Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Langit senja masih menggantung jingga ketika Kayla menuruni anak tangga masjid. Hatinya belum sepenuhnya tenang, tetapi doa yang baru saja ia panjatkan membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang berdiri di halaman masjid.
Ashabi tampak berbeda dari enam bulan lalu. Wajah pria itu lebih tegas, sorot matanya lebih dalam, tetapi ekspresinya tetap menyimpan kebaikan yang pernah Kayla lihat saat pertama kali mereka bertemu di rumah sakit.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung. Kayla menunduk, menggenggam tali tasnya erat-erat. Jantungnya berdegup cepat, bukan karena takut, tetapi karena campuran kaget, lega, dan haru.
Ashabi melangkah maju perlahan. “Kayla ... ini beneran kamu, kan?” tanyanya dengan suara rendah, nyaris bergetar.
Kayla memakai jilbab dan itu membuat Ashabi merasa pangling.
Kayla mengangkat wajahnya. “Iya,” jawabnya dengan bibir bergetar. “A-Ashabi … aku … aku tidak menyangka bertemu kamu di sini.”
Ashabi tersenyum tipis, tetapi matanya memancarkan kelegaan yang tak bisa ia sembunyikan. “Aku sudah lama ingin mencarimu. Tapi aku tidak tahu alamat rumahmu ... dan aku juga lupa meminta nomor kontakmu waktu itu.”
Kayla menunduk lagi. Ada perasaan hangat sekaligus perih di dadanya.
Mereka berjalan pelan menyusuri trotoar dekat masjid. Angin sore berembus lembut, menggerakkan dedaunan yang berguguran.
Beberapa menit mereka berjalan dalam diam sebelum Ashabi akhirnya bersuara. “Kamu kelihatan lebih kurus sekarang,” katanya hati-hati.
Kayla tertawa getir. “Banyak yang berubah dalam enam bulan.”
Ashabi meliriknya. “Apa ada masalah?”
Kayla terdiam sejenak. Senyumnya memudar. “Aku sedang berusaha menjalani hidup lebih baik, sekarang ini.”
Nada suaranya membuat Ashabi berhenti melangkah. Ia menatap Kayla serius. “Kayla, kamu bisa cerita. Aku bukan orang asing lagi, kan, bagimu?”
Kayla menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, tetapi ia tahu ia tidak bisa terus memendam semuanya sendirian.
Mereka duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang, jauh dari keramaian jalan. Kayla menatap lurus ke depan, matanya menerawang.
“Aku dipecat dari rumah makan tempatku bekerja,” katanya pelan.
Ashabi menoleh cepat. “Dipecat? Kenapa?”
Kayla menggigit bibirnya. “Ada pelanggan yang tidak sopan. Dia ... meremas pantatku. Aku refleks menamparnya.”
Wajah Ashabi langsung mengeras. Rahangnya mengencang. “Kurang ajar!”
“Pemilik rumah makan tidak berani membelaku,” lanjut Kayla. “Dia takut dikasuskan.”
Ashabi mengepalkan tangan, tetapi ia menahan diri. “Lalu setelah itu?”
Kayla menghela napas berat. “Satu bulan aku mencari pekerjaan baru. Ke mana-mana. Dari pagi sampai sore. Tidak ada yang mau menerima aku. Mereka bilang aku hanya lulusan SMP, tidak punya pengalaman yang cukup.”
Suara Kayla mulai bergetar. “Bahkan mencuci baju atau menyetrika pun tidak ada yang butuh jasaku.”
Air mata mulai menggenang di matanya. “Sementara aku harus menghidupi keluargaku.”
Ashabi terdiam, dadanya ikut terasa sesak mendengar semua itu.
Kayla mengusap air matanya cepat. “Aku lelah, Ashabi. Sangat lelah dengan hidupku ini. Tapi aku harus memaksakan diri untuk kuat demi adik-adikku.”
Untuk pertama kalinya, Ashabi berani berbicara dengan suara penuh kelembutan. “Aku di sini sekarang. Kamu tidak sendiri.”
Kalimat itu membuat pertahanan Kayla runtuh. Ia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis pelan. Ashabi tidak menyentuhnya, hanya duduk di sampingnya dalam diam, membiarkannya mengeluarkan semua beban yang selama ini ia pendam.
