Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Tiga bulan kemudian, tubuhku benar-benar berubah.
Perutku kini semakin membulat. Tak lagi hanya samar, tapi jelas terlihat aku sedang mengandung. Setiap kali berdiri di depan cermin, tanganku refleks mengusapnya pelan. Rasanya hangat… dan nyata.
Hari ini jadwal USG. Seharusnya Mas Bram ikut, tapi ia sedang menghadiri meeting penting di perusahaannya. Jadi yang menemaniku adalah Arumi.
“Ran, kamu makin kelihatan hamil ya,” ujar Arumi sambil tersenyum saat aku keluar kamar.
Aku tertawa kecil. “Iya, kayaknya udah gak bisa disembunyiin lagi.”
Di perjalanan menuju klinik, aku duduk sambil memegang perutku yang mulai terasa berat. Kadang ada gerakan halus dari dalam sana—lembut, seperti sentuhan kecil yang membuatku langsung terdiam dan tersenyum sendiri.
Sesampainya di klinik, aku duduk di ruang tunggu bersama Arumi. Ia menggenggam tanganku erat.
“Tenang ya. Pasti sehat kok,” katanya menenangkan.
Namaku dipanggil.
Aku masuk ke ruang periksa, lalu berbaring. Dokter mengoleskan gel dingin di atas perutku yang sudah membulat itu. Layar di sampingku menampilkan gambar kecil yang kini jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.
“Itu tangan dan kakinya sudah mulai terbentuk,” ujar dokter.
Air mataku langsung jatuh.
Kulihat bayiku bergerak kecil di layar. Hidup. Nyata. Detak jantungnya terdengar jelas dan cepat.
“Perkembangannya bagus, sesuai usia kehamilan,” tambah dokter.
Aku mengusap perutku pelan. “Nak… kamu kuat ya.”
Arumi yang berdiri di sampingku ikut berkaca-kaca. “Ran… kamu sebentar lagi bener-bener jadi ibu.”
Keluar dari ruangan itu, aku memegang hasil USG erat-erat. Perutku yang membulat terasa seperti pengingat bahwa aku tidak lagi sendiri.
Di dalam diriku, ada kehidupan kecil yang harus kujaga.
Setelah semuanya selesai, aku menggenggam hasil USG itu erat-erat. Senyumku tak bisa berhenti mengembang. Aku sudah tak sabar ingin memperlihatkannya pada Mas Bram. Ingin melihat ekspresi wajahnya saat tahu anak kami tumbuh sehat.
Aku berjalan keluar dari ruang dokter bersama Arumi. Baru saja hendak melewati lorong menuju pintu keluar, langkahku terhenti.
“Rania.”
Suara itu begitu familiar.
Aku menoleh.
Di sana berdiri Dokter Leon dengan jas dokternya, menatapku dengan senyum tipis yang entah kenapa selalu terasa berbeda.
“Leon…” ucapku pelan.
Kami memang belakangan ini sering bertemu tanpa sengaja. Seolah takdir sengaja mempertemukan kami di waktu-waktu tak terduga.
“Periksa lagi ya?” tanyanya lembut, matanya turun sekilas ke arah perutku yang kini semakin membulat.
“Iya, Leon,” jawabku sambil tersenyum.
“Gimana hasilnya?”
“Alhamdulillah sehat. Detak jantungnya kuat,” kataku, tanpa sadar tanganku mengusap perutku penuh kasih.
Leon mengangguk pelan. Ada tatapan hangat di matanya. “Bagus. Jaga kondisi kamu ya, jangan terlalu capek.”
Arumi yang berdiri di sampingku hanya memperhatikan dengan ekspresi sulit ditebak.
“Kamu sendiri gimana?” tanyaku basa-basi.
“Sibuk seperti biasa. Tapi… ketemu kamu begini rasanya selalu kebetulan yang menyenangkan,” ujarnya setengah bercanda.
Aku tersenyum kecil, sedikit kikuk.
“Mas Bram gak ikut?” tanyanya lagi.
“Lagi meeting penting,” jawabku singkat.
Leon terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Kalau butuh apa-apa soal kesehatan, jangan ragu hubungi aku.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku merasa… diperhatikan. Terlalu diperhatikan.
“Terima kasih, Leon.”
Setelah berpamitan, aku melangkah keluar bersama Arumi.
Eem, Ran…” lirih Arumi saat kami sudah duduk di dalam mobil.
Aku yang sedang memasang sabuk pengaman langsung menoleh. “Pasti minta jajan kan?” seruku, karena memang sudah jadi kebiasaan Arumi setiap pergi bersamaku.
“Enggak.”
Aku mengangkat alis. “Tumben.”
Arumi malah tidak ikut tertawa. Ia terlihat ragu, seperti menimbang-nimbang ucapannya.
“Ada apa sih?” tanyaku akhirnya.
Ia menarik napas panjang. “Sepertinya… dokter Leon ada rasa sama kamu, Ran.”
Aku spontan tertawa kecil. “Hah? Apaan sih kamu.”
