NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Refleksi Tertunda

Gang sempit itu terasa seolah-olah sedang menghimpit bahu Arlan dengan kelembapan yang tidak wajar. Sisa-sisa hujan perak dari distrik pasar tadi masih meninggalkan bercak metalik yang mengering di jaket kurirnya, mengeluarkan aroma tembaga yang samar namun menusuk setiap kali ia bergerak. Arlan berhenti sejenak, menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang terasa luar biasa dingin—sebuah tanda penurunan suhu drastis sedang merayap di sekitar sini.

Ia merogoh sakunya, jemarinya menyentuh permukaan tomat organik yang ia selamatkan dari pasar sebelumnya. Buah itu terasa nyata, sebuah oase biologis di tengah dunia yang mulai kehilangan tekstur alaminya. Namun, ketenangan itu hancur saat Arlan menunduk ke arah genangan air di bawah kakinya.

"Kenapa kau masih di sana?" bisik Arlan pada pantulannya sendiri.

Di permukaan air yang keruh, bayangan Arlan tidak mengikuti gerakannya secara instan. Ada jeda waktu yang mengerikan. Saat Arlan sudah menurunkan tangannya, bayangannya di genangan itu baru saja mulai bergerak turun. Keterlambatan frekuensi ini sudah tidak lagi terbatas pada objek mati; distorsi waktu mulai menyerang eksistensi fisik Arlan secara langsung.

"Arlan, apa kau mendengar ini? Jangan biarkan matamu menipu langkahmu," sebuah suara statis terdengar dari perangkat radio analog kecil di saku jaketnya. Itu suara Dante, mentor dari Archivist.

"Suaramu terdengar seperti tersangkut di tenggorokan robot, Dante. Aku berada di gang belakang sektor logistik. Bayanganku tertinggal dua detik. Apa dunia sedang membeku?" tanya Arlan, suaranya bergetar menahan ngeri yang mendalam.

"Dunia tidak membeku, Arlan. Ia sedang berusaha menyalin langkahmu tapi gagal mengejar kecepatan darah murnimu. Dengarkan aku baik-baik. Jangan lari. Jika kau lari, ketidaksinkronan bayanganmu akan terlihat seperti suar merah bagi Patroli Eraser. Mereka sedang menyisir area itu sekarang," instruksi Dante terdengar mendesak.

"Lalu aku harus apa? Menjadi patung di sini sementara suhu terus jatuh?"

"Kau harus menyinkronkan napasmu dengan gerakan bayanganmu yang cacat itu. Paksa tubuhmu mengikuti ritme jeda tersebut. Kau harus berpura-pura menjadi salinan agar tidak terdeteksi oleh sensor optik mereka," suara Dante menghilang dalam dengungan hampa akustik yang tiba-tiba melanda gang tersebut.

Arlan menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat karena udara mulai jenuh dengan ozon. Suasana menjadi sunyi total secara mendadak. Suara gesekan kain jaketnya menghilang, bahkan suara langkah kaki di kejauhan terdengar diredam, seolah-olah seluruh kota dibungkus oleh lapisan vakum yang menyerap getaran. Ia menatap bayangannya di genangan air, lalu melangkah satu kali secara perlahan, menghitung dalam hati, menunggu dua detik sampai bayangannya melakukan hal yang sama.

"Satu... dua... bergerak," gumamnya dengan bibir gemetar.

Ia baru saja hendak melangkah lagi ketika cahaya biru-kebiruan yang tajam menyapu dinding gang. Arlan membeku. Lampu sorot itu menghisap semua warna dari bata merah, menyisakan pemandangan hitam-putih yang kontras dan menyakitkan mata.

"Residu terdeteksi di koordinat tujuh-dua," sebuah suara kaku dan dingin terdengar dari mulut gang.

Dua sosok mengenakan seragam gelap dengan masker gas tanpa kaca muncul. Mereka adalah Patroli Eraser. Mereka tidak berjalan dengan ayunan tubuh manusia; gerakan kaki mereka terasa seperti potongan film yang melompat-lompat, terlalu presisi dan tanpa inersia.

