NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 : Pesanan dari dia

Bulan-bulan setelah lonceng sekolah terakhir berdentang adalah waktu yang paling sunyi sekaligus menyesakkan dalam hidupku. Jika dulu di sekolah hariku selalu penuh dengan "gangguan" dari Arif dan Azka yang ironisnya memberiku alasan untuk tetap waspada.Kini di rumah, aku hanya memiliki suara Ibu. Suara yang tak pernah surut frekuensinya, selalu sarat dengan ketidakpuasan, seolah-olah setiap helaan napasku adalah beban tambahan bagi hidupnya.

"Hanie! Kamu ini kerjanya cuma mengurung diri di kamar saja! Pergi ke dapur, cuci piring-piring itu! Adikmu lapar, apa kamu tidak punya hati untuk memasakkan sesuatu?" teriak Ibu dari ruang tamu. Kalimatnya tajam, mengiris ketenangan sore yang seharusnya menjadi milikku.

Aku yang saat itu sedang mencoba menenggelamkan diri dalam barisan kata di sebuah novel untuk mengusir jenuh, segera bangkit. Aku tidak melawan. Lidahku sudah kelu untuk sekadar membela diri. Aku paham betul, satu kata bantahan dariku hanya akan memperpanjang rentetan omelan Ibu yang ujung-ujungnya akan menyerang identitasku; menyebutku "anak tidak berguna"

Aku berjalan lunglai menuju dapur. Kulit kuning langsatku tampak pucat karena jarang terpapar sinar matahari kerana terlalu lama bersembunyi di bawah bayang-bayang kesedihan rumah ini. Setelah tumpukan piring selesai kubersihkan, aku terduduk sejenak di kursi meja makan yang kayu-kayunya sudah mulai lapuk. Aku merogoh saku, mengeluarkan cermin kecil. Aku menatap pantulan wajahku sendiri. Bulu mata lentik yang dulu sering dipuji orang kini nampak layu, seolah ikut menanggung beban pikiranku yang berisik. Lesung pipit? Fitur itu seakan lenyap ditelan bumi. Aku sudah lupa bagaimana rasanya menarik sudut bibir untuk sebuah senyuman yang tulus.

Tiba-tiba, ponsel tua di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak kukenali.

"Hanie... kamu lagi apa? Aku harap kamu baik-baik saja di rumah. Jangan sedih terus, ya."

Jantungku berdegup kencang, memberikan sensasi nyeri yang akrab di dada. Aku tahu persis siapa pemilik gaya bahasa ini. Ini Devian Azka. Entah dari mana laki-laki itu mendapatkan nomorku. Mungkin dia mencuri lihat dari berkas administrasi saat dia masih menjabat sebagai pengawas dulu, atau entah lewat cara rahasia apa lagi.

Aku tidak membalas. Aku hanya terpaku, membiarkan layar ponsel itu menyala terang menyinari mataku yang mulai berkaca-kaca, hingga cahaya itu meredup dan mati dengan sendirinya. Namun, getaran itu kembali terasa selang setengah jam kemudian.

"Aku tahu kamu marah. Aku tahu aku ini pengecut kelas. Waktu wisuda kemarin, sebenarnya aku membawa surat untukmu... tapi nyaliku ciut. Aku tidak berani memberikannya. Kamu cantik sekali hari itu, Hanie. Lesung pipitmu... aku sangat berharap bisa melihatnya lagi."

Aku mengepalkan tangan, meremas ponsel itu hingga buku-buku jariku memutih. Rasa geram, benci, dan sedih bergejolak menjadi satu dalam perutku. Masa sekolah dulu, dia adalah pemimpin dari segala penderitaanku. Dia yang melabeliku sebagai "pembawa sial", dia yang dengan teganya menuangkan air ke meja belajarku, dia yang mencoret-coret namaku di papan tulis seolah aku adalah noda yang harus dihapuskan. Sekarang, setelah jarak memisahkan, dia berani mengganggu ku..dengan mesej bodohnya itu.

"Kenapa sekarang, Azka? Kenapa bukan dulu saat aku sangat membutuhkan satu saja suara yang membelaku?" bisikku lirih pada udara kosong. Air mataku luruh, jatuh satu demi satu, membasahi layar ponsel yang dingin.

Aku teringat kembali pada mata hazel miliknya yang nampak sayu di aula wisuda. Mata yang seolah berteriak memohon ampunan. Namun bagiku, kemaafan tidak sesederhana menekan tombol kirim pada pesan singkat. Hatiku yang sudah hancur lebur dikerjakan oleh Syasya, Amani, dan semua perilaku buruk Azka di masa lalu masih terlalu berdarah untuk disembuhkan dengan kata-kata manis.

Tiba-tiba pintu dapur berderit. Ibu masuk dengan wajah masam. "Hah, lihat itu! Pegang ponsel saja terus sampai menangis! Kamu memang tidak punya pekerjaan lain ya? Sudah, cepat jaga adikmu!"

Aku segera menyeka air mata dengan ujung lengan baju. Sebelum aku melangkah keluar, sebuah dorongan drastis muncul dalam benakku. Aku membuka pesan Azka, menekan tombol opsi, dan dengan jemari yang gemetar namun mantap, aku memilih perintah: BLOKIR.

"Cukup, Azka. Aku bukan lagi mainan yang bisa kamu panggil sesuka hatimu," batinku.

Malam itu, aku tidur dengan perasaan yang sangat berat. Aku tidak pernah tahu bahwa di sudut kota yang lain, di dalam kamarnya yang remang-remang, Devian Azka sedang termenung menatap layar ponselnya. Dia menatap nanar pada pesan yang hanya memunculkan centang satu. Dia tahu dia telah diblokir. Dia tahu pintu itu sudah tertutup rapat. Dia sadar, dia telah sangat terlambat.

Namun, Azka yang sekarang sedang mengalami perang batin yang hebat. Penolakan dariku justru menjadi cambuk paling menyakitkan yang pernah ia rasakan. Kegagalannya untuk meminta maaf secara langsung di sekolah justru menyalakan api resolusi dalam dirinya. Dia mulai membuka kembali buku-buku teks yang selama ini hanya jadi pajangan. Dia mulai mengerjakan soal-soal latihan hingga jam tiga pagi, ditemani kopi hitam dan rasa bersalah yang tak kunjung reda.

Dia mengetahui universitas pilihan yang aku incar melalui desas-desus teman sekolah. Kebetulan, universitas itu juga menjadi tujuannya. Azka bertekad bulat untuk mengejarku ke sana. Bukan untuk merundungku lagi, bukan untuk membuat onar, melainkan untuk membuktikan bahwa dia sanggup menjadi pria yang lebih baik. Dia ingin mengembalikan senyuman yang telah ia hilangkan dari wajahku.

Azka ingin menebus setiap tetes air mata yang jatuh atas namanya, meski ia tahu jalan menuju pengampunanku mungkin lebih panjang dari sisa usia yang ia miliki. Sementara aku, Hanie, melangkah menuju masa depan dengan satu janji pada diri sendiri: Aku akan memaafkan masa lalu agar aku bisa terbang, tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun mematahkan sayapku untuk kedua kalinya.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!