"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Kantor Pusat Logistik Nasional, pukul 08.00 WIB.
Pagi ini, Disa melangkah masuk ke lobi kantor dengan aura yang berbeda. Jika minggu-minggu sebelumnya ia tampak membawa beban berat di bahunya, hari ini ia terlihat sangat ringan. Blazer berwarna krem yang ia kenakan tampak sangat pas, memberikan kesan bersih, segar, dan sangat profesional. Ia tidak ingin lagi dikenal sebagai "Disa yang sedang bermasalah dengan suami,"
melainkan sebagai "Disa, Kepala Auditor dan Manajer Proyek Ekspansi Nasional."
"Pagi, Mbak Disa! Wah, auranya beda banget ya hari ini," sapa satpam lobi dengan ramah.
Disa tersenyum tulus. "Pagi, Pak. Semangat ya!"
Begitu sampai di lantai divisinya, Disa langsung disambut oleh tumpukan berkas di meja. Namun, bukannya merasa pusing, ia justru merasa bergairah. Inilah dunianya. Dunia di mana logika dan angka berbicara, jauh dari drama keluarga yang melelahkan. Ia segera menyalakan laptop, memakai kacamata anti-radiasinya, dan mulai membedah laporan jalur distribusi untuk wilayah Indonesia Timur.
"Dis, kopi?" Manda tiba-tiba muncul dan meletakkan segelas cappuccino hangat di mejanya.
"Makasih, Man. Pas banget, aku butuh kafein buat ngerjain target vendor minggu ini," jawab Disa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Manda bersandar di kubikel Disa. "Aku salut sama kamu. Habis perang di pengadilan kemarin, hari ini langsung bisa fokus begini. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah izin cuti sebulan buat nenangin diri."
Disa berhenti sejenak lalu menatap Manda. "Masalah pribadi ada tempatnya sendiri, Man. Di sini, aku punya tanggung jawab besar. Proyek ekspansi ini bukan cuma soal karierku, tapi soal kepercayaan Pak Heru dan tim. Aku nggak mau urusan sampah seperti Abdi menghambat produktivitasku."
Manda mengangguk kagum. "Itu baru sahabatku. Oh ya, Rio sama Sinta lagi di ruang arsip, mereka bilang bakal bantu kamu buat filter data vendor sore nanti."
Pukul 11.00 WIB.
Disa sedang berada di tengah rapat koordinasi dengan departemen operasional. Suasana ruang rapat cukup tegang karena ada beberapa kendala di pelabuhan. Namun, Disa dengan tenang memberikan solusi-solusi taktis. Ia memaparkan presentasinya dengan sangat fasih, menunjukkan bahwa penguasaannya terhadap proyek ini sangat absolut.
"Saya ingin semua kontrak vendor logistik di titik ini ditinjau ulang secara legal dan finansial. Kita tidak bisa ambil risiko dengan perusahaan yang tidak memiliki track record bersih," tegas Disa di depan para manajer lainnya.
Tiba-tiba, sekretaris Pak Heru, Direktur Utama, mengetuk pintu ruang rapat dengan wajah yang tampak sedikit panik.
"Maaf mengganggu, Ibu Disa. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu. Beliau menunggu di ruang VIP," bisik sekretaris itu.
Disa mengerutkan dahi. "Siapa? Saya tidak ada janji pertemuan selain urusan proyek siang ini."
"Beliau tidak menyebutkan urusan pekerjaan, tapi beliau bilang ini sangat mendesak. Namanya... Ibu Miranda Abimanyu."
Seketika, suasana di kepala Disa seperti tersengat listrik. Nama itu. Istri dari Tio Abimanyu, pria yang saat ini sedang menjadikan Amel sebagai "peliharaan" mewahnya. Disa menenangkan diri, merapikan dokumennya dan meminta maaf kepada peserta rapat untuk menghentikan diskusi sejenak.
Ruang VIP, pukul 11.30 WIB.