"Tunjukkan identitas biometrik Anda segera," salah satu Eraser memerintah, suaranya datar tanpa intonasi emosional sedikit pun.

Arlan tetap diam, matanya terpaku pada genangan air. Ia melihat bayangan salah satu Eraser itu. Bayangan mereka tidak tertinggal. Bayangan mereka sempurna karena mereka adalah bagian dari arsitektur kota yang palsu ini. Arlan menyadari martabat manusianya sedang dipertaruhkan oleh sebuah pantulan air.

"Saya hanya seorang kurir yang tersesat. Hujan perak tadi merusak navigasi saya," Arlan mencoba menggunakan protokol bicara yang naif, berharap getaran suaranya bisa menutupi ketakutan yang menggedor dadanya.

"Navigasi adalah variabel yang stabil. Kebohongan adalah kegagalan data. Berdiri diam untuk pemindaian bayangan sekunder," Eraser itu mendekat, lampu sorot di tangannya kini diarahkan tepat ke arah kaki Arlan.

Jantung Arlan berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang terasa memekakkan telinga sendiri di tengah kesunyian mutlak ini. Jika sensor mereka menangkap bahwa bayangannya sedang "menunggu" untuk bergerak, identitasnya akan dihapus selamanya.

"Kenapa kalian begitu terobsesi dengan pantulan? Bukankah orang yang berdiri di sini sudah cukup nyata bagi kalian?" tanya Arlan, mencoba mengulur waktu sementara jemarinya merayap ke dalam tas, menyentuh kantong berisi debu pengabur visual.

"Objek hanyalah cangkang. Bayangan adalah bukti sinkronisasi dengan realitas pusat. Data Anda tidak sinkron, Arlan," sosok itu mengangkat sebuah perangkat pemindai yang berbentuk seperti cermin gelap.

"Jika data saya tidak sinkron, mungkin itu karena dunia ini yang sedang kehilangan arahnya," balas Arlan dengan nada yang lebih tajam.

"Koreksi: Dunia sedang disempurnakan. Anda adalah noda yang tertinggal," Eraser itu mulai menekan tombol pada pemindainya.

Arlan tahu ia tidak bisa lagi berpura-pura. Ia harus menciptakan solusi ketiga sebelum lampu pemindai itu mengunci frekuensi bayangannya. Tangannya menggenggam erat debu pengabur visual, bersiap untuk meledakkan persepsi para peniru itu.

Arlan melepaskan genggamannya pada kantong debu pengabur tepat saat sinar ungu dari pemindai Eraser menyentuh permukaan genangan air. Debu halus yang terbuat dari partikel mikristalin itu meledak di udara, menciptakan kabut perak yang membiaskan cahaya lampu sorot menjadi ribuan fragmen yang membingungkan.

"Gangguan optik terdeteksi. Mengaktifkan filter termal," suara Eraser itu terdengar kaku di tengah kepulan debu.

"Kalian tidak akan menemukan panas tubuh yang kalian cari dalam kabut ini," Arlan berbisik, suaranya diredam oleh hampa akustik yang kian menebal.

Arlan menggunakan momen itu untuk bergerak, namun ia tidak berlari lurus. Ia bergerak dengan ritme patah-patah, menyesuaikan diri dengan lag bayangannya yang kini terlihat kacau di balik kabut debu. Ini adalah pilihannya: bukan melarikan diri dari distorsi, melainkan menjadi bagian dari distorsi itu sendiri untuk menipu sensor lawan.

"Subjek menghilang dari pemindaian linear. Diversifikasi pola pencarian!" perintah Eraser kedua.

