Lin Xuan, seorang pemuda dari keluarga cabang Klan Lin di Benua Azure yang memiliki "Akar Spiritual Cacat", selalu dihina dan ditindas. Saat sekarat karena dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merebut harta peninggalan orang tuanya, darahnya tanpa sengaja membangkitkan Mutiara Kekacauan Primordial yang bersemayam di kalung usangnya. Mutiara ini tidak hanya memperbaiki akar spiritualnya, tetapi juga memberinya warisan teknik terlarang dari era sebelum alam semesta terbentuk. Inilah awal perjalanannya menentang Surga, membelah galaksi, dan menapaki jalan menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Penempaan di Jantung Makam dan Janji di Bawah Gerbang
Setelah perayaan ulang tahun Pemimpin Sekte yang menggemparkan itu, nama Lin Xuan menjadi tabu sekaligus legenda di Sekte Pedang Bintang. Namun, pemuda yang menjadi pusat badai itu justru menghilang sepenuhnya dari pandangan publik.
Ia tidak menerima misi sekte, tidak mengambil jatah sumber dayanya, dan menutup Puncak Pedang Patah dari segala jenis tamu. Tiga bulan yang ia miliki adalah waktu yang sangat sempit sebelum Makam Kaisar Kuno terbuka.
Di kedalaman dimensi Makam Pedang Kuno...
Langit merah darah tampak semakin pekat. Di zona terdalam yang berjarak lima puluh mil dari pintu masuk, badai Niat Pedang tidak lagi berupa angin, melainkan berbentuk bilah-bilah cahaya padat yang berputar seperti mesin penggiling raksasa. Bahkan seorang kultivator Inti Emas pun akan tercabik-cabik jika melangkah ke tempat ini tanpa artefak pelindung tertinggi.
Di tengah pusat badai tersebut, Lin Xuan duduk bersila di udara, ditopang oleh fluktuasi gravitasi dari pedangnya. Baju bagian atasnya telah hancur sepenuhnya, memperlihatkan tubuh bagian atas yang proporsional dan memancarkan kilau batu giok yang nyaris transparan—tanda bahwa Tulang Besi Kulit Giok-nya telah mencapai tahap puncak.
Di hadapannya, melayang Pedang Pembelah Kekacauan.
"Senior, aku sudah menyerap semua esensi dari pedang-pedang patah Kelas Roh di radius sepuluh mil ini," ucap Lin Xuan, suaranya sedikit serak karena menahan rasa sakit dari badai pedang yang terus-menerus mengikis kulitnya.
Di dalam Dantiannya, Sang Demon Venerable tertawa puas. "Bagus! Besi Inti Bintang Jatuh itu pada dasarnya adalah lubang hitam bagi elemen logam. Dengan Api Kekacauanmu sebagai katalis, pedang tumpulmu itu kini telah menelan jutaan Niat Pedang Kehancuran dari makam ini."
Lin Xuan membuka matanya. Sepasang pupilnya memancarkan kilatan pedang yang sangat tajam, cukup untuk membelah batu hanya dengan tatapan.
Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam gagang Pedang Pembelah Kekacauan.
Seketika, pedang hitam legam itu berdengung riang. Lin Xuan kini bisa merasakan hubungan batin yang sangat erat dengan senjata tersebut, seolah pedang itu memiliki nyawa sendiri. Berkat pemurnian selama tiga bulan, berat pedang itu tidak lagi menetap di angka seratus ribu kati.
Lin Xuan kini telah menguasai Segel Gravitasi Kekacauan. Ia bisa mengubah berat pedang itu dari seringan bulu angsa, hingga seberat dua ratus ribu kati hanya dengan satu pikiran!
Tidak hanya itu, sisa dari Inti Kera Iblis Darah telah ia serap habis. Energi murninya mendorong batas kultivasi Lin Xuan hingga menerobos bottleneck.
Pembentukan Fondasi Tingkat 7...
Pembentukan Fondasi Tingkat 8!
