NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

PERTEMUAN KELUARGA DAN ACARA TUNANGAN YANG MERIAH

Hari Sabtu pagi, rumah besar keluarga Khatulistiwa di Desa Bontomanai – yang baru saja direnovasi dengan sentuhan arsitektur adat Sulawesi Selatan – penuh dengan kegembiraan. Para kerabat dan tetangga sudah mulai berkumpul sejak pagi hari, membantu mempersiapkan acara pertemuan dua keluarga dan proses tunangan Khatulistiwa serta Tenggara. Hiasan dari kain songket berwarna merah dan emas menghiasi setiap sudut rumah, sementara aroma makanan khas daerah yang lezat mengembang di udara.

Keluarga Tenggara– Bapak Daeng Raja, Ibunda Yuliana, dan Kakeknya Hj.Sulaiaman – tiba dengan membawa aneka oleh-oleh khas Makassar, termasuk kain tenun, perhiasan batu akik, Mereka disambut dengan tarian tradisional Gandrung Bulo dan musik gong yang merdu dari kelompok seni lokal.

"Selamat datang di rumah kami," ucap ayah Arif dengan penuh rasa hormat saat menyambut Bapak Daeng Raja dengan sapaan tangan yang hangat. "Kami telah menunggu kedatangan kalian dengan sangat sabar."

Daeng Raja mengangguk dengan senyum ramah. "Kami juga sangat senang bisa akhirnya bertemu secara langsung. Terima kasih atas undangannya yang sangat hangat."

Setelah acara penyambutan resmi selesai, kedua keluarga berkumpul di ruang tamu yang luas, duduk melingkar di atas karpet tradisional yang lembut. Minuman khas seperti cendol dawet dan es pisang ijo disajikan bersama kue-kue tradisional sebagai pembuka acara.

Bapak Daeng Raja sebagai pihak pria membuka pembicaraan dengan penuh rasa hormat. "Kita hari ini datang untuk membicarakan masa depan kedua anak kita – Tenggara dan Khatulistiwa. Sejak mereka menyatakan hubungan resmi, kami melihat betapa cocoknya mereka dan bagaimana cinta mereka tumbuh kuat melalui berbagai ujian."

Ayah Arif mengangguk dengan pemahaman. "Kami juga melihat hal yang sama dari sisi Khatulistiwa. Dia telah banyak berubah menjadi orang yang lebih baik sejak mengenal Tenggara. Kami sangat mendukung hubungan mereka dan percaya bahwa Tenggara akan bisa menjaga dan mencintainya dengan sepenuh hati."

Ibu Yuliana kemudian mengambil sebuah kotak kayu yang dihiasi dengan ukiran motif siger khas Gowa. "Sebagai tanda rasa hormat dan cinta kita kepada keluarga kalian dan kepada Khatulistiwa, kami ingin memberikan beberapa hadiah tunangan yang memiliki makna mendalam."

Dia membuka kotak dan mengeluarkan sebuah kalung besar dengan liontin siger yang dibuat dari emas murni dan batu akik merah yang langka. "Liontin siger melambangkan kebesaran hati dan kebijaksanaan, sementara batu akik merah melambangkan cinta yang hangat dan abadi. Ini adalah pusaka keluarga kita yang telah diwariskan selama tiga generasi."

Selanjutnya, dia mengeluarkan sehelai kain songket bodo yang dibuat oleh nenek Fatimah sendiri, dengan pola yang menggambarkan keberuntungan dan kemakmuran. "Kain ini untuk ibu dari Khatulistiwa sebagai tanda rasa hormat kita kepada orang tua yang telah mendidik anaknya dengan baik."

Keluarga Khatulistiwa merasa sangat terhormat menerima hadiah tersebut. Ibunda Senja berdiri dengan penuh rasa hormat. "Kami tidak bisa berkata apa-apa selain terima kasih yang sebesar-besarnya. Hadiah ini sangat berharga dan akan kami jaga dengan baik."

Ayah Arif kemudian mengeluarkan hadiah dari pihak mereka – sebuah perahu miniatur yang dibuat oleh tukang kayu terbaik di daerah mereka, dihiasi dengan ukiran yang menggambarkan hubungan erat antara manusia dan laut. "Perahu melambangkan perjalanan hidup yang akan ditempuh oleh kedua anak kita. Semoga mereka selalu menemukan jalan yang benar dan sampai di tujuan dengan selamat."

Selain itu, mereka juga memberikan sebuah buku resep makanan tradisional yang telah diwariskan selama lima generasi, lengkap dengan cerita dan makna di balik setiap hidangan. "Kita berharap bahwa dengan resep ini, mereka bisa melestarikan cita rasa tradisional dan bahkan mengembangkannya menjadi usaha yang bermanfaat bagi banyak orang."

Setelah acara penyerahan hadiah selesai, kedua keluarga menyepakati rencana pernikahan yang akan dilaksanakan enam bulan kemudian, tepat pada musim panen yang dianggap sebagai masa yang baik dalam budaya lokal. Mereka sepakat bahwa pernikahan akan mengikuti tradisi adat Sulawesi Selatan dengan sentuhan modern yang sesuai dengan keinginan kedua mempelai.

"Kita ingin pernikahan mereka menjadi acara yang tidak hanya meriah, namun juga memiliki makna budaya yang dalam," ucap Nenek Fatimah dengan suara penuh hikmat. "Kita akan mengajak seluruh masyarakat desa untuk berpartisipasi, sehingga acara ini juga bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya kita kepada generasi muda."

 

Siang itu, acara dilanjutkan dengan makan malam bersama seluruh kerabat dan tetangga yang telah datang untuk memberikan dukungan. Hidangan khas seperti coto Makassar, pallubasa, burasa, dan ikan bakar bumbu rujak disajikan dengan berlimpah. Semua orang berkumpul di halaman rumah, menikmati makanan dan hiburan dari kelompok musik tradisional lokal.

Khatulistiwa dan Tenggara duduk bersama di sudut yang tenang, melihat suasana meriah di sekitar mereka. Tenggara memegang tangan Khatulistiwa dengan erat. "Aku tidak bisa mempercayai bahwa semua ini benar-benar terjadi, cintaku. Keluarga kita begitu mendukung kita dan aku merasa sangat beruntung memiliki kamu dalam hidupku."

Khatulistiwa tersenyum melihat wajah kekasihnya. "Aku juga merasa sangat bersyukur, Tenggara. Hari ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku. Kita telah mendapatkan dukungan dari kedua keluarga kita dan siap untuk membangun masa depan bersama."

Mereka melihat ke arah kedua keluarga yang sedang berbincang dengan riang, tertawa dan berbagi cerita. Di mata mereka tercermin harapan untuk masa depan yang penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan rasa hormat terhadap warisan budaya yang telah mereka warisi. Pertemuan dua keluarga ini bukan hanya menandai awal dari hubungan resmi mereka sebagai pasangan yang akan menikah, namun juga sebagai bukti bahwa cinta sejati akan selalu mendapatkan dukungan dari orang-orang terkasih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!