NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah

Bagi Bima dan Senara, rutinitas bukan lagi sekedar jadwal, melainkan sebuah jerat yang perlahan-lahan menghisap keceriaan masa remaja mereka. Di kamar-kamar yang berbeda, satu di istana yang dingin, dan satu di rumah petak yang sesak. Dua remaja genius itu mulai menyentuh titik jenuh yang mematikan.

​Bima duduk di depan meja belajarnya yang terbuat dari kayu mahoni. Di depannya, ada prototipe proyek sainsnya, sebuah alat purifikasi udara berbasis nanomaterial yang tampak sempurna. Namun, Bima merasa hampa. Sudah tiga hari ia tidak keluar rumah kecuali ke sekolah. Matanya merah, kepalanya berdenyut, dan nafsu makannya hilang.

​Bima menatap tumpukan sertifikat di dinding kamarnya. Semua itu tampak seperti tumpukan kertas sampah di matanya. "Untuk apa sebenarnya semua ini?" gumamnya pelan.

​Tiba-tiba, ia menyapu semua peralatan di atas mejanya dengan tangan. Botol-botol sampel yang terbuat dari kaca itu jatuh ke lantai, tidak pecah karena dilapisi karet, namun suaranya cukup nyaring untuk memecah keheningan malam. Bima menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Ia ingin menyerah, ia ingin bangun besok pagi tanpa harus memikirkan nilai, tanpa harus memikirkan ekspektasi ayahnya, dan tanpa harus memikirkan saingan terberatnya, Senara.

​Namun, tepat saat ia hendak mematikan lampu dan tidur lebih awal, sebuah email masuk ke tabletnya. Itu adalah notifikasi resmi dari panitia LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja) tingkat provinsi.

​“Lampiran Finalis: Selamat kepada, Bima Arkana Adhikara Wijaya (SMP Super Internasional) dan Senara Zafira Atmaja (SMP Negeri 12) terpilih sebagai dua kandidat utama dengan poin proposal tertinggi.”

​Melihat nama Senara yang bersanding dengan namanya seperti sebuah sengatan listrik yang mematikan. Rasa jenuh itu mendadak tergusur oleh gelombang adrenalin yang kasar.

"Poin proposal tertinggi? Dia hanya memakai bahan bekas tapi poinnya setara dengan nanomaterialku?" Bima berdiri, rasa kantuknya hilang seketika. Ia mengambil kembali botol sampel yang jatuh di lantai.

​"Kamu benar-benar tidak memberi aku waktu untuk bernapas, Senara!" bisiknya pada layar tablet.

​Di tempat lain, Senara sedang duduk di lantai dapur, kepalanya bersandar pada dinding yang lembap. Di hadapannya, botol-botol plastik bekas dan susunan kabel tembaga tampak berantakan. Ia baru saja gagal melakukan uji coba filtrasi untuk kesepuluh kalinya malam itu. Air yang keluar tetap keruh, tidak sesuai dengan parameter yang ia targetkan.

​Senara memejamkan mata, ia merasa sangat lelah. Bahunya sakit karena terus-menerus mengangkut sampel air dari sungai, dan jarinya lecet karena teriris kabel tembaga. "Mungkin memang aku tidak bisa," bisiknya lirih. "Mungkin Bima benar, peralatan mahal itu memang tidak bisa dikalahkan dengan sampah-sampah ini."

​Ibunya masuk ke dapur, membawa segelas air putih hangat. Beliau tidak bicara apa-apa, hanya mengelus rambut Senara dengan tangan yang kasar karena terlalu banyak mencuci baju orang lain. Senara ingin menangis, ingin bilang bahwa ia ingin berhenti sekolah saja dan bekerja agar ibunya tidak perlu sesakit ini.

​"Nara," panggil ibunya lembut. "Kalau sudah capek, tidur saja. Kamu sudah berusaha sangat keras."

​Senara menatap ibunya, lalu menatap botol-botol plastiknya. Saat ia hendak membereskan semuanya, ia teringat wajah Bima saat di perpustakaan tempo hari. Tatapan meremehkan itu dan ucapan tentang sepatu gelandangan miliknya.

​Jika ia menyerah sekarang, ia bukan hanya kalah dalam lomba, tapi ia mengakui bahwa kemiskinannya adalah batas dari kecerdasannya. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

​Senara mengambil ponsel retaknya yang tergeletak di lantai. Ia membuka situs pengumuman LKIR. Di sana, ia melihat namanya ada di urutan kedua, tepat di bawah nama Bima. Selisih poin proposal mereka hanya 0,1.

