"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Tidak ada sedikit pun penyesalan di dalam hati nya saat ia bercerai dari sang suami. Bahkan setelah berpisah, kehidupan Seruni dan juga anak-anak nya semakin baik. Mereka bisa makan enak kapan pun mereka ingin kan.
Mereka tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi jika ingin tertawa. Kapan pun di rumah itu, mereka bisa saling bercanda satu sama lain tanpa takut di marahi oleh Ayah nya.
Usaha nya Seruni pun semakin membaik. Entah mengapa, apapun yang ia kerjakan untuk anak-anak nya, tidak pernah memiliki hambatan. Ke empat anak-anak itu seperti mendatangkan rejeki dari mana pun.
"Bu, apa boleh Tari daftar kelas seni dengan Pak Restu?"
"Daftar kelas seni? Tapi kan, kamu masih TK."
"Banyak kok teman-teman yang lain mau ikutan juga. Kata Bu guru, Tari berbakat di bidang seni."
"Oh, begitu. Kalau memang kamu senang, Ibu nggak masalah. Yang penting, kamu harus bertanggung jawab. Ingat, apa saja tanggung jawab mu?"
"Iya, Tari harus rajin ibadah nya, belajarnya, sayang adik dan Ibu."
"Pintar. Jangan karena nanti capek ikut kelas seni, kamu marah-marah dan tidak sayang Ibu dan adik lagi."
"Tidak, Bu. Kelas seni cuma ada di hari Sabtu dan Minggu di sekolah."
"Baiklah. Kalau begitu, nanti biaya nya biar Ibu yang konsultasi kan ke guru nya."
"Tidak perlu. Tari punya uang. Uang Tari banyak, Bu."
"Hah! Uang dari mana?"
Seruni sedikit terkejut dengan apa yang di katakan oleh Mentari. Pasal nya uang hasil lomba saat itu, sudah ia belikan peralatan melukis dan mewarnai. Jadi, entah dari mana anak itu mendapatkan uang lagi.
"Uang dari membuat kartu wajah teman-teman nya Tari. Mereka suka dan mau bayar."
"Kamu jualan di sekolah? Nanti, di marahi guru loh nak."
"Tapi, mereka maksa Tari. Kata mereka bagus. Mereka juga minta di buatkan. Siapa tahu, ternyata mereka ngasih uang."
"Memang nya, apa yang kamu buat sehingga teman-teman mu berminat?"
Mentari mengambil sebuah kertas yang di atas nya terdapat wajah beberapa orang yang sedang tertawa bahagia. Ada Seruni dan keempat anak-anaknya di gambar oleh Mentari di atas sebuah kertas.
"Ini, Bu. Karena mereka melihat ini, maka nya minta di buatkan juga."
Seruni sungguh tidak menyangka kemampuan Mentari bisa sebagus itu. Seperti nya, hobi Seruni di masa lalu menurun pada anak kedua nya itu. Dulu, karena tidak memiliki uang untuk membeli peralatan, Seruni hanya bisa mengalah.
Sedangkan Mentari saat ini, ia sudah memiliki semua hal yang bisa meningkatkan kualitas nya sebagai seorang penyuka seni.
"Tapi, ini kok cuma kepala nya saja? Kemana badan nya?"
"Hehe... Tari belum pintar membuat badan nya. Jadi, cuma wajah nya aja yang bisa di buat. Tapi, ini unik kata teman-teman nya Tari."
"Hmm,, kalau begitu. Bagaimana kalau kita jual di internet? Kalau mereka suka, kita bisa kasih harga yang pas. Nanti, uang nya bisa untuk kamu nambah uang jajan."
"Mau, Bu. Tari mau. Tari suka menggambar dan mewarnai."
"Baiklah. Nanti biar jadi urusan Ibu. Sekarang, tugas mu hanya sekolah."
"Baik, Bu."
Setelah berpamitan, Tari dan Rima berangkat sekolah di antar dengan ojek masing-masing. Dua anak Seruni yang lain, sedang bermain dengan kakek dan nenek nya di samping rumah.