Salah satu Eraser melangkah maju, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet hitam menyapu kabut. Jaraknya hanya beberapa senti dari wajah Arlan. Arlan menahan napasnya dalam-dalam. Ia melihat dada Eraser itu bergerak naik-turun dengan jeda yang sangat kaku—sebuah gerakan mekanis yang mencoba meniru kehidupan namun gagal memberikan rasa hangat. Di dunia yang membeku ini, napas Arlan yang hangat adalah musuh terbesarnya.

"Kenapa kau tidak bernapas, Arlan? Bukankah itu yang dilakukan manusia asli?" Eraser itu bertanya, kepalanya miring 45 derajat dengan sudut yang tidak manusiawi.

"Aku sedang menghemat udara agar tidak menghirup kepalsuan kalian," jawab Arlan dari balik kabut, suaranya terdengar berpindah-pindah akibat bias debu.

"Kemanusiaan adalah beban yang tidak efisien. Menyerahlah pada kesempurnaan bayangan," Eraser itu mulai mengeluarkan senjata bermoncong pendek yang memancarkan energi biru statik.

Arlan tidak menjawab. Ia melihat sebuah pipa air yang bocor di atas dinding gang. Air yang menetes dari sana jatuh dengan kecepatan yang tidak normal, seolah-olah gravitasi sedang beradu argumen dengan waktu. Dengan satu gerakan cepat, Arlan melemparkan sisa tomat organiknya ke arah pipa tersebut.

Buah itu pecah saat menghantam pipa, menyebarkan cairan merah organik yang kontras di tengah dominasi warna perak dan biru. Sensor Eraser seketika terkunci pada sisa biologis yang jatuh ke tanah. Dalam logika mereka, zat organik adalah target utama yang harus segera diproses.

"Target teridentifikasi di permukaan bawah. Memulai penghapusan biometrik," kedua Eraser itu serentak mengarahkan senjata mereka ke arah tomat yang hancur.

Arlan tidak menyia-nyiakan satu detik pun. Ia melompat ke arah pagar besi di ujung gang, memanjatnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya perih karena karat besi yang terasa tajam, sebuah sensasi nyata yang ia syukuri. Saat ia mencapai puncak pagar, ia menoleh ke bawah.

Kedua Eraser itu berdiri mematung di atas tomat yang hancur, terlihat bingung karena data organik yang mereka temukan tidak memiliki detak jantung. Arlan telah menggunakan martabat makanan terakhirnya sebagai tumbal untuk kebebasannya.

"Dante, aku sudah keluar dari gang. Tapi bayanganku... ia masih tertinggal di sana, memandangi mereka," lapor Arlan melalui radio, suaranya parau.

"Tinggalkan bayangan itu, Arlan. Selama jantungmu masih berdetak di dalam rongga dadamu yang asli, kau masih memiliki waktu untuk menjemputnya kembali. Cepat kembali ke titik jemput Sektor 7. Suhu kota akan turun sepuluh derajat lagi dalam satu jam," suara Dante terdengar penuh kecemasan yang tertahan.

Arlan merosot turun ke sisi lain pagar, masuk ke area permukiman yang sepi. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Ia telah kehilangan tomatnya, ia hampir kehilangan bayangannya, dan sekarang ia merasa seolah-olah identitasnya sedang terkikis oleh sunyi. Namun, saat ia merogoh sakunya, ia merasakan permukaan dingin Koin Perak yang ia temukan di saku baju satpam sebelumnya.

Koin itu bergetar samar, seolah memberikan pengakuan atas keberaniannya hari ini. Arlan berdiri tegak, membetulkan jaket kurirnya yang kini compang-camping. Ia bukan lagi sekadar kurir yang takut pada tahi lalat ibunya; ia adalah saksi dari dunia yang sedang sekarat.

"Aku akan kembali, Dante. Tapi aku butuh kopi yang benar-benar pahit setelah ini," gumam Arlan, melangkah menembus kegelapan yang mulai menyelimuti kota.

Di belakangnya, di genangan air gang yang ditinggalkan, bayangannya perlahan-lahan mulai memudar, menyisakan refleksi dunia yang kosong dan dingin.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!