Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2. kejadian di club
Prang!
Sebotol sampanye terlepas dari tangan seseorang dan jatuh menghantam lantai, pecah berkeping-keping. Bella merasakan sepasang tangan mencengkeram bahunya, menahannya agar tidak terjatuh.
“Apa masalahmu?!” sebuah suara berat dan merdu berteriak di atas dentuman musik.
Bella segera berbalik, tubuhnya masih diliputi rasa kaget. Pandangannya sempat tertuju pada botol sampanye yang kini hancur di lantai, sebelum ia mendongak menatap pria yang berdiri di hadapannya.
Tanpa bisa dicegah, Bella memperhatikan rambut pria itu yang gelap dan tatapan mata coklat tajam yang seolah menembusnya. Selama sepersekian detik, ia sempat terhanyut dalam sorot mata itu.
Namun lamunannya buyar ketika pria itu kembali membentaknya dengan kasar. “Apa yang salah denganmu? Itu bukan cara yang pantas untuk mencari perhatian!” hardiknya.
“Maaf. Itu kecelakaan. Aku akan membelikanmu sebotol pengganti,” kata Bella berusaha tenang.
“Dengan gaun murahan yang kau pakai itu? Aku ragu kau sanggup membelinya,” ejek pria itu.
Bella mendidih. “Ada apa denganmu? Sudah kukatakan aku akan menggantinya!” bentaknya balik.
“Harganya empat ratus dolar,” katanya angkuh, lalu menyilangkan tangan di dada dengan sikap menantang.
Dalam hati, Bella mendengus kesal. Orang idiot mana yang membeli sebotol sampanye seharga empat ratus dolar?
Ia jelas tidak membawa uang sebanyak itu di dompetnya, bahkan dua ratus dolar pun tidak.
“Ah… sial,” gumamnya pelan.
“Apa yang terjadi di sini?” suara lain tiba-tiba menyela.
“Dia baru saja memecahkan sebotol penuh sampanye ku yang harganya empat ratus dolar,” jawab pria itu dingin. “Jack, ini seharusnya klub eksklusif. Sejak kapan kau mengizinkan pengemis masuk?”
Darah Bella mendidih. Ia benar-benar ingin menampar wajah pria yang sombong, angkuh, dan egois itu. Beraninya dia berbicara seperti itu?
“Rafael, biar aku yang urus,” ujar pria yang ia duga bernama Jack dengan nada menenangkan. “Kita bisa beli botol lain. Aku yang traktir.”
Pria bernama Rafael itu mendengus. “Jangan repot-repot,” katanya sebelum berbalik dan pergi begitu saja.
“Aku akan membayarnya!” teriak Bella ke arahnya, meski ia tahu pria itu sudah tidak peduli.
Jack menoleh kembali pada Bella. “Aku minta maaf soal itu. Dia biasanya tidak separah ini. Dia memang jadi menyebalkan kalau sedang mabuk.”
Jack tersenyum kecil, menepuk bahu Bella dengan ringan, lalu berjalan pergi menyusul Rafael.
“Apa maksud semua itu?” tanya Ruby bingung.
“Aku tidak mau membicarakannya,” jawab Bella cepat. “Ayo kita cari hal lain yang lebih menyenangkan.”
Biasanya, datang ke klub malam berarti mabuk berat dan berharap tidak terbangun di tempat tidur orang asing keesokan paginya. Namun itu hanya berlaku jika segalanya tidak semahal ini. Segelas tequila saja dibanderol sekitar seratus dolar, Bella tidak gila sampai mau menghamburkan uang di tempat seperti ini.
Bella, Ruby, dan Anne akhirnya duduk di kursi bar. Ruby sibuk mencoba mencari tahu apakah ada semacam diskon atau keuntungan VIP yang bisa mereka dapatkan.
Tanpa sadar, Bella kembali melirik ke arah pria yang tadi ia tabrak. Pria itu berdiri di seberang ruangan, menatapnya dengan ekspresi dingin. Bella mengernyit, heran bagaimana seseorang bisa begitu sombong. Ia yakin, dalam benaknya, yang ia lihat saat menatap Bella hanyalah sebotol sampanye seharga empat ratus dolar yang baru saja pecah di lantai.
Pria yang satu lagi—Jack—melangkah mendekati mereka dengan seringai santai di wajahnya. “Aku hanya ingin meminta maaf sekali lagi atas perilaku temanku tadi."
“Dia tidak sopan. Seharusnya dia dilaporkan ke pemilik klub,” ujar Bella dingin.
Jack terkekeh kecil, lalu bersandar santai di meja bar. “Sayang, akulah pemiliknya.”
Bella terdiam.
“Sebagai bentuk permintaan maaf atas apa yang dia lakukan,” lanjut Jack, “kau dan teman-temanmu bebas memesan apa pun malam ini. Atas namaku.”
“Tidak,” jawab Bella tegas. “Aku tidak butuh belas kasihanmu.”
“Ah, ayolah. Anggap saja aku yang traktir,” ucap Jack dengan nada menggoda. “Lain kali kamu juga bisa ajak teman-temanmu yang cantik ke sini.”
“Ayo, Bella, dia sedang menawarkan sesuatu,” sela Ruby dari belakang bahunya.
Bella menghela napas singkat. “Baiklah.” Ia menoleh ke bartender. “Tolong beri kami sebotol minuman keras terkuat yang kalian punya.”
Jack tersenyum puas sebelum berbalik dan pergi. Singkatnya, Ruby benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan situasi.
Dalam hitungan jam, mereka bertiga sudah cukup mabuk. Ruby terus memesan botol demi botol tanpa rasa bersalah. Bella sendiri tidak lagi melihat Jack sepanjang malam. Dan jujur saja, ia bersyukur. Ia setengah takut pria itu akan berubah pikiran dan menagih semua minuman yang mereka pesan.
“Aku senang akhirnya datang ke sini bersama kalian,” kata Bella sambil tersenyum lelah.
“Kami juga senang kamu ikut,” ujar Anne sambil memeluknya erat.
“Tadi aku sempat memikirkan Leon, dan itu membuatku sangat sedih,” aku Bella lirih.
“Kamu harus berhenti memikirkan pria idiot itu. Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik.” kata Ruby.
“Aku tahu,” Bella mengangguk. “Tapi ini sulit. Kami sudah punya banyak rencana. Kami ingin tinggal di rumah yang indah dan punya anak.”
“Kamu tetap bisa memiliki semua itu,” sela Anne, suaranya sedikit pelo sambil hampir tergelincir dari bangku. “Kamu tidak perlu pasangan untuk tinggal di rumah bagus atau punya anak.”
Bella tersenyum tipis. “Kamu benar.”
Setelah beberapa gelas lagi, Anne akhirnya menelepon pacarnya untuk menjemput mereka. Tidak satu pun dari mereka cukup sadar untuk mengemudi malam itu.