Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Kehilangan Lagi
Kimberly mematikan telepon, lalu kembali duduk di samping Rafael.
Ekspresinya kembali melembut—mata yang tadi tajam sekarang penuh perhatian.
Rafael bisa mendengar seluruh percakapan itu dengan jelas. Tapi dia tidak berkomentar.
Tidak bertanya kenapa Kimberly membatalkan meeting penting hanya untuk menemaninya.
Dia sudah tahu jawabannya.
"AGE," Rafael membuka topik baru, mengalihkan fokus dari pertanyaan tentang Ryzen dan Zen yang tidak terjawab.
"Bagaimana kondisinya sekarang?"
Kimberly menatap Rafael dengan pandangan yang sulit dibaca. Lalu dia menarik nafas panjang.
"AGE punya aliansi sekarang," katanya.
"Dua perusahaan besar. Mahendra Grup dan Zephyr Grup."
Rafael menaikkan alis.
Aliansi? Ini baru.
"Aliansi ini sudah terbentuk sejak dua bulan lalu," lanjut Kimberly.
"Setelah situasi mulai stabil pasca... kejadian tiga bulan lalu."
Rafael tidak perlu dijelaskan lebih lanjut tentang kedua perusahaan itu.
Dia sangat mengenal mereka—atau lebih tepatnya, dia sangat mengenal pewaris mereka.
***
Alvin Mahendra.
Cucu dari Abimanyu Mahendra—patriark keluarga Mahendra yang membangun kerajaan bisnis dari industri manufaktur, properti, hingga teknologi.
Alvin adalah pemuda energik dengan skill bisnis yang membuat para CEO veteran menggelengkan kepala dengan kagum.
Karisma natural, kemampuan negosiasi yang tajam, dan visi jangka panjang yang jarang dimiliki orang seusianya.
Tapi reputasi Alvin tidak hanya dari bisnis. Namanya melejit di publik setelah dia bergabung dengan tim keamanan negara untuk menangkap mafia internasional The Obsidian Circle. Operasi yang membuat headline di seluruh dunia.
Operasi yang dimenangkan dengan mengorbankan Rafael.
Karena Rafael-lah yang menghadapi Lyra Vantross—assassin paling mematikan yang di sewa The Obsidian Circle.
Rafael yang tertusuk dagger beracun.
Rafael yang nyaris mati.
Sementara Alvin mendapat semua glory.
Tapi Rafael tidak pernah menyesalinya. Alvin adalah teman sekelasnya—baik saat di Jakarta maupun di Amerika.
Mereka tumbuh bersama, berjuang bersama.
Jika pengorbanan Rafael membuat Alvin bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa, itu adalah trade-off yang adil.
***
Lalu ada Williams Zephyr.
Anak tunggal dari Felix Zephyr yang disembunyikan dari publik selama bertahun-tahun.
Tidak banyak orang yang tahu tentang Williams sebagai pewaris utama kerajaan bisnis Zephyr—kerajaan yang menduduki peringkat pertama sebagai konglomerat terkaya di Amerika.
Status Williams baru dipublikasikan saat dia membantu Alvin dan Rafael dalam operasi melawan mafia internasional.
Sebelumnya, dia hanya dikenal sebagai
"teman sekelas dari Greenwich Preparatory School"
—sekolah elite untuk anak-anak keluarga terkaya di Amerika.
Rafael bertemu Williams untuk pertama kali di sekolah itu. Pada awalnya, Rafael pikir Williams hanya anak orang kaya biasa yang membosankan. Tapi ternyata di balik senyum ramahnya, Williams menyimpan kecerdasan strategis yang luar biasa.
Mereka menjadi teman. Lalu sahabat. Lalu sekutu dalam pertempuran melawan kejahatan terorganisir.
***
"Tujuan aliansi ini," Kimberly melanjutkan penjelasannya,
"adalah untuk memperkokoh fondasi AGE. Dengan bergabungnya Mahendra dan Zephyr, AGE akan sejajar dengan perusahaan-perusahaan elite lainnya."
