Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Andrey Dominic
Pagi ini aku terbangun dengan mata yang rasanya seperti diamplas. Bengkak, perih, berat. Cermin di kamar mandi menunjukkan wajah yang bahkan tidak kukenali. Mata merah, kantung mata hitam, bibir pecah-pecah. Aku terlihat seperti hantu.
Tapi aku harus turun. Harus sarapan dengan Leonardo seperti biasa. Karena kalau aku tidak, dia akan naik ke kamar. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa menghadapi dia setelah kejadian semalam.
Kata-katanya masih terus berputar di kepalaku.
Kau milikku.
Aku mengguyur wajah dengan air dingin berkali-kali, berharap bisa menghilangkan sembab di mata. Tidak terlalu berhasil. Tapi setidaknya aku sudah berusaha.
Aku mengenakan dress biru muda yang ada di lemari. Warna yang sedikit lebih cerah dari biasanya. Entah kenapa, pagi ini aku butuh warna. Sesuatu yang bukan abu-abu atau hitam. Sesuatu yang mengingatkanku bahwa masih ada warna di dunia, walau hidupku terasa monokrom.
Pukul tujuh kurang lima menit, aku turun. Dan aku berhenti di tengah tangga.
Di ruang tamu ada orang asing.
Pria tinggi, mungkin setinggi Leonardo. Tubuh atletis, berkulit sawo matang. Rambut hitam pendek rapi. Mengenakan hoodie hitam dan celana jeans, gaya yang sangat berbeda dari Leonardo atau Marco yang selalu formal atau semi formal. Tapi yang paling mencolok adalah matanya.
Matanya coklat gelap, tajam seperti elang. Menatap ke arahku dengan intensitas yang membuat aku ingin mundur. Tapi aku sudah terlanjur di tengah tangga. Tidak bisa sembunyi.
Leonardo berdiri di sampingnya, sedang bicara. Tapi begitu melihatku, dia berhenti.
"Nadira, turun. Ada orang yang ingin kukenalkan padamu."
Aku melanjutkan langkah dengan kaki berat. Setiap sel di tubuhku berteriak untuk lari, tapi kemana? Pintu depan terkunci. Semua pintu terkunci.
Begitu aku sampai di ruang tamu, pria asing itu menatapku dari atas ke bawah. Bukan tatapan mesum seperti Marco waktu itu. Ini berbeda. Ini tatapan seseorang yang sedang menganalisa. Seperti komputer yang scanning data.
"Ini Andrey Dominic," Leonardo memperkenalkan. "Dia kepercayaanku. Mengurus semua sistem keamanan dan... urusan teknologi lainnya."
Andrey mengulurkan tangan. Aku ragu sejenak, tapi akhirnya menjabatnya. Tangannya dingin, genggamannya kuat tapi tidak menyakitkan.
"Selamat pagi," ucapku pelan.
Andrey hanya mengangguk. Tidak menjawab.
Aku menunggu. Tapi dia tetap diam. Hanya menatapku dengan tatapan yang membuat aku tidak nyaman.
"Andrey tidak bisa bicara," Leonardo menjelaskan. "Dia bisu sejak kecil. Tapi jangan salah, dia salah satu orang paling berbahaya yang pernah ada."
Bisu. Pantas dia tidak menjawab salamku.
Andrey mengeluarkan sebuah tablet dari tas yang dibawanya. Mengetik sesuatu dengan cepat, lalu membalikkan tablet itu ke arahku.
"Senang bertemu denganmu, Nyonya Valerio."
Tulisan itu muncul di layar dengan font yang rapi.
"Oh, uhm, senang bertemu juga," jawabku canggung.
Andrey tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Matanya tetap tajam, tetap menganalisa.
"Hari ini Andrey akan melakukan pemeriksaan rutin sistem keamanan vila," Leonardo bicara sambil berjalan ke ruang makan. Aku dan Andrey mengikuti. "Dia akan bekerja di beberapa area, jadi kalau kau melihatnya di sekitar rumah, jangan kaget."
