Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11~Janji di bawah hujan
Langit Jakarta sore itu mendung.
Angin membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun.
Aku baru keluar dari kelas terakhir hari itu, sambil membawa payung kecil di tas. Tapi entah kenapa, aku berhenti di depan taman kota — taman tempat aku dan Raka terakhir kali bertemu.
Sejak hari itu, kami sering bertemu lagi setiap akhir pekan. Kadang cuma ngobrol di taman, kadang makan es krim di pinggir jalan, kadang juga duduk diam tanpa bicara — tapi rasanya selalu cukup.
Hari ini pun kami janjian di tempat yang sama.
Tapi kali ini, Raka belum datang.
Aku menatap langit yang mulai gelap.
“Kayaknya hujan bentar lagi,” gumamku pelan.
Tepat saat butiran pertama jatuh di pipiku, ponselku bergetar.
Raka: “Aku udah di parkiran. Tunggu sebentar, ya.”
Aku tersenyum kecil. “Klasik banget. Selalu datang pas hujan,” bisikku.
Hujan mulai turun lebih deras. Aku membuka payung, tapi angin membuatnya sedikit miring. Saat aku sedang berjuang melawan angin, seseorang menepuk bahuku dari belakang.
“Payung kamu kalah sama cuaca lagi, ya?”
Aku menoleh — dan di sana dia.
Raka berdiri dengan jaket hitamnya, rambutnya sedikit basah, tapi senyumnya tetap sama: hangat, lembut, dan menenangkan.
Aku tertawa kecil. “Kamu selalu muncul di waktu yang pas.”
Dia mengangkat payung besar dari tangannya. “Makanya aku bawa payung cadangan. Aku tahu kamu pasti lupa.”
“Enggak lupa,” sangkalku. “Cuma kalah kuat aja.”
Kami tertawa, lalu berjalan berdua di bawah payungnya. Hujan turun deras, tapi langkah kami pelan — seolah kami ingin menikmati setiap detiknya.
Taman kota tampak sepi. Hanya suara hujan yang jatuh di dedaunan dan genangan air kecil di jalan setapak.
Kami berhenti di dekat pohon besar, tempat kami dulu duduk bersama.
Raka menatap langit, lalu berkata pelan, “Lucu ya, Ly. Dulu kita juga ketemu pertama kali pas hampir hujan.”
Aku mengangguk. “Iya, waktu itu kamu nolongin aku biar nggak kehujanan di depan kelas.”
Dia tertawa kecil. “Dan sekarang, masih sama. Bedanya, dulu aku cuma pinjemin jaket, sekarang aku pengen jagain kamu beneran.”
Aku menatapnya — mata itu masih sama, tapi entah kenapa sekarang lebih dalam, lebih yakin.
“Hujan selalu nyimpen kenangan, ya,” kataku pelan. “Setiap kali turun, aku keinget banyak hal. Tentang sekolah, taman hidroponik, semua yang udah kita lewatin.”
Raka menatapku lembut. “Mungkin karena hujan itu kayak kita — kadang datang tanpa rencana, tapi selalu meninggalkan sesuatu yang tumbuh.”
Aku tersenyum kecil. “Kamu suka banget ya nyamain kita sama tanaman, daun, atau hujan?”
Dia mengangkat bahu. “Soalnya cuma itu yang bisa tumbuh terus, kayak rasa aku ke kamu.”
Aku menunduk, pipiku panas. “Kamu… nggak pernah berubah.”
Dia tertawa. “Aku berubah, Ly. Sekarang aku lebih tahu gimana caranya menjaga perasaan, bukan cuma bilang suka.”
Kami duduk di bangku taman yang mulai basah.
Suasana hening, tapi nyaman. Hujan seperti irama lembut yang mengisi sela-sela diam kami.
Tiba-tiba, Raka membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah buku kecil dengan sampul cokelat polos.
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“Ini jurnal proyek taman kota,” katanya. “Aku tulis semua desain, ide, dan inspirasi yang aku dapet. Tapi di halaman terakhir…”
Dia membuka halaman itu dan menyodorkannya padaku.
Aku menatapnya. Di halaman terakhir, ada gambar taman kecil — dengan dua bangku, dikelilingi tanaman hijau dan tulisan di bawahnya:
“Taman Alya — tempat pertama aku tahu apa artinya tumbuh.”
Mataku langsung panas. “Raka… ini…”
Dia tersenyum. “Aku udah ajukan desain kecil ini ke proyek taman kota. Kalau disetujui, taman ini bakal jadi bagian nyata di sini. Dan aku pengen kamu yang nentuin bunga apa yang ditanam di tengahnya.”
Aku hampir nggak bisa bicara. “Kamu serius?”
“Serius banget,” jawabnya. “Karena dari semua hal yang pernah aku rancang, kamu satu-satunya yang nggak pernah bisa kuganti.”
Air mataku menetes tanpa izin, tapi aku tertawa di sela-selanya. “Kamu tuh, selalu tahu cara bikin aku nangis di momen bahagia.”
Dia menatapku pelan, lalu mengulurkan tangannya. “Ly, aku nggak janji bakal jadi orang sempurna. Tapi aku janji bakal terus berusaha jadi orang yang pantas ada di samping kamu — dalam hujan, panas, dan apa pun nanti.”
Aku menggenggam tangannya. “Dan aku janji bakal terus percaya, bahkan kalau hujan bikin kita nggak bisa lihat langit, aku tahu matahari tetap ada.”
Kami terdiam beberapa saat. Hujan masih turun deras, tapi rasanya hangat.
Semesta seperti ikut tersenyum, memberi restu pada dua hati yang pernah terpisah jarak tapi tidak pernah kehilangan arah.
Raka menatapku lagi, kali ini dengan mata yang sedikit berkaca. “Ly, boleh aku bilang satu hal?”
Aku mengangguk.
Dia tersenyum kecil. “Kamu tahu, aku nggak cuma jatuh cinta sama kamu. Aku jatuh cinta sama cara kamu bikin dunia di sekitarku jadi lebih hidup.”
Aku tertawa pelan, menatap hujan. “Dan aku jatuh cinta sama cara kamu bikin setiap hujan terasa indah.”
Ketika hujan mulai reda, kami masih duduk di sana, tangan saling menggenggam.
Langit mulai menampakkan warna biru muda di sela awan.
“Kalau suatu hari nanti hujan lagi, dan kita nggak bisa ketemu…” kataku pelan.
“...kita tetap ngeliat langit yang sama,” lanjut Raka.
Aku menatapnya, tersenyum. “Kamu selalu tahu cara nyelesain kalimatku.”
Dia menatap balik, senyum tipis di wajahnya. “Karena aku udah hafal ritmemu, Ly. Sejak lama.”
Dan di bawah langit setelah hujan itu, aku tahu — bukan hanya cinta yang tumbuh di antara kami, tapi juga keyakinan.
Keyakinan bahwa apa pun yang datang nanti, kami akan baik-baik saja.
Karena hujan telah menjadi saksi,
bahwa cinta kami bukan sekadar kebetulan — tapi janji yang tumbuh bersama waktu.
Bersambung ke Bab 12