NovelToon NovelToon
Greta Oto: Glasswing Butterfly

Greta Oto: Glasswing Butterfly

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Greta Ela

Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.

Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.

Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Keraguan Arion

Sore menjelang malam menjadi hari yang cukup panjang bagi Thaddeus. Walau belum menemukan informasi, tetapi setidaknya dia sudah berusaha.

Thaddeus berjalan menyusuri lorong dengan langkah panjang. Ia hanya ingin masuk ke kamarnya dan mengunci diri dari semua kebodohan hari ini.

"Thaddeus."

Suara itu menghentikannya. Arion memanggilnya

Arion berdiri di dekat jendela tinggi yang menghadap halaman belakang istana. Cahaya bulan bersinar di wajahnya, memperlihatkan kelelahan yang makin jelas akhir-akhir ini.

Thaddeus tidak langsung mendekat.

"Apa yang kau temukan bersama Hugo?" tanya Arion

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang terdengar seperti harapan yang dipaksakan.

"Belum ada yang pasti, ayah" jawab Thaddeus

Arion menatapnya sejenak. "Belum ada, atau kau tidak ingin memberitahuku?"

Tatapan Thaddeus berubah dingin.

"Kalau ada yang pasti, Ayah akan jadi orang pertama yang tahu."

Kata-katanya terdengar sopan tapi sedikit mencengkram.

Arion menghela napas. "Kau terlalu keras pada Bibimu si Grace."

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Thaddeus hampir tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas kasar.

"Keras?"

"Dia sudah berusaha membantu ibumu." ujar Arion

"Membantu?" Suara Thaddeus mulai naik.

"Tabib jelas mengatakan ramuan itu tidak mungkin menyebabkan batuk darah. Tapi Ibu tetap batuk. Itu bukan membantu."

Arion memalingkan wajahnya.

"Tabib juga mengatakan itu iritasi saluran pernapasan. Bisa terjadi karena banyak hal."

"Dan Ayah langsung percaya." balas Thaddeus

Arion mengerutkan kening.

Tapi Thaddeus tidak berhenti.

"Ayah selalu ragu seperti ini."

Ucapan itu membuat suasana di antara mereka berubah.

Arion menatap putranya dengan sorot mata yang terluka.

"Kau berbicara seperti itu pada ayahmu?"

"Aku berbicara pada seorang raja yang tidak mau melihat apa yang ada di depan matanya."

Thaddeus bukan anak kecil lagi. Ia sekarang sudah empat belas tahun, sudah memasuki fase remaja.

Arion mendekat selangkah.

"Ikuti saja apa yang kukatakan, Thaddeus. Ini demi kestabilan istana."

"Kestabilan?" Thaddeus menggeleng pelan.

"Kalau Ayah ingin kestabilan, Ayah harus berhenti membiarkan orang lain memegang kendali."

Arion jelas terlihat tersinggung.

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kulakukan?"

"Aku pikir Ayah sedang mencoba membela rasa bersalah."

Itu kalimat yang tidak seharusnya diucapkan.

Arion sedikit menegag. "Rasa bersalah apa?"

Thaddeus menahan diri sejenak. Ia tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi amarah sudah lebih dulu menguasai pikirannya.

"Ayah merasa cemas pada Grace karena kejadian itu."

Arion memalingkan wajahnya. "Kau berpikir terlalu jauh. Jangan membahas kejadian itu lagi."

Thaddeus tidak lagi ingin berdebat. Ia lelah.

...****************...

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara batuk yang terputus-putus.

Thaddeus langsung mengenalinya.

Ibunya.

Ia menoleh ke arah kamar Chelyne. Arion juga mendengar. Tapi anehnya, Arion justru bergerak ke arah berlawanan.

Ke arah tangga yang menuju ruang bawah tanah.

Thaddeus mengerutkan kening.

"Ayah mau ke mana?"

"Aku ada urusan."

"Ibu memanggil." ujar Thaddeus

Arion tidak berhenti berjalan.

"Ibu memanggil Ayah," ulang Thaddeus lebih keras.

Langkah Arion melambat. "Dia akan baik-baik saja."

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Thaddeus pecah.

"Ayah mulai egois."

Arion berbalik. "Apa katamu?"

"Ibu memanggil nama Ayah dari tadi dan Ayah mau pergi ke ruang bawah tanah." Thaddeus mulai menggeram

"Jangan mencampuri urusanku." ujar Arion

"Urusan Ayah adalah keluarga ini." balas Thaddeus

Arion menatapnya dengan amarah yang ditahan.

"Kau tidak tahu apa yang sedang kuhadapi."

"Dan Ayah tidak tahu apa yang sedang Ibu hadapi."

Thaddeus menurunkan suaranya, tapi tidak menurunkan ketegasannya.

"Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu tentang Grace."

Nama itu lagi.

Arion langsung mengeras. "Tidak lagi, Thaddeus. Grace itu bibimu." tegas Arion

"Tapi—"

"Aku sudah memutuskan."

Keputusan. Selalu saja keputusan. Tapi entah mengapa keputusan itu terasa tidak tepat bagi Thaddeus.

Thaddeus akhirnya mengalah. Bukan karena ia setuju. Tapi karena ia tahu percuma.

"Baik," katanya dingin. "Lakukan apa yang Ayah mau."

...****************...

Ia berbalik dan berjalan cepat menuju kamar ibunya.

Arion berdiri diam beberapa detik. Lalu akhirnya mengikuti, meski langkahnya lebih lambat.