Rafael memproses informasi itu.
Mahendra adalah konglomerat nomor lima di Amerika.
Zephyr adalah nomor satu.
Dan sekarang AGE—perusahaan yang belum genap berumur setahun—beraliansi dengan keduanya.
Itu bukan prestasi kecil. Itu adalah lompatan besar yang mengubah AGE dari startup ambisius menjadi player serius di dunia korporat.
"Bagus," gumam Rafael.
"Lo melakukan pekerjaan yang luar biasa, Kimberly."
Tapi ada pertanyaan lain yang muncul di kepalanya. Pertanyaan yang membuat dadanya terasa sesak.
"Apa..." Rafael ragu sejenak.
"Apakah saat ini gue sudah tidak dibutuhkan di AGE?"
Kimberly langsung menggelengkan kepala—gerakan yang cepat, hampir panik.
"Jangan pernah berpikir seperti itu," katanya tegas.
Matanya menatap Rafael dengan intensitas yang membuat Rafael tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Rafael, lo masih berperan sangat penting di AGE. Tanpa lo, AGE tidak akan pernah tumbuh sebesar ini."
Dia menggenggam tangan Rafael dengan kedua tangannya.
"Tanpa lo, tidak akan ada perusahaan muda yang umurnya belum cukup setahun tapi sudah sejajar dengan perusahaan elite lainnya. Semua fondasi yang kita miliki sekarang—semuanya berasal dari lo. Dari visi lo. Dari kerja keras lo."
Rafael merasakan sesuatu mencair di dadanya—perasaan tidak berguna yang sempat muncul perlahan menghilang.
Kimberly berdiri dari ranjang, lalu berlutut di depan Rafael—posisi yang membuat mereka sejajar mata.
"Gue janji," katanya pelan tapi penuh determinasi.
"Gue akan memikirkan cara yang tepat untuk mengembalikan reputasi lo di publik. Untuk mengenalkan lo kembali ke dunia. Tapi ini semua membutuhkan waktu."
Tangannya memegang pipi Rafael—sentuhan yang lembut tapi kuat.
"Gue harus memikirkan alasan yang tepat agar publik tidak curiga. Agar mereka menerima kembalinya Rafael Alkava tanpa pertanyaan yang sulit dijawab."
Rafael menatap mata Kimberly—mata yang penuh dengan ketulusan, dengan keinginan kuat untuk melindungi, dengan sesuatu yang lebih dalam yang tidak berani Rafael beri nama.
Dia berdiri, menarik Kimberly agar ikut berdiri, lalu memeluknya—pelukan yang erat tapi lembut.
"Maaf," bisiknya di telinga Kimberly.
"Maaf karena harus merepotkan lo lagi."
Kimberly tidak menjawab. Dia hanya membalas pelukan Rafael—tangannya melingkar di punggung Rafael, kepalanya bersandar di dada Rafael, mendengarkan detak jantung yang sempat dia pikir tidak akan pernah dia dengar lagi.
***
Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Sore Menjelang Malam.
Setelah moment itu, mereka berbicara santai sampai sore berubah menjadi malam.
Percakapan mengalir natural—tentang AGE, tentang produk-produk baru yang diluncurkan, tentang kompetitor yang mulai bermunculan, tentang strategi jangka panjang yang Kimberly rencanakan.
Rafael mendengarkan dengan seksama. Setiap detail, setiap angka, setiap strategi—semuanya dia serap seperti spons yang menyerap air.
Otaknya yang terlatih untuk menganalisis market data langsung memproses semua informasi itu, mencari pola, mencari peluang, mencari celah.
Kebiasaan lama yang tidak pernah hilang.
Saat waktu makan malam tiba, Daniel mengirimkan makanan melalui robot pengantar—nasi, ayam panggang, sayuran kukus, dan sup kaldu. Porsi yang lebih besar dari biasanya.
