"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Candu itu menyebar lebih cepat dari yang Danesha bayangkan. Di sepanjang jalan menuju kampus, tangannya seolah memiliki pikiran sendiri; berkali-kali ia meraih tangan Pricillia hanya untuk mengusap punggung tangannya atau sekadar memastikan gadis itu masih di sana, di sampingnya.
Siang itu, pemandangan di kantin berubah drastis. Danesha duduk di antara Evangeline dan Pricillia, tapi tubuhnya secara tidak sadar condong 45 derajat ke arah Pricillia.
"Dan, kamu kok diem aja? Ini aku bawain salad buah kesukaan kamu," ujar Evangeline sambil menyodorkan garpu.
Danesha hanya menoleh sekilas, memberikan senyum yang terasa jauh.
"Oh, makasih ya, Vang. Taruh aja di situ."
Pandangan Danesha kembali tertuju pada Pricillia yang sedang sibuk mengetik di ponselnya. Tanpa mempedulikan tatapan tajam Evangeline dan teman-temannya, Danesha menarik kursi Pricillia agar lebih dekat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Pricillia.
"Pris... bibir lo pake lipbalm apa sih? Wanginya enak banget, bikin pengen..." Danesha menggantung kalimatnya, teringat ciuman pagi tadi. Matanya menatap bibir Pricillia dengan lapar yang tidak tertutup-tutupi.
"Dan! Ada Evangeline!" bisik Pricillia, pura-pura memperingatkan padahal ia sangat menikmati bagaimana Danesha mulai sakit sakau karena kehadirannya.
Evangeline membanting garpunya ke meja. "Danesha! Aku di sini! Kamu kenapa sih dari tadi nempel terus ke dia? Kemarin-kemarin nggak separah ini!"
Danesha menghela napas, merasa terusik dari zona nyamannya.
"Vang, jangan berisik. Gue cuma lagi pengen deket sama Pris. Dia lagi wangi banget hari ini, gue suka."
Kalimat jujur yang polos namun mematikan itu membuat seisi meja terdiam.
Teman-teman Evangeline saling berbisik, sementara Evangeline sendiri sudah gemetar karena menahan malu.
"Kamu panggil dia Ay tadi di chat?" tanya Evangeline tiba-tiba, suaranya bergetar karena sempat mengintip ponsel Danesha yang tergeletak.
Danesha tidak membantah. Dia justru mengusap tengkuknya sambil terkekeh. "Emang kenapa? Lucu kan? Gue panggil dia My, dia panggil gue Ay. Kayak soulmate."
Sore harinya, saat kelas selesai, Danesha bahkan tidak menawarkan untuk mengantar Evangeline pulang. Dia langsung menarik tangan Pricillia menuju parkiran.
"Vang, lo balik sama temen lo ya? Gue ada urusan mendadak sama Pris," pamit Danesha singkat.
Begitu sampai di dalam mobil yang tertutup rapat, Danesha tidak langsung menyalakan mesin. Dia menarik napas panjang, menatap Pricillia dengan intensitas yang mengerikan.
"My... gue nggak tahu kenapa, tapi gue ngerasa kurang. Gue kangen yang tadi pagi," gumam Danesha.
Tanpa menunggu jawaban, Danesha kembali menarik tengkuk Pricillia. Dia mencium gadis itu lagi, kali ini lebih menuntut, lebih dalam, seolah sedang mencari dosis penenang untuk saraf-sarafnya yang tegang.
Dia mengisap bibir bawah Pricillia dengan lembut, membuat Pricillia mengeluarkan desahan kecil yang semakin membakar gairah Danesha.
"Sumpah, My... lo itu candu banget. Gue nggak mau berhenti," bisik Danesha di sela-sela ciumannya, tangannya kini mulai berani meraba pinggang Pricillia di balik baju kampusnya.
Pricillia membalas pelukan itu, jari-jarinya masuk ke sela-sela rambut Danesha. Di balik matanya yang terpejam, ia tahu bahwa Danesha sudah benar-benar terjatuh ke dalam lubang yang ia gali sendiri. Evangeline sudah tidak ada artinya lagi.
