Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perang di Taman Firdaus
Suasana di bawah kubah es Antartika yang tadinya damai kini berubah menjadi neraka yang hingar-bingar. Kapsul-kapsul tempur hitam milik Ate gard menghantam padang rumput biru dengan dentuman yang menggetarkan fondasi gua. Dari dalam kapsul itu, keluar pasukan Exo-Soldiers manusia setengah mesin yang tidak lagi memiliki rasa takut atau ragu. Mereka adalah hasil sempurna dari riset yang dimulai berdekatan dengan sejarah gelap manusia.
Adam berdiri di depan piramida kristal, menggenggam tongkat kayu pemberian sang Penjaga. Di sampingnya, wanita tua itu yang kini ia panggil sebagai Bunda menatap langit-langit gua yang mulai retak.
"Kau harus mengerti satu hal, Adam," suara Bunda tetap tenang di tengah desingan peluru laser. "Dunia mengira Unit 731 di Manchuria atau Area 51 di Nevada adalah pusat kegilaan. Mereka salah. Tempat-tempat itu hanyalah laboratorium pembuangan. Mereka menggunakan tragedi di Unit 731 untuk mencari tahu sejauh mana tubuh manusia bisa bertahan sebelum 'jiwanya' lepas. Itu bukan eksperimen medis biasa; itu adalah riset awal untuk memisahkan ruh dari raga agar mereka bisa memasukkan kesadaran digital ke dalam wadah biologis."
Adam menatap pasukan yang mendekat. "Jadi, selama ini sejarah hanya dijadikan alibi untuk menutupi riset 'Benih' ini?"
"Tepat," jawab Bunda. "Mereka membiarkan sejarah mencatat kekejaman itu agar orang-orang fokus pada moralitas masa lalu, sementara mereka diam-diam menyempurnakan hasilnya di sini, di tempat yang tidak pernah tersentuh hukum manusia."
Pasukan Exo-Soldiers melepaskan tembakan gelombang suara yang menghancurkan pepohonan bioluminesensi di sekeliling mereka. Adam merasakan tongkat di tangannya bergetar hebat. Ia teringat kode-kode yang pernah ia tulis di lantai 88. Dulu ia menggunakan logika untuk menindas, kini ia harus menggunakan frekuensi untuk membebaskan.
"Tutup matamu, Adam," bisik Bunda. "Jangan lihat mereka dengan matamu, tapi lihatlah dengan detak jantung bumi."
Adam memejamkan mata. Seketika, hiruk-pikuk peperangan menghilang. Ia tidak lagi mendengar suara ledakan, melainkan aliran energi yang mengalir di bawah tanah. Ia melihat pasukan Exo-Soldiers bukan sebagai manusia, melainkan sebagai gumpalan energi dingin yang kaku energi yang dipaksakan.
Ia mengangkat tongkat kayunya. Bukan untuk menyerang, tapi untuk menyelaraskan.
"Kalian bukan budak," bisik Adam, suaranya seolah terpancar langsung ke saraf pusat para prajurit itu.
Sebuah gelombang keemasan keluar dari ujung tongkat, merambat di permukaan tanah seperti riak air di danau yang tenang. Saat gelombang itu menyentuh kaki para prajurit Exo-Soldiers, sesuatu yang mustahil terjadi. Armor mesin mereka mulai rontok. Sistem saraf digital yang mengendalikan otak mereka mengalami short circuit karena beradu dengan frekuensi murni dari bumi.
Satu per satu prajurit itu tumbang, bukan karena mati, tapi karena mereka mendadak mendapatkan kembali kesadaran manusia mereka. Mereka mulai menangis, berteriak ketakutan, dan menyadari apa yang telah dilakukan pada tubuh mereka.
Namun, kejutan sesungguhnya muncul dari balik kabut asap ledakan. Sebuah mesin raksasa berbentuk laba-laba, setinggi sepuluh meter, melangkah perlahan. Di dalamnya, duduk seorang pria dengan wajah yang separuhnya adalah logam.
"Unit 731-X," gumam Bunda dengan wajah pucat. "Eksperimen yang seharusnya sudah dimusnahkan."
Pria di dalam mesin itu tertawa melalui pengeras suara yang parau. "Adam Satria... kau pikir tongkat kayu itu bisa menghentikan evolusi? Aku adalah sisa dari Manchuria yang disempurnakan. Aku adalah manusia yang tidak lagi butuh Tuhan karena aku telah melampaui kematian!"
Mesin itu menembakkan rudal yang mengandung gas saraf khusus. Gas itu bukan untuk membunuh raga, tapi untuk memutus koneksi sina ptik antara otak dan hati. Adam terbatuk, ia merasa kekuatannya mulai luntur.
