Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Pagi itu, ruang makan Mansion Pratama terasa begitu mencekam. Meja panjang dari kayu jati mahal itu telah ditata dengan peralatan makan kristal dan perak. Ardan, Adelia, dan Aurel sudah duduk di sana, sementara Aditya baru saja turun dengan wajah yang masih tampak tegang.
Di dapur kotor, Nadine sedang menyiapkan nampan khusus untuk Aditya. Tangannya bergerak cepat namun penuh ketenangan. Ia mengambil botol kecil berisi ramuan bening yang sudah jadi dari racikan Ning Laila.
Nadine menuangkan tiga tetes ramuan herbal itu ke dalam bubur ayam kesukaan Aditya yang semalam di minta Aditya, Sambil mengaduknya perlahan agar tidak mengubah warna dan aroma, bibir Nadine bergerak tanpa suara, melantunkan doa yang paling tulus dari dasar jiwanya.
"Ya Allah, Sang Pemilik segala hati... hamba titipkan kesembuhan suamiku dalam makanan ini. Sebagaimana Engkau menyembuhkan luka di hati hamba, sembuhkanlah kegelapan di pikirannya. Bukalah matanya, bukalah ingatannya, dan lindungilah dia dari segala niat buruk di sekelilingnya..."
Nadine meniup lembut makanan itu dengan napas yang baru saja membacakan shalawat dan doa. Ia percaya, kekuatan doa seorang istri adalah obat yang paling mustajab bagi suaminya
Nadine melangkah masuk ke ruang makan dengan kepala menunduk, membawa nampan itu melewati Aurel yang sedang sibuk bercerita tentang kehidupannya di London.
"Ini sarapan Tuan Muda," ucap Nadine pelan sambil meletakkan mangkuk itu tepat di depan Aditya.
Aurel melirik sinis. "Lho, kenapa hanya Aditya yang dapat menu berbeda? Kenapa kami disuguhi menu kontinental, sedangkan dia makan bubur aneh itu?"
Adelia ikut menimpali sambil mengunyah pelan . "Iya Adit, Papa sudah memiliki koki bintang lima khusus untuk makanan kita . Kenapa kamu malah memilih masakan pelayan kusam ini?"
Aditya tidak menjawab. Ia mencium aroma uap yang keluar dari bubur itu,aroma yang entah mengapa memberikan rasa aman yang tak bisa dijelaskan oleh logika. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, rasa hangat langsung menjalar ke dadanya.
"Masakan ini... membuatku merasa tenang, Aku yang meminta Mona untuk membuatnya," ucap Aditya pendek. Ia mengabaikan piring mewah lainnya dan fokus menghabiskan bubur buatan Nadine.
Aurel yang merasa terabaikan mencoba mencari perhatian. Ia meraih tangan Aditya di atas meja. "Adit, nanti aku ikut ke kantor ya? Aku sudah siapkan presentasi untuk sistem pemasaran baru. Aku yakin itu lebih penting daripada sekadar ketenangan dari makanan kampung."
Aditya melepaskan tangannya dengan halus namun tegas untuk melanjutkan makannya. "Kita bicarakan di kantor, Aurel."
Sedari tadi Ardan Pratama menatap Nadine dengan mata menyipit. Sebagai orang tua yang penuh curiga, ia merasa ada yang tidak beres dengan kepatuhan putranya pada pelayan ini.
"Mona," panggil Ardan dengan suara berat.
Nadine tersentak, namun tetap menunduk. "Iya, Tuan Besar?"
"Apa yang kamu campurkan ke dalam makanan anakku? Sejak kamu datang, Aditya seolah tidak mau makan masakan lain."
Nadine menjawab dengan tenang, kekuatan dari doa yang baru saja ia panjatkan membuatnya tidak gentar. "Hanya sedikit rempah tambahan dari desa untuk kesehatan , agar tuan muda lebih berstamina, Tuan Besar. Orang di kampung saya lebih banyak memanfaatkan rempah-rempah untuk kesehatan..., Alhamdulillah, di kampung saya jarang ada yang memiliki penyakit-penyakit aneh ."
Kalimat terakhir Nadine membuat suasana meja makan seketika hening. Aurel tersedak kopinya, sementara Adelia menatap Nadine dengan amarah yang tertahan.
"Berani sekali kamu bicara begitu!" bentak Adelia.
Namun Aditya tiba-tiba berdiri. Wajahnya tampak lebih segar dari biasanya. "Cukup. Mona benar. Makanan ini membuatku bisa berpikir jernih. Aurel, kalau kamu mau ke kantor, berangkatlah sekarang dengan supir. Aku ada urusan lain sebelum ke sana."