Kimberly mengambil alih.
Dia menarik kursi, duduk di samping Rafael, lalu mulai menyuapinya.
"Gue bisa makan sendiri," protes Rafael.
"Diam," kata Kimberly tanpa menoleh.
Sendok berisi nasi dan ayam sudah berada di depan mulut Rafael.
"Buka mulut lo."
Rafael pasrah. Dia membuka mulut, membiarkan Kimberly menyuapinya seperti dulu—seperti saat dia terlalu sibuk menganalisis chart market dan lupa makan, lalu Kimberly datang dengan makanan dan memaksa dia untuk makan sambil tetap bekerja.
Kebiasaan lama yang membuat Rafael tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun dari tidur panjangnya, Rafael merasakan ketenangan.
Bukan ketenangan dari obat penenang atau kelelahan fisik, tapi ketenangan yang datang dari kehadiran seseorang yang peduli.
Kimberly terus menyuapinya dengan sabar—tidak peduli kalau Rafael protes, tidak peduli kalau Rafael bilang sudah kenyang. Dia terus menyuapi sampai piring benar-benar habis.
"Bagus," katanya sambil meletakkan piring kosong di meja.
"Mulai sekarang lo harus makan sebanyak ini setiap hari. Tidak ada alasan."
Rafael hanya bisa mengangguk.
Malam semakin larut. Cahaya kota di luar jendela semakin terang—jutaan lampu berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Tapi di dalam ruangan, suasana tetap hangat dan tenang.
Akhirnya, Kimberly berdiri. Dia melirik jam di ponselnya—pukul sepuluh malam.
"Gue harus pergi," katanya, tapi matanya menunjukkan keengganan.
"Besok gue akan kembali. Membawa vitamin dan protein buat lo."
Dia menatap tubuh Rafael dari atas ke bawah dengan ekspresi tidak puas.
"Gue nggak suka lihat tubuh kurus kering kayak gini. Besok gue juga akan bawa alat cukur rambut. Rambut panjang sama sekali nggak cocok buat lo."
Rafael tersenyum. "Gue pasrah sama apapun yang lo mau."
Lalu dia menaikkan alis. "Tapi bukannya lo harus ke kantor? AGE—"
"Sekarang gue sudah punya dua asisten yang sangat profesional," Kimberly memotong dengan senyum bangga.
"Mereka akan menjaga AGE dengan baik. Jadi lo nggak perlu khawatir."
Rafael mengangguk. Dia seharusnya tahu Kimberly tidak akan meninggalkan AGE tanpa persiapan matang.
Kimberly berjalan menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh handle pintu—tapi tiba-tiba dia berhenti.
Lalu dia berbalik.
Dan berlari.
Rafael tidak punya waktu untuk bereaksi. Kimberly sudah memeluknya lagi—pelukan yang lebih erat dari sebelumnya, seperti dia mencoba mencetak keberadaan Rafael di dalam tubuhnya sendiri.
"Tolong," bisiknya, suaranya bergetar.
"Tolong jangan hilang lagi. gue benar-benar merasa kesepian saat lo nggak ada."
Rafael merasakan dadanya sesak. Dia mengelus kepala Kimberly—gerakan yang lembut, menenangkan.
"Gue nggak akan pergi kemana-mana," katanya pelan tapi tegas.
"Trust me."
Kimberly mengangguk di dalam pelukan. Lalu dia melepaskan diri—perlahan, seolah setiap sentimeter jarak yang tercipta adalah penyiksaan.
Dia berjalan ke pintu tanpa menoleh lagi. Karena jika dia menoleh, dia takut tidak akan punya kekuatan untuk pergi.
Pintu ditutup dengan desisan pneumatik.
Rafael sendirian lagi.
Tapi kali ini, kesendirian itu tidak terasa sedingin sebelumnya.
***
Bersambung...