Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Cemburu?
Rasa manis madu itu masih tertinggal di sana mengalahkan rasa pahit kopi rumah sakit yang biasanya ia konsumsi.
Untuk pertama kalinya dokter Niko Arkana tidak sabar menunggu hari Senin tiba, bukan untuk jadwal operasi melainkan untuk melihat apakah "pasiennya" itu benar-benar mematuhi perintahnya untuk tersenyum.
Di rumah sakit koridor mungkin tetap dingin, tapi di dalam mobil itu, suhu mendadak terasa hangat bagi sang Dokter Es.
...****************...
Hari Senin tiba dengan membawa sisa-sisa kelembapan dari hujan semalam, namun matahari pagi itu bersinar dengan semangat yang nyaris berlebihan.
Bagi Alisa kembali ke sekolah setelah absen beberapa hari terasa seperti pulang ke rumah, ia begitu merindukan kebisingan yang tulus dari anak-anak, meskipun kepalanya terkadang masih sedikit sensitif terhadap suara yang terlalu tinggi.
Sesuai janjinya pada Niko, Alisa tidak mengambil jadwal mengajar di lapangan.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kelas yang berpendingin udara, membimbing anak-anak menggambar bunga dan rumah, namun rutinitas itu terusik saat jam istirahat pertama.
“Alisa! Syukurlah kamu sudah kembali, kami semua khawatir sekali saat dengar kamu pingsan di depan lobi.” sebuah suara bariton yang ceria memecah konsentrasi Alisa.
Alisa mendongak dan mendapati Satria berdiri di ambang pintu kelas.
Satria adalah guru olahraga yang selalu tampak penuh energi dengan kulit kecokelatan yang sehat dan senyum yang bisa membuat ibu-ibu murid sering salah fokus saat menjemput.
“Eh Pak Satria, iya sudah sehat kok. Terima kasih ya doanya,” jawab Alisa ramah, namun tetap menjaga jarak profesional.
Satria melangkah masuk sambil membawa sebuah botol minuman isotonik dingin yang ia letakkan di meja Alisa.
“Ini buat kamu, Dokter bilang kamu dehidrasi kan? Minuman ini punya elektrolit yang bagus, jangan nolak karena ini bentuk solidaritas sesama pejuang pendidikan.” seru pak Satria.
Alisa tertawa kecil, merasa sungkan.
“Aduh Pak Satria repot sekali, terima kasih ya.” ucap Alisa sungkan.
“Sama-sama, oh ya nanti sore ada rencana? Aku pikir karena kamu baru sembuh mungkin butuh asupan nutrisi yang enak, ada tempat sate taichan baru di ujung jalan, mau coba?” ajak pak Satria.
Alisa baru saja hendak membuka mulut untuk menolak secara halus ketika matanya menangkap sosok yang berdiri di luar jendela kelas.
Mobil sedan hitam itu sudah terparkir dan tepat di bawah pohon peneduh tidak jauh dari pintu kelas berdiri Dokter Niko Arkana.
Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya dengan tangannya bersedekap di dada, dan tatapannya... jika tatapan bisa membekukan benda, maka Pak Satria mungkin sudah menjadi patung es di dalam kelas Alisa.
Niko tidak bergerak, ia hanya berdiri di sana dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Arka yang baru saja keluar dari kelas sebelah berlari menghampiri pamannya namun Niko tetap memaku pandangannya ke dalam kelas, tepat ke arah Satria yang sedang berdiri terlalu dekat dengan meja Alisa.
“Sepertinya penjemput Arka sudah datang Pak Satria.” ucap Alisa cepat, merasa suasana mendadak menjadi sangat gerah meskipun AC menyala.
Satria menoleh ke arah jendela, lalu melambai pada Niko dengan santai yaitu tindakan yang menurut Alisa adalah sebuah keberanian yang sia-sia.
“Oh, itu pamannya Arka ya? Dokter yang itu? Galak sekali mukanya.” seru pak Satria.