​"Hanya nol koma satu," Senara bergumam, suaranya kembali menguat. Ia berdiri, mengabaikan rasa perih di jari-jarinya. "Dia punya segalanya, tapi dia hanya unggul nol koma satu poin dariku? Itu artinya, dia yang seharusnya takut padaku."

​Senara mengambil kembali kabel tembaganya, ia mulai membongkar ulang susunan sirkuitnya. Rasa lelahnya mendadak berubah menjadi bahan bakar yang membara.

​Satu minggu menjelang hari H perlombaan, tensi di antara mereka semakin memuncak meskipun mereka tidak bertemu secara fisik. Melalui media sosial sekolah masing-masing, mereka saling memantau perkembangan rivalnya.

​SMP Super Internasional mengunggah foto Bima di laboratorium yang sangat canggih dengan judul, "Kesiapan Menuju Emas: Sang Maestro Sains Kami." Bima dalam foto itu terlihat sangat profesional, namun matanya tampak dingin dan waspada.

​Di sisi lain, SMP Negeri 12 mengunggah foto Senara yang sedang bekerja di halaman sekolah dengan alat dari botol bekas dengan judul, "Kreativitas Tanpa Batas: Perjuangan Senara untuk Lingkungan." Senara dalam foto itu terlihat berkeringat, rambutnya berantakan, senyumnya tipis, namun terlihat sangat menantang.

​Bima melihat foto Senara saat ia sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Ia memperbesar foto itu, fokus pada alat filtrasi Senara yang sederhana.

​"Botol bekas? Dia bersungguh-sungguh mau memenangkan lomba tingkat provinsi dengan botol-botol bekas itu?" Bima mendengus, namun di dalam hatinya, ia merasa terintimidasi. Ia tahu, jika Senara bisa mencapai poin proposal setinggi itu dengan alat seminim itu, berarti logika di balik alat itu sangat luar biasa.

​Bima segera menelepon asistennya. "Siapkan tambahan bahan kimia murni kelas satu untuk besok pagi di lab. Aku akan melakukan kalibrasi ulang. Aku tidak mau ada satu pun kotoran yang lolos dari filterku."

​"Tapi Tuan Muda, ini sudah malam..."

​"Besok pagi harus ada!" perintah Bima mutlak.

​Malam sebelum perlombaan, keduanya terjaga dalam kondisi yang serupa namun tak sama.

​Bima berdiri di balkon kamarnya, menatap pemandangan kota Jakarta yang penuh lampu. Ia merasa kesepian di tengah kemegahan. Ia tahu, jika ia menang besok, ayahnya mungkin hanya akan mengangguk kecil. Namun jika ia kalah, ia akan kehilangan tempatnya di rumah ini secara emosional.

​"Aku harus menang. Bukan untuk piala itu, tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak bisa digantikan oleh siapa pun," bisiknya pada angin malam.

​Sementara itu, Senara sedang duduk di teras rumahnya, memperbaiki tali tasnya agar tidak putus saat membawa alatnya besok. Ia menatap bintang-bintang yang samar tertutup polusi. Ia merasa tertekan, namun ia merasa memiliki tujuan. Jika ia menang, uang hadiahnya bisa digunakan untuk membayar biaya pendaftaran SMA Garuda yang sangat mahal itu.

​"Hanya tinggal satu langkah lagi, Nara. Kalahkan si sombong itu, dan jalanmu menuju masa depan akan terbuka," gumam Senara sambil mengikat kencang simpul tasnya.

​Lomba LKIR bukan lagi sekedar kompetisi akademik. Ini adalah pertarungan antara dua martabat yang sudah terluka. Jenuh yang sempat menghinggapi mereka kini telah membeku menjadi ambisi yang tajam. Mereka berdua siap untuk meledak di panggung provinsi besok, membawa seluruh rasa sakit dan harapan mereka dalam bentuk rumus dan logika.

​Bima dengan kesempurnaan teknologinya, dan Senara dengan kejeniusan survivalnya.

​Dua matahari itu kini sudah berada di ujung cakrawala, siap untuk saling menelan satu sama lain dalam gerhana yang paling kompetitif sepanjang sejarah SMP mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!