cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20 — JANJI TANPA KATA
Pagi datang tanpa sambutan.
Tidak ada burung bernyanyi. Tidak ada cahaya hangat. Yang ada hanya kabut tipis menggantung rendah, membuat hutan terlihat seperti menahan sesuatu yang busuk di dalam dadanya.
Kelompok itu berjalan pelan.
Tidak ada yang bicara.
Bukan karena sepakat—melainkan karena tidak tahu harus berkata apa.
Raka berjalan di tengah, sedikit tertinggal. Lengannya masih dibalut kain kasar, noda darah mengering seperti bayangan lama yang enggan pergi. Setiap langkah membuat lukanya berdenyut, tapi rasa sakit itu kini seperti suara latar—tidak mengagetkan lagi.
Yang lebih menyakitkan adalah sunyi.
Seorang perempuan di depannya menoleh sebentar, lalu memperlambat langkah.
“Masih kuat Le?” tanyanya akhirnya.
Raka mengangguk cepat. Terlalu cepat. Seperti takut kalau ia terlihat ragu, ia akan ditinggalkan.
Perempuan itu tidak memaksa bicara lagi. Ia hanya berjalan sejajar, memberi jarak yang cukup—tidak dekat, tidak jauh.
Di depan, nenek tua itu berhenti di tepi aliran sungai kecil. Airnya keruh, berbau tanah. Ia berjongkok, mencelupkan tangan, lalu membasuh wajahnya tanpa bicara.
Seseorang mendekat. “Apa kita lewat sini Nek?”
Nenek itu mengangguk. “Iya, jejak-jejak kita di belakang terlalu jelas terlihat oleh musuh.”
“Kalau mereka sudah menunggu di seberang sana?”
“Kalau,” ulang nenek itu pelan. “Kalau kita pada akhirnya terbunuh, ya mati.”
Kalimat itu tidak keras. Justru terlalu biasa. Seperti membicarakan cuaca.
Raka menelan ludah.
Ia menyeberang terakhir. Air sungai dingin, menusuk sampai tulang. Arusnya tidak deras, tapi cukup membuat kakinya goyah. Tangan seseorang meraih lengannya sebentar, menahan agar ia tidak jatuh.
“Pelan-pelan Le jangan terburu-buru, perhatikan langkahmu” kata suara itu singkat.
Raka tidak sempat melihat wajahnya.
Di seberang, mereka kembali berjalan. Hutan berubah lebih rapat. Tanah berubah lunak. Bau rawa mulai terasa.
Waktu berjalan aneh. Terasa cepat sekaligus lambat.
Di satu titik, mereka berhenti makan. Tidak ada api. Makanan dibagi kecil-kecil. Tidak ada yang mengeluh, tapi juga tidak ada yang bersyukur.
Raka memandangi potongan umbi di tangannya. Ia tidak lapar—atau mungkin sudah terlalu sering lapar sampai tidak terasa lagi.
Nenek tua itu duduk tak jauh darinya. Tidak menatapnya, tapi ke arah pepohonan.
“Le, kalau kamu mau pergi meninggalkan kelompok ini...,” kata nenek itu tiba-tiba, “sekarang adalah waktu yang mungkin paling masuk akal.”
Raka terdiam.
Ia menunggu kalimat lanjutan. Tidak ada.
“Aku harus ke mana Nek?” akhirnya Raka bertanya.
Nenek itu mengangkat bahu sedikit. “Terserah kamu mau kemana asal tidak dengan kami.”
Raka ingin tertawa. Gagal.
“Aku…,” ia memulai, lalu berhenti. Kata-kata terasa salah semua.
Nenek itu menoleh. Tatapannya tidak tajam, tapi dalam. Seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak pilihan salah dalam hidupnya.
“Kami tidak janji apa-apa Le,” lanjut nenek itu. “Tidak ada jaminan keselamatan. Tidak juga masa depan. Bahkan mungkin kita semua akan terbunuh.”
Raka mengangguk pelan.
“Kalau kamu tetap memutuskan untuk ikut,” kata nenek itu lagi, “itu artinya kamu harus siap kehilangan nyawamu. Bisa saja nanti. Bisa saja sebentar lagi.”
Angin bergerak. Daun-daun berdesir. Suara itu membuat Raka tersentak.
Ia teringat darah di tangannya. Tubuh yang roboh menutupinya. Tatapan kosong orang yang mati karena ia masih hidup.
“Aku tidak pernah minta ikut Nek, hanya aku harus keluar dari Kota Raja” kata Raka pelan.
Nenek itu tersenyum tipis. “ya, tidak ada dari kita yang memintamu ikut.”
Mereka terdiam lagi. ”
”Nek...” kata Raka kemudian, ”Nenek bisa memanggil aku dengan nama Raka, biar tidak manggil saya Le Le”, nenek hanya menoleh sepintas, ”Baik, jadi sekarang kamu dipanggil Raka”.
Beberapa saat kemudian, setelah istirahat dan makan, kelompok itu kembali bergerak, Raka melangkah bersama mereka.
Bukan di depan.
Bukan di belakang.
Di tengah.
Menjelang sore, tanda-tanda aneh mulai muncul.
Jejak-jejak kaki— dan jelas bukan jejak kaki mereka.
Ranting patah—terlalu tinggi untuk binatang.
Bau asap—bau samar dan hilang dihembus angin.
Seseorang berbisik, “Mereka sudah dekat.”
Nenek tua itu kemudian mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti.
Ia berlutut, menyentuh tanah. Matanya menyapu sekitar. Lalu ia berdiri.
“Jejak yang masih baru tidak hanya dekat,” katanya. “Siap-siaplah kalian, pertunjukkan akan segera dimulai.”
Raka merasakan perutnya mengeras.
“Apanya yang dimulai?” bisiknya.
Tidak ada yang menjawab.
Dari kejauhan, terdengar suara air terciprat. Seperti ada yang bergerak cepat di rawa. Lalu sunyi lagi.
Kelompok itu berpencar, membentuk jarak. Tidak terdengar aba-aba maupun kode-kode. Semua bergerak seolah sudah tahu perannya—kecuali Raka.
Seseorang menarik lengannya pelan. “Raka, cepat pindah dari situ.”
Raka berpindah dengan cepat.
Detik berikutnya—
Thuk.
Sesuatu menancap di pohon tempat ia berdiri tadi.
Anak panah.
Bulu di ujungnya hitam. Pendek. Rapi.
Tidak ditembak sembarangan.
Raka membeku melihat anak panah yang menancap di pohon.
Nenek tua itu menoleh cepat ke arahnya. Mata mereka bertemu sesaat.
Tidak ada kepanikan di wajah nenek itu.
Yang ada justru kepastian.
“Jangan lari, cepat sembunyi” katanya keras tapi tenang. “Sekarang kamu benar-benar sudah diincar oleh musuh.”
Dari arah hutan, suara lain menyusul. Bukan satu. Bukan dua.
Tetapi banyak.
Langkah-langkah yang ringan, menyebar, dan mengurung.
Raka menatap ke segala arah, napasnya memendek.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari kotaraja, ia sadar sepenuhnya:
tidak ada jalan untuk pulang.
Dan malam ini—
perburuan benar-benar akan dimulai.