“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
"Tuan muda Lio? Ini Bibi Martha, Sayang. Bibi membawa seseorang yang ingin bertemu deganmu." Martha mengetuk pintu itu dengan lembut.
Sayangnya, tidak ada jawaban. Hening, seolah kamar luas di balik pintu itu tidak berpenghuni.
Martha menghela napas pendek, menoleh ke arah Cahaya yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah cemas.
"Dia memang sering seperti ini, Nona. Sejak kecil, Elio lebih suka berteman dengan sepi," bisik Martha sedih.
Setelah ketukan ketiga, barulah terdengar bunyi kunci diputar. Pintu terbuka sedikit, menampakkan sosok bocah mungil dengan mata yang sembab dan hidung kemerahan.
Namun, begitu Elio melihat ada sosok asing di samping Martha, ia tersentak. Dengan gerakan secepat kilat, Elio berlari kecil dan menyembunyikan wajahnya di balik gaun seragam Martha. Tubuh bocah itu gemetar hebat.
"Lio, jangan takut. Ini kak Cahaya. Dia yang akan menemani Elio bermain mulai sekarang," bujuk Martha seraya mengusap kepala Elio.
Cahaya terpaku. Melihat Elio yang ketakutan seperti itu, hatinya seperti diremas. Ia teringat dirinya belasan tahun lalu, seorang anak yang berdiri di sudut ruangan besar, merasa asing di rumah sendiri karena orang tuanya terlalu sibuk dengan dunia mereka. Elio bukan hanya kesepian, dia trauma.
Cahaya perlahan berlutut di atas karpet tebal itu, menyamakan tingginya dengan Elio. Ia mencoba tersenyum sehangat mungkin.
"Halo, Elio. Nama Kakak, Cahaya. Elio boleh panggil Kak Aya."
Elio tidak menjawab. Ia tetap bergeming di balik perlindungan Martha. Selama ini, dunia Elio sangat sempit. Di sekolah pun, tidak ada yang mau berteman dengannya. Mereka bilang ayah Elio menakutkan, atau mereka hanya menjauh karena Elio terlalu pendiam. Elio sudah terbiasa dianggap tidak ada.
"Elio suka cokelat? Kak Aya punya cokelat enak sekali dari Indonesia," ucap Cahaya merogoh tasnya, mengeluarkan sebungkus cokelat kecil.
Elio melirik sedikit, lalu menggelengkan kepala. Ia kembali menyembunyikan wajahnya. Cahaya mencoba segala cara, ia bercerita tentang kartun, mengeluarkan mainan kecil, hingga melucu. Tapi Elio hanya membalas dengan gelengan atau anggukan samar. Komunikasi bocah itu seolah sudah terputus dari dunia luar.
Cahaya menghela napas dalam. Ia bisa merasakan dinding es yang membentengi hati Elio.
Kehabisan ide dan merasa sangat sedih melihat mata redup itu, Cahaya akhirnya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Elio, Kak Aya nggak maksa Elio bicara. Tapi, Elio mau Kak Aya peluk?" tanya Cahaya lirih dan tulus tanpa kepura-puraan.
Peluk? Kata itu bergema di kepala Elio. Pelukan adalah sesuatu yang asing bagi Elio Thomas Sebastian. Ayahnya tidak pernah menyentuhnya kecuali untuk menarik lengannya dengan kasar.
Ayahnya tidak pernah membawanya ke dalam dekapan hangat saat ia mimpi buruk. Memang ada Martha yang selalu memeluknya, tapi Elio tahu Martha adalah perawatnya, bukan ibunya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Elio merindukan pelukan yang terasa seperti rumah.
Tetapi, rasa takutnya lebih besar daripada rasa rindunya. Elio justru mundur selangkah, menatap tangan Cahaya yang terbuka seolah itu adalah ancaman.
"K—keluar..." bisik Elio pelan, nyaris tak terdengar.
"Elio?" Cahaya terkejut.
