Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: KESALAHPAHAMAN & TATAPAN KEBENCIAN.
Karin hampir menjatuhkan gelas kopinya. Ia mengeluarkan ponsel dan langsung melakukan zoom kamera. "Pria itu... penampilannya agak berantakan. Jauh sekali dibandingkan kau, Pak Julian! Tapi lihat cara dia memegang tangan Valerie. Val juga tidak berteriak."
Julian mencengkeram pagar balkon. Egonya terluka melihat Valerie menolak sarapan darinya tapi membiarkan pria asing memegang tangannya di tempat sepi. "Jadi itu selera Valerie? Pria seperti itu?"
"Mungkin itu alasan kenapa dia merahasiakannya!" seru Karin, otaknya langsung bekerja cepat. "Dia malu karena pacarnya tidak selevel dengan kita. Kasihan Valerie, dia pasti terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Lihat betapa sedihnya wajah pria itu, pasti dia sedang merayu Valerie agar tidak memutuskannya."
Di bawah, Revan yang baru saja selesai dari ruang dekan berjalan menuju parkiran mobilnya. Langkahnya terhenti saat melihat Julian dan Karin menunjuk-nunjuk ke arah taman belakang. Firasatnya memburuk.
Revan mengikuti arah pandang mereka dan seketika... dunianya seolah meledak.
Ia melihat istrinya sedang berdiri berhadapan dengan Arsen, pria yang paling ia benci. Dan yang membuat darah Revan mendidih adalah saat ia mendengar celetukan Karin yang cukup keras dari atas balkon.
"Wah, Pak Julian, sepertinya kita terlambat. Ternyata pacar Valerie itu sangat posesif ya sampai datang ke kampus begini!"
Pacar?
Wajah Revan yang tadinya sudah dingin, kini berubah menjadi seputih kertas karena menahan amarah yang luar biasa. Ia meremas berkas di tangannya hingga hancur. Bukan karena ia percaya Arsen adalah pacar Valerie, tapi karena ia murka melihat berandal itu berani menyentuh tangan istrinya lagi, dan lebih murka lagi karena seluruh kampus kini melabeli pria sampah itu sebagai "pasangan" Valerie.
"Revanza, tenang... kau sedang di kampus," gumam Revan pada dirinya sendiri, meski urat lehernya terlihat menegang.
Ia melangkah dengan sangat tenang, ketenangan yang mematikan menuju ke arah Valerie dan Arsen. Dari balkon, Julian dan Karin memperhatikan dengan napas tertahan.
"Lihat! Pak Revan ke sana!" bisik Karin. "Pasti dia akan mengusir mereka karena dianggap mengganggu ketertiban kampus!"
"Lepaskan dia," suara Revan menggelegar meski tidak berteriak.
Arsen dan Valerie tersentak. Arsen seketika pucat pasi melihat "Iblis" yang dulu mengancam nyawanya kini berdiri dengan aura yang sepuluh kali lebih menyeramkan.
"Ma-Mas Revan..." cicit Valerie.
Revan tidak menatap Valerie. Ia menatap tangan Arsen yang masih memegang pergelangan tangan istrinya. "Aku memberikanmu satu detik sebelum aku membuatmu menghilang selamanya dari kota ini, Arsen."
Arsen langsung melepaskan tangan Valerie seolah tangannya terbakar. Ia mundur beberapa langkah, gemetar hebat.
Dari balkon, Julian bergumam, "Wah, Pak Revan benar-benar sangat disiplin soal moral mahasiswanya. Dia tampak lebih marah daripada jika ada mahasiswa yang mencontek."
Karin justru merasa kasihan pada Valerie. "Valerie pasti sangat malu. Sudah pacarnya ketahuan, sekarang dia malah kena semprot dosen paling galak."
Revan berdiri di depan Valerie, menghalangi pandangan Arsen (dan pandangan Julian dari atas). Ia membelakangi balkon, lalu dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terlihat dari atas, ia menggenggam tangan Valerie di balik tubuhnya sendiri, memberikan remasan peringatan yang keras namun penuh proteksi.
"Masuk ke mobilku. Sekarang," perintah Revan pada Valerie.
"Tapi Mas, kelasku..."
"Masuk. Ke. Mobil," ulang Revan dengan penekanan di setiap kata.
Valerie hanya bisa menunduk dan berjalan menuju mobil Revan. Sementara itu, Revan berbalik menatap Arsen. "Kau... ikut denganku. Kita punya urusan yang belum selesai."
Di atas balkon, Karin dan Julian saling berpandangan.
