NovelToon NovelToon
Dinikahi Sahabat Ayah

Dinikahi Sahabat Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.

Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Balik Tabir Putih

Pagi itu, udara di sekitar kediaman Arman terasa lebih sejuk dari biasanya. Harum bunga melati yang dirangkai sedemikian rupa memenuhi ruang tamu yang telah disulap menjadi tempat akad nikah yang sakral. Tak ada kemewahan yang berlebihan, hanya dekorasi berwarna putih dan krem yang melambangkan kemurnian, persis seperti arti nama yang diberikan Donny kepada calon mempelainya dua puluh satu tahun yang lalu.

Di dalam kamar, Katya duduk mematung di depan cermin. Ia mengenakan kebaya putih panjang dengan payet yang berkilau lembut setiap kali ia bergerak. Sanggulnya tertata rapi, dihiasi ronce melati yang menjuntai di bahunya. Ia menatap bayangannya sendiri, mencoba mencari sisa-sisa gadis kecil yang dulu sering berlarian mengejar "Om Donny" hanya untuk meminta gendong. Kini, gadis itu akan menjadi istri dari pria yang sama.

"Sudah siap, Sayang?" Resti masuk ke kamar, matanya berkaca-kaca melihat putrinya.

"Ibu... Katya takut," bisik Katya sambil menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin.

"Takut kenapa? Donny pria yang baik. Ibu dan Ayah tenang melepasmu padanya karena kami tahu dia akan menjagamu lebih dari dia menjaga nyawanya sendiri," Resti membelai pipi Katya.

"Katya takut nggak bisa jadi istri yang baik buat Om Donny. Dia sudah punya segalanya, