"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35
Ke esokan harinya, cahaya matahari musim dingin yang menembus jendela hotel Grand Hyatt Seoul terasa seperti ribuan jarum yang menusuk bola mata Arlan. Ia mengerang, menutupi wajahnya dengan bantal. Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada sekawanan gajah yang sedang melakukan pawai di dalam tempurung kepalanya.
"Maman... matikan lampunya," racau Arlan dengan suara serak.
"Itu matahari, Tuan. Saya tidak punya kendali atas orbit tata surya," sahut Maman datar. Ia berdiri di ujung tempat tidur sambil memegang nampan berisi sup pereda mabuk dan segelas air putih.
Arlan berusaha duduk, "Apa yang terjadi semalam? Kenapa lidahku terasa seperti terbakar cabai dan... kenapa aku merasa sangat malu tanpa alasan yang jelas?"
Maman meletakkan nampan itu, lalu mengeluarkan ponselnya. "Tuan tidak hanya malu tanpa alasan. Tuan secara resmi telah menjadi selebriti lokal di Myeong-dong. Silakan lihat ini, sebelum Nyonya Sofia di Jakarta melihatnya lebih dulu."
Arlan menerima ponsel itu dan melihat video TikTok dengan caption bahasa Korea yang berarti "Pria Tampan Mabuk Melamar Nenek Penjual Kafe" telah ditonton lebih dari satu juta kali. Di sana, Arlan terlihat bersimpuh di depan seorang nenek, menyodorkan ponsel dengan suara robot yang melamar si nenek, lalu lari terbirit-birit seperti dikejar setan.
Arlan membeku. Wajahnya yang pucat berubah menjadi merah padam, lalu biru, lalu pucat lagi. "Hapus itu, Maman. Beli perusahaan TikTok-nya kalau perlu! Dan Hapus sekarang juga!"
"Sudah terlambat, Tuan. Video itu sudah di-repost ribuan kali. Bahkan ada yang membuat versi remix dengan lagu romantis," ucap Maman, berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.
Arlan menjatuhkan dirinya kembali ke kasur,"Aarrrggghhhh... Aku datang ke sini untuk mencari cintaku, bukan untuk menjadi badut internasional! Keyla tidak boleh melihat ini. Jika dia melihat ini, dia akan menganggapku sudah gila."
Sementara itu, di sebuah sudut universitas di kawasan Sinchon, Keyla sedang duduk di kantin bersama Min-ji, teman sekelasnya dari kelas bahasa. Suasana kampus sedang ramai karena persiapan festival musim dingin.
"Keyla, lihat ini! Pria ini sangat tampan tapi sepertinya otaknya sedikit geser," tawa Min-ji pecah sambil menyodorkan ponselnya ke depan wajah Keyla. "Dia orang asing, mungkin dari negaramu? Dia melamar nenek-nenek di Myeong-dong semalam!"
Keyla awalnya hanya melirik sekilas dengan malas. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria dalam video itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Mantel hitam itu... jam tangan perak itu... dan cara pria itu mengusap wajahnya saat panik...
"Om Arlan?" ucap lirih Keyla.
"Apa? Kamu kenal dia?" tanya Min-ji antusias.
Keyla segera merebut ponsel Min-ji, memutar ulang video itu berkali-kali. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, bukan karena sedih, tapi karena campuran antara haru dan rasa tidak percaya. Pria yang biasanya selalu rapi, dingin, dan penuh perhitungan itu kini terlihat sangat berantakan dan konyol di tengah keramaian Myeong-dong.
"Nggak... nggak mungkin," gumam Keyla, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Arlan Dirgantara tidak mungkin melakukan hal selevel ini. Dia pasti sedang di Jakarta, memimpin rapat, atau mungkin sedang berkencan seorang gadis, atau mungkin dia sudah rujuk kembali dengan Tante Siska."
"Tapi Key, bukankah dia mirip sekali dengan foto pria yang pernah kamu tunjukkan dulu?" tanya Min-ji
Keyla menggeleng keras, "Wajah orang Indonesia banyak yang mirip, Min-ji. Lagipula, dia tidak mungkin ke Seoul hanya untuk mabuk dan melamar nenek-nenek. Dia punya harga diri setinggi langit."
Meskipun mulutnya berkata tidak, hati Keyla berteriak sebaliknya. Ia menatap layar ponsel itu sekali lagi. Di balik kekonyolan Arlan dalam video tersebut, Keyla bisa melihat gurat kelelahan dan kesedihan yang mendalam di mata pria itu.
"Kenapa Om ke sini?" ucap Keyla dalam hati. Ia merasa takut sekaligus rindu yang luar biasa. Jika benar itu Arlan, berarti pria itu tidak membiarkannya pergi. Berarti Arlan benar-benar mengejarnya.
"Min-ji, aku harus pergi. Ada urusan mendadak!"
"Eh? Mau ke mana? Kita ada kelas sepuluh menit lagi!"
Keyla tidak menjawab. Ia berlari keluar kantin, menuju stasiun bawah tanah. Tujuannya hanya satu, yaitu Myeong-dong. Ia harus memastikan dengan matanya sendiri. Jika pria itu benar-benar Arlan, ia harus bersembunyi lebih dalam atau mungkin, ia harus menemuinya.
Di sisi lain kota, Arlan yang sudah sedikit pulih setelah memakan sup pereda mabuk, berdiri di depan cermin. Ia merapikan mantelnya dan memakai kacamata hitam untuk menutupi wajahnya yang viral.
"Maman, kita berangkat lagi. Kali ini, tidak ada soju. Tidak ada aplikasi penerjemah. Kita cari setiap kedai kopi di jalur yang sama dengan kafe nenek itu," perintah Arlan dengan nada tegas, kembali menjadi sosok pemimpin.
"Baik, Tuan. Tapi saran saya, jangan dekati nenek-nenek lagi."