NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Dari Masa Lalu

Lauren tersedak udara dingin yang terasa seperti serpihan es saat kabut hitam itu mendadak luruh. Tarikan brutal di bawah tempat tidurnya berhenti sekejap sebelum kesadarannya terlempar ke lantai ubin yang dingin dan berdebu. Kamarnya lenyap. Kehangatan lampu rumahnya berganti dengan kegelapan pekat yang hanya ditembus oleh sedikit cahaya bulan dari jendela-jendela tinggi di langit-langit.

"Lauren! Kamu tidak apa-apa?" Suara Herza terdengar cemas, arwah itu segera muncul di sampingnya dengan pendar biru yang meredup.

Lauren terbatuk, mencoba menjernihkan penglihatannya.

"Herza... kita di mana? Tadi itu... apa?"

"Perpustakaan tua sayap utara sekolah," jawab Herza sambil mengamati deretan rak kayu raksasa yang tampak seperti rahang monster di kegelapan.

"Kabut itu tidak membunuhmu, Lauren. Sesuatu di tempat ini yang menarikmu secara paksa melalui celah dimensi. Kamu tidak ditarik ke bawah, kamu dipanggil ke sini."

Lauren berdiri dengan kaki gemetar. Bau kertas lapuk dan kelembapan yang menyengat memenuhi indra penciumannya. Ini adalah bagian sekolah yang sudah ditutup sejak tahun delapan puluhan karena struktur bangunannya yang dianggap tidak aman. Ubin di bawah kakinya retak-retak, ditumbuhi lumur tipis yang licin.

"Kenapa tempat ini?" bisik Lauren. Suaranya bergema lemah di antara ribuan buku yang membusuk.

Herza melayang maju, tangannya menunjuk ke arah ujung ruangan di mana sebuah meja besar berbahan jati berdiri kokoh.

"Ada sesuatu yang berdenyut di sana. Energinya sangat mirip denganmu, tapi jauh lebih tua dan lebih murni."

Mereka melangkah perlahan. Setiap langkah Lauren menimbulkan suara derit yang tajam. Ia merasa seolah-olah ribuan pasang mata sedang mengawasinya dari balik tumpukan buku. Saat mereka sampai di meja tersebut, Lauren melihat sebuah kotak kayu kecil yang tergeletak di bawah lapisan debu setebal satu sentimeter. Kotak itu tidak memiliki kunci, namun ada sebuah simbol yang terukir di atas penutupnya.

Jantung Lauren seolah berhenti berdetak. Simbol itu adalah sebuah lingkaran yang di tengahnya terdapat gambar mata yang dikelilingi oleh lidah api yang menjilat.

"Itu... simbol di mimpiku," bisik Lauren tertahan.

"Mimpi saat aku melihat wanita itu mati terbakar di lorong rumah tua."

"Buka, Lauren," instruksi Herza.

"Hanya kamu yang bisa melakukannya tanpa memicu jebakan energinya."

Lauren mengulurkan tangan yang gemetar. Saat ujung jarinya menyentuh permukaan kayu, sebuah getaran hangat merambat naik ke lengannya. Debu di atas kotak itu mendadak tersingkap seolah ditiup angin tak kasatmata. Dengan satu gerakan ragu, Lauren membuka tutup kotak tersebut.

Di dalamnya, terdapat sebuah medali perunggu tua yang tergantung pada rantai perak yang menghitam. Di tengah medali itu, simbol mata api yang sama berkilau redup, memancarkan cahaya jingga yang hangat namun terasa sangat berat.

"Ambil," kata Herza pelan.

Begitu Lauren mencengkeram medali itu, dunia nya mendadak berputar. Sebuah beban raksasa seolah dijatuhkan tepat di atas pundaknya. Udara di sekitar perpustakaan itu mendadak menjadi seberat timah. Lauren merasa paru-parunya terhimpit, membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas.

Dug. Dug. Dug.

Suara detak jantung yang bukan miliknya bergema di telinganya. Bersamaan dengan itu, kilasan-kilasan penglihatan menghantam batin Lauren seperti badai. Ia melihat seorang wanita berpakaian kuno dengan mata yang persis seperti matanya sedang berdiri di tengah hutan, memegang medali yang sama. Ia melihat pria-pria berjubah hitam yang mengejar wanita itu, dan ia merasakan kepedihan yang luar biasa saat wanita itu mengalirkan seluruh sisa hidupnya ke dalam medali tersebut untuk menyembunyikan kekuatannya.