"Adam, jangan biarkan kebencianmu pada mereka masuk!" teriak Bunda. "Jika kau membenci mereka, kau menggunakan frekuensi yang sama dengan mereka!"
Adam berlutut, napasnya tersengal. Di tengah kepungan gas ungu itu, ia menyentuh tanah dengan telapak tangannya. Ia tidak lagi mencoba menjadi pahlawan. Ia mencoba menjadi "tanah" itu sendiri.
"Dunia ini tidak butuh evolusi buatanmu," bisik Adam ke dalam tanah.
Tiba-tiba, dari bawah mesin laba-laba raksasa itu, akar-akar pohon kuno yang besar meledak keluar dari tanah. Akar-akar itu bergerak seperti cambuk raksasa, melilit kaki-kaki logam mesin tersebut dan menariknya jatuh ke dalam pelukan bumi. Mesin itu berderit, hancur oleh kekuatan alami yang tidak bisa diprediksi oleh algoritma tempur mana pun.
Adam berdiri kembali, matanya kini memancarkan cahaya yang tenang namun tajam. Ia menatap ke arah piramida kristal. Di sana, ia melihat pintu masuk utama terbuka. Bukan oleh Penjaga, tapi oleh sistem otomatis yang merasakan bahwa pemilik aslinya The Hage emon telah tiba untuk tahap akhir.
Sebuah pesawat berbentuk piringan perak mendarat dengan anggun di puncak piramida. Keluar dari sana, seorang pria tua dengan kursi roda melayang. Ia nampak sangat lemah, namun auranya sangat mengintimidasi. Dialah sang Pemegang Kendali yang sesungguhnya, orang yang selama ini hanya menjadi bayangan di balik Silas.
"Kau melakukan pekerjaan yang bagus, Adam," suara pria itu lembut, namun dingin seperti es Antartika. "Kau telah mematikan 'Jangkar' yang sudah usang, dan membawakan 'Kunci' Antartika kepadaku. Semua ini... pelarianmu, Liora, hingga kematian Hendrawan... semuanya adalah bagian dari tes untuk melihat apakah kau layak menjadi pemimpin manusia baru."
Adam tertegun. "Apa maksudmu?"
"Kami butuh seseorang yang memiliki nurani untuk memimpin para tak bernurani ini. Jika pemimpinnya adalah mesin, maka peradaban ini akan hancur sendiri. Tapi jika pemimpinnya adalah manusia yang bisa memanipulasi frekuensi bumi seperti kau... maka kami benar-benar akan menjadi abadi."
Pria itu mengulurkan tangan. "Bergabunglah denganku, Adam. Kita hapus Unit 731, kita hapus sejarah perang, kita hapus penderitaan. Kita buat dunia baru di sini, di bawah es, di mana tidak ada lagi air mata."
Adam menatap Bunda, lalu menatap tongkat di tangannya. Di belakang pria kursi roda itu, ia melihat ribuan tabung "Benih" mulai bersinar, siap untuk dibangunkan.
Ini adalah ujian terakhir. Bukan ujian kekuatan, tapi ujian keinginan. Apakah Adam akan memilih menjadi tuhan di dunia bawah tanah yang palsu, atau tetap menjadi manusia di dunia atas yang hancur namun nyata?
"Dunia yang tanpa air mata adalah dunia yang tanpa cinta," jawab Adam dengan suara yang bergetar namun pasti. "Dan aku lebih memilih mati bersama manusia yang berdosa daripada hidup abadi bersama hantu yang merasa suci."
Dengan satu sentakan kuat, Adam menancapkan tongkat kayunya ke pusat kristal piramida. Ia tidak mencoba meretasnya. Ia mengirimkan satu perintah sederhana yang tidak bisa ditolak oleh sistem apa pun: "RETURN TO DUST."
Seluruh piramida mulai retak. Cahaya biru dan emas beradu, menciptakan badai energi yang mulai menghisap segala sesuatu di sekelilingnya.
"Kau gila! Kau akan menghancurkan semua riset selama berabad-abad!" teriak sang Pemegang Kendali.
"Bukan menghancurkan," kata Adam sambil menatap tabung-tabung janin yang mulai meredup. "Aku hanya mengembalikan mereka kepada Tuhan sebelum kalian sempat mencuri jiwa mereka."
Gua raksasa itu mulai runtuh. Bongkahan es sebesar rumah jatuh dari langit-langit. Adam melihat Bunda tersenyum padanya sebelum wanita itu menghilang di balik dinding cahaya.
Adam memejamkan mata, membiarkan energi itu membawanya. Di detik terakhir, ia merasakan sebuah tangan memegang tangannya. Hangat. Lembut.
"Liora?" bisik Adam.
Dan semuanya menjadi putih.