Kami duduk untuk sarapan. Aku di samping Leonardo seperti biasa. Andrey duduk di seberang, tapi dia tidak makan. Hanya memegang tablet, sesekali mengetik sesuatu.
"Kau tidur nyenyak?" Leonardo bertanya padaku sambil menuangkan kopi.
Bohong kalau aku bilang iya. Tapi aku tidak mau bicara jujur di depan Andrey.
"Cukup nyenyak," jawabku singkat.
Leonardo menatapku. Dia tahu aku bohong. Tentu saja dia tahu. Mataku yang bengkak ini bukti yang cukup jelas.
Tapi dia tidak berkomentar. Hanya mengangguk pelan lalu melanjutkan sarapannya.
Andrey tiba-tiba mengetik sesuatu di tabletnya, lalu memutar layar ke arah Leonardo. Leonardo membaca, mengerutkan kening, lalu mengangguk.
"Lakukan saja," ucap Leonardo singkat.
Aku penasaran apa yang mereka bicarakan, tapi tentu saja aku tidak bisa bertanya.
Setelah sarapan, Leonardo pergi ke ruang kerjanya. Aku berencana kembali ke kamar, tapi Andrey menghentikanku.
Dia mengetik di tabletnya lagi, lalu menunjukkannya padaku.
"Aku perlu melakukan pemeriksaan di kamarmu juga. Apa kau keberatan?"
Keberatan? Tentu aku keberatan. Itu kamarku. Satu-satunya tempat yang setidaknya terasa sedikit pribadi di rumah ini.
Tapi apa aku punya pilihan?
"Tidak apa," jawabku akhirnya.
Andrey mengangguk, lalu menunjuk ke arah tangga. Kami naik bersama. Aku membuka pintu kamarku, dan Andrey masuk dengan tas besar berisi entah apa.
Dia langsung bekerja. Mengeluarkan alat-alat elektronik yang aku bahkan tidak tahu namanya. Memeriksa sudut-sudut ruangan, langit-langit, bahkan di bawah tempat tidur.
Aku duduk di sofa kecil di sudut kamar, memperhatikan dengan campuran penasaran dan cemas.
Andrey berhenti di salah satu sudut langit-langit. Mengangkat alat yang sepertinya detektor sesuatu, lalu mengangguk puas. Dia mengetik di tabletnya dan menunjukkan padaku.
"Kamera di sini masih berfungsi dengan baik."
Darahku membeku.
"Kamera?" bisikku. "Ada kamera di kamar saya?"
Andrey mengangguk. Lalu menunjuk ke beberapa titik lain di kamar. Sudut langit-langit depan, samping jendela, bahkan di atas lemari.
"Empat kamera. Semua sudut tertutup. Untuk keamananmu."
"Keamanan?" suaraku meninggi, panik mulai merayap. "Ini kamar tidur! Ini... ini invasi privasi!"
Andrey menatapku dengan tatapan datar. Lalu mengetik lagi.
"Perintah Don. Semua ruangan di vila ini punya kamera. Kecuali kamar mandi."
Aku merasa mau muntah. Jadi selama ini, selama aku di kamar, Leonardo bisa melihat ku? Saat aku menangis, saat aku berganti pakaian, saat aku...
Oh Tuhan.
"Apa... apa Leonardo menontonnya?" tanyaku dengan suara gemetar.
Andrey terdiam sejenak. Lalu mengetik.
"Aku tidak tahu. Aku hanya memastikan sistemnya berfungsi."
Tapi ekspresi wajahnya memberitahu sesuatu yang lain. Dia tahu. Dan jawabannya mungkin iya.
Aku berdiri, berjalan ke jendela, mencoba bernapas. Rasanya sesak. Seperti tidak ada udara cukup di ruangan ini.
Andrey melanjutkan pekerjaannya. Memeriksa satu per satu perangkat. Lalu dia mendekati ku, menunjuk gelang digital di pergelangan tanganku.