Aditya menatap Nadine sejenak sebelum pergi, sebuah tatapan yang tidak lagi penuh jijik, melainkan penuh tanda tanya.
___
Setelah mereka meninggalkan ruang makan, Nadine kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan makan. Alat komunikasi di telinganya bergetar.
"Ibu hebat," suara Noah terdengar bangga. "Ayah sudah minum obatnya. Noah baru saja meretas sensor kesehatan di jam tangan Ayah. Detak jantung Ayah jadi lebih stabil setiap kali berada di dekat Ibu. Teruslah berdoa, Bu. Noah sedang menyiapkan kejutan kecil untuk Nona Aurel di kantor nanti."
Nadine tersenyum kecil sambil mengusap air mata yang hampir jatuh. Perjuangan ini masih panjang, tapi setiap tetes doa yang ia campurkan adalah satu langkah lebih dekat untuk membawa Suami nya pulang.
___
Suasana di area paviliun pelayan mendadak panas ketika Aurel berjalan dengan langkah angkuh, tumit sepatu hak tinggi berbunyi nyaring di atas lantai marmer . Ia sengaja mendatangi area dapur dan ruang cuci, tempat di mana Nadine sedang sibuk merapikan serbet makan.
Aurel berdiri dengan tangan bersedekap, menatap remeh ke arah para pelayan yang sedang bekerja.
"Dengar semuanya!" suara Aurel melengking, menghentikan aktivitas di dapur. "Terutama kamu, Mona!"
Nadine berhenti melipat kain, kepalanya tetap menunduk, namun telinganya tajam mendengar setiap kata.
"Mulai hari ini, kalian harus belajar mengikuti seleraku. Karena sebentar lagi, statusku di rumah ini bukan lagi tamu," Aurel tersenyum penuh kemenangan, memamerkan cincin berlian di jarinya yang sebenarnya ia beli sendiri untuk memanas-manasi keadaan. "Tuan Ardan dan Nyonya Adelia sudah merestui hubungan ku dengan Aditya...Aku adalah calon istri Aditya. Aku akan menjadi nyonya besar di mansion ini."
Beberapa pelayan senior saling berpandangan, sementara Bu Tina tampak langsung mengambil muka dengan mendekat ke arah Aurel. "Tentu saja, Nona Aurel. Kami semua sudah menduga, hanya Nona yang pantas bersanding dengan Tuan Muda, nona sangat cantik juga berpendidikan,nona benar-benar sangat serasi dengan tuan muda."
Aurel tersenyum remeh, ia menemukan sekutu di dalam mansion ini.
" tentu saja, siapa kau?"tanya Aurel pada Bu Tina.
" Saya kepala pelayan disini nona, semua para pekerja di sini berada di bawah kendali saya" jawab Bu Tina bangga.
" bagus kalau begitu, aku akan menunjukmu sebagai pelayan pribadiku" sahut Aurel .
Aurel berjalan mendekati Nadine dengan langkah angkuh, lalu dengan sengaja menyenggol tumpukan serbet yang sudah rapi hingga jatuh berserakan ke lantai.
"Opps, tanganku licin," ejek Aurel. "Heh, pelayan kusam! Bersihkan itu. Dan ingat, setelah aku menikah dengan Aditya, orang pertama yang akan aku tendang dari rumah ini adalah kamu. Aku tidak suka ada sampah desa yang mencoba mengambil perhatian calon suamiku dengan rempah-rempah anehmu itu."
Nadine berjongkok dengan tenang, memunguti serbet-serbet itu satu per satu. Di balik kacamata tebalnya, matanya memancarkan ketabahan yang luar biasa. Ia tidak membalas dengan amarah, melainkan dengan kalimat yang membuat Aurel mendidih.
"Menjadi nyonya di rumah ini bukan hanya soal restu manusia, Nona Aurel," ucap Nadine dengan suara rendah namun berwibawa. "Rumah ini butuh cinta untuk menghidupkan kembali nyawa pemiliknya yang hilang. Jika Nona merasa sebagai calon istri, seharusnya Nona lebih sibuk mengobati luka di hati Tuan Muda, bukan sibuk memberi perintah pada pelayan."
"Apa katamu?!" Aurel berteriak, wajahnya memerah. Ia hendak melayangkan tamparan, namun tangannya tertahan di udara saat melihat Aditya berdiri di kejauhan, sedang memperhatikannya dengan tatapan datar.