Seminggu terakhir terasa seperti siksaan bagi Evangeline. Meskipun status mereka masih sepasang kekasih, Danesha terasa seperti raga tanpa jiwa. Setiap kali Evangeline mencoba menciumnya, Danesha selalu menghindar dengan alasan lelah atau sedang sariawan.
Pria itu secara tidak sadar telah memblokir siapa pun untuk menyentuh bibirnya, kecuali satu orang yang kini menjadi candu mutlaknya.
Merasa putus asa dan terancam, Evangeline menyusun rencana nekat. Ia mengajak Danesha ke sebuah club malam dengan alasan merayakan ulang tahun temannya.
Di tengah dentuman musik dan lampu strobe, Evangeline secara diam-diam memasukkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam minuman Danesha.
"Minum dulu, Dan. Biar kamu lebih rileks," bisik Evangeline penuh maksud.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi obat itu untuk bekerja. Tubuh Danesha mendadak panas membara. Keringat dingin bercucuran, dan jantungnya berdegup kencang dengan sensasi gairah yang menyakitkan.
Evangeline yang melihat reaksi itu langsung merangkul leher Danesha, mencoba membimbingnya menuju hotel di atas club tersebut. "Ayo, Dan... aku tahu kamu butuh aku sekarang."
Namun, di tengah kesadaran yang hampir hilang, satu-satunya wajah yang muncul di pikiran Danesha bukanlah Evangeline. Melalui kabut gairahnya, ia justru merasa jijik dengan sentuhan Evangeline. Dengan sisa tenaga, Danesha mendorong Evangeline hingga jatuh ke sofa.
"Gue... gue mau pulang!" erang Danesha.
Tanpa memedulikan teriakan Evangeline, Danesha berlari keluar, memacu mobilnya seperti orang kesetanan menuju satu-satunya tempat yang ia anggap aman, kamarnya sendiri.
Danesha membanting pintu kamarnya, tubuhnya ambruk di lantai. Napasnya tersengal, tangannya gemetar mencoba membuka kancing kemejanya yang terasa mencekik. Dunianya berputar, dan rasa panas itu semakin tak tertahankan.
Tiba-tiba, lampu kamar menyala redup. Di atas tempat tidurnya, Pricillia sedang duduk santai sambil membaca buku, mengenakan piyama tipis. Dia memang sengaja menginap malam itu, seperti biasa.
"Ay? Lo kenapa?" Pricillia langsung menghampiri, berlutut di depan Danesha yang tampak sangat kacau.
Saat jemari dingin Pricillia menyentuh keningnya, Danesha mengerang. Sentuhan itu terasa seperti air di tengah padang pasir.
Danesha langsung merengkuh pinggang Pricillia, membenamkan wajahnya di perut gadis itu.
"Pris... tolong... Evangeline... dia kasih gue sesuatu," suara Danesha serak dan bergetar hebat. Matanya merah, menatap Pricillia dengan tatapan memohon yang sangat liar. "Gue nggak tahan, Pris. Badan gue sakit semua. Gue pengen... gue pengen banget..."
Danesha memegang kedua tangan Pricillia, menempelkannya ke wajahnya yang panas. Ia menatap dalam ke mata Pricillia, mencari izin di sana.
"Gue nggak mau sama dia, Pris. Gue cuma mau sama lo. Tolong... izinin gue lepasin ini sama lo... Gue nggak bisa nahan lagi," bisik Danesha lirih, air mata hampir jatuh karena menahan sensasi obat yang menyiksa sarafnya.
Pricillia menatap Danesha dengan pandangan yang tenang namun penuh kemenangan. Inilah momen yang ia tunggu. Bukan dengan paksaan, tapi Danesha sendiri yang datang memohon padanya untuk menyerahkan segalanya.
Pricillia mengusap pipi Danesha lembut, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu. "Gue kan udah bilang, Dan... lo itu milik gue. Lakuin apa yang pengen lo lakuin. Gue nggak bakal ke mana-mana."
