Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide yang Begitu Polos
Siang hari setelah Ibu dan Ayah berangkat, Sebuah ide muncul begitu saja saat aku melihat sinar matahari mulai menyentuh kelopak bunga liar di samping pagar anyaman bambu. Di mataku yang baru berumur empat tahun, bunga-bunga berwarna kuning itu terlihat seperti emas, dan batu-batu kali yang kecil dan halus terlihat seperti harta karun yang berharga.
"Pipit, ayo bantu!" bisikku semangat.
Aku mulai merangkak di sekitar halaman yang sempit. Tanganku yang kecil menggali tanah, mencari batu-batu yang paling cantik. Aku mengumpulkan batu-batu itu ke dalam kaus yang aku angkat bagian ujungnya, membentuk sebuah kantung darurat.
"Satu... dua... banyak!" aku menghitung dengan bahasa bayiku.
Setelah batu, aku beralih ke bunga liar. Aku memetiknya satu-persatu dengan hati-hati agar tidak layu. Aku ingin membuat sesuatu yang bisa aku "jual" kepada Ayah dan Ibu nanti sore. Bukan uang sungguhan yang aku harapkan, karena aku sendiri belum paham betul berapa nilai selembar uang. Aku hanya ingin mereka merasa kalau aku juga bisa "bekerja" seperti mereka.
Aku menata semua temuanku di atas sebuah papan kayu bekas yang miring di dekat pintu.
"Ayo beli, ayo beli!" aku berlatih bicara di depan Pipit. Aku berperan menjadi penjual di pasar, seperti yang pernah kulihat sekilas saat Ibu mengajakku ke bawah lereng.
Tapi tiba-tiba, perutku berbunyi. Rasa lapar tiba-datang di saat aku sedang asyik bermain. Aku berlari masuk dan makan dengan lahapnya tapi aku juga berfikir harus kusisakan untuk ayah dan ibuku yang sedang bekerja di ladang. Aku melihat batu-batu itu, lalu melihat tanganku. Ternyata batu tetaplah batu, tidak bisa dimakan, dan tidak bisa berubah menjadi uang sungguhan untuk membelikan Ibu obat pegal linu.
Aku kembali terdiam. Semangat kecilku agak surut. Aku duduk bersandar pada pagar bambu, menatap bunga-bunga yang mulai layu karena kupetik.
"Pipit, kenapa mencari uang itu susah sekali?" tanyaku sambil memeluk boneka kelinciku itu erat-erat. "Kasihan Ayah... kasihan Ibu..."
Aku memejamkan mata, membayangkan jika batu-batu ini benar-benar berubah menjadi koin emas. Aku akan membelikan Ayah pikulan baru yang tidak kasar, dan membelikan Ibu kerudung baru yang tidak bau asap. Di balik pintu berpagar bambu ini, aku tumbuh menjadi orang dewasa dalam tubuh yang mungil, memikul mimpi yang terlalu berat untuk anak seusia empat tahun.
Sore mulai mendingin, dan bayangan pagar bambu memanjang seperti jemari yang menggapai-gapai jalan setapak. Aku masih duduk di sana, memandangi "dagangan" kecilku yang kini tampak menyedihkan. Bunga-bunga kuning yang tadi kupikir emas kini telah layu, kelopak-kelopaknya mengerut seolah ikut merasakan kelelahan yang kupendam. Batu-batu kali yang kupikir harta karun hanyalah benda mati yang bisu, tak mampu berubah menjadi butiran beras atau kepingan koin untuk meringankan beban orang tuaku.
Namun, di tengah rasa putus asa yang menghinggap di hati mungilku, suara langkah kaki yang familiar memecah sunyi. Ayah dan Ibu muncul dari balik tikungan jalan, wajah mereka berdebu, namun mata mereka langsung berbinar saat melihatku menunggu di depan rumah. Aku buru-buru berdiri, menunjuk ke arah papan kayu dengan sisa tenaga yang kupunya.
"Ayah, Ibu... aku sudah jualan!" seruku dengan suara yang sedikit bergetar.
Langkah mereka terhenti. Ayah mendekat, meletakkan pikulannya yang berat, lalu berjongkok di depanku. Dia melihat batu-batu itu, lalu melihat bunga-bunga layu yang kutata dengan saksama. Alih-alih tertawa, mata Ayah justru berkaca-kaca. Dia mengambil satu batu kecil, menggenggamnya seolah itu adalah permata paling mahal di dunia, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya yang kumal.
"Terima kasih, Sayang. Ini adalah harta paling berharga yang Ayah temukan hari ini," bisiknya sambil memelukku erat. Aroma keringat dan tanah dari tubuh Ayah menyeruak, tapi bagiku, itulah aroma kasih sayang yang paling murni.
Ibu mengusap kepalaku, menyembunyikan lelahnya di balik senyum yang tulus. Saat itu aku menyadari, meski tanganku belum bisa memikul beban berat dan batu-batuku tak bisa membeli nasi, kehadiranku adalah alasan mereka untuk terus bertahan. Malam itu, di bawah remang lampu kuning redup, aku belajar bahwa kekayaan bukan hanya tentang angka di atas kertas, tapi tentang bagaimana hati yang kecil mampu memberikan seluruh dunianya untuk orang-orang yang dicintai. Aku mungkin masih berusia empat tahun, tapi cintaku sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa kebahagiaan mereka adalah segalanya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