Beberapa menit berlalu sebelum Kayla akhirnya tenang kembali.
Ashabi menatapnya dalam-dalam. “Kayla, boleh aku tanya sesuatu?”
Kayla mengangguk pelan.
“Aku selalu penasaran,” ujar Ashabi hati-hati. “Bagaimana kamu bisa masuk ke dunia itu? Kamu masih muda, kamu pintar berbicara, kamu cantik, kenapa kamu harus jadi PSK?”
Pertanyaan itu menusuk hati Kayla, tetapi ia tahu suatu hari ia harus menceritakannya. Ia menarik napas panjang, menatap langit senja yang perlahan berubah kemerahan.
“Dulu, hidupku sangat bahagia,” kata Kayla pelan. Nada suaranya berubah, menjadi lebih lembut, seperti sedang mengingat mimpi indah yang telah lama hilang.
“Aku lahir dari keluarga berada. Ayahku adalah pengusaha sukses. Rumah kami besar, mobil kami bagus, hidup kami nyaman. Mama selalu tersenyum, Papa selalu hangat dan penuh kasih sayang.”
Sudut bibir Kayla terangkat tipis, tetapi matanya berkaca-kaca karena mengingat keluarganya dahulu. Dia masih ingat Papa sering menggendongnya saat pulang kerja dan selalu membawakan cokelat atau boneka kecil.
Ashabi mendengarkan tanpa menyela, matanya tidak lepas dari wajah Kayla.
“Semua berubah saat aku berusia sebelas tahun,” lanjut Kayla, suaranya mulai bergetar. “Papa meninggal karena kecelakaan. Katanya rem blong, tapi ada juga yang bilang kecelakaan itu disengaja oleh orang jahat.”
Dada Ashabi terasa sesak mendengar itu.
“Sejak hari itu, hidupku dan Mama berubah total,” ujar Kayla lirih. “Perusahaan Papa tiba-tiba diakuisisi. Semua aset kami perlahan hilang. Rumah besar kami dijual, tabungan menipis, hidup kami jadi luntang-lantung.”
Air mata kembali menetes di pipi Kayla.
“Mama berusaha kuat. Dia akhirnya mendapat pekerjaan di perusahaan milik temannya. Kami pindah ke rumah yang jauh lebih kecil, tapi Mama tidak pernah mengeluh di depanku.”
Ashabi menggenggam helmnya lebih erat, ikut merasakan beratnya cerita itu.
“Namun, orang-orang mulai bergosip,” lanjut Kayla dengan nada getir. “Mereka bilang Mama memanfaatkan kecantikannya, bilang dia janda yang mencari lelaki kaya, fitnah itu menyakitinya.”
Kayla menarik napas, menahan tangis. “Akhirnya, Mama menerima lamaran Papa Amran, temannya saat kuliah. Dia lelaki baik, jujur, dan tulus mencintai Mama.”
Wajah Kayla sedikit berubah saat menyebut nama itu—ada kehangatan di sana.
“Papa Amran punya pabrik percetakan. Hidup kami kembali membaik. Aku merasa seperti mendapatkan ayah lagi.”
Ashabi mengangguk pelan, membayangkan sedikit kebahagiaan yang pernah Kayla rasakan.
“Lalu Mama hamil. Aku sangat bahagia saat tahu aku akan punya adik,” ujar Kayla dengan senyum tipis.
“Fattah dan Fattan lahir kembar. Rumah kami penuh tawa lagi. Aku merasa lengkap.”
Namun, senyum itu perlahan memudar.
“Kami hidup bahagia selama beberapa tahun. Aku tumbuh remaja dengan penuh cinta, perhatian, dan rasa aman.”
Ashabi bisa melihat betapa indah kenangan itu bagi Kayla dan betapa menyakitkan kehilangan yang datang setelahnya.
Kayla menunduk, suaranya semakin lirih. “Sampai hari kelulusanku dari SMP.”
Angin sore berembus lebih dingin, seolah ikut merasakan beratnya cerita ini.
tp apa iya ya
tahan dlu dong
aduh gimna ini
dan ahh masih bikin bgg