Dia mengetik lagi.
"Boleh aku periksa gelangmu?"
Aku mengulurkan tanganku dengan ragu. Andrey mengambil alat scanner kecil, mengarahkannya ke gelang. Layar alatnya menyala dengan berbagai data yang tidak ku mengerti.
"GPS aktif. Detak jantung termonitor. Bahkan ada mikrofon kecil di dalamnya."
Mikrofon.
Jadi bukan cuma kamera di kamar. Tapi juga mikrofon di gelang yang tidak bisa kulepas ini.
Setiap percakapanku, setiap desahan napas ku, setiap kata yang kubisikkan sendirian...
Leonardo mendengar semuanya.
Kakiku lemas. Aku merosot ke lantai, punggungku bersandar di dinding.
"Kenapa?" bisikku. "Kenapa dia melakukan ini?"
Andrey jongkok di depanku. Menatapku dengan tatapan yang... kasihan? Atau mungkin cuma bayanganku saja.
Dia mengetik di tabletnya dengan pelan.
"Don sangat protektif pada apa yang dia anggap miliknya. Dia pernah kehilangan sesuatu yang penting karena lengah. Jadi sekarang, dia tidak mau mengambil risiko apapun."
"Tapi ini... ini terlalu berlebihan..."
"Mungkin." Andrey mengetik lagi. "Tapi itulah Don. Dia tidak mengenal istilah 'cukup' dalam hal keamanan. Apalagi untuk orang yang dia... pedulikan."
Pedulikan. Kata yang salah untuk menggambarkan obsesi ini.
Andrey berdiri, kembali ke tasnya. Mengeluarkan sesuatu yang kelihatan seperti kalung. Kalung emas dengan liontin berlian berbentuk bunga mawar kecil. Cantik. Sangat cantik.
"Don ingin aku memberikan ini padamu."
Dia mengulurkan kalung itu. Aku menatapnya dengan curiga.
"Apa ada tracker juga di dalamnya?" tanyaku sarkastis.
Andrey tersenyum tipis. Lalu mengangguk.
Tentu saja ada.
"Tapi ini juga punya fungsi lain." Dia mengetik. "Kalau kau dalam bahaya, tekan liontin ini tiga kali cepat. Akan ada alarm otomatis yang langsung terhubung ke ponsel Don dan ponselku. Kami akan datang dalam hitungan menit."
Bahaya dari apa? Aku dikurung di sini. Satu-satunya bahaya adalah Leonardo sendiri.
Tapi aku tidak bilang itu. Aku hanya mengambil kalung itu, merasakan beratnya di tangan. Liontin berlian itu berkilau di bawah cahaya pagi.
Cantik. Tapi mematikan.
Seperti sangkar emas ini.
Andrey memasangkan kalung itu di leherku. Sentuhan tangannya cepat, profesional. Tidak ada yang aneh. Tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman.
Setelah dia selesai, aku menatap pantulanku di cermin. Kalung itu pas di leherku. Terlihat seperti perhiasan biasa. Tidak ada yang menyangka bahwa itu adalah alat pelacak.
Seperti penandaan ternak.
Andrey berkemas, memasukkan semua alatnya kembali. Sebelum pergi, dia mengetik satu pesan terakhir di tabletnya.
Aku membaca tulisan itu dan darahku membeku.
"Jangan pernah mengkhianati Don, Nyonya. Aku sudah melihat apa yang dia lakukan pada pengkhianat. Dan percayalah, kau tidak ingin tahu detailnya."
Dia menatapku dengan tatapan yang sangat serius. Bukan ancaman. Tapi peringatan.
Lalu dia pergi, menutup pintu kamar pelan.
Aku terdiam di tempat. Menatap kalung di leherku lewat cermin. Merasakan gelang di pergelangan tanganku. Menyadari ada empat kamera tersembunyi di kamarku yang terus merekam setiap gerakanku.
