Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pulang dari rumah sakit, Ilham merasa takut masuk ke rumahnya sendiri. Takut, Sekar sudah tahu masalah yang sebenarnya dan mendiamkan dirinya hal yang lebih menyakitkan daripada ketika memakinya.
Namun, pemandangan yang terasa menyenangkan terlihat di meja makan. Di dalam pintu masuk ia terpaku menatap Sekar dan Arka yang hendak makan malam. Doa sebelum makan dibacakan oleh Sekar, Arka mengikuti dengan bahasa cadel tapi tampak kusuk. Momen seperti itu tidak pernah Ilham dapatkan dari Luna yang seringnya justru marah-marah di meja makan.
Hanya tinggal penyesalan yang Ilham rasakan, seandainya dulu tidak berbohong kepada Sekar tentu saat ini hidup bertiga dengan rukun dan momen makan malam seperti itu tidak akan pernah terlewakan.
"Papa... Ayo masuk, kenapa diam di sini?"
Ilham menunduk kaget tidak menyadari jika Arka berjalan ke arahnya, tangan kecil itu menariknya agar segera bergabung di meja makan.
"Papa mandi dulu ya," Ilham hanya beralasan, karena tidak berani dekat dengan Sekar yang cepat atau lambat akan menyadari bahwa ia telah berbuat jahat. Hati Ilham terasa terjepit, lalu menatap Sekar yang tengah menyendok sup ayam sudah jelas untuk Arka. Masih pantaskah ia berhadapan dengan Sekar? Rasanya seperti ada benda berat yang menghantam dada. Betapa anaknya ini ingin menyatukan kedua orang tuanya secara tidak langsung, tapi Ilham sudah lama menyembunyikan hak putranya untuk hidup bersama ibu yang melahirkan.
"Papa... Ayo..." Arka menarik tangannya. Tanpa bisa menolak, Ilham terpaksa mengikuti Arka, tiba di pinggir meja makan pun ia hanya berdiri mematung.
Sekar yang sebenarnya marah ingin melempar piring ke tubuh pria kejam itu, tapi tidak mungkin ia lakukan sekarang, terlebih di hadapan Arka.
"Silakan duduk, Dok," Sekar menarik kursi untuk Ilham, pura-pura bersikap biasa saja, walau lain di hati.
"Terima kasih," Ilham merasa lega karena ia pikir Sekar belum tahu yang sebenarnya. Ilham duduk tapi matanya tidak berani menatap Sekar.
Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Sekar memperhatikan. "Kenapa pria itu? Apa mungkin kesambet setan jalanan? Batin Sekar.
"Papa... Mama kecil tadi senang banget, dikasih pelmen sama Doktel Layyan. Iya kan, Ma?" Arka menatap wajah Sekar tersenyum. Sekar hanya mengangguk.
"Memang Dokter Rayyan ke sini?" Ilham melirik Sekar sekilas tapi tidak berani berkata-kata, ketika Sekar melempar tatapan ke wajahnya.
"Nggak ke sini?" Arka menggeleng.
"Sudah, sekarang Arka makan dulu," Sekar mendekatkan piring di depan Arka, tapi anak itu masih berceloteh tentang Sekar ketika di kamar tadi.
Ilham mengangkat kepala melirik sekilas wajah Sekar, tubuhnya terasa kaku seperti kayu. Udara di ruang makan yang sebelumnya dingin kini terasa hangat. Ilham seketika menunduk dalam, tidak percaya ketika Sekar mengisi secentong nasi ke piringnya.
"Di makan, Pa, kok dilihatin telus..." ucap Arka yang sudah belajar makan sendiri.
"Oh iya, ayo makan," Ilham mengangguk. Jari-jarinya bergerak lambat saat meraih sendok dan garpu, terkadang tersandung piring hingga berdenting. Sesekali menoleh ke arah Arka yang sedang tersenyum ceria, lalu pandangannya tidak sengaja bersilangan dengan Sekar. Dalam sekejap, Ilham bisa merasakan campuran rasa khawatir dan sesuatu yang sulit diucapkan di mata mantan istrinya itu seolah Sekar sudah menduga ada sesuatu yang tersembunyi.
Makan pun Selesai, Sekar menuntun Arka hendak ke kamar lebih dulu, meninggalkan Ilham yang masih merasakan penyesalan.
"Papa, nanti bobo di kamal Alka ya."