“Aku serius,” katanya pelan tapi tegas. “Cara dia lihat kamu beda. Tadi waktu kamu ngomong soal bayinya, dia gak cuma senyum biasa. Tatapannya itu… perhatian banget.”
Aku terdiam.
“Arumi, jangan ngarang deh,” gumamku, mencoba terdengar santai meski hatiku sedikit terusik.
“Aku gak ngarang. Aku cewek, Ran. Peka. Itu bukan tatapan dokter ke pasiennya.”
Aku menggenggam setir mobil tanpa sadar. Entah kenapa, ucapan Arumi mengulang-ulang di kepalaku.
“Ran, kamu itu lagi hamil. Kamu istri orang,” lanjut Arumi lembut. “Aku cuma gak mau nanti kamu terluka atau… keadaan jadi rumit.”
Aku menelan ludah.
“Aku gak mikir ke sana,” jawabku pelan. “Dan aku gak mau mikir ke sana.”
Bayangan Mas Bram muncul di kepalaku. Suamiku. Ayah dari anak yang sedang kukandung.
“Aku cuma mau fokus sama bayi ini,” lanjutku sambil mengusap perutku yang membulat. “Udah itu aja.”
Arumi tersenyum tipis, meski masih ada sisa kekhawatiran di wajahnya. “Ya udah… aku cuma ngingetin.”
Mobil pun kembali melaju.
Mobil berhenti tepat di depan toko bunga milik Arumi. Papan kayu kecil bertuliskan Bloom & Petals tergantung manis di atas pintu kaca.
“Makasih ya, Rum,” seruku sambil tersenyum.
“Beres. Pokoknya kalau suami kamu nggak bisa nganterin, ada aku. Tinggal bilang aja,” jawabnya santai.
Aku mengangguk. “Oke, siap.”
Arumi turun lebih dulu dan membuka pintu tokonya. Aroma bunga segar langsung menyambut. Mawar, lily, baby breath—semuanya tertata rapi di rak kayu putih. Toko itu memang tidak besar, tapi selalu terasa hangat.
“Kamu duduk aja, Ran. Jangan kebanyakan berdiri,” katanya sambil melepas tasnya dan mengganti dengan apron kerja.
Aku tertawa kecil. “Ih, kayak aku selemah itu.”
“Perut kamu udah makin gede, ibu hamil harus nurut,” balasnya tegas tapi penuh sayang.
Aku akhirnya duduk di kursi dekat meja kasir sambil memperhatikan Arumi merangkai bunga. Tangannya cekatan, wajahnya serius tapi lembut. Sudah lama ia bekerja di toko itu, bahkan sekarang dipercaya mengelolanya hampir sepenuhnya oleh pemiliknya.
“Ran,” panggilnya tanpa menoleh.
“Hm?”
“Kamu mau gak, aku buatin buket kecil buat Mas Bram? Anggap aja bonus hari bahagia kamu.”
Aku tersenyum lebar. “Serius?”
“Iya lah. Biar suami kamu makin sayang.”
Aku mengusap perutku pelan sambil tertawa kecil. “Dia pasti seneng.”
Beberapa menit kemudian, Arumi menyerahkan buket bunga putih sederhana dengan pita cream yang manis.
“Nih, gratis spesial buat calon ibu,” katanya bangga.
Aku menerima buket itu dengan hati hangat. “Makasih banyak ya, Rum.”
Aku memandangi buket bunga putih di tanganku, lalu menyentuh tasku yang berisi hasil USG.
Tiba-tiba aku tak ingin pulang.
“Aku gak jadi pulang dulu, Rum,” ucapku pelan.
Arumi yang sedang merapikan bunga langsung menoleh. “Loh, mau ke mana?”
“Aku mau ke kantor Mas Bram. Sekalian kasih bunga ini sama hasil USG langsung ke dia.”
Arumi mengangkat alis. “Yakin? Kamu kuat nyetir sendiri?”
Aku tersenyum kecil sambil berdiri pelan. “Aku bisa nyetir mobil sendiri, Rum. Tenang aja. Hamil bukan berarti aku gak bisa apa-apa.”
Arumi terkekeh. “Iya iya, ibu tangguh.”
“Aku cuma pengen lihat ekspresinya langsung,” lanjutku. “Hari ini spesial… aku pengen dia ngerasain kebahagiaan ini sama aku.”
Arumi berjalan mendekat dan memegang pundakku sebentar. “Ya udah. Hati-hati di jalan. Kalau capek, minggir. Jangan maksain.”
“Oke siap,” jawabku sambil tersenyum.
Aku keluar dari toko, masuk ke mobilku sendiri. Setelah duduk di kursi pengemudi, aku terdiam sejenak. Buket bunga itu kutaruh di kursi samping, sementara satu tanganku mengusap perutku yang semakin membulat.
“Nak… kita kasih Papa kejutan ya,” bisikku pelan.
Mesin mobil menyala.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu melajukan mobil menuju kantor Mas Bram. Jantungku berdebar, bukan karena gugup… tapi karena harapan.
Hari ini aku ingin melihat senyumnya.
Dan semoga… dia benar-benar bahagia melihat kami datang.
***