selama mereka tetap memilih satu sama lain, berdiri bersama, dan menghadapi dunia sebagai satu tim yang tak tergoyahkan.

Malam itu, bukan lagi kontrak yang mengatur langkahnya.

Bukan lagi ancaman yang menakutkan hatinya.

Bukan lagi dunia yang menentukan siapa mereka.

Melainkan keputusan Alya sendiri, yang kini selaras dengan pilihan Bima, untuk tetap berdiri bersama—tanpa ragu, tanpa takut, dan sepenuhnya sadar akan risiko dan konsekuensi yang akan mereka hadapi.

Dan dengan itu, Alya menarik napas panjang, menutup mata sejenak, dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini dimulai, merasakan ketenangan di tengah badai, karena ia tahu langkah berikutnya, apapun yang terjadi, akan ditempuh bersama Bima, sebagai partner, sebagai teman, dan sebagai dua orang yang benar-benar memilih satu sama lain.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!