Disa melangkah menuju ruang VIP dengan detak jantung yang teratur. Ia tahu siapa Miranda. Wanita itu adalah putri dari salah satu konglomerat lama di Indonesia. Sosok yang sangat sulit ditemui, jarang muncul di media sosial, dan terkenal memiliki pengaruh besar di balik layar dunia bisnis properti.
Begitu pintu terbuka, Disa melihat seorang wanita duduk anggun di sofa kulit.
Miranda mengenakan setelan sutra berwarna hitam yang sangat elegan. Meski usianya sudah masuk kepala empat, wajahnya tetap kencang dan memancarkan wibawa yang sangat dingin. Di sampingnya, seorang asisten pria berdiri tegak memegang tas kerja.
"Selamat siang, Ibu Miranda. Mohon maaf membuat Anda menunggu," sapa Disa dengan sangat sopan namun tetap menjaga martabatnya.
Miranda menatap Disa dari bawah ke atas, lalu tersenyum tipis senyum yang sulit dibaca. "Silakan duduk, Disa. Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari tim audit saya. Mereka bilang Anda adalah salah satu auditor terbaik yang pernah bekerja sama dengan perusahaan kami."
Disa duduk di hadapan Miranda. "Terima kasih, Bu. Suatu kehormatan bagi saya mendengar hal itu langsung dari Anda."
Miranda menyesap teh melati yang sudah disediakan, gerakannya sangat tertata. "Saya tidak suka membuang waktu. Saya tahu apa yang sedang terjadi di kehidupan pribadi Anda, dan saya juga tahu apa yang sedang terjadi dengan suami saya... dan adik ipar Anda, Amel."
Disa tetap tenang, tidak menunjukkan keterkejutan. "Saya mengerti arah pembicaraan ini, Bu."
"Amel itu gadis yang sangat bodoh," ucap Miranda dengan nada suara yang datar namun mematikan. "Dia pikir dia bisa menguasai Tio hanya dengan wajahnya. Dia tidak tahu bahwa semua yang dia pakai sekarang adalah milik saya. Kunci BMW itu, apartemen itu, bahkan jam tangan yang dia pamerkan di media sosial, semuanya tercatat atas nama yayasan keluarga saya."
Miranda mencondongkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Disa. "Saya datang ke sini bukan untuk melabrak Anda. Sebaliknya, saya sangat menghargai cara Anda menelanjangi keluarga itu di pengadilan kemarin. Anda cerdas, Disa. Anda menggunakan data, bukan emosi."
Disa tersenyum kecil. "Saya hanya menuntut apa yang menjadi hak saya dan anak saya, Bu."
"Dan saya ingin menuntut kembali apa yang menjadi hak saya dari suami saya," balas Miranda. "Tio sudah terlalu jauh bermain-main kali ini. Dia menggunakan dana operasional perusahaan untuk membiayai gaya hidup mewah adik ipar Anda. Saya punya rencana untuk 'membersihkan' semuanya sekaligus, dan saya rasa Anda punya kepingan terakhir yang saya butuhkan."
Disa terdiam sejenak. Ia melihat ada kesempatan besar di depan matanya. Kerja sama dengan Miranda bukan hanya soal menghancurkan Amel, tapi bisa menjadi perlindungan hukum yang sangat kuat bagi kasus perceraiannya dengan Abdi.
"Apa yang Anda inginkan dari saya, Bu?" tanya Disa dengan suara rendah.
Miranda memberikan sebuah amplop cokelat kecil ke atas meja. "Di dalamnya ada daftar beberapa aset yang dialirkan Tio atas nama Abdi sebagai bentuk titipan. Tio pikir saya tidak tahu, tapi saya punya mata di mana-mana. Jika Anda bisa membuktikan di sidang minggu depan bahwa aset-aset ini adalah bagian dari harta bersama yang sengaja disembunyikan lewat jalur perusahaan suami saya, maka saya akan pastikan Abdi dan Amel keluar dari Jakarta tanpa membawa apa pun kecuali baju di badan mereka."
