Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi berikutnya, sinar matahari menyusup melalui celah pepohonan, menyentuh tubuh telanjang mereka yang masih saling menempel. Ye Qingyu terbangun lebih dulu, matanya lembut saat menatap wajah Lin Feng yang tertidur. Rambut hitamnya yang panjang terurai di dada pria itu, payudaranya yang montok masih menekan dada bidang Lin Feng, putingnya yang sensitif bergesek pelan setiap kali ia bernapas.
Ia menggeser tubuhnya perlahan, tapi gerakan kecil itu membuat Lin Feng membuka mata. Pupil emasnya langsung menyala hangat saat melihat Ye Qingyu yang masih setengah telanjang, kulit putihnya berkilau karena sisa keringat malam tadi.
“Pagi,” bisik Ye Qingyu, suaranya manja. Ia merangkak naik ke atas tubuh Lin Feng, pinggul lebarnya yang sempurna menekan kejantanan pria itu yang langsung bereaksi keras di bawahnya.
Lin Feng menggenggam pinggulnya dengan kedua tangan, jari-jarinya tenggelam ke daging kenyal yang lembut itu. “Kau tidak capek?” tanyanya serak, tapi matanya sudah penuh nafsu lagi.
Ye Qingyu menggeleng, menggigit bibir bawahnya sambil menggesekkan bagian intimnya yang masih basah ke batang Lin Feng yang panas. “Aku ingin lagi… sebelum kita masuk kota. Biar aku ingat rasamu sepanjang hari.”
Tanpa kata lagi, Lin Feng membalik tubuhnya dengan cepat. Ye Qingyu kini berlutut di rumput, bokong bulat montoknya terangkat tinggi, pinggulnya melengkung indah seperti undangan. Lin Feng memegang pinggang rampingnya, lalu masuk dari belakang dengan satu dorongan kuat.
“Ahhh…!” jerit Ye Qingyu pelan, tapi penuh kenikmatan. Tubuhnya bergoyang setiap kali Lin Feng menghantam dalam-dalam. Payudaranya yang besar bergoyang liar di bawah, bergesekan dengan rumput lembut. Lin Feng meraih kedua payudara itu dari belakang, meremas kuat sambil terus bergerak lebih cepat, lebih dalam.
“Qingyu… kau terlalu sempurna,” geramnya, suaranya parau. Jari-jarinya memilin putingnya yang sudah keras, membuat Ye Qingyu menjerit manja dan mendorong pinggulnya ke belakang untuk menyambut setiap hantaman.
Mereka bergerak liar di pagi yang cerah. Ye Qingyu mencapai puncak lebih dulu, tubuhnya kejang hebat, cairan hangat membasahi paha mereka berdua. Lin Feng tidak berhenti—ia menarik tubuh Ye Qingyu ke atas, membuatnya duduk di pangkuannya menghadap ke belakang. Gadis itu menggoyang pinggulnya dengan ritme yang menggoda, bokong montoknya naik-turun di atas kejantanan Lin Feng, sementara tangan pria itu meremas payudaranya dari belakang, bibirnya menciumi leher jenjang yang harum.
“Lebih cepat… ahh… Lin Feng… aku mau lagi…” desah Ye Qingyu, suaranya pecah.
Lin Feng memenuhi permintaannya. Ia mengangkat pinggul Ye Qingyu sedikit, lalu menghantam dari bawah dengan kekuatan penuh. Setiap dorongan membuat tubuh gadis itu berguncang, payudaranya melonjak-lonjak, rambut hitamnya beterbangan liar. Akhirnya Lin Feng mencapai puncak, memenuhi Ye Qingyu dengan panas yang membara, membuat gadis itu orgasme lagi bersamaan—tubuhnya mengejang hebat, kakinya gemetar tak berdaya.
Mereka berbaring kembali, napas tersengal. Ye Qingyu memeluk Lin Feng erat, wajahnya bersembunyi di leher pria itu.
“Kau membuatku ketagihan,” bisiknya sambil mencium leher Lin Feng pelan. “Setiap kali kita berhenti… aku ingin lagi.”