"Dengan basis kultivasi tingkat 8 dan beban maksimal pedang ini, jika aku bertemu dengan Huangfu Yun lagi, aku tidak perlu mematahkan tangannya. Aku akan meratakannya menjadi debu," gumam Lin Xuan sambil menyarungkan pedang raksasanya ke punggung. Anehnya, tanah di bawahnya tidak lagi amblas karena ia telah menyetel berat pedangnya seringan pedang fana biasa untuk mobilitas.
Waktu tiga bulan telah habis. Waktunya berangkat.
Saat Lin Xuan keluar dari gerbang perunggu raksasa Makam Pedang Kuno, ia melihat Feng Wuchen duduk di atas batu besar, menghadap matahari terbenam dengan labu arak di tangannya.
Pria tua itu tampak semakin rapuh. Lin Xuan, yang kini memiliki kultivasi dan indra yang jauh lebih tajam, bisa melihat Niat Pedang Hitam berbentuk kutukan di jantung gurunya itu berdenyut lebih ganas dari sebelumnya, perlahan memakan sisa umur Feng Wuchen.
Lin Xuan berjalan mendekat dan menangkupkan kedua tangannya dengan hormat yang tulus.
"Guru. Murid akan pergi hari ini untuk sebuah perjalanan jauh ke wilayah barat," pamit Lin Xuan.
Feng Wuchen tidak menoleh. Ia hanya menenggak araknya, lalu mendesah pelan. "Lautan Pasir Kematian, kan? Berita tentang Makam Kaisar Kuno sudah tersebar ke seluruh sekte elit. Para monster tua yang usianya hampir habis mengirimkan murid-murid terbaik mereka ke sana untuk memperebutkan rahasia keabadian."
Pria tua itu melemparkan sebuah kendi kecil ke arah Lin Xuan. Lin Xuan menangkapnya; kendi itu berisi arak yang sangat keras dan membakar.
"Minumlah sedikit agar tubuhmu hangat di malam gurun nanti," kekeh Feng Wuchen. "Bocah, dunia luar sana dipenuhi anjing-anjing licik. Kultivator Inti Emas mungkin tidak bisa masuk ke makam itu, tapi mereka akan menunggumu di luar pintu keluar untuk merampokmu. Jika kau mati, aku tidak punya uang untuk membelikanmu peti mati."
Lin Xuan tersenyum. Ia menenggak arak dari kendi itu, merasakan sensasi panas yang menyenangkan mengalir di tenggorokannya.
"Jangan khawatir, Guru. Aku tidak berencana mati sebelum membalas budimu," Lin Xuan menatap lurus ke arah punggung bungkuk pria tua itu. "Tunggu aku kembali. Setelah aku menembus Alam Inti Emas, aku berjanji akan menggunakan Api Kekacauan-ku untuk membakar habis Kutukan Pedang di jantungmu itu."
Tangan Feng Wuchen yang memegang labu arak tiba-tiba berhenti di udara. Tubuhnya yang selalu tampak santai menegang untuk sepersekian detik. Namun, ia tidak berbalik. Ia hanya melambaikan tangan kirinya dengan gaya mengusir.
"Banyak bicara! Pergi sana dan jangan buat malu Puncak Pedang Patah!" omelnya serak.
Lin Xuan tertawa pelan, membungkuk sekali lagi, lalu tubuhnya melesat ke udara, membelah langit senja menuju ufuk barat.
Baru setelah bayangan Lin Xuan menghilang di balik awan, Feng Wuchen perlahan menoleh. Sepasang mata merahnya yang biasanya sayu kini memancarkan cahaya yang sangat tajam dan rumit.
"Membakar kutukan dari pedang Kaisar Iblis?" gumam Feng Wuchen, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang penuh kebanggaan. "Bocah gila... beraninya kau memberiku harapan."
Tujuh hari kemudian. Wilayah Barat Benua Azure.
