Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10
Kantin kampus pagi itu masih berada di fase setengah sadar. Beberapa lampu belum dinyalakan penuh, aroma masakan baru saja mulai menyebar, dan suara sendok beradu dengan piring terdengar malas, seolah ikut menguap bersama mahasiswa yang baru tiba. Mereka duduk di kantin yang masih setengah kosong. Meja panjang dekat jendela menjadi saksi dua manusia yang sama-sama canggung dengan caranya sendiri. Cahaya matahari pagi masuk miring, jatuh tepat di permukaan meja, membuat gelas plastik berisi teh dingin memantulkan kilau kecil yang mengganggu fokus Ryn Moa. Ia duduk dengan punggung agak tegang. Tasnya diletakkan di kursi sebelah, seolah siap kabur kapan saja. Roti tawar yang tadi hampir jatuh kini tergeletak tak tersentuh. Fokusnya hanya satu, Sedotan.
Ryn Moa tidak bisa berhenti memainkan sedotan. Dipencet, diputar, digigit ujungnya, dilepas lagi. Sedotan itu sudah melalui lebih banyak drama daripada hidup percintaannya selama delapan belas tahun terakhir. Di seberangnya, Namjoon duduk dengan santai. Posturnya tidak kaku, bahunya rileks, satu tangannya memegang cangkir kopi, tangan lainnya bertumpu di meja. Ia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik, tapi matanya bekerja. Namjoon tidak bisa berhenti tersenyum tiap kali mata mereka tak sengaja bertemu. Senyumnya bukan senyum menggoda. Bukan juga senyum penuh percaya diri. Lebih seperti senyum seseorang yang menikmati momen kecil tanpa ingin merusaknya dengan kata-kata berlebihan. Dan justru itu yang membuat Ryn Moa makin salah tingkah.
“Jadi… kamu memang sengaja kuliah dikampus ini?” tanya Namjoon.
Pertanyaannya diucapkan ringan, seolah hanya basa-basi pagi hari. Tapi bagi Ryn Moa, itu seperti granat yang dilempar pelan-pelan ke tengah meja. Ryn langsung batuk.
“Ehek !!!”
Batuknya keras, mendadak, dan jelas-jelas bukan karena tersedak minuman, karena dia bahkan belum menyesap apa pun. Namjoon refleks berdiri sedikit dari kursinya, buru-buru menyerahkan tisu dan air minum.
“Pelan-pelan, Ryn.”
Nada suaranya otomatis berubah lebih rendah, lebih hati-hati. Seperti sedang menenangkan kucing liar yang panik. Ryn Moa menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia meneguk air terlalu cepat, hampir tersedak lagi, lalu mengusap bibirnya dengan tisu. Wajahnya memerah, entah karena batuk atau karena pertanyaan tadi. Beberapa detik berlalu dalam keheningan canggung, Namjoon duduk kembali.
“Jadi?” Namjoon menatapnya.
Tatapannya tidak menghakimi, tidak juga mendesak. Hanya… menunggu. Ryn Moa mengusap hidungnya pelan, mengulur waktu seperti mahasiswa mengulur jawaban saat dipanggil dosen.
“Ehm… enggak kok. Maksudnya… iya. Tapi… uh… bukan karena cowok.”
Kalimat itu terdengar seperti benang kusut. Bahkan Ryn Moa sendiri tidak yakin apa maksudnya. Namjoon memiringkan kepala sedikit dan menaikkan alis.
“Oh?”
Satu kata, tapi nadanya penuh arti.
“Tentu saja tidak~~” .
Ryn Moa cepat-cepat menambah. Nada suaranya naik di akhir, terlalu cepat, terlalu defensif, tanda klasik kebohongan kecil yang tidak niat disembunyikan. Dia melirik ke samping, karena jelas, Taehyung sedang duduk bersama Jungkook dan Jimin di seberang sana.
...⭐⭐⭐...
Pemandangan itu seperti adegan yang sudah ia hafal. Taehyung duduk santai, tertawa kecil. Jungkook sibuk dengan ponselnya. Jimin mencondongkan tubuh, bicara dengan ekspresi hidup. Mereka terlihat… akrab, Nyata dengan dunia mereka sendiri. Namjoon mengikuti arah pandangan itu. Ia tidak langsung bicara. Ia hanya melihat, lalu memahami. Dan dia mengerti. Ada jeda kecil sebelum Namjoon kembali menatap Ryn Moa.
“Ryn…” katanya pelan, sudut bibirnya naik.
“Kamu suka Taehyung, ya?”
