"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Perpisahan dengan Nyonya Zhu
Gerimis yang tersisa dari malam sebelumnya meninggalkan jejak abu-abu di dinding Paviliun Awan Hijau. Di dalam ruang tengah yang sunyi, aroma cendana terasa lebih tajam, seolah-olah kayu itu sendiri sedang mengerut karena dingin.
Nyonya Zhu berdiri membelakangi pintu, menatap deretan gulungan lukisan yang tergantung di rak-rak kayu. Tangannya terjalin di balik punggung, gerakannya statis, memberikan kesan bahwa ia adalah bagian dari furnitur kuno di ruangan itu.
"Satu goresan tinta yang salah bisa merusak seluruh kanvas," ucapnya tanpa menoleh saat mendengar ketukan tongkat Guiren. "Keberadaanmu di sini sudah menjadi goresan yang salah bagi kota ini."
Guiren berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Pembunuh kemarin bukan yang terakhir."
"Bukan," Nyonya Zhu berbalik. Wajahnya tetap datar, tanpa ada gurat kecemasan atau simpati. "Paviliun Yama memiliki penciuman yang tajam untuk artefak hidup. Qing-He hanyalah persinggahan kecil yang sudah jenuh dengan aromamu. Jika kau bertahan lebih lama, paviliun ini akan terbakar, dan aku tidak berniat kehilangan investasiku demi melindungimu."
Guiren mengangguk paham. Ia sudah menduga ini. Tidak ada ruang untuk belas kasihan dalam transaksi ini sejak awal. "Saya akan pergi."
Nyonya Zhu meletakkan sebuah amplop kulit tipis di atas meja. Permukaannya kasar, disegel dengan lilin hitam bermotif awan yang tertutup kabut.
"Pergilah ke utara, menuju pegunungan Mo-Yun. Di sana ada sebuah sekte yang memuja tinta dan kehampaan. Katakan pada mereka bahwa seorang kolektor lama mengirimkan 'kertas mentah' untuk mereka uji."
Guiren mendekat, jarinya meraba tekstur amplop itu. Dingin dan kering. "Kenapa Anda membantu saya sejauh ini?"
"Membantu?" Nyonya Zhu mengeluarkan tawa singkat yang hambar. "Guiren, aku tidak sedang membantumu. Aku hanya memastikan bahwa komoditas yang kupegang tidak hancur terlalu dini. Sekte Mo-Yun butuh orang sepertimu, dan kau butuh tembok yang lebih tebal daripada dinding penginapan busuk untuk menyembunyikan adikmu."
Ia berhenti sejenak, matanya yang tajam menatap kain penutup mata Guiren. "Tapi ingat, di sana kau bukan lagi tamu. Kau adalah aset. Dan aset yang tidak berguna biasanya akan dibuang ke tempat sampah."
Guiren mengambil amplop itu, menyimpannya di balik jubahnya yang lusuh. Tidak ada ucapan terima kasih yang tulus, tidak ada tatapan perpisahan yang berat. Keduanya adalah orang-orang yang telah lama ditinggalkan oleh emosi yang tidak perlu.
"Hanya itu?" tanya Guiren.
"Hanya itu. Pergilah lewat gerbang utara sebelum patroli fajar berganti," jawab Nyonya Zhu sembari kembali memunggungi Guiren, seolah-olah pemuda itu sudah tidak lagi ada di ruangannya. "Dan jangan pernah berpikir untuk kembali. Aku tidak menyimpan barang yang sudah kujual."
Guiren berbalik tanpa kata. Langkah kakinya terdengar hampa di atas lantai marmer. Di luar ruangan, ia menemukan Xiaolian sedang duduk di sudut koridor, memeluk bungkusan kain berisi pakaian mereka yang tersisa. Wajah gadis itu pucat, matanya yang besar mengikuti setiap gerak-gerik Guiren dengan kekhawatiran yang tertahan.
Guiren mengulurkan tangannya. Xiaolian segera menyambutnya, menggenggam jemari kakaknya dengan kekuatan yang seolah takut akan dilepaskan.
"Kita berangkat, Kak?" bisik Xiaolian.
"Ya. Kita ke utara."
Mereka meninggalkan Paviliun Awan Hijau tanpa ada yang mengantar. Tidak ada lambaian tangan atau doa keselamatan. Kota Qing-He mulai menggeliat dalam cahaya fajar yang biru, namun bagi Guiren, kota ini sudah terasa seperti reruntuhan yang ia tinggalkan di belakang.
Sambil memandu Xiaolian menembus kabut tipis menuju gerbang utara, Guiren merasakan beratnya amplop di balik jubahnya. Ia tahu, Sekte Mo-Yun bukanlah surga yang menjanjikan ketenangan. Itu hanyalah kandang yang lebih besar, tempat di mana ia harus belajar menjadi pemangsa agar tidak terus-menerus menjadi mangsa.
Angin utara berhembus, membawa bau salju jauh dan tinta yang pahit. Di balik kebutaannya, Guiren menatap jalan setapak yang mendaki. Ia telah kehilangan rumah, kehilangan mata, dan kini kehilangan satu-satunya tempat bernaung yang ia kenal di kota ini.
Yang tersisa hanyalah langkah kaki di atas tanah yang tak ramah dan tangan Xiaolian yang tidak pernah lepas dari genggamannya.