NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:97.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

“Baiklah,” ucap Azalea pelan.

Satu kata itu terasa berat, tetapi juga membawa harapan. Mungkin inilah jalannya untuk lebih dekat dengan kedua keponakannya. Mungkin inilah cara Allah mempertemukannya kembali dengan potongan terakhir dari darah daging kakaknya.

Enzo menatapnya sekilas. “Sekarang kamu ikut aku ke rumah.”

Bukan ajakan. Bukan permintaan. Ini seperti perintah.

Azalea mengangguk dan mengikuti langkah pria itu menuju parkiran. Mobil hitam mengilap sudah menunggu. Ia duduk di kursi penumpang belakang, sementara Enzo menyetir sendiri.

Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil dan deru kendaraan lain yang terdengar. Azalea mencuri pandang ke arah Enzo lewat kaca spion. Wajah pria itu tetap datar, rahangnya tegas, matanya fokus ke jalan.

Dulu, setiap kali Jasmine bercerita tentang suaminya, yang terdengar selalu hal-hal baik. “Enzo itu memang pendiam, Lea. Tapi dia perhatian. Dia selalu ingat detail kecil.”

Namun, yang Azalea rasakan sekarang hanyalah pria yang menjaga jarak, dingin, dan terkesan angkuh.

Mobil memasuki kawasan elite dengan gerbang tinggi dan penjagaan ketat. Rumah-rumah besar berjajar rapi. Taman-taman luas dengan rumput terawat. Mobil berhenti di depan sebuah rumah megah dua lantai dengan pilar-pilar tinggi dan lampu kristal yang tampak dari luar.

Azalea terpana. Ia tak pernah membayangkan Enzo hidup semewah ini. Rumah itu seperti istana kecil.

“Turun,” ucap Enzo singkat.

Azalea mengikuti langkahnya memasuki rumah. Baru saja pintu terbuka—

PRANG!

Suara pecahan benda keras menghantam lantai membuat Azalea terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang.

Sementara Enzo langsung berjalan cepat masuk ke ruang tengah. “Ada apa lagi ini?!” Suaranya meninggi, memecah suasana.

Azalea tergopoh-gopoh mengikuti. Pemandangan di ruang keluarga membuat dadanya terasa sesak. Di lantai berserakan pecahan guci besar. Sebuah tablet tergeletak dengan layar retak. Air dari vas bunga membasahi karpet mahal.

Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, wajahnya merah karena marah. Sementara Bi Minah menunduk dengan wajah pucat.

“Tante Lea!” Elora berlari ke arah Azalea dengan wajah berbinar, seolah tak terjadi apa-apa. Ia langsung memeluk kaki Azalea erat-erat.

Azalea refleks mengangkat gadis kecil itu ke dalam pelukannya.

“Daddy, aku benci Bi Minah! Usir saja dia dari sini!” teriak Erza, menoleh tajam ke arah Enzo dan Azalea.

“Daddy, sudah aku bilang jangan bawa pengasuh baru lagi!” Nada suara Erza keras. Penuh amarah.

Azalea tercekat. Dulu, Erza kecil adalah anak yang penurut dan ceria. Ia masih ingat bagaimana bocah itu tertawa ketika bermain lumpur di sawah kampung. Kini yang berdiri di depannya adalah anak kecil dengan mata penuh perlawanan.

“Kenapa kamu ngamuk?” tanya Enzo, berdiri tepat di hadapan putranya.

“Bi Minah terlalu suka ngatur!” balas Erza dengan nada tinggi.

“Bi, ada apa sebenarnya?” tanya Enzo tanpa emosi.

“Hari ini jadwalnya les, Tuan,” jawab Bi Minah pelan. “Den Erza tidak mau berangkat.”

“Aku enggak mau belajar!” Erza berteriak lagi.

Azalea merasakan perih yang aneh di dadanya. Anak ini bukan sekadar marah, tetapi ia seperti menyimpan sesuatu.

“Ada apa ini?” Terdengar suara lembut, namun tegas terdengar dari arah tangga.

Seorang wanita elegan turun dengan langkah anggun. Rambutnya disanggul rapi. Gaunnya mahal dan wangi parfum lembut menguar.

“Apa dia ... Mami Elsa?” gumam Azalea dalam hati.

“Erza ngamuk, Ma. Dia tidak mau pergi les,” jawab Enzo singkat.

“Kalau tidak mau, ya jangan dipaksa,” ujar Mami Elsa santai. “Tidak bagus untuk perkembangan anak kalau dipaksa.”

Azalea terdiam. Alisnya sedikit mengerut. Kini ia mengerti. Rupanya di sini tak ada batasan dan tak ada ketegasan yang disertai kelembutan.

“Siapa dia?” tanya Mami Elsa, menatap Azalea dari ujung kepala sampai kaki.

“Pengasuh baru,” jawab Enzo.

Azalea menurunkan Elora perlahan dan menunduk hormat. “Assalamualaikum, Nyonya. Kenalkan, saya Azalea.”

Mami Elsa tak membalas salamnya. Tatapannya menilai. “Tidak salah kamu mencari pengasuh, Enzo?” tanyanya bertubi-tubi. “Dia lulusan mana? Sudah berpengalaman? Bagaimana kalau anak-anak malah disiksa?”

“Astaghfirullahal’adzim.” Azalea tak sengaja bergumam. Hatinya seperti ditampar.