Kalimat itu diucapkan tanpa tuduhan. Tanpa nada mengejek. Seperti seseorang yang menyebut fakta sederhana. Ryn Moa membeku, tenggorokannya seakan tercekik udara. Ia benar-benar lupa cara bernapas selama dua detik penuh. Namjoon tertawa kecil, bukan tertawa keras, tapi tawa yang lebih seperti hembusan napas.
“Tenang. Aku gak bakal bilang ke dia.”
Ryn Moa langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aduh… malunyaaa…”
Kalau saja dia bisa berubah jadi asap dan menghilang dari kantin, dia pasti sudah melakukannya. Namjoon mengamati Ryn Moa dengan ekspresi yang sulit ditebak, campuran geli dan simpati.
“Tapi aku penasaran.”
Namjoon menyandarkan dagunya pada tangan.
“Kenapa Taehyung? Dari sekian banyak mahasiswa di sini?”
Pertanyaan itu terdengar tulus. Bukan cemburu, Bukan pula kompetisi, Hanya rasa ingin tahu. Ryn Moa menurunkan tangannya perlahan, Matanya menatap meja. Ryn Moa membuka mulut untuk menjawab. Ia ingin mengatakan sesuatu yang masuk akal. Tentang kekaguman, tentang first love. tentang obsesi bodoh remaja. tapi sebelum sempat bicara…
“MOAA!!”
Suara itu datang seperti petir di siang bolong. Satu teriakan, Enam sumber kekacauan. Ida, Windi, Ody, Melly, Arella, dan Celine tiba-tiba datang bergerombol seperti pasukan penyergap.
Langkah mereka serempak, Ekspresi wajah mereka penuh antusiasme yang tidak sehat. Mereka tahu Ryn Moa sedang bersama Namjoon, karena Ida yang memberitahu mereka. Dan seperti anak-anak yang mencium aroma gosip, mereka datang tanpa rem. Tanpa pikir panjang, enam orang itu langsung mendatangi Ryn Moa, untuk melihat kelanjutan hubungannya dengan Namjoon. Kursi ditarik, Tas ditaruh sembarangan. Meja yang tadinya tenang mendadak berubah jadi pusat keramaian.
“Kamu langsung sarapan sama senior kalem ini TANPA KAMI?!” Windi protes.
Tangannya menunjuk Ryn Moa dengan dramatis, seolah Ryn baru saja melakukan pengkhianatan nasional.
“Moa, kamu cepat banget nyolong start!” Arella menambah.
Nada suaranya penuh tuduhan palsu yang dibungkus tawa.
“Kamuuu… tega!” Ody pura-pura merajuk.
Ia bahkan menyilangkan tangan di dada, menoleh ke arah lain, meski jelas-jelas masih menguping. Melly hanya menatap Namjoon dan Ryn Moa bergantian, tatapannya penuh analisis. Seperti sedang menilai adegan drama live tanpa skrip. Sementara Celine sudah siap ngevlog, Ponselnya terangkat. Sudut kamera pas. Judul vlog mungkin sudah terbentuk di kepalanya:
“PAGI-PAGI MOA SARAPAN SAMA SENIOR?!?!”
Ryn Moa ingin menghilang dari dunia. Kalau ada lubang di lantai kantin, dia rela masuk tanpa berpikir dua kali. Di tengah kekacauan itu, Namjoon hanya tertawa pelan. Ia tidak merasa terganggu dan kikuk. Seolah ini bukan pertama kalinya hidupnya diserbu oleh sekelompok manusia penuh energi. Ia menatap Ryn Moa, lalu teman-temannya.
“Teman-temanmu seru,” kata Namjoon.
Nada suaranya jujur. Bahkan terdengar sedikit menghibur. Ryn moa menghela napas panjang.
“Mereka ribut…”
Kalimat itu terdengar seperti keluhan, tapi juga pengakuan. Namjoon mengangguk pelan.
“Tapi menyenangkan.”
Namjoon menatap Ryn Moa, pandangannya hangat.
“Aku suka orang-orang yang bikin kamu nyaman.”
Kalimat itu jatuh lembut, tapi tepat sasaran. Ryn terdiam beberapa detik. Tidak ada teriakan, Tidak ada protes, Tidak ada sedotan yang diputar-putar. Hanya detak jantung yang kembali tidak teratur dan wajahnya memanas lagi. Hangat, Merah, Tidak bisa disembunyikan. Namjoon memperhatikannya, lalu bergumam pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Jadi..., kau di panggil Moa, ". Gumam Namjoon pada Ryn Moa.
Satu kalimat sederhana, tapi entah kenapa, bagi Ryn Moa, itu terasa seperti awal dari sesuatu yang belum ia rencanakan dan mungkin, justru karena itu, akan menjadi jauh lebih menarik.
... ⭐⭐⭐...
Bersambung....