Mendengar izin itu, pertahanan Danesha runtuh total. Ia langsung menyambar bibir Pricillia dengan rakus, menyeret gadis itu ke atas tempat tidur dalam sebuah ciuman yang tidak lagi lembut, melainkan penuh dengan gairah yang sudah lama terpendam.
Malam itu menjadi puncak dari penantian dua puluh tahun yang sunyi. Di dalam kamar yang kedap suara, atmosfer berubah menjadi medan gairah yang primitif dan intens. Obat perangsang di tubuh Danesha bukan lagi sekadar zat kimia, melainkan pemicu ledakan emosi yang selama ini ia kunci rapat di bawah label "persahabatan".
Danesha meracau di sela-sela napasnya yang memburu, jemarinya mencengkeram sprei hingga urat-urat tangannya menonjol. "My... sakit... panas banget... cuma lo, Pris... gue nggak mau siapa pun selain lo..."
Pricillia menyambut tubuh Danesha yang gemetar dengan kelembutan yang mematikan. Saat mereka menyatu untuk pertama kalinya, sebuah rintihan rasa sakit yang bercampur dengan kelegaan luar biasa memenuhi ruangan. Danesha tertegun sejenak, menyadari bahwa ia baru saja meruntuhkan benteng kesucian yang dijaga Pricillia selama dua dekade hanya untuk dirinya.
"Lo... punya gue, Pris... selamanya punya gue," bisik Danesha dengan suara parau, sebelum kembali tenggelam dalam instingnya.
Sepanjang malam, kamar itu menjadi saksi bisu betapa haus-nya Danesha akan sosok Pricillia. Ia terus menggumamkan nama gadis itu seperti sebuah mantra suci di ceruk lehernya.
"Pris, lo enak banget... kenapa baru sekarang... ahh, Pris!" Danesha mengerang keras, suaranya yang bariton menggema di sudut ruangan.
Setiap sentuhan terasa ribuan kali lebih sensitif. Ia menciumi setiap inci kulit Pricillia, mengklaim wilayah yang kini sepenuhnya menjadi miliknya.
Gairah itu meledak berkali-kali. Setiap kali Danesha mencapai puncaknya, ia mengeluarkan teriakan nikmat yang tertahan namun dalam, sebuah suara pelepasan yang murni dari seorang pria yang menyerahkan keperjakaannya pada wanita yang tepat.
"Aku keluar, Pris! Aku keluar di dalem! Semuanya buat kamu!" racau Danesha saat ia merasakan sensasi pelepasan yang dahsyat.
Ia tidak berhenti satu kali. Di bawah pengaruh gairah yang tak terbendung, Danesha membanjiri rahim Pricillia dengan bibit-bibitnya, membiarkan segalanya tumpah di sana sebagai simbol kepemilikan mutlak. Ia ingin meninggalkan jejak yang tak terhapuskan, sebuah tanda bahwa mulai malam ini, tidak ada lagi ruang bagi Evangeline atau siapa pun di antara mereka.
Pukul tiga pagi, ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas yang mulai teratur. Danesha terkulai lemas di atas tubuh Pricillia, masih dalam posisi menyatu, seolah enggan untuk melepaskan kontak sedetik pun.
Keringat mereka menyatu, menciptakan aroma intim yang memenuhi udara.
Danesha mengusap wajah Pricillia yang basah, matanya yang tadi liar kini menatap dengan penuh rasa bersalah sekaligus pemujaan. "Maafin gue, Pris... gue terlalu kasar... tapi gue bahagia banget. Gue bener-bener punya lo sekarang."
Pricillia hanya tersenyum puas, menyisir rambut Danesha yang berantakan. Di dalam hatinya, ia tertawa penuh kemenangan. Ia telah memberikan mahkota kesuciannya pada pria yang paling ia cintai, dan sebagai gantinya, ia telah mengikat Danesha selamanya.
Rahimnya kini menyimpan masa depan yang akan membuat Danesha takkan pernah bisa berpaling lagi.
"Iya, Dan. Lo udah pulang," bisik Pricillia lembut.
Malam itu, di bawah pengaruh obat dan cinta yang terobsesi, Danesha akhirnya benar-benar pulang ke pemilik aslinya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍😍😍
masih nyimak 🤣