“Inikah keluarga yang selama ini diceritakan Kak Jasmine sebagai keluarga terhormat dan hangat?”

“Aku yakin dia bisa,” jawab Enzo tegas, meski tetap tanpa ekspresi.

Mami Elsa mengangkat bahu. “Ya sudah. Mami mau pergi arisan dan peresmian salon teman.” Ia berbalik dan pergi, seolah kekacauan tadi bukan urusannya.

Rumah kembali sunyi. Azalea melangkah mendekati Erza perlahan. “Halo, Erza. Masih ingat Tante Lea?” ucapnya lembut.

Anak itu menatapnya tajam. “Siapa kamu? Jangan sok kenal. Aku enggak kenal kamu.” Kata-kata itu menusuk.

“Kakak, Tante Lea itu adiknya Mommy,” sela Elora polos. “Dia baik. Mau belmain cama aku.”

Erza terdiam sesaat, lalu kembali menatap Azalea dengan ragu.

“Mungkin kamu sudah lupa,” ucap Azalea pelan, menahan getar di suaranya. “Dulu waktu Mommy masih hidup, kamu sering dibawa ke kampung. Kita berenang di sungai, main di sawah—”

“Aku tidak ingat,” potong Erza ketus.

Azalea tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.” Ia mengusap bahu kecil itu perlahan.

“Kak, ayo main sama Tante Lea!” ajak Elora penuh semangat.

“Tidak mau! Aku mau main game!” Erza meraih ponsel dari meja.

“Kyaaaaaa!” Elora menjerit kesal.

Azalea menatap keduanya dengan hati yang terasa hancur perlahan. Anak-anak ini bukan nakal. Mereka hanya kehilangan kasih sayang yang tulus.

Enzo kemudian berbalik pergi tanpa banyak kata. “Aku ke kantor,” ucapnya singkat.

Kini Azalea berdiri sendirian, tanpa penjelasan tugas, tanpa arahan. Hanya dua anak kecil dengan luka yang tak terlihat.

“Tante punya permainan yang lebih seru dari game,” ucap Azalea tiba-tiba.

Erza menoleh. “Apa itu?”

“Ayo ke halaman.”

Rasa penasaran mengalahkan gengsi. Di halaman samping, Azalea meminta Bi Minah menyiapkan air, sabun cair, dan beberapa lidi yang dibentuk lingkaran kecil.

“Apa itu?” tanya Erza skeptis.

“Rahasia,” jawab Azalea sambil tersenyum. Ia mencelupkan lingkaran lidi ke dalam air sabun, lalu meniup perlahan. Balon-balon sabun warna-warni melayang di udara, memantulkan cahaya sore.

Elora bertepuk tangan. “Waaa!”

Erza terpana. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya tak lagi penuh amarah.

“Coba kamu tiup,” kata Azalea.

Erza ragu, tapi kemudian mencoba. Balon sabun melayang. Ia tertawa kecil. Tawa itu membuat mata Azalea berkaca-kaca.

Seharian itu mereka bermain. Berlari mengejar balon sabun. Tertawa. Makan siang bersama. Azalea membacakan dongeng sebelum tidur siang.

Saat Erza dan Elora tertidur berdampingan, wajah mereka tampak begitu polos dan begitu rapuh. Azalea duduk di samping tempat tidur mereka, menatap dalam-dalam.

“Bi Minah,” panggilnya lirih saat mereka keluar kamar.

“Iya, Mbak?”

“Anak-anak sering seperti tadi?”

Bi Minah mengangguk pelan. “Iya, Mbak. Terutama Den Erza. Kalau marah, dia lempar barang. Pernah sampai melukai tangannya sendiri.”

Azalea memejamkan mata. Hatinya sangat sakit.

“Apa mereka seperti itu karena kurang kasih sayang?” lanjut Bi Minah lirih. “Terutama kasih sayang seorang ibu.”

Kalimat itu seperti pisau. Azalea menahan napas. Ia teringat wajah Jasmine yang selalu tersenyum dan penuh semangat.

Teringat janji dalam hatinya saat itu untuk menjaga anak-anak kakaknya jika suatu hari diberi kesempatan. Kini kesempatan itu datang. Dan ia tak akan menyia-nyiakannya. Meski hatinya sendiri masih penuh luka.

1
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
Yulay Yuli
udh lebaran Duluan y
Nar Sih
semoga habis lebaran ini enzo dan lea bisa seperti psngn suami istri separti org lain agar erza juga elora cpt punya adik lgi
Dewie
👍
Sun Rise
bgus
Kar Genjreng
Gengsi mamak masih meninggi kapan tu kira kira akan runtuh menjadi manusia
yang tidak angkuh dan somse,,, mungkin ketika badan sudah tak sanggup untuk bergerak atau ya semacamnya ,,,bukan mendoakan yat buruk Yo memang sudah buruk selalu merasa paling kaya paling cantik SE Bonbin mungkin ya ,,,,ahhh bodo amat n,,,amat saja pinter Yo ga,,, terpenting Enzo sudah menjadi kepala rumah tangga yang baik dan mempunyai tempat bukan hanya singgah tapi untuk
pulang,,, kebahagiaan adalah berkumpul keluarga canda tawa dan saling melengkapi. Sehat selalu penulis dan Pembaca, Aamin 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!