NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆 JUARA 2 YAAW 2026 PERIODE 1 🏆

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

“Baiklah,” ucap Azalea pelan.

Satu kata itu terasa berat, tetapi juga membawa harapan. Mungkin inilah jalannya untuk lebih dekat dengan kedua keponakannya. Mungkin inilah cara Allah mempertemukannya kembali dengan potongan terakhir dari darah daging kakaknya.

Enzo menatapnya sekilas. “Sekarang kamu ikut aku ke rumah.”

Bukan ajakan. Bukan permintaan. Ini seperti perintah.

Azalea mengangguk dan mengikuti langkah pria itu menuju parkiran. Mobil hitam mengilap sudah menunggu. Ia duduk di kursi penumpang belakang, sementara Enzo menyetir sendiri.

Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil dan deru kendaraan lain yang terdengar. Azalea mencuri pandang ke arah Enzo lewat kaca spion. Wajah pria itu tetap datar, rahangnya tegas, matanya fokus ke jalan.

Dulu, setiap kali Jasmine bercerita tentang suaminya, yang terdengar selalu hal-hal baik. “Enzo itu memang pendiam, Lea. Tapi dia perhatian. Dia selalu ingat detail kecil.”

Namun, yang Azalea rasakan sekarang hanyalah pria yang menjaga jarak, dingin, dan terkesan angkuh.

Mobil memasuki kawasan elite dengan gerbang tinggi dan penjagaan ketat. Rumah-rumah besar berjajar rapi. Taman-taman luas dengan rumput terawat. Mobil berhenti di depan sebuah rumah megah dua lantai dengan pilar-pilar tinggi dan lampu kristal yang tampak dari luar.

Azalea terpana. Ia tak pernah membayangkan Enzo hidup semewah ini. Rumah itu seperti istana kecil.

“Turun,” ucap Enzo singkat.

Azalea mengikuti langkahnya memasuki rumah. Baru saja pintu terbuka—

PRANG!

Suara pecahan benda keras menghantam lantai membuat Azalea terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang.

Sementara Enzo langsung berjalan cepat masuk ke ruang tengah. “Ada apa lagi ini?!” Suaranya meninggi, memecah suasana.

Azalea tergopoh-gopoh mengikuti. Pemandangan di ruang keluarga membuat dadanya terasa sesak. Di lantai berserakan pecahan guci besar. Sebuah tablet tergeletak dengan layar retak. Air dari vas bunga membasahi karpet mahal.

Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, wajahnya merah karena marah. Sementara Bi Minah menunduk dengan wajah pucat.

“Tante Lea!” Elora berlari ke arah Azalea dengan wajah berbinar, seolah tak terjadi apa-apa. Ia langsung memeluk kaki Azalea erat-erat.

Azalea refleks mengangkat gadis kecil itu ke dalam pelukannya.

“Daddy, aku benci Bi Minah! Usir saja dia dari sini!” teriak Erza, menoleh tajam ke arah Enzo dan Azalea.

“Daddy, sudah aku bilang jangan bawa pengasuh baru lagi!” Nada suara Erza keras. Penuh amarah.

Azalea tercekat. Dulu, Erza kecil adalah anak yang penurut dan ceria. Ia masih ingat bagaimana bocah itu tertawa ketika bermain lumpur di sawah kampung. Kini yang berdiri di depannya adalah anak kecil dengan mata penuh perlawanan.

“Kenapa kamu ngamuk?” tanya Enzo, berdiri tepat di hadapan putranya.

“Bi Minah terlalu suka ngatur!” balas Erza dengan nada tinggi.

“Bi, ada apa sebenarnya?” tanya Enzo tanpa emosi.

“Hari ini jadwalnya les, Tuan,” jawab Bi Minah pelan. “Den Erza tidak mau berangkat.”

“Aku enggak mau belajar!” Erza berteriak lagi.

Azalea merasakan perih yang aneh di dadanya. Anak ini bukan sekadar marah, tetapi ia seperti menyimpan sesuatu.

“Ada apa ini?” Terdengar suara lembut, namun tegas terdengar dari arah tangga.

Seorang wanita elegan turun dengan langkah anggun. Rambutnya disanggul rapi. Gaunnya mahal dan wangi parfum lembut menguar.

“Apa dia ... Mami Elsa?” gumam Azalea dalam hati.

