Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hari-hari berlalu dengan tenang. Terlalu tenang. Media terus mengangkat nama Arya Pradikta sebagai pewaris sah yang kini memikul beban besar keluarga dan perusahaan. Wajahnya kerap menghiasi halaman depan berita bisnis, dengan tajuk yang memuji ketegaran dan kepemimpinannya. Saham perusahaan stabil, bahkan cenderung naik. Publik percaya, duka telah berubah menjadi kekuatan.
Arya menikmati setiap detiknya.
Di balik layar, ia menandatangani berkas demi berkas, memindahkan wewenang, dan menyusun orang-orangnya sendiri di posisi strategis. Tidak ada lagi suara yang berani menyebut nama Gibran. Nama itu telah menjadi masa lalu...kenangan yang dikubur rapi bersama narasi kematian tragis.
Sementara itu, di tempat yang jauh dari sorotan, Gibran justru semakin tenggelam dalam kesunyian yang terencana. Ia mempelajari setiap langkah Arya, setiap keputusan, setiap kesalahan kecil yang dilakukan karena terlalu percaya diri. Semua dicatat. Semua disimpan.
“Hari ini dia terlihat sangat yakin,” ujar Rangga suatu malam, sambil menunjukkan laporan terbaru. “Pidatonya sempurna. Dewan sepenuhnya di pihaknya.”
Gibran tersenyum samar. “Orang yang terlalu yakin sering lupa menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.”
Dan kemungkinan terburuk itu pun akhirnya tiba.
Hari pengesahan datang dengan megah. Aula utama perusahaan dipenuhi jas mahal, gaun elegan, dan wajah-wajah penting. Arya berdiri di podium dengan senyum kemenangan yang nyaris tak bisa disembunyikan. Tepuk tangan menggema saat namanya disebut sebagai pemimpin sah yang baru.
Saat itulah pintu besar di bagian belakang ruangan terbuka.
Langkah sepatu terdengar jelas, memotong riuh tepuk tangan. Satu sosok pria masuk dengan tenang, setelan gelapnya rapi, wajahnya teduh namun tegas. Aula mendadak sunyi, seolah napas semua orang tertahan bersamaan.
Arya menoleh.Senyumnya membeku.
Warna wajahnya memucat seketika.
“Itu… tidak mungkin,” bisiknya, hampir tak terdengar.
Zane menatap dengan mata terbelakak. Napasnya tercekat.
Gibran Pradikta berdiri di sana...hidup, nyata, dan menatap lurus ke arah podium. Bisik-bisik mulai menyebar seperti gelombang liar. Kursi-kursi berderit, beberapa orang bangkit berdiri, tak percaya pada apa yang mereka lihat.
Gibran melangkah maju, suaranya tenang namun menggema saat ia berbicara, “Maaf mengganggu hari besar ini.”
Tatapannya beralih pada Arya, penuh arti.“Sepertinya aku datang tepat waktu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Arya menyadari satu hal pahit
...kemenangan yang ia rayakan selama ini hanyalah ilusi, dan orang yang ia kubur hidup-hidup… baru saja bangkit.
Ruangan itu pecah dalam keheningan yang mencekik. Tidak ada satu pun tepuk tangan tersisa. Yang terdengar hanya bisikan tak percaya, napas tertahan, dan bunyi kursi yang tergeser tanpa sadar.
Semua mata tertuju pada satu sosok yang seharusnya telah menjadi kenangan...namun kini berdiri nyata di hadapan mereka.
Arya masih terpaku di podium. Tangannya mencengkeram sisi mimbar terlalu kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap Gibran seperti sedang melihat hantu yang menolak kembali ke liang kubur.
“Ini… ini tidak mungkin,” ucapnya lebih keras kali ini, berusaha tersenyum meski rahangnya bergetar. “Ini lelucon yang tidak pantas.”
Gibran melangkah lebih dekat. Setiap langkahnya mantap, terukur, seolah ia memang telah menghitung jarak ini sejak lama. “Aku juga tidak suka lelucon, Kak,” jawabnya tenang. “Terutama yang melibatkan kematian.”
Beberapa anggota dewan mulai saling pandang. Wajah-wajah yang semula penuh kepastian kini dipenuhi keraguan. Salah satu dari mereka berdiri. “Jika Anda benar-benar Gibran Pradikta… bagaimana kami bisa yakin?”
Gibran berhenti tepat di tengah ruangan. Ia menoleh, tatapannya tajam namun terkendali. “Karena hanya aku yang tahu,” katanya, “perjanjian rahasia tahun itu. Tentang proyek yang tak pernah tercatat, dan dana yang dialihkan tanpa persetujuan penuh.”
Suara gemuruh rendah menyebar. Arya menelan ludah. Senyumnya runtuh sepenuhnya.“Dan karena hanya aku,” lanjut Gibran, kini menatap lurus ke arah Arya, “yang tahu alasan sebenarnya mengapa kau sangat ingin aku mati.”
