NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dalam dekapan...

Sebelum ia sempat bereaksi, Andersen sudah mengunci posisinya, menindih tubuh Scarlette dengan kedua tangan yang menumpu kuat di sisi kepalanya.

Suasana ruangan yang semula sangat dingin, mendadak berubah menjadi panas yang menyesakkan. Jarak di antara mereka kini nyaris tak ada, menciptakan sebuah medan yang penuh dengan ancaman.

Scarlette terengah, dadanya naik-turun dengan cepat akibat kejutan fisik tersebut, namun matanya tetaplah sepasang permata yang tajam.

Tidak ada setitik pun ketakutan di sana, gadis itu justru menatap balik Andersen dengan tatapan menantang yang menusuk. Seolah posisi berbahaya ini hanyalah sebuah papan catur yang sedang ia pelajari.

"Salah satu saudariku mengirimkan informasi mendesak untuk memastikan identitasmu," ucap Scarlette, suaranya tetap stabil meski ia berada di bawah kungkungan Andersen.

Gadis itu menarik napas pendek, aroma tubuhnya kini bercampur dengan aroma kopi dark chocolate dari napas Andersen.

"Lagipula," lanjut Scarlette dengan senyum tipis yang meremehkan maut, "jika kau berniat membunuhku di sini... kau harus tahu risikonya.

Andersen terpaku. Niat awalnya untuk mengintimidasi gadis ini luruh seketika saat ia menyadari bahwa dialah yang sebenarnya masuk ke dalam perangkap.

Meski secara fisik ia menindih Scarlette, ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya sedang dililit oleh seekor ular tak kasat mata—dingin, licin, dan mematikan. Setiap detik yang berlalu, lilitan itu semakin erat, mencuri udara dari paru-parunya dan melumpuhkan saraf motoriknya.

"Jadi, katakan padaku..."

Suara Scarlette berubah. Nada sinis dan angkuh yang tadi ia gunakan kini berganti menjadi sebuah gema yang aneh. Suara yang seolah tidak keluar dari tenggorokannya, melainkan merambat langsung ke dalam gendang telinga Andersen, menggetarkan fondasi jiwanya yang sudah rapuh.

"Apakah kau salah satu dari kami?... Seorang pemilik kemampuan?..."

Scarlette tidak bergerak sedikit pun. Otot-otot wajahnya tenang, namun tatapannya mengunci manik mata Andersen dengan kekuatan yang absolut.

Intensitas yang dalam dunia spionase dikenal sebagai dominasi total, di mana kehendak bebas subjek dipaksa berlutut. Di bawah cahaya lampu yang berkedip pelan, mata Scarlette bukan lagi jendela jiwa, melainkan sepasang kunci perak yang sedang memutar paksa gerendel memori Andersen.

"Jawab aku sekarang... kau tidak memiliki pilihan untuk memberikan jawaban yang tidak kuinginkan," lanjutnya, suaranya jernih dan dingin layaknya pisau bedah.

"Jika memang benar kau memiliki kekuatan, apa yang sebenarnya kau lakukan di sini?..."

Andersen membuka mulutnya, namun bukan kehendaknya yang menggerakkan pita suara itu. Sesuatu yang jauh lebih dalam, sebuah rahasia yang ia kunci di palung hatinya yang paling gelap, merayap keluar dengan patuh.

"Sebuah kutukan..."

Suara Andersen terdengar hampa, seperti gema yang terpantul dari dasar sumur tua yang tak lagi memiliki air. Tak ada emosi, tak ada amarah... hanya kekosongan yang menyesakkan.

"Kemampuan yang membuatku mendapatkan kesialan dan keberuntungan dalam satu napas yang sama."

Mata Andersen tampak kosong, pupilnya melebar di bawah pengaruh kendali Scarlette. Dalam posisi fisik yang seharusnya menunjukkan dominasi, Andersen kini tak lebih dari sebuah marionette.

Sebuah boneka kayu yang talinya kini dipegang erat oleh jemari halus sang bangsawan Inggris.

"Hanya itu?" Scarlette mendengus pelan, sebuah tawa kecil yang meremehkan terselip di sudut bibirnya.

"Kukira kau memiliki sesuatu yang lebih... megah. Sesuatu yang layak untuk seorang bangsawan," ucapnya dingin. Namun, ia terhenti. Ada sesuatu yang janggal yang merambat melalui kontak kulit mereka.

"Tapi, ada aroma kegelapan yang sangat kuat darimu. Bukan sekadar sesuatu hal yang berbau kesialan, tapi aroma ini.. sudah sangat membusuk di dalam jiwa milikmu."

"Sepertinya aku harus melihat sendiri apa yang sebenarnya kau sembunyikan di balik perasaan kosong ini."

Scarlette memejamkan mata erat, membiarkan kesadarannya meluncur lebih jauh ke dalam pusaran waktu yang terukir di jiwa Andersen.

"Batas penyelidikanku adalah empat tahun dari hari ini," gumamnya dalam hati, suaranya bergema di ruang hampa jiwanya.

"Tunjukkan padaku..." bisik Scarlette di antara napasnya yang mulai mendingin.

"Hal menarik apa yang membuat jiwamu begitu pekat?.. Luka apa yang begitu dalam hingga mampu mewarnai seluruh keberadaanmu ini?.."

Namun, apa yang ia temukan bukanlah sekadar "hal menarik", melainkan sebuah penderitaan yang tak berujung.

Begitu kesadaran Scarlette menyentuh jiwa Andersen, ia hampir tersentak mundur. Jiwa pria itu tidak seperti jiwa manusia pada umumnya yang bersinar terang.

Jiwa Andersen adalah sebuah samudera yang gelap, penuh dengan luka yang masih berongga, aroma salju yang membeku, dan bau amis darah yang tak kunjung memudar.

Di dalam jiwa itu, Scarlette tidak melihat "keberuntungan", gadis itu justru melihat pengorbanan yang mengerikan.

Merasakan perihnya kehilangan Margarette dan dinginnya jasad Seila seolah-olah itu adalah ingatannya sendiri. Ia menemukan sebuah jiwa yang telah hancur dan dijahit kembali berulang kali oleh takdir yang kejam.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!