“Erza ngamuk, Ma. Dia tidak mau pergi les,” jawab Enzo singkat.

“Kalau tidak mau, ya jangan dipaksa,” ujar Mami Elsa santai. “Tidak bagus untuk perkembangan anak kalau dipaksa.”

Azalea terdiam. Alisnya sedikit mengerut. Kini ia mengerti. Rupanya di sini tak ada batasan dan tak ada ketegasan yang disertai kelembutan.

“Siapa dia?” tanya Mami Elsa, menatap Azalea dari ujung kepala sampai kaki.

“Pengasuh baru,” jawab Enzo.

Azalea menurunkan Elora perlahan dan menunduk hormat. “Assalamualaikum, Nyonya. Kenalkan, saya Azalea.”

Mami Elsa tak membalas salamnya. Tatapannya menilai. “Tidak salah kamu mencari pengasuh, Enzo?” tanyanya bertubi-tubi. “Dia lulusan mana? Sudah berpengalaman? Bagaimana kalau anak-anak malah disiksa?”

“Astaghfirullahal’adzim.” Azalea tak sengaja bergumam. Hatinya seperti ditampar.

“Inikah keluarga yang selama ini diceritakan Kak Jasmine sebagai keluarga terhormat dan hangat?”

“Aku yakin dia bisa,” jawab Enzo tegas, meski tetap tanpa ekspresi.

Mami Elsa mengangkat bahu. “Ya sudah. Mami mau pergi arisan dan peresmian salon teman.” Ia berbalik dan pergi, seolah kekacauan tadi bukan urusannya.

Rumah kembali sunyi. Azalea melangkah mendekati Erza perlahan. “Halo, Erza. Masih ingat Tante Lea?” ucapnya lembut.

Anak itu menatapnya tajam. “Siapa kamu? Jangan sok kenal. Aku enggak kenal kamu.” Kata-kata itu menusuk.

“Kakak, Tante Lea itu adiknya Mommy,” sela Elora polos. “Dia baik. Mau belmain cama aku.”

Erza terdiam sesaat, lalu kembali menatap Azalea dengan ragu.

“Mungkin kamu sudah lupa,” ucap Azalea pelan, menahan getar di suaranya. “Dulu waktu Mommy masih hidup, kamu sering dibawa ke kampung. Kita berenang di sungai, main di sawah—”

“Aku tidak ingat,” potong Erza ketus.

Azalea tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.” Ia mengusap bahu kecil itu perlahan.

“Kak, ayo main sama Tante Lea!” ajak Elora penuh semangat.

“Tidak mau! Aku mau main game!” Erza meraih ponsel dari meja.

“Kyaaaaaa!” Elora menjerit kesal.

Azalea menatap keduanya dengan hati yang terasa hancur perlahan. Anak-anak ini bukan nakal. Mereka hanya kehilangan kasih sayang yang tulus.

Enzo kemudian berbalik pergi tanpa banyak kata. “Aku ke kantor,” ucapnya singkat.

Kini Azalea berdiri sendirian, tanpa penjelasan tugas, tanpa arahan. Hanya dua anak kecil dengan luka yang tak terlihat.

“Tante punya permainan yang lebih seru dari game,” ucap Azalea tiba-tiba.

Erza menoleh. “Apa itu?”

“Ayo ke halaman.”

Rasa penasaran mengalahkan gengsi. Di halaman samping, Azalea meminta Bi Minah menyiapkan air, sabun cair, dan beberapa lidi yang dibentuk lingkaran kecil.

“Apa itu?” tanya Erza skeptis.

“Rahasia,” jawab Azalea sambil tersenyum. Ia mencelupkan lingkaran lidi ke dalam air sabun, lalu meniup perlahan. Balon-balon sabun warna-warni melayang di udara, memantulkan cahaya sore.

Elora bertepuk tangan. “Waaa!”

Erza terpana. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya tak lagi penuh amarah.

“Coba kamu tiup,” kata Azalea.

Erza ragu, tapi kemudian mencoba. Balon sabun melayang. Ia tertawa kecil. Tawa itu membuat mata Azalea berkaca-kaca.

Seharian itu mereka bermain. Berlari mengejar balon sabun. Tertawa. Makan siang bersama. Azalea membacakan dongeng sebelum tidur siang.

Saat Erza dan Elora tertidur berdampingan, wajah mereka tampak begitu polos dan begitu rapuh. Azalea duduk di samping tempat tidur mereka, menatap dalam-dalam.

“Bi Minah,” panggilnya lirih saat mereka keluar kamar.

“Iya, Mbak?”

“Anak-anak sering seperti tadi?”

Bi Minah mengangguk pelan. “Iya, Mbak. Terutama Den Erza. Kalau marah, dia lempar barang. Pernah sampai melukai tangannya sendiri.”

Azalea memejamkan mata. Hatinya sangat sakit.

“Apa mereka seperti itu karena kurang kasih sayang?” lanjut Bi Minah lirih. “Terutama kasih sayang seorang ibu.”

Kalimat itu seperti pisau. Azalea menahan napas. Ia teringat wajah Jasmine yang selalu tersenyum dan penuh semangat.

Teringat janji dalam hatinya saat itu untuk menjaga anak-anak kakaknya jika suatu hari diberi kesempatan. Kini kesempatan itu datang. Dan ia tak akan menyia-nyiakannya. Meski hatinya sendiri masih penuh luka.

1
Someone
👍💪
Someone
💪💪
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah inilah kenapa jangan makan uang haram, atau ngambil suami orang, jadi nggak berkah kan idup nya 🙏☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah setidaknya lea dr keluarga baik2 bukan hasil anak gundik yg ngerebut kebahagiaan keluarga orang kayak yg ngatain 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bayangin aja udah sejahat apa dia sm lea tp suami nya lea mutasi dia aja masih baik banget di boyong se-nadia & nadin nya 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
udah kalah di duit kalah juga dr dia ngetreat lea di masalalu, kok bisa semantep itu ngajak rujuknya wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kenapa ada manusia manusia modelan begini di muka bumi ini sih wkwk suka banget ngasih kesimpulan dr apa yg di liat trus di omong2in ke orang2 😩 capek2 di buat dr debu sm Tuhan masa fungsi nya cuma ghibah 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ih makasih lho mbak nad udah ngambil cowo medhit nan kikir ini wkwk kalo bisa jangan di lepas ya biar jd ladang pahala mbak nad seumur hidup biayain laki medhit ini 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
sumpah ini kalo enzo ketemu sm reza pasti otak dia bayangin sekecil apa punya reza 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
random sih tp lucu banget "berdiri mami elsa yg duduk di kursi roda" 😅 bayangin berdiri sambil duduk 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ternyata oma elsa kalo waras bijak banget, bangga deh oma 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
paham sih enzo ngalamin kayak birthday blue karena ngingetin dia sama hr kematin mendiang isteri, tapi di sisi nya si anak dia juga berhak di rayakan walapun hr lahir nya juga harus membersamai hr meninggal nya ibu nya, toh ga ada manusia di dunia ini yg pengen hr lahirnya juga jd hari kematian orang yg di sayang 🙂🙏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Aah i see, dia jd trauma sama orang2 dr kampung atau di anggap miskin karena di anggap selalu jadiin "nikah sm orang kaya" sebagai jalan pintas bahkan sampe jd simpenan. Tapi semoga di bisa liat ketulusannya lea sama keluarga dia ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
yeee bilang aja situ medhit, orang isteri sendiri masa di bilang numpang hidup 😒 lah ibu mu juga numpang idup dong dr bapak mu 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
oalah pantesan, akhirnya terjawab sudah pertanyaan ku wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah jd beneran mertua nya jasmine sm adek nya jasmine ga kenal? 😅 penasaran banget pas nikahan dulu emang si jasmine ga ngenalin keluarga nya apa gimana
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok kenalan lagi sih emang pas kakak lu dilamar sampe nikahan ni keluarga ga saling kenalan kah? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hah gimana sih bukannya ini mama mertua nya jasmine kakak nya lea kan? emang dia pas nikahan jasmine sm enzo ga ketemu sama keluarga menantu nya sampe adek dr menantu nya ga ngenalin? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo emang si reza sama nadia selingkuh ya udahlah ya tapi masalahnya ini dia pake jabatan nya dia buat bikin orang yg ga ada masalah personal sm dia jd ga bisa kerja, bener2 ya 😒
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
biarin aja bude, coba dia ganti isteri pengen tau rejeki nya masih sama apa enggak 😏 kata orang kan beda pasangan beda rejeki, nah kalo habis ini dia kere brati bener doa isteri nya yg bikin rejeki dia deres 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!