"Uhuk uhuk" Ilham tersedak mendengar permintaan anaknya. Namun, Sekar sama sekali tidak menoleh lagi, lanjut berjalan khawatir Arka terus merengek minta hal yang belum ia mengerti. Tiba di kamar, Sekar memberi penjelasan.
"Arka, kalau Arka mau bobo sama Papa, Mama pindah ke kamar Mbak Rini," Sekar tentu tidak akan melarang Arka tidur dengan Ilham selagi masih berada di rumah ini. Sekar tahu maksud Arka, bocah itu belum mengerti bahwa ia dengan Ilham ada larangan untuk tidur satu kamar.
"Nggak mauuu... Alka bobo sama Mama saja..." Arka tampak berkaca-kaca.
"Nah gitu, nanti kalau Mama Kecil berdekatan sama Papa, Mommy pasti..."
"Mommy malah sama Mama kecil," Arka memotong, diam-diam anak itu ternyata tahu jika Sekar sering dimarahi Luna.
"Anak pintar..." Sekar menuntun Arka ke kamar mandi, mengajari sikat gigi, cuci tangan dan kaki sebelum tidur.
Setelah mengganti baju piama Arka, Sekar menemani Arka tidur. "Sayang... Seandainya Mama mengajak kamu pergi dari rumah ini, tapi Papa sama Mommy melarang, kamu memilih ikut Mama atau tetap di rumah?"
"Alka maunya Mama tetap di lumah ini sama Papa juga," Arka rupanya berat untuk memilih.
"Tidak begitu sayang... Rumah ini tempat tinggal Papa sama Mommy. Jadi, Mama tidak boleh tinggal lama-lama, memang Arka mau, Mama Kecil dimarahi Mommy Luna terus?" Tanya Sekar, sebenernya ia berat memberi pilihan yang sulit untuk Arka, tapi ini ia lakukan demi masa depan putranya.
"Alka ikut Mama Kecil." tegas Arka.
"Oke... Mulai sekarang, kamu anak Mama kecil," ucap Sekar, ia dekap erat tubuh mungil itu. Namun, air matanya mengalir deras, menahan isak agar tidak di dengar Arka.
Jam terus berjalan, setelah Arka tidur, Sekar ke luar kamar naik ke atas rooftop rumah itu yang tidak terlalu tinggi. Menyandarkan badannya pada pagar besi yang dingin akibat hembusan udara malam. Bulan purnama bersibar terang di langit yang jarang ada awan, menyinari setiap sudut kota dengan cahaya keemasan yang lembut. Cahaya itu menyapu wajahnya yang terpaku pada lingkaran putih bersinar itu, sementara napasnya keluar perlahan membentuk sedikit kabut di udara yang sejuk.
"Betapa indah ciptaan-Mu ya Allah?" gumamnya pelan, matanya tidak pernah lepas dari pandangan indah di atas langit. Kerudung bergo yang ia pakai bergerak setiap kali angin menerpa. Pikirannya tidak bisa lepas dari satu hal saja. Bagaimana caranya agar bisa pergi dari rumah ini membawa Arka dan hidup damai tak akan ada Ilham dan Luna yang mengganggunya lagi.
Sekar tahu betul bahwa Ilham dan Luna tidak akan membiarkan Arka jauh dari mereka. Walaupun suami istri itu belum tahu bagaimana caranya untuk menjadi orang tua yang benar.
"Aku harus mencari cara, bagaimana pun Ilham harus merasakan bagaimana sedihnya kehilangan seorang anak!" Sekar sudah bertekat. Tiba-tiba angin malam berhembus semakin kencang, seolah mendukung dendam hati wanita yang bertahun-tahun merasa sakit dan kehilangan. Aroma bunga kamboja dari taman di bawahnya, membuat udara malam itu semakin segar. Bulan seolah-olah sedang menyaksikan setiap renungannya, memberikan ketenangan di tengah kekhawatiran yang melanda hatinya. "Semuanya harus berjalan dengan baik," ucapnya perlahan, sambil menatap jauh ke arah tempat rumah Ilham berada, terpencil di balik penerangan lampu kota yang berkedip-kedip.
Suara alas kaki yang menekan lantai beton rooftop terdengar pelan tapi jelas. Sekar menoleh ke belakang tampak pria berjalan ke arahnya.
"Sekar..." Lirih pria itu.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....