Aku bukan istri.
Aku hewan peliharaan dalam kandang berlapis emas.
Dipantau dua puluh empat jam. Setiap langkah tercatat. Setiap kata terekam. Setiap napas terhitung.
Dan Leonardo... Leonardo adalah pemilik yang tidak akan pernah membiarkan hewan peliharaannya lepas.
Aku merosot ke lantai lagi. Kali ini aku tidak menangis. Air mataku sepertinya sudah benar-benar habis.
Yang tersisa cuma rasa kosong.
Dan pertanyaan yang terus berputar.
Apa yang dilakukan Leonardo pada pengkhianat?
Apa yang akan dia lakukan padaku kalau suatu hari aku mencoba kabur?
Apa yang akan terjadi pada Ayah dan Ibu kalau aku mengecewakan dia?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin... lebih baik aku tidak pernah tahu.
Karena kadang, tidak tahu itu lebih baik dari pada tahu tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku duduk di sana entah berapa lama. Sampai suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku.
"Nyonya? Ini Sofia. Boleh saya masuk?"
Aku bangkit dengan susah payah, membukakan pintu.
Sofia masuk dengan nampan berisi teh dan biskuit. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran saat melihat kondisiku.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?"
Apa aku tidak apa-apa?
Tidak.
Aku jauh dari tidak apa-apa.
Tapi aku hanya tersenyum lemah. "Saya baik. Cuma... cuma sedikit lelah."
Sofia meletakkan nampan di meja, lalu duduk di sampingku di sofa.
"Tuan Andrey sudah selesai?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
"Dia... dia orang yang baik. Meski terlihat menakutkan." Sofia menuangkan teh untuk ku. "Dia sangat loyal pada Tuan Leonardo. Sudah bekerja dengannya sejak lama."
"Berapa lama?"
"Hampir delapan tahun. Sejak... sejak kejadian itu."
Aku menatapnya. "Kejadian apa?"
Sofia terdiam. Wajahnya berubah, seperti dia baru menyadari dia bicara terlalu banyak.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa bicara tentang masa lalu Tuan. Itu bukan tempat saya."
Tapi rasa penasaranku sudah tersulut. "Tolong, Sofia. Saya butuh tahu. Kenapa Leonardo seperti ini? Apa yang terjadi padanya?"
Sofia menggeleng pelan. "Bukan saya yang harus menceritakan, Nyonya. Kalau Tuan ingin Anda tahu, dia yang akan bilang. Saya cuma... saya cuma bisa bilang bahwa Tuan pernah kehilangan seseorang yang sangat penting. Dan itu mengubah dia. Membuatnya jadi... seperti sekarang."
Kehilangan seseorang.
Siapa?
Keluarga? Kekasih?
Dan apa hubungannya denganku?
Pertanyaan demi pertanyaan. Tapi tidak ada jawaban.
Sofia berdiri. "Istirahatlah, Nyonya. Tuan bilang nanti malam kalian akan makan malam bersama. Dia ingin Anda terlihat segar."
Makan malam bersama. Lagi.
Seperti pasangan normal. Padahal tidak ada yang normal dari hubungan ini.
Setelah Sofia pergi, aku berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit sambil mencoba tidak memikirkan fakta bahwa ada kamera di sana yang merekamku.
Tapi pikiranku terus kembali ke kata-kata Andrey.
Jangan pernah mengkhianati Don.
Aku sudah melihat apa yang dia lakukan pada pengkhianat.
Apa yang dia lakukan?
Dan... apa aku sudah dianggap mengkhianati dia sejak aku menolak menerima semuanya dengan pasrah?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu cuma satu hal.
Aku harus lebih hati-hati.
Karena satu kesalahan, satu langkah yang salah, bisa berarti akhir. Bukan cuma untukku.
Tapi juga untuk Ayah dan Ibu yang tidak tahu apa-apa tentang neraka yang sedang ku jalani ini.