Lin Feng membelai punggungnya yang mulus. “Kita punya banyak waktu di kota. Tapi sekarang… kita harus berangkat.”
Mereka berpakaian dengan malas-malas, saling membantu menyesuaikan jubah. Ye Qingyu sengaja membiarkan jubahnya agak terbuka di bagian dada, memperlihatkan belahan payudara yang masih merah karena remasan malam dan pagi tadi. Lin Feng menatapnya lama, lalu menariknya untuk satu ciuman dalam sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
Dua hari kemudian, mereka tiba di gerbang Kota Kekaisaran Xuanyuan.
Kota itu megah—tembok setinggi ratusan meter, menara-menara emas berkilau, dan kerumunan orang yang tak ada habisnya. Di langit, burung roh dan kapal terbang kultivator melintas. Aura qi tebal terasa di udara, membuat Tungku Api Abadi Lin Feng berdenyut excited.
Mereka masuk dengan identitas sederhana—sepasang pengembara. Tapi saat melewati pasar utama, Ye Qingyu tiba-tiba menarik tangan Lin Feng ke gang kecil.
“Ada apa?” tanya Lin Feng.
Ye Qingyu menempelkan tubuhnya ke dinding gang, menarik Lin Feng mendekat hingga dada mereka menempel lagi. “Aku merasa ada yang mengikuti kita sejak tadi. Tapi lebih dari itu… aku ingin kau lagi. Di sini. Sekarang.”
Lin Feng tersenyum miring. “Kau gila. Kita di tengah kota.”
“Persis karena itu,” bisik Ye Qingyu, tangannya sudah menyusup ke jubah Lin Feng, menggenggam kejantanannya yang langsung mengeras. “Aku suka sensasi bahaya… dan aku ingin merasakan apimu di tempat yang tidak seharusnya.”
Lin Feng tidak bisa menolak. Ia menekan tubuh Ye Qingyu ke dinding, mengangkat salah satu kakinya yang panjang jenjang dan melingkarkannya di pinggangnya. Jubah Ye Qingyu ia angkat cepat, memperlihatkan paha mulus dan bagian intim yang sudah basah. Dengan satu dorongan, ia masuk lagi—dalam, keras, dan cepat.
Ye Qingyu menutup mulutnya sendiri agar tidak terlalu keras mendesah, tapi matanya penuh kenikmatan. Payudaranya bergesekan dengan dada Lin Feng setiap kali ia menghantam. Gang kecil itu sempit, suara langkah orang lewat di jalan utama terdengar dekat, membuat sensasi semakin membara.
“Lebih cepat… ahh… jangan berhenti…” bisik Ye Qingyu di telinga Lin Feng, kuku-jarinya mencakar punggung pria itu.
Lin Feng bergerak lebih ganas, tangannya meremas bokong montok Ye Qingyu, menariknya lebih dalam. Mereka mencapai puncak hampir bersamaan—Ye Qingyu menggigit bahu Lin Feng untuk meredam jeritannya, tubuhnya kejang hebat, sementara Lin Feng memenuhinya lagi dengan panas api yang membuat gadis itu gemetar tak berdaya.
Mereka berpisah cepat, merapikan pakaian. Ye Qingyu tersenyum manja, pipinya merah, mata berkilau.
“Kau membuatku tak bisa berpikir jernih,” katanya sambil mencium bibir Lin Feng singkat.
Lin Feng membalas ciuman itu. “Kau yang membuat api ini tak bisa padam.”
Mereka keluar dari gang, berjalan berdampingan seperti pasangan biasa. Tapi di balik senyum mereka, ada rahasia panas yang hanya mereka berdua tahu.
Di depan mereka, Pameran Artefak Besar Kekaisaran sedang berlangsung—tempat di mana kekuatan, harta, dan musuh baru menanti. Tapi bagi Lin Feng dan Ye Qingyu, yang paling penting sekarang adalah satu sama lain… dan api yang semakin membara di antara mereka.