Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Perasaan yang Tak Biasa
Malam perlahan mengambil alih langit. Warna biru keabu-abuan menggantung di balik kaca jendela kamar Leon, berpadu dengan kilau lampu taman, yang mulai menyala satu per satu. Cahaya lampu kamar memancar lembut, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan kesunyian rumah besar itu.
Leon duduk di kursi rodanya menghadap jendela, tubuhnya tegak, kedua tangannya bertumpu santai di sandaran. Tatapannya jauh, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat. Malam-malam seperti ini sering membuatnya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Beberapa langkah di belakangnya, Nayla berdiri kaku. Sejak tadi ia ingin berbicara, tetapi ragu. Tangannya saling menggenggam, napasnya sedikit tidak beraturan. Ia menatap punggung Leon, lalu memberanikan diri.
“Tuan…” panggilnya pelan, hampir seperti bisikan.
Leon menoleh perlahan. “Ya?” suaranya datar, namun tidak dingin.
Nayla menelan ludah. “Besok… kalau Tuan sudah berangkat ke kantor…” ucapnya terputus-putus. “Apakah saya boleh keluar sebentar?”
Leon mengernyit tipis. “Keluar ke mana?”
Nayla menunduk. “Saya ingin menjenguk Ayah. Sudah lama saya tidak melihat keadaannya secara langsung.” Nada suaranya penuh kehati-hatian. “Tentu saja, kalau Tuan keberatan… saya tidak akan memaksa.”
Ruangan kembali hening.
Leon memalingkan wajah ke jendela. Lampu-lampu di luar tampak berpendar samar. Ia tidak segera menjawab, membuat Nayla semakin gugup. Jarinya mencengkeram ujung baju, seolah bersiap menerima penolakan.
“Aku tidak mengizinkan,” ucap Leon akhirnya, singkat dan tegas.
Hati Nayla seolah tercekat. Ia tidak membantah, hanya menunduk lebih dalam.
“Maaf, Tuan. Saya mengerti,” katanya lirih.
Leon menghela napas kecil. “Kau tahu alasanku,” lanjutnya. “Aku tidak terbiasa sendirian. Kalau sesuatu terjadi dan kau tidak ada di dekatku, itu merepotkan.”
Nada suaranya terdengar rasional, nyaris dingin. Namun ia lupa satu hal—bahwa Nayla tidak bisa melihat senyum tipis yang tanpa sadar muncul di sudut bibirnya.
Nayla mengangguk pelan. Ia mencoba menekan rasa kecewa yang muncul, meski dadanya terasa sedikit sesak.
Namun sebelum ia melangkah mundur, suara Leon kembali terdengar.
“Tapi…” Leon menoleh penuh. “Besok sepulang kantor, kita ke rumah ayahmu bersama.”
Nayla tertegun.
“Apa…?” Ia mengangkat wajahnya, memastikan dirinya tidak salah dengar.
“Aku akan ikut,” ulang Leon tenang. “Lebih baik begitu.”
Reaksi Nayla spontan. Ia berjongkok di depan Leon tanpa sadar, kedua matanya berbinar, tangannya refleks memegang lengan pria itu.
“Benarkah, Tuan? Tuan sungguh-sungguh?” suaranya bergetar oleh rasa bahagia. “Saya tidak bermimpi, kan?”
Leon terkejut sepersekian detik, lalu mengangkat alis. “Kau sadar posisi kita sekarang?” tanyanya datar, meski sorot matanya mengandung geli. “Atau kau sengaja mencari alasan untuk mendekat?”
Nayla tersentak. Ia segera melepaskan pegangannya dan berdiri, wajahnya memerah hingga ke telinga.
“M-maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya… terlalu senang,” ucapnya gugup.
Leon menyandarkan punggung, menatapnya dengan sorot usil. “Atau jangan-jangan kau senang karena aku ikut, bukan karena bisa pulang?”
“Tidak! Bukan begitu!” Nayla membantah terlalu cepat. Pipinya semakin merah, membuat bantahannya justru terdengar tidak meyakinkan.
Leon terdiam.
Ia mengamati Nayla beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ada rasa asing yang mengusik dadanya terasa menghangat, ringan, dan mengganggu fokusnya.
Kenapa aku ingin ikut? pikirnya. Padahal aku bisa saja menyuruh sopir mengantarnya.
Leon mengalihkan pandangan, sedikit terganggu oleh pikirannya sendiri.
“Sudah,” katanya cepat. “Jangan berlebihan. Aku haus. Ambilkan minuman dingin.”
“Baik, Tuan!” jawab Nayla dengan suara cerah, lalu melangkah keluar kamar hampir melompat kecil.
Langkahnya ringan, senyumnya tak bisa disembunyikan. Bahkan saat pintu lift tertutup, ia masih tersenyum sendiri, perasaan hangat yang asing namun menyenangkan mengisi dadanya.