Satu per satu wajah di ruangan berubah. Beberapa wartawan yang diizinkan meliput pengesahan itu mulai mengangkat kamera. Kilatan cahaya memenuhi aula, menangkap momen yang tak akan pernah terlupakan.
Arya mencoba menyela. “Dia penipu! Ini pasti rekayasa—”
“Cukup,” potong seorang anggota dewan senior dengan suara berat. “Jika ada keraguan sekecil apa pun tentang identitas dan status Gibran Pradikta, maka pengesahan ini harus dihentikan.”
Kalimat itu jatuh seperti palu hakim.
Arya terhuyung selangkah mundur. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan kata-kata. Seluruh rencana yang ia susun rapi kini retak hanya oleh satu kehadiran
...kehadiran orang yang ia yakini telah lenyap selamanya.
Gibran mendekat ke podium, berdiri tepat di hadapan kakaknya. Suaranya rendah, hanya cukup untuk didengar Arya. “Aku bilang, biarkan kau merasa menang dulu,” bisiknya. “Karena kekalahan terasa paling pahit saat datang setelah kemenangan.”
Arya menatapnya dengan mata merah, campuran amarah dan ketakutan. Ia sadar permainan ini belum berakhir. Bahkan, baru saja dimulai.
Di aula itu, di hadapan semua saksi, satu kebenaran kini berdiri tegak, Gibran Pradikta tidak pernah mati.
Tanpa menunggu penjelasan lebih jauh, Gibran berbalik. Langkahnya meninggalkan aula yang kini di liputi kekacauan... tujuannya satu.
Kediaman Pradikta.
********
Kabar itu menyebar lebih cepat daripada kilat.Dalam hitungan menit setelah kemunculan Gibran di hadapan publik, jagat maya berubah menjadi lautan pertanyaan dan kegemparan. Tagar namanya kembali menduduki puncak tren, kali ini bukan dengan nuansa duka, melainkan kebingungan yang nyaris panik.
Gibran Pradikta hidup.Kalimat itu berulang-ulang muncul di layar jutaan orang.Netizen berlomba-lomba membagikan potongan video dari hari pengesahan. Wajah Arya yang pucat, aula yang membeku, dan sosok Gibran yang berdiri tenang menjadi bukti tak terbantahkan. Namun di balik keterkejutan itu, satu pertanyaan besar menggantung di benak semua orang...
Jika Gibran masih hidup… lalu jasad siapa yang selama ini dimakamkan?
Spekulasi liar pun bermunculan. Ada yang menuduh rekayasa besar-besaran, ada yang mencurigai permainan elit, ada pula yang mulai meragukan kinerja aparat. Dunia maya gaduh, penuh teori dan asumsi yang saling bertabrakan.
Di sebuah rumah besar yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, Nyonya Tina duduk terpaku di ruang keluarga. Televisi di depannya menyiarkan ulang berita yang sama, dengan nada suara pembawa acara yang masih terdengar tak percaya.
“Pemirsa, fakta mengejutkan kembali terungkap. Gibran Pradikta, yang sebelumnya dinyatakan meninggal dunia, hari ini muncul secara langsung di hadapan publik…”
Tangan Nyonya Tina gemetar saat ia menekan dada kirinya. Napasnya tercekat. Matanya berkaca-kaca, namun perasaannya bercampur aduk, sulit ia uraikan dengan kata-kata.
Senang...tentu saja.
Anak bungsunya hidup. Anak yang ia tangisi siang dan malam, yang ia doakan dengan air mata dan keikhlasan, ternyata masih bernapas di dunia yang sama dengannya. Rasa syukur itu mengalir deras, hangat, dan hampir membuatnya terisak.
Namun di balik kelegaan itu, ada sesuatu yang mengganjal.Perasaan aneh, seperti baru saja menyadari bahwa dirinya telah dijadikan bagian dari sebuah permainan besar. Upacara pemakaman, tangisan yang tulus, peti mati yang ia sentuh dengan tangan gemetar...semuanya terasa seperti bayangan palsu yang kini menghantam kesadarannya.
“Jadi… selama ini aku dibohongi?” bisiknya lirih.
Nyonya Tina menutup mata sejenak. Hatinya bergejolak antara marah, kecewa, dan lega. Ia tidak tahu siapa yang harus ia salahkan, atau apakah ia bahkan sanggup melakukannya. Yang ia tahu, rasa sakit itu nyata...namun begitu pula rasa syukurnya.
Perlahan, ia mengangkat wajah, menatap layar televisi kembali. Saat kamera menyorot Gibran...hidup, tegak, dan tampak lebih dewasa....air mata akhirnya jatuh juga.
“Syukurlah… kau masih hidup,” ucapnya dengan suara bergetar.
bersambung...