Suhu udara berubah drastis. Jika wilayah timur dipenuhi hutan dan pegunungan spiritual, wilayah barat adalah neraka dunia. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan pasir berwarna merah tua yang memancarkan hawa panas yang mampu membakar kulit kultivator biasa. Badai debu bergulung-gulung di kejauhan, menyembunyikan binatang-binatang buas gurun yang mematikan.
Inilah Lautan Pasir Kematian.
Di tepi gurun raksasa tersebut, terdapat sebuah oase berskala besar yang kini telah disulap menjadi kota perkemahan sementara. Ribuan tenda mewah, kereta terbang, dan kapal roh berlabuh di sekitar danau oase. Bendera-bendera dari berbagai faksi raksasa Benua Azure berkibar tertiup angin panas.
Lin Xuan mendarat beberapa mil dari oase dan memutuskan untuk berjalan kaki. Ia kembali mengenakan jubah abu-abu sederhana dan topi bambu yang menutupi separuh wajahnya. Dengan Mutiara Kekacauan, ia menyembunyikan basis kultivasi tingkat 8-nya menjadi hanya di Pembentukan Fondasi tingkat 5—tingkat menengah yang tidak terlalu mencolok, namun cukup tinggi agar tidak diganggu preman teri.
Saat ia memasuki area oase yang hiruk-pikuk, matanya langsung menangkap konfigurasi kekuatan yang berkumpul di sana.
Di sisi timur oase, berdiri kemah emas raksasa milik Kekaisaran Naga Azure. Ribuan prajurit lapis baja elit berjaga di sana. Namun, yang menarik perhatian Lin Xuan bukanlah jumlah mereka, melainkan sosok pemuda kekar yang duduk di atas singgasana di depan kemah tersebut.
Pemuda itu bukan Huangfu Yun. Ia memiliki bekas luka melintang di wajahnya, auranya memancarkan bau darah yang pekat, dan ia berada di puncak Pembentukan Fondasi tingkat 9!
"Itu Huangfu Lei, Pangeran Kedua Kekaisaran," Sang Demon Venerable memberi analisis. "Dia adalah anjing liar yang dikirim ke perbatasan untuk berperang sejak kecil. Berbeda dengan kakak mahkotanya yang manja, anak ini benar-benar hidup dari pembantaian."
Lin Xuan mengangguk pelan dari balik topi bambunya. Tampaknya kekaisaran telah mengganti kuda tunggangan mereka setelah Huangfu Yun dipermalukan.
Di sisi utara, suhu udara turun drastis membentuk embun beku. Sebuah paviliun es raksasa yang transparan telah didirikan. Di sekeliling paviliun itu, puluhan gadis berpakaian sutra putih berjaga dengan pedang terhunus. Itu adalah area Istana Es Surgawi.
Lin Xuan bisa merasakan aura Mu Qingxue di dalam paviliun tersebut, namun ia memutuskan untuk tidak langsung menghampirinya. Bertemu secara terang-terangan hanya akan menarik perhatian Kekaisaran Naga Azure dan mengungkap aliansi mereka terlalu dini.
"Hei, kawan! Menyingkir dari jalan!"
Sebuah dorongan kasar dari belakang membuyarkan lamunan Lin Xuan. Ia menoleh sedikit, melihat sekelompok kultivator berpakaian serba hitam dengan jubah berkerudung yang memancarkan aura busuk dan Yin yang sangat kental.
"Faksi Jalan Iblis (Demonic Path)," gumam Lin Xuan.
Pemimpin kelompok itu, seorang pemuda berwajah pucat pasi dengan bibir ungu, menatap Lin Xuan dengan mata seperti ular beludak. "Kultivator lepasan udik, jangan menghalangi jalan Sekte Darah Bayangan. Atau kucabut nyawamu untuk dijadikan santapan hantu peliharaanku."
Lin Xuan tersenyum di balik topinya. Tangannya dengan santai bertumpu pada gagang pedang raksasa di punggungnya. Baru saja tiba, masalah sudah datang mencarinya.
dan kalau bisa update nya jangan lama lama