Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Danish tersenyum getir. Ia pungut surut tadi, lalu mengangkatnya rendah. "Surat ini sudah menjawab semua rasa sakit hati saya terhadap putri Anda! Jadi, jangan lupa suruh Rani untuk datang!" tekanya.
Johan mengepalkan kuat tanganya. Ingin sekali ia meremat mulut Danish, merasa terhina atas sikap putrinya.
"Bagus sekali kamu, Danish... Rani yang sudah menemani kamu berjuang, lalu dengan mudahnya kamu menggantikannya dengan Wanita rendahan itu," Risma menunjuk kearah Hana kembali.
Bu Ana menyahut. Senyumnya tipis menyeringai. "Eh, eh... Hati-hati ya kalau bicara. Tidak ada putri kalian menemani Danish berjuang. Sebelum menikahi Rani, putra saya sudah cukup mampu dan sukses! Jadi, jangan sok merasa, Rani lah yang tersakiti. Siapa suruh dia pergi dari sini? Hidup enak tinggal ongkang ongkang kaki saja sok-sokan nggak betah! Emangnya, diluar dia bisa berubah jadi Karina Kapoor? Nggak 'kan?"
Hana begitu puas dengan bantahan Majikannya itu. Namun, demi harga dirinya, ia memberanikan diri mendekat, sekedar berklarifikasi. "Maaf ya, Bapak Ibu yang terhormat. Biasakan ya, sebelum menampar orang, ditanyakan dulu baik-baik. Saya ini hanyalah Ibu susu pengganti untuk cucu Anda! Jadi, hilangkan pikiran negatif Anda terhadap saya. Sudah tua, banyakin tobat, jangan suka marah-marah!"
Dada Risma sudah naik turun, matanya terbuka tajam. "Dasar wanita jalang!" Tangan itu sudah terangkat, namun Danish menahanya begitu kuat.
Setelah itu, tangan Risma ia hempaskan begitu saja. "Jangn lagi Anda menyentuh pekerja saya! Jika itu sampai terjadi, saya tidak akan segan-segan menyeret Anda ke kantor polisi!" Danish cukup tegas memperingati.
Setelah membuang napas kasar, Risma mengajak suaminya untuk segera pergi dari rumah besanya itu.
Disitulah, Bu Ana langsung mengajak Hana masuk, membiarkan Danish meredakan emosinya. Ayah Keira itu memejamkan mata dalam, meraup berat wajah tampannya. Sejujurnya, jauh hari sebelum Rani pergi dari rumah, Danish sudah tahu semuanya. Kepergian Rani bukan mutlak karena karirnya, melaikan dorongan dari pihak ke-3.
Dan hingga kini, Danish pun tahu siapa sosok pria yang sudah membawa istrinya itu.
Di dalam, Hana kini duduk di kursi ruang makan, menunggu Bik Jumi datang membawakan air hangat untuk mengompres pipi Hana.
"Hana, ini kamu yakin nggak papa?" Bu Ana begitu prihatin menatap wajah Hana yang semakin memerah.
Hana menggelengkan kepala lemah. Bibirnya tertatik pelan, senyuman bercampur rintihan menjadi satu. "Nggak papa, Bu... Saya cukup bangga dengan cara Ibu membalas. Dan, saya juga meminta maaf jika saya tadi sampai terbawa emosi," wajahnya tertunduk sekilas.
"Saya juga ikut puas dengan jawaban kamu tadi, Han! Kamu hebat banget ngejawabnya," kata Bu Ana sambil mengusap bahu pekerjanya itu.
Drttt!!!
Gawai bergetar di atas meja itu mengalihkan fokus mereka. Begitu tahu siapa yang menelfon, Bu Ana segera bangkit untuk mengangkatnya. "Hana, saya tinggal dulu ya!"
Hana mengangguk kecil. Dan tak lama itu Bik Jumi datang. Wajahnya cemas, cengkramannya pada mangkuk itu sedikit bergetar.
"Bik, Keira?"
Sambil menarik kursi, Bik Jumi berkata, "Mbak Hana yang tenang, ya... Non Keira ada di ruangan samping sama Bik Inem dan Den Lukman."
Hana cukup bernapas lega. Di tengah fokus keduanya, tiba-tiba ada suara berat dari arah samping.
Danish berdehem, dan reflek kedua wanita tadi menoleh. Bik Jumi menyingkir segan. Danish menatapnya, "Bibi dapat kembali," ucapnya lemah.
"Baik, Den!" lantas, Bik Jumi bergegas kembali kebelakang.
Dibawah lampu mewah menggantung, mendadak suasana meja makan itu mendjadi kaku. Danish bergerak, menarik kursinya, suara deritan itu menggema kuat, membuyarkan fokus Hana.
Hana cukup tersentak, melihat tangan Danish mengambil handuk, mencelupkannya pada air hangat, lalu memerasnya kuat. Danish mengangkat pandanganya, cukup beberapa detik itu Hana langsung tersadar, dan membuang muka.
"Seharusnya kamu langsung saja masuk, bukan malah menanggapinya," ucap Danish begitu dingin. Ia mulai menekan-nekankan handuk tadi pada wajah Hana.
Hana tertegun. Ia ambil alih handuk tadi. Suaranya rendah, nyaris berbisik, "Saya bisa melakukanya sendiri!"
Danish semakin mengeratkan handuk tadi. Tangan Hana juga saling tarik, hingga tatapan mereka bertemu kesekian detik.
"Biar saya saja," kukuh Hana berhasil merebut handuk tadi. Danish terdiam, lalu segera bangkit dan meninggalkanya begitu saja.
Hana tarik napasnya dalam-dalam. Ketegangan mulai mencair setelah pria tadi menghilang. Rasanya, pagi ini energinya benar-benar terkuras habis.
*
*
Pintu kamar Keira terbuka pelan dari luar.
Hana masuk mengulas seyum hangat, melihat Bik Inem sudah keluar dari kamar mandi menggendong bayi kecil itu.
"Bik...." dengan suara lembut, dan segan, Hana mendekati Bik Inem. Hana merasa tidak enak tugasnya dipundakan pada sang pelayan. "Maaf ya, jadi repoti Bik Inem deh," lanjut Hana merasa tak enak hati.
Bik Inem menoleh, wajahnya sama sekali tak masalah. Senyumnya menghangat, lalu berlirih, "Nggak papa Mbak Hana... Lagian, tadi 'kan Mbak Hana sedang terluka wajahnya."
"Ini sudah agak enakan setelah terkompres tadi, Nggak begitu kebas, Bik," kata Hana sembari ikut bergabung menggantikan baju Keira.
Bik Inem menegak, wajahnya dibaluti rasa cemas yang tak berdasar. Usia Hana sama seperti cucunya di kampung. Jadi, sebagai orang tua yang juga memiliku keluarga, Bik Inem juga merasa sakit. Ia tak dapat membayangkan, jika itu terjadi pada anak cucunya yang jauh dari jangkauan mata.
"Sejak dulu Bu Ana juga tidak terlalu setuju. Tapi, Tuan Besar marah hebat, hingga Den Danish menerima perjodohan itu. Asal Mbak Hana tahu, jika mereka dulunya tidak saling cinta. Namun, perlahan hati Den Danish luluh. Tapi... Hal itu tidak terjadi kepada Non Rani. Cinta Den Danish hanya sebelah tangan. Bibi denger-denger, Non Rani pergi dengan temanya Den Danish sendiri. Aden selalu cerita apapun sama saya, Mbak Hana. Sebab, dia tidak ingin menambah beban pikiran Ibunya." Panjang lebar itu Bik Inem menjelaskan.
Hana sedikit mencoba memahami. Apa yang terjadi pada Danish, ia sendiri juga merasakan.
"Bik, lalu... Dimana sekarang Tuan Besar? Ayahnya Pak Danish maksudnya?!" tanya Hana hati-hati.
Sambil merapikan bodycare Keira, Bik Inem menjawab begitu lirih, ikut terlempar pada sebuah luka yang terjadi waktu lalu. "Tuan ada di Jakarta. Kata Aden, Tuan itu sudah menikah lagi-"
Hana agak menyipit, "Bu Ana tahu?"
Bik Inem mengangguk pasti. Tarikan napasnya berat. Ikut merasakan sesak. "Ibu sudah tahu. Tapi ya... Mau di apain lagi, Mbak Hana... Pikir Ibu... dia sudah tua, jadi untuk saat ini, yang terpenting kebahagiaa putra putrinya. Jadi Bu Ana jauh lebih sakit. Setiap bercerita, Ibu selalu menangis. Jadi, saya juga ikut menangis, Mbak Hana," air mata Bik Inem bahkan sudah menggenang.
Hana juga ikut merasakan efeknya. Ia usap bahu sang pelayan, sedikit untuk menenangkan.