Di dalam kamar, Leon menghela napas panjang. Tangannya terangkat, mengusap dada kirinya perlahan.
“Apa yang salah denganku…” gumamnya pelan. “Kenapa rasanya seperti ini?”
Ia menatap jendela sekali lagi. Malam di luar tampak sama seperti biasa.
Namun tidak dengan hatinya.
---
Begitu sampai di lantai bawah, Nayla melangkah keluar dengan perasaan yang masih hangat. Senyum kecil masih bertahan di wajahnya, bukan senyum berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa hatinya sedang ringan. Pikirannya masih tertuju pada rencana esok hari, tentang ayahnya, dan tentang Leon yang tanpa ia duga bersedia ikut menemaninya.
Namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara menyela dari arah ruang tengah.
“Kelihatannya hari ini menyenangkan sekali, ya.”
Nada itu tidak ramah. Nayla menoleh dan mendapati Lisa berdiri tak jauh darinya, bersandar di dekat pilar dengan tangan terlipat di dada. Tatapan wanita itu tajam, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ia sukai.
“Sejak kapan kamu kelihatan sebahagia ini?” lanjut Lisa, menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak hangat. “Baru keluar dari kamar Tuan Leon, langsung wajahmu berseri. Hebat juga caramu mengambil hati atasan.”
Nayla menghela napas pendek. Ia tidak ingin malamnya rusak hanya karena komentar seperti itu.
“Aku hanya menjalankan tugasku,” jawabnya tenang. “Tuan Leon memintaku membuatkan minuman. Tidak lebih.”
“Hanya tugas?” Lisa tertawa kecil, sinis. “Aneh ya. Yang lain bekerja dari pagi sampai malam, tapi kamu selalu punya alasan untuk dekat dengannya. Jangan-jangan kamu memang merasa dirimu berbeda.”
Beberapa pegawai yang lewat sempat melirik, membuat Nayla tidak nyaman. Namun ia memilih berdiri tegak.
“Lisa,” ucap Nayla dengan nada datar namun tegas, “aku tidak pernah mencampuri urusanmu. Aku datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk bersaing atau mencari perhatian. Kalau kamu punya masalah, jangan libatkan aku.”
Ia tidak menunggu balasan. Nayla langsung melangkah menuju dapur. Ada tugas yang harus ia selesaikan, dan ia tidak ingin Leon menunggu terlalu lama.
Di koridor samping dapur, Nayla berpapasan dengan Dika yang baru saja menyimpan peralatan kebun. Pria itu menghentikan langkahnya dan tersenyum sopan.
“Mbak Nayla, masih sibuk juga?” tanyanya ramah. “Sudah malam.”
“Iya, Mas. Tadi diminta tolong sebentar,” jawab Nayla sambil tersenyum tipis.
Dika mengangguk. “Jangan lupa jaga diri. Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini.”
Perhatian sederhana itu membuat Nayla merasa sedikit lebih baik. “Terima kasih, Mas Dika.”
Ia pun melanjutkan langkahnya ke dapur.
Dari kejauhan, Lisa memperhatikan interaksi itu dengan rahang mengeras. Begitu Nayla menghilang, ia mendekati Dika dengan langkah cepat.
“Kamu akrab sekali dengan Nayla,” katanya dingin.
Dika menoleh, agak terkejut. “Aku cuma menyapa. Dia memang orangnya sopan.”
“Sopan?” Lisa mendengus. “Atau pura-pura baik supaya semua orang simpati? Jangan mudah terkecoh. Orang seperti dia biasanya pandai cari muka.”
Dika tersenyum kecil, kali ini jelas menahan geli. “Kalau semua orang suka sama dia, mungkin bukan karena dia pandai cari muka. Mungkin memang dia orangnya baik.”
Lisa tersentak. “Kamu membelanya?”
“Tidak membela,” jawab Dika santai sambil beranjak pergi. “Aku cuma jujur. Lagi pula, kamu terlalu serius memikirkan dia.”
Ia melangkah pergi, lalu menoleh sekilas sambil berkata ringan,
“Dan satu lagi… kamu nggak perlu merasa terancam. Dia memang beda.”
“Apa maksudmu?” teriak Lisa kesal.
Dika hanya tersenyum dan terus berjalan.
Lisa berdiri terpaku. Wajahnya memerah, antara marah dan malu. Tangannya mengepal erat.
“Perempuan itu…” gumamnya penuh dendam. “Datang-datang langsung jadi pusat perhatian. Tapi jangan senang dulu, Nayla. Aku tidak akan diam selamanya.”
Ia tahu, ia belum punya langkah yang aman. Namun satu hal pasti, perasaannya terhadap Nayla tidak akan berhenti di rasa kesal semata.
Dan di saat Nayla sibuk menyiapkan minuman di dapur, tanpa ia sadari, benih konflik pelan-pelan mulai tumbuh disekitar nya.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