Saat mereka masuk ke kamar, suasana di dalam berbeda dari yang mereka bayangkan.

Chelyne setengah duduk di ranjang, wajahnya pucat, tangannya gemetar. Tapi bukan itu yang membuatnya memanggil Arion.

Di lantai, dekat sisi ranjang, Greta tertidur.

Bukan di atas karpet. Greta tertidur di lantai yang dingin.

Di sekelilingnya, serangga-serangga kecil berkumpul. Tidak banyak bahkan tidak terlihat menyeramkan.

Hanya beberapa kunang-kunang yang cahayanya redup, dan seekor kumbang kecil yang diam di dekat tangan Greta.

Thaddeus terdiam.

Chelyne menatap Arion dengan mata lelah.

"Aku tidak sanggup berdiri."

Suaranya serak.

"Dia tertidur di sini. Aku ingin menggendongnya ke ranjang tapi aku tidak kuat." ujar Chelyne dengan suara lemah.

Arion langsung mendekat. Semua kemarahan di wajahnya menghilang begitu saja.

Ia berlutut di samping Greta. Serangga-serangga itu tidak lari. Mereka hanya bergerak sedikit memberi ruang.

Thaddeus memperhatikan.

Arion mengangkat tubuh kecil Greta dengan hati-hati. Anak itu tidak terbangun. Wajahnya damai. Salah satu tangannya masih menggenggam kumbang koksi yang tidak mencoba melepaskan diri.

Arion membaringkannya di ranjang, di antara dirinya dan Chelyne.

Chelyne menyentuh rambut Greta dengan lembut.

"Dari tadi dia bilang serangga-serangga ini hanya ingin menemaninya."

Thaddeus menahan napas.

Arion duduk di tepi ranjang, memandang anaknya. Wajahnya kini penuh kelembutan. Tidak ada lagi ketegasan raja. Hanya seorang ayah.

"Arion..." suara Chelyne pelan.

"Sepertinya serangga ini tidak berbahaya."

Arion tidak menjawab.

Thaddeus berdiri di dekat pintu, memperhatikan semuanya.

Ia melihat bagaimana ayahnya tadi begitu keras di lorong. Begitu yakin dan defensif. Tapi kini, hanya dengan satu pemandangan kecil ini, wajah itu berubah.

Arion menganggap ayahnya plin-plan.

Bukan karena lemah. Tapi karena hatinya terlalu mudah tersentuh. Itulah yang membuat semuanya berbahaya.

Karena seorang raja tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa bersalah apalagi karena rasa kasihan.

Thaddeus sadar sesuatu malam itu. Ayahnya bukan jahat. Ayahnya hanya takut.

Ia merasa ayahnya takut jika ia salah menilai Grace, takut jika mitos itu benar, dan takut jika keputusan apa pun yang ia ambil akan menghancurkan keluarganya.

Dan ketakutan membuatnya ragu.

Arion berdiri perlahan.

"Kau bisa kembali ke kamarmu, Thaddeus."

Nada suaranya kembali datar.

Thaddeus menatapnya. Ingin mengatakan sesuatu. Ingin memaksa ayahnya mendengar.

Tapi ia melihat Chelyne yang kembali batuk pelan. Ia melihat Greta yang tidur tanpa rasa takut. Tapi ia tahu, malam ini bukan waktunya.

"Baik," katanya singkat.

Jika Greta benar pembawa sial, mengapa serangga-serangga itu menjaganya seperti penjaga kecil?

Di bawah cahaya bulan, ia melihat sesuatu bergerak di antara bunga-bunga.

Sekumpulan kunang-kunang terbang membentuk lingkaran kecil.

"Sudah lama aku tidak melihat kunang-kunang." batin Thaddeus.

1
Panda
cukup penasaran sama mitos ya
Alyaaa_Lryyy.
aduh gretaa sayang lain kli klw kluar ajakin ara yh biar ad yg nemenin
Greta Ela🦋🌺: Oke syg🤭
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
bagus lah kalau kamu sadar dan tau
Wida_Ast Jcy
kasihan chelin thor ya allah semoga baik baik saja
Wida_Ast Jcy
pasti karena racun itu kan thor
Kabuki
kupu-kupu lahir dari harapanmu. terbang mengikuti cahaya lentera
Serena Khanza
tuh kan 😤
Serena Khanza
preettt bohong
PrettyDuck
bener atau enggak mitosnya, itu tetap baik untuk ratu.
karena dia gak perlu ngerasa sakit.
PrettyDuck
manis banget pangeran kecil 🥰
PrettyDuck
cemas tanda sayang
PrettyDuck
apa mungkin kupu2 tertarik sama janinnya ratu?
Mingyu gf😘
dan itu membuktikan betapa pengecutnya kau Arion
Mingyu gf😘
dan jelas itu hanya mitos
putri bungsu
suka banget percaya yang nggak enggak emang ya orang orang pada suka percaya sama mitos
putri bungsu
hamil tua itu rasa nya emang campur aduk ya,,
Zan Apexion
hmmm, ayolah berpikir logis.
Zan Apexion
nah kan, baru jga dibilang dasar aneh.
Zan Apexion
kupu-kupu datang, tapi di tuduh nasib buruk.

asumsi orang dulu emang rada-rada ya.
Ebit S
nah loh nggak bisa konsentrasi kan apa gerangannya coba 🤭🤭🙏🙏💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!