Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Malam yang Mengubah Dunia
Hujan turun seperti air mata langit malam itu.
Kota itu tidak pernah benar-benar tidur. Di balik gemerlap lampu dan gedung-gedung tinggi, ada dunia lain yang tak terlihat—dunia kekuasaan, uang, dan darah. Dunia keluarga Vincenzo Salvatore De Luca, seorang taipan bisnis internasional yang namanya disegani di Eropa dan Amerika Latin. Namun orang-orang yang benar-benar mengenalnya tahu… ia bukan sekadar pebisnis. Ia adalah pemimpin jaringan mafia yang tak pernah tersentuh hukum.
Di dalam mansion megahnya, seorang bayi perempuan berusia empat bulan tertidur lelap.
Namanya Alessandra Valentina De Luca.
Pipi mungilnya merona, napasnya lembut. Tangannya yang kecil menggenggam jari ibunya, Isabella Conti De Luca, seorang wanita bangsawan Italia yang memilih cinta daripada kenyamanan hidup aristokratnya.
Isabella menatap putrinya dengan mata yang penuh ketakutan malam itu.
“Aku tidak suka firasat ini, Enzo…” bisiknya pelan pada suaminya.
Vincenzo berdiri di dekat jendela besar. Wajahnya tegas, namun garis kecemasan terlihat jelas. Musuh lamanya, kartel saingan di Amerika Latin, baru saja mengirim ancaman.
“Tak ada yang bisa menyentuh keluargaku,” ucapnya dingin. Namun dalam hatinya, ia tahu—dunia yang ia bangun dengan darah dan kekuasaan kini mengancam darah dagingnya sendiri.
Dan tepat pukul dua dini hari—
Ledakan.
Teriakan penjaga.
Suara tembakan.
Kekacauan pecah seperti neraka yang terbuka.
Isabella menjerit ketika pintu kamar didobrak. Vincenzo menarik pistolnya, melindungi istri dan putrinya. Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Dalam hitungan menit, mansion itu berubah menjadi medan perang.
Seorang pria bertopeng hitam merebut Alessandra dari gendongan ibunya.
“Tidak! Jangan sentuh putriku!” Isabella berteriak histeris.
Vincenzo menembak, namun sebuah pukulan keras membuatnya terjatuh. Darah mengalir dari pelipisnya. Dunia terasa gelap.
Tangisan bayi itu menggema di lorong panjang.
Dan malam itu… Alessandra Valentina De Luca menghilang dari dunia yang seharusnya menjadi miliknya.
🌧️
Ribuan kilometer dari sana.
Di sebuah desa kecil di pedalaman Oaxaca, Meksiko.
Hidup berjalan lambat. Tanah kering, ladang jagung, dan rumah-rumah sederhana berdiri di bawah langit jingga sore hari.
Sepasang suami istri petani berjalan pulang setelah bekerja.
Namanya Miguel Hernández dan istrinya Sofía Hernández.
Sepuluh tahun pernikahan. Sepuluh tahun doa yang tak pernah dikabulkan. Mereka tak pernah memiliki anak.
Sofía selalu berhenti lebih lama saat melihat anak-anak desa bermain.
Malam itu, mereka mendengar suara tangisan dari semak dekat jalan tanah.
Miguel berhenti.
“¿Escuchaste eso?” (Kau dengar itu?)
Tangisan itu lagi. Lemah. Dingin.
Mereka menemukan sebuah keranjang tua, dengan selimut mahal yang jelas bukan milik orang desa.
Di dalamnya… bayi perempuan dengan mata kelabu kebiruan.
Sofía terdiam. Air matanya langsung jatuh.
“Dios mío…”
Bayi itu menggenggam jari Sofía.
Dan sesuatu di hati wanita itu hancur sekaligus utuh dalam waktu yang sama.
“Miguel… Tuhan mengirimkannya pada kita.”
Miguel tahu ini bukan kebetulan. Pakaian bayi itu terlalu mewah. Gelang kecil emas bertuliskan huruf “A.V.D.L” tergantung di tangan mungilnya.
Ini bukan bayi sembarangan.
Ini bayi yang dibuang… atau dikejar.
“Kita bisa dalam bahaya,” Miguel berbisik.
Sofía memeluk bayi itu erat.
“Aku sudah sepuluh tahun hidup dalam sepi, Miguel. Kalau ini dosa… biarlah aku menanggungnya. Tapi malam ini, aku tidak akan membiarkan malaikat kecil ini mati.”
Hujan mulai turun.
Miguel menatap langit.
Lalu pada bayi itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memilih melawan ketakutan.
“Kita bawa dia pulang.”
🌾
Mereka menamainya Valeria Hernández.
Nama sederhana. Hidup sederhana. Cinta sederhana.
Tak ada yang tahu bahwa darah mafia dan kekaisaran bisnis dunia mengalir dalam tubuh kecil itu.
Valeria tumbuh dengan tawa yang memenuhi rumah kecil mereka. Ia belajar berjalan di ladang jagung. Ia tertawa saat ayam-ayam berlarian. Ia memanggil Sofía “Mamá” dan Miguel “Papá” dengan suara paling manis yang pernah mereka dengar.
Sofía sering menatap putrinya yang kini berusia lima tahun.
Terlalu cantik untuk desa kecil ini.
Kulitnya putih bersih. Matanya kelabu kebiruan—berbeda dari siapa pun di desa. Rambutnya coklat gelap berkilau di bawah matahari.
“Dia seperti putri,” bisik tetangga.
Valeria bukan hanya cantik.
Ia cerdas.
Sangat cerdas.
Di usia enam tahun, ia sudah membaca buku medis bekas yang diberikan pastor desa. Di usia delapan tahun, ia membantu bidan desa saat kelahiran darurat.
Di usia sepuluh tahun, ia berkata pada ayahnya:
“Aku ingin menjadi dokter bedah, Papá. Aku ingin menyelamatkan orang-orang.”
Miguel terdiam. Uang mereka tak pernah cukup.
Namun tatapan mata itu…
Tatapan yang sama seperti malam pertama mereka menemukannya.
Tatapan yang membawa takdir.
🌑
Sementara itu—
Di belahan dunia lain.
Vincenzo De Luca tidak pernah berhenti mencari.
Ia kehilangan segalanya malam itu.
Mansion hancur.
Istrinya mengalami trauma berat dan jatuh dalam depresi mendalam.
Jaringannya melemah.
Namun satu hal tak pernah padam.
“Putriku masih hidup,” katanya setiap malam.
Dan di meja kerjanya, selalu ada satu foto bayi kecil.
Alessandra Valentina De Luca.
Takdir tidak pernah benar-benar memutus benang.
Ia hanya memutar, menjauhkan, dan menguji.
Seorang bayi mafia.
Seorang gadis desa.
Dua dunia yang berbeda.
Dan suatu hari nanti…
Darah masa lalu akan bertemu dengan cahaya masa depan.
Namun untuk sekarang—
Valeria Hernández hanyalah seorang anak petani yang berlari di antara ladang jagung, tertawa tanpa tahu bahwa dunia yang kejam pernah mencurinya.
Dan mungkin…
Justru karena ia dicuri, ia akan tumbuh menjadi cahaya yang tak pernah dimiliki keluarganya dulu.