"Pak Julian... sepertinya pacar Valerie dalam masalah besar," bisik Karin. "Pak Revan sepertinya akan memberinya kuliah hukum yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup."
Julian hanya terdiam, merasa ada yang sangat ganjil. Kenapa seorang dosen seberwibawa Revan harus menunjukkan emosi yang begitu personal hanya untuk sebuah "pertengkaran sepasang kekasih" di parkiran?
Revan membawa Arsen ke sudut area parkir yang jauh dari jangkauan mata mahasiswa, sementara Valerie diminta menunggu di dalam mobil dengan pintu terkunci. Revan berdiri menjulang di depan Arsen, bayangannya menutupi tubuh pria yang tampak gemetar itu.
Wajah Revan tidak lagi memerah karena marah, melainkan kembali menjadi pucat dan dingin, seperti es yang siap menusuk. Ia melepas kacamata, menyekanya sebentar, lalu menatap Arsen dengan mata tajam yang membuat Arsen sulit bernapas.
"Aku sudah memberimu satu kesempatan untuk menghilang, Arsen," suara Revan rendah, hampir seperti bisikan, namun penuh ancaman. "Apa nyawamu punya cadangan sehingga kau berani menginjakkan kaki di sini?"
"Revan... tolong dengarkan aku dulu," Arsen terbata, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Panggilan itu terdengar gemetar, kontras dengan Revan yang berdiri tegak dengan aura otoritas yang jauh melampaui usianya. Meskipun Revan hanya beberapa tahun lebih tua, jarak kewibawaan di antara mereka terasa seperti jurang yang sangat dalam.
Revan melangkah maju satu langkah, mempersempit jarak hingga Arsen terpaksa mundur hingga punggungnya membentur batang pohon mahoni. "Jangan berbohong padaku. Katakan dengan jujur, apa yang sedang kau rencanakan dengan Adrian? Hal buruk apa lagi yang disuruh kakak pengecutnya itu padamu kali ini?"
Arsen menggeleng cepat, wajahnya menunjukkan ketakutan yang murni. "Tidak ada, Revan! Justru itu sebabnya saya di sini. Adrian... dia sudah gila. Dia sebelumnya bahkan tega merencanakan hal buruk untuk mencelakai Keluarganya sendiri, Dia mengancam saya karena saya gagal menjaganya dulu. Saya datang hanya untuk memperingatkan Valerie agar lebih berhati-hati, dan saya ingin minta maaf atas semua kesalahan saya di masa lalu sebelum saya benar-benar lari dari kota ini."
Revan menyipitkan mata, otaknya yang biasa bekerja di ruang sidang sedang menganalisis setiap gerak-gerik Arsen. "Kau ingin aku percaya bahwa kau datang ke sini sebagai pahlawan? Setelah semua yang kau lakukan padanya?"
"Aku hanya takut! Adrian punya orang-orang baru. Dia tahu Valerie masih di Jakarta. Dia tidak akan berhenti sampai Valerie kembali ke bawah kendalinya," Arsen menatap Revan dengan putus asa, menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa menandingi kegilaan Adrian hanyalah pria di depannya ini. "Aku tahu kau bisa melindunginya. Aku hanya tidak mau mati di tangan Adrian karena dianggap menyembunyikan informasi darinya."
Revan meremas kerah baju Arsen, menariknya sedikit lebih dekat hingga mata mereka sejajar. "Dengarkan aku, Arsen. Jika ini adalah trik untuk memancing Valerie keluar, aku tidak akan membiarkanmu sekadar lari. Aku sendiri yang akan memastikan kau kehilangan segalanya sebelum Adrian sempat menemukanmu."
Dari kejauhan, Julian dan Karin melihat percakapan itu berlangsung sangat serius. Revan tampak sangat mengintimidasi pria yang mereka anggap "pacar" Valerie tersebut.
"Lihat itu, Karin. Pak Revan sepertinya sedang menginterogasi pria itu," gumam Julian, tangannya masih mencengkeram pagar balkon. "Kenapa dia harus bersusah payah mengurusi pacar mahasiswinya sampai seperti itu?"
"Mungkin Pak Revan ingin pria itu tahu bahwa di kampus ini ada aturan moral yang ketat," sahut Karin, meski hatinya mulai merasa ada yang janggal. "Tapi lihat... pria itu tampak sangat takut. Seolah-olah Pak Revan adalah bos mafia, bukan seorang dosen hukum."
Julian terdiam. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dosen yang mendisiplinkan mahasiswi. Tatapan Revan pada pria itu bukan tatapan disiplin, melainkan tatapan kebencian pribadi yang sangat dalam.