"Keluar! Elio mau sendiri! Pergi!" Elio tiba-tiba berteriak kecil, suaranya pecah oleh tangis yang kembali membuncah. Ia berbalik, berlari menuju tempat tidurnya, lalu menyusup ke bawah selimut tebal, menutupi seluruh tubuhnya hingga tak terlihat.
Martha memegang bahu Cahaya, memberi isyarat agar mereka keluar.
"Biarkan dia dulu, Non. Suasana hatinya sedang sangat hancur karena kejadian tadi pagi."
"Iya, Bi." Cahaya berdiri dengan gontai. Saat ia melangkah keluar dan Martha menutup pintu dengan pelan, Cahaya masih bisa mendengar suara isak tangis yang tertahan dari balik selimut di dalam sana.
Di bawah kegelapan selimutnya, Elio meringkuk seperti janin. Air matanya membasahi bantal. Hari ini adalah ulang tahunnya. Tadi, saat ia mendengar suara mobil ayahnya pulang, sebuah harapan kecil sempat muncul di hatinya yang rapuh.
Mungkin Daddy pulang untuk memberi kado? Mungkin Daddy ingat kalau hari ini dia bertambah usia?
Nyatanya, ayahnya pulang hanya untuk membawakan seorang pengasuh baru agar tidak perlu lagi berurusan dengannya.
"Lio nggak butuh babysitter, Lio cuma mau daddy bilang selamat ulang tahun. Lio juga mau daddy nggak benci Lio lagi..." isak Elio dalam hati.
Bocah enam tahun itu menangis hingga dadanya sesak, meratapi kado ulang tahun paling pahit yang selalu ia terima.
Di kamar yang mewah dan penuh mainan mahal itu, Elio merasa seperti sampah yang hanya perlu dipindahkan dari satu tangan ke tangan pengasuh lainnya.
*
*
"Tuan Jeremy itu benar-benar monster tidak punya otak! Bagaimana bisa dia menyalahkan anak sekecil itu atas takdir yang bahkan tidak bisa ia pilih?"
Umpatan Cahaya meledak begitu pintu kamar barunya ditutup. Ia menatap Martha dengan napas memburu dan mata yang masih basah.
Kalimat Martha di sepanjang koran tadi tentang Stella yang meninggal saat melahirkan dan bagaimana Jeremy menjadikan Elio sebagai sasaran kebencian selama enam tahun, membuat darah Cahaya mendidih.
"Nona, tolong kecilkan suara anda. Kalau Tuan dengar..."
"Biar saja dia dengar, Bi! Saya tidak peduli!" potong Cahaya geram.
"Nyonya Stella meninggal karena ingin Elio hidup! Pengorbanan ibunya itu suci, tapi pria brengsek itu malah mengotorinya dengan kebencian. Dia pikir dia saja yang kehilangan? Elio kehilangan segalanya! Dia tidak punya ibu, dan ayahnya sendiri bertingkah seolah dia adalah kuman yang menjijikkan."
Cahaya membanting tas ranselnya ke atas ranjang. Pikirannya kembali pada tubuh mungil Elio yang gemetar di bawah selimut.
"Hanya karena dia kaya dan punya kekuasaan di Milan, bukan berarti dia boleh menghancurkan jiwa anaknya sendiri. Dia itu pengecut, Bi. Pria dewasa yang kalah oleh rasa sakitnya sendiri sampai harus menindas anak kecil untuk merasa lebih baik," maki Cahaya.
Martha hanya bisa terdiam, antara takut dan kagum melihat keberanian gadis ini.
"Dia memanggil Elio pembawa sial?" Cahaya tertawa hambar dengan nada sarkas. "Satu-satunya kesialan dalam hidup Elio adalah memiliki ayah seperti Jeremy Thomas Sebastian. Lihat saja nanti, saya tidak akan membiarkan Om Sombong itu tenang sebelum dia sujud minta maaf pada anaknya sendiri!"
Cahaya mengepalkan tangan. Janjinya sudah bulat. Jika Jeremy adalah badai salju yang membekukan rumah ini, maka Cahaya akan menjadi api yang membakar keangkuhan pria itu hingga tak bersisa.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