Alisa tidak menjawab, ia segera merapikan tasnya dan berjalan keluar kelas diikuti Satria yang tampaknya belum mau menyerah.
“Sore Pak Niko!” sapa Alisa saat ia sampai di lobi.
Niko tidak membalas sapaan itu dengan kata-kata, ia hanya melirik jam tangannya, lalu beralih menatap botol minuman yang dipegang Alisa.
“Aku tidak tahu kamu mengganti resep teh herbal dariku dengan minuman berwarna biru yang penuh dengan pemanis buatan itu.” seru Niko dengan ketus dn begitu dingin.
Suaranya sangat datar, namun Alisa bisa merasakan ada nada ketidaksukaan yang kental di sana.
Satria yang berdiri di belakang Alisa pun ikut menimpung.
“Ah Dokter ini hanya isotonik bagus untuk memulihkan energi setelah pingsan, dan perkenalan saya Satria guru olahraga di sini.” Satria mengulurkan tangannya dengan percaya diri.
Niko menatap tangan yang terulur itu selama dua detik penuh sebelum akhirnya menyambutnya dengan jabat tangan yang sangat singkat dan sangat keras.
“Niko, spesialis Bedah.” jawabnya dengan singkat.
“Wah, bedah ya? Pasti sibuk sekali makanya Alisa sering kesepian kalau di sekolah tapi untung ada saya yang sering menemani ngobrol.” seloroh Satria tanpa dosa.
Alisa merasa ingin menghilang dari bumi saat itu juga, ia melihat rahang Niko mengeras.
“Alisa tidak punya waktu untuk ngobrol yang tidak produktif selama masa pemulihan.” sahut Niko dingin, ia kemudian beralih menatap Alisa.
“Masuk ke mobil, kita harus melakukan pemeriksaan lanjutan.” seru Niko.
Alisa tertegun.
“Pemeriksaan lanjutan? Tapi kan aku sudah sehat Niko.” ujar Alisa.
“Ini perintah medis bukan saran, Arka masuk!” Niko tidak memberi ruang untuk debat.
Satria tampak bingung.
“Lho Alisa mau dibawa ke mana? Kita kan mau makan sate?” seru Satri bingung.
Niko berhenti melangkah, ia berbalik sedikit dan menatap Satria dengan tatapan paling tajam yang pernah Alisa lihat.
“Dia sedang dalam diet ketat di bawah pengawasanku, sate yang penuh dengan lemak dan arang bukan pilihan bijak untuk pasien pasca-sinkop, kalau begitu selamat sore Pak Guru Olahraga.” seru Niko dengan nada penuh kemenangan.
Dengan gerakan yang sangat protektif Niko membukakan pintu mobil untuk Alisa.
Alisa, yang merasa tidak enak pada Satria namun juga takut pada kemarahan Niko akhirnya masuk dengan patuh.
Begitu mobil meluncur keluar dari gerbang sekolah keheningan di dalam mobil terasa sangat mencekam.
Arka yang biasanya cerewet pun tampak asyik bermain dengan mainannya di kursi belakang seolah tahu bahwa "Om Es" sedang dalam mode badai salju.
“Niko, kamu kenapa sih?” tanya Alisa akhirnya, setelah mereka menempuh jarak satu kilometer dalam diam.
“Kenapa apanya?” sahut Niko tanpa menoleh.
“Sikapmu pada Pak Satria tadi... sangat tidak sopan, dia hanya ingin berteman dan memberiku minuman.” ujar Alisa.
Niko mendengus pelan dengan tangannya mencengkeram kemudi lebih erat.
“Pria itu tidak ingin berteman Alisa, dia ingin mendekatimu dengan cara yang sangat klise dan tidak sehat secara medis, memberikan minuman tinggi gula pada orang yang baru sembuh dari kelelahan? Dia seharusnya belajar biologi lagi.” tutur Niko.
Alisa menghela napas, menyembunyikan senyumnya.
“Kamu cemburu?” tanya Alisa.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi