Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupuku
Dalam canda gurau perjalanan ku pejamkan mataku dalam pelukan hangat badan Josua, ku bayangkan betapa nikmatnya kehangatan itu, aku menjaga image ketika perjalanan sudah semakin dekat pada tujuan "Nanti dari gang ini kita ke belakang aja langsung masuk ke parkiran, baru jalan aja ke depan." Kata ku memberi arahan terakhir. Kami sampai, mereka para anggota sudah berkumpul lama. Lista dan Ijonk juga sudah ada datang.
"Wess Miwa sama siapa tuu," kata mereka menggoda ku dan Josua . Aku tersenyum manis Ijonk Lista diam tidak banyak ikut campur. "Kapan datang Jo," kata Ijonk menghampiri dan saling bertukar tepuk bahu.
Kami mengambil meja khusus ber-4 aku tidak melihat bang Dean, syukurlah. "Awet ya," kata Josua menunjuk pada Ijonk dan Lista. "Yee emang kau !" balas Lista kembali mengejek.
Ijonk serta Josua mengambil meja baru berkumpul dengan teman pria lainnya, "Sudah kau bisikkan sama Ijonk kalau ada yang tanya tentang Josua bilang itu sepupu ku." Bisikku pelan kepada Lista. "Sudah, aman itu." Kata Lista, "Temani aku ke toilet yuk."
Kami berdua menuju toilet, parah nya kami malah menunggu toilet sepi yang benar-benar sepi kenapa begitu? Aku pun tak tau. Itu rencana Lista, di dalam toilet Lista membuka Hodie yang ia kenakan dengan lapisan korset. "Miwa, cuman kau yang ku percaya di hidup ku. Aku hamil Mi," astaghfirullah banyak amat plot twist hidup, satu-satu napa baru juga nafas. "Perbuatan Ijonk?" tarikan nafas menjadi berat, sangat berat menerima fakta enek di depan mata, rasanya ingin marah dan menjauh tapi teman macam apa aku ini.
"Iya. Malam ini, hari terakhir aku dan Ijonk ikut komunitas Mi. Minggu depan aku mau pulang ke kampung bareng Ijonk." kata-kata Lista membuat mataku tertutup geram mengigit bibir diakhiri menarik nafas panjang. Aku sakit hati mendengar ketakutan ku dalam hubungan mereka terjadi, huuuu Lista bodoh mu terlalu fatal, gimana nanti nasib mereka kedepannya.
"Kalau itu keputusan terbaik ya jalan kan Lis, aku enggak bisa bantu banyak soal ini. Tapi apapun rencana kalian ke depannya jangan lupa kabarin aku," aku mengelus perut Lista, memberikan pelukan hangat supaya ia tidak merasa sendiri saat ini.
Kala kami kembali mulai kembali bergabung ku lihat bang Dean dan beberapa teman sudah datang, ia dan teman-teman lain nya bermain bersama, awal nya aku gabung dengan kakak-kakak komunitas, membahas perihal komunitas dan ya sekaligus Lista mengatakan pamitan nya dalam komunitas. Kami semuanya memberi perpisahan, dan ya hanya anggota komunitas yang tau kalau Lista dan Ijonk akan menikah dan artinya mereka akan menjadi X-ke anggota.
Karena beberapa cewek sudah pulang, sementara kami yang berpasangan belum menemukan titik akhir permainan ya sudah kami gabung dengan pemain kartu ini, diantara Ijonk dan bang Dean aku mendapat posisi duduk, sementara Josua tidak ada space untuk aku mendekati nya.
"Do'akan dulu aku Mi," kata Ijonk menatapku. "Biar ada ongkos mu pulang?" Ia tertawa dengan celotehan ku, bukan tawa lepas melainkan tawa paksa menutupi sesuatu.
Dalam diam memperhatikan permainan, mataku dan bang Dean sering kali bertemu. Sampai aku menguap dia juga ikutan. Bang Dean aneh, laki-laki yang sulit ditebak orang nya, bisa-bisanya dia seperti bunglon. Namun bukan perubahan yang kasar ya, tapi kek sifatnya itu tidak bisa di tebak. "Jonk, nginap dirumah aja ya.Nanti pulang sama Josua," kata ku memberi perintah.
Tangan ku merogoh jaket Josua, mengambil kunci dan membawa Lista ikut pulang bersama ku. Aku membawanya karena tau angin malam enggak bagus buat ibu hamil, terlebih aku taulah ini anak juga gampang sakit-sakitan, fisik nya aja sok di kuat-kuat in.