"Argh!" Lauren mengerang, ia jatuh berlutut. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Medali itu terasa sangat panas, namun ia tidak bisa melepaskannya. Rasanya seolah-olah benda itu adalah bagian dari tubuhnya yang sempat hilang dan kini menuntut untuk kembali menyatu.

"Lauren! Bertahanlah!" Herza mencoba mendekat, namun sebuah perisai transparan berwarna jingga meledak dari medali itu, mementalkan Herza hingga menabrak rak buku.

Di dalam kepalanya, Lauren mendengar suara-suara bisikan yang tumpang tindih. Suara itu bukan bahasa yang ia kenal, namun ia memahami maknanya.

Darah dari darah. Penjaga gerbang yang kembali bangkit.

"Ini bukan kutukan..." bisik Lauren di sela rasa sakitnya. Kesadarannya mulai menipis, dunianya menjadi buram karena aura berat yang memuakkan dari artefak tersebut.

"Ini... warisan."

Lauren menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah disebutkan oleh Mbah Minto atau siapa pun. Kemampuan indigonya bukan sekadar kecelakaan biologis atau takdir yang acak. Kemampuannya adalah garis keturunan. Ia adalah pewaris dari sebuah ordo kuno yang bertugas menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia bayangan. Kekuatan ini mengalir dalam darahnya, diturunkan dari generasi ke generasi, dan kini ia adalah pemegang estafet terakhir.

"Mama... Papa..." Lauren bergumam lirih sebelum tubuhnya lunglai dan ia jatuh pingsan di lantai perpustakaan yang dingin.

Beberapa jam kemudian, Lauren terbangun dalam dekapan dingin Herza. Cahaya matahari fajar mulai merembes masuk dari celah jendela, menerangi debu-debu yang menari di udara. Medali itu masih berada di genggamannya, namun kini suhunya sudah normal dan auranya sudah tenang, menyatu dengan energi batin Lauren.

"Kamu membuatku takut," kata Herza, wajah arwahnya nampak sangat kelelahan.

"Aura medali itu hampir menghancurkan esensi arwahku saat mencoba menolongmu."

Lauren duduk perlahan, memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Ia menatap medali di tangannya, lalu menyimpannya di dalam saku seragamnya. "Aku melihat mereka, Herza. Nenek moyangku. Aku bukan yang pertama. Kekuatan ini... sudah ada di keluargaku selama ratusan tahun."

Herza terdiam sejenak, menatap ke arah meja tua tempat kotak itu berada.

"Itulah sebabnya mereka mengincarmu sejak kamu bayi. Mereka tidak hanya menginginkan energimu, Lauren. Mereka ingin memutuskan garis keturunan ini untuk selamanya agar tidak ada lagi yang bisa menutup gerbang mereka."

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Lauren sambil berdiri, mencoba memulihkan keseimbangannya.

Herza melayang menuju jendela, menatap ke arah gedung utama sekolah yang mulai ramai dengan aktivitas siswa yang datang pagi. Ia tampak sangat serius, jauh lebih tegang daripada saat mereka menghadapi entitas jubah hitam di lapangan basket.

"Kita harus segera pergi dari sini sebelum residu energimu terdeteksi oleh 'mereka'," kata Herza pelan. Ia menoleh ke arah Lauren dengan tatapan yang penuh dengan peringatan yang mengerikan.

"Kenapa? Bukankah medali ini kekuatanku?" Lauren bertanya bingung.

Herza menggeleng, suaranya turun menjadi bisikan yang tajam.

"Medali itu bukan sekadar perisai, Lauren. Itu adalah peta. Dan sekarang, simbol yang aktif di tanganmu telah menyalakan suar di alam bayangan. Masalah yang kita hadapi... ternyata jauh lebih tua dan lebih besar dari yang aku duga."

Herza menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah bayang-bayang di sudut perpustakaan yang seolah-olah mulai bergerak mengikuti gerak-gerik mereka.

"Benda itu berasal dari era sebelum kerajaan-kerajaan di tanah ini berdiri. Dan pemilik aslinya... dia belum benar-benar mati. Dia baru saja merasakan detak jantungmu melalui medali itu."

Lauren merinding hebat. Ia merasakan sebuah tatapan dingin yang datang dari arah yang sangat jauh, menembus dinding perpustakaan, menembus jiwanya. Jaring takdir yang ia kira mulai ia pahami, kini terasa seperti labirin raksasa yang baru saja terbuka pintunya.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!