Semenjak ada kedua orang tua nya, Seruni sudah tidak lagi memikirkan hal yang aneh-aneh. Ia bersyukur bisa membawa kedua orang tua nya ke kota untuk menemani nya di rumah yang baru saja menjadi milik nya.
Seruni tidak pernah menyangka jika ia bisa membeli sebuah rumah dengan uang hasil jerih payah nya sendiri selama ini. Bukan hanya diri nya, para tetangga yang selama ini ikut membantu nya juga merasa begitu tertolong.
Bagi mereka, Seruni seperti peri baik hati yang sudah menolong keuangan mereka. Mereka juga sangat baik dan setia pada Seruni selama ini. Mereka semua, saling membantu satu sama lain jika ada kesulitan.
"Hari ini, kita masak menu apa, Seruni?"
"Hmmm,, hari ini kita cuma buat cemilan aja. Semua orang libur untuk pergi ke acara syukuran nya Adel. Dia sudah hamil." Ucap Seruni sambil tersenyum bahagia.
Ia baru saja dapat kabar jika Adelia hamil. Ya walaupun baru dua bulan, tapi semua nya begitu antusias menyambut kehamilan wanita baik itu.
Perusahaan milik orang tua nya langsung membuat syukuran yang di rayakan di perusahaan itu. Adapun konsumsi tidak di tangani oleh Seruni. Wanita itu hanya menyiapkan cemilan kue-kue basah dan juga minuman segar dan menyehatkan.
Baik itu Seruni, maupun para tetangga. Begitu bersemangat untuk membuat kue. Mereka begitu bahagia saat tahu Adelia hamil. Doa-doa terbaik mereka panjatkan sambil terus membuat kue-kue itu.
Mereka berharap, anak nya Adel bisa selamat dan sehat sampai wanita itu melahirkan nanti.
*****
Gedung perusahaan milik keluarga nya Adel tampak megah. Sudah beberapa kali Seruni datang dan mampir ke sana untuk bertemu dengan Pak Adam, Abang nya Adel.
Akan tetapi, baru kali ini begitu senang sekaligus gugup saat datang ke sana. Ia takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan para tamu undangan yang lain.
Seruni memakai pakaian yang bagus. Dengan sedikit perhiasan yang ada di tangan nya agar tidak terlalu polos. Sesampai nya ia di sana, ternyata ia sudah di sambut oleh seorang wanita.
"Bu Seruni, Pak Adam sudah berpesan supaya anda bisa ikut dengan saya."
"Oh, baiklah. Terima kasih."
Saat Seruni akan pergi menyusul wanita itu, Hamdan ternyata melihat Seruni yang datang seorang diri ke perusahaan itu.
"Hey Janda bekas ku, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan, mau cari mangsa?"
Hahaha
Suara tawa Hamdan membuat orang-orang yang berlalu lalang ikut melihat ke arah mereka. Seruni sangat kesal. Entah mengapa ia malah bertemu dengan pria itu di saat yang tidak tepat.
"Aku tidak ada hubungan nya dengan mu. Jadi tolong, jangan ganggu aku."
"Cuih, sok cantik kamu sekarang. Ingat ya, Seruni. Mau seperti apapun kamu saat ini, kamu tetap aja wanita beranak 6."
"Terus, urusan nya sama kamu apa? Aku sibuk. Tidak sempat meladeni orang yang sakit jiwa seperti mu. Permisi."
Seruni berjalan dan sengaja menyenggol bahu nya Hamdan dengan keras. Padahal, ia kesakitan karena melakukan hal itu. Namun, demi harga diri nya, ia sama sekali menahan rasa sakit itu karena amarah yang ada di dalam diri nya.
Seruni berharap, nanti ia tidak lagi bertemu dengan Hamdan. Semoga saja...
bersinar 😮
sebentar lagi baru akan paham apa arti
dari semua kejadian yang sudah dia lakukan terhadap anak istri