Disa membuka amplop itu dan matanya membelalak melihat deretan aset yang tercantum. Nilainya jauh lebih besar dari sekadar rumah di kampung.
"Tapi ada satu syarat," lanjut Miranda, suaranya berubah menjadi bisikan yang dingin. "Saat Anda menghancurkan mereka di pengadilan nanti, pastikan Anda juga menyebutkan keterlibatan Tio secara spesifik dalam pemalsuan dokumen tersebut. Saya butuh alasan legal yang kuat untuk mengajukan gugatan cerai dan mengambil alih seluruh kendali perusahaan dari tangan Tio tanpa dia bisa melawan."
Disa menatap Miranda, menyadari bahwa wanita di depannya ini jauh lebih berbahaya daripada Rini atau siapa pun yang pernah ia temui. Miranda sedang merencanakan kudeta besar terhadap suaminya sendiri, dan ia ingin menjadikan kasus cerai Disa sebagai pintu masuknya.
"Kenapa Anda memilih saya?" tanya Disa ragu.
Miranda berdiri, memperbaiki letak syalnya. "Karena Anda punya keberanian yang tidak dimiliki wanita lain. Anda berani melawan keluarga parasit itu meski Anda tidak punya apa-apa pada awalnya. Sekarang, saya akan memberikan Anda 'senjata' itu."
Miranda berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Oh ya, Disa. Soal Amel... nikmatilah sisa harinya. Karena besok pagi, saat dia bangun di apartemen itu, dia akan menemukan semua barang-barangnya sudah berada di tempat sampah."
Setelah Miranda pergi, Disa terduduk lemas di sofa. Di tangannya, dokumen dari Miranda terasa sangat berat namun sangat berharga. Ia kembali ke mejanya, mencoba fokus pada pekerjaannya, namun pikirannya terus berputar.
Tepat saat ia hendak kembali bekerja, ponselnya berbunyi. Pesan dari Rio: "Dis, Amel baru saja posting foto dia lagi belanja perhiasan mewah bareng Tio.
Caption-nya: 'Dihujat di pengadilan, dibahagiakan oleh kesayangan'. Gila ya itu anak?"
Disa hanya tersenyum dingin melihat pesan itu. Ia menatap amplop dari Miranda yang ia sembunyikan di laci kerjanya.
"Pamerlah sepuasmu, Amel. Karena kamu tidak tahu, orang yang memberimu segalanya baru saja menyerahkan belati kepadaku untuk memotong semua kemewahan itu," gumam Disa pelan.
Disa kembali mengetik laporannya dengan jemari yang sangat stabil. Pekerjaannya harus selesai tepat waktu. Ia harus tetap profesional, karena badai yang sebenarnya baru akan ia lepaskan esok hari.
udh dpt lmpu hjau dr clon mrtua tu disa,jd kl arlanda ngjak srius trima aja...
s bpk gercep bgt buat pdkt sm disa....udh bkin heboh krna smp rela jmput pjaan hti,d ajk kncan jg.....
skluarga jd piaraan smua..yg laki piaraan tante girang,yg wnita piaraan om hdung belang.....ccckkkk......
Dr yg songong'nya amit2,skrng jualn tisu buat mkn...ada lg yg lbh lwak,mntan suami yg ngrim chat cma buat mnta uang.....y aampuuunnn.....
ga ush mkrin mreka yg udh bkin km mndrta,biar aja mreka jd gmbel....yg pnting km sm kluargamu baik2 aja,apa lg skrng bestie sm holang kaya....
eehhh....spa lg tu yg bkln nysul jd gmbel???brani bgt ngusik disa yg udh d lndungi sm sing galak.....
disa emng kerennn...dlu d abaikn suami,d hina mrtua plus ipar yg sma2 gila....smp hrus mnhan lpar dmi bakti...skrng....dia mmetik buah dr ksbaran'nya....smnggttt...