Berhubung enggak macet jadi cepat sampai dirumah, ku berikan baju baru untuk nya, baju yang ku beli kemarin di pakai Lista. Perutnya sudah lumayan besar yakin ku sudah memasuki 2/3 bulan lah, apalagi Lista bangsa long torso buncit dikit jadi langsung kelihatan baby pump nya.
"Josua besok pulang? " aku memainkan alis ku. Menarik selimut dan kami tidur, tidak mengunci pintu supaya Josua dan Ijonk nanti bisa masuk.
Dua tiga kali uapan membuat ku tertidur pulas begitu juga dengan Lista, hujan rintik-rintik membuat suasana semakin dingin tak tahan rasanya bila harus menunggu mereka pulang.
Dalam mimpi aku, baru teringat lupa mengambil daging pesanan itu. Astaga gimana ini batinku.Ternyata pedagang itu memberikan kepada Josua dan Ijonk, pintar sekali mereka langsung memasukkan nya kedalam kulkas, jadi aku bisa panaskan sekarang dan buat packing yang lebih baik.
Ada apa yang bisa dikelola ku jadikan serapan untuk Josua, tiupan nafas Josua tidak tega untuk melepas nya.
Lamunanku berakhir kala alarm Josua membangunkan nya, "Bangun, kamu nanti lewat tol aja ya. Bilang sama sopirnya, oh kalau enggak aku aja yang bilang nanti." Apaan sih Mi, orang baru bangun juga, nyawanya juga belum kumpul. "Iya," Josua berdoa, melipat tangannya membuat ku mengeluarkan air mata.
Ijonk ikut bangun begitu juga dengan Lista "Makan dulu yuk," ajak ku mempersilahkan mereka makan bersama, kami berdoa bersama-sama. Sebenarnya ekspresi kami sudah mulai ada ke canggung-an tapi karena obrolan ada terus jadi tidak terlihat begitu jelas. Sampai akhirnya Josua meletakkan satu kotak cincin berisi surat yang menyatakan itu mas murni.
"Miwa, mulai detik ini enggak bisa lagi kita sama ya." Kami duduk bersama menjadi pelukan penuh air mata. "Karena udah ku jemput dia berati enggak bisa aku bawa-bawa kau lagi, dapat mu lah yang lebih baik dari aku."
"Jadikan lah ini kenang-kenangan ya, anggap penebusan ku waktu kita masih sama."
Sesak banget Jo, aku enggak tau mau ngomong apa. Sampai dada ini ku pukul-pukul supaya sesaknya hilang, dalam pikiran ku selalu mengatakan apa karena orang tua Josua tau latar belakang ku, atau dimana salah ku sehingga aku ditinggalkan seperti ini. Lista mengusap-usap punggungku, Josua tetap memeluk ku dengan penuh air mata. "Lepaskan... Jangan di tahan, peluk aku sepuas mu Mi." Dia enggak lagi manggil aku dengan sebutan sayang itu, aku merasa di campakkan benar-benar baru ini rasanya di buang secara sadar.
"Sukses pekerjaan mu, dapat pengganti ku yang lebih baik lagi Mi."
Bahkan Josua juga tidak melepaskan pelukan itu dari tubuh ku padahal tangan ku bolak-balik memukul dada ini, Ijonk berusaha melepas Josua dengan menarik bahunya. Hanya tenaga kecil itu tidak bisa membuat kami berpisah.
"Kau... Kau juga sama ya, Kalau bisa jangan lupakan aku Jo, belum bisa ku bikin pengganti mu sampai saat ini," air mataku meleleh, melimpah ruah sampai ke mana-mana karena memang enggak ada tisu disini.
"Sudah-sudah, bukan air mata kesedihan yang mau ke lihat dari mu. Nanti pasti ada bahagia mu Mi, sebenarnya bisa aja aku asal pergi. Tapi ku anggap apalah hubungan yang kita rajut bersama, enggak sebentar Lo Mi. Cuma itu lah ke kalahan ku enggak bisa lebih jauh mempertahankan mu, pergi aku ya Mi."
Terakhir kalinya kami berpelukan, cincin tadi ku simpan dalam genggaman ku bersama dengan kotaknya. Aku yakin sekali ada masanya ucapan serta doa-doa Josua terjadi padaku.
Taksi Josua datang, oleh-oleh yang tadinya untuk wanita itu tinggal didalam rumah ini. Malah dia mendapatkan oplosan dari ku, maaf ya siapa pun dirimu. Jangan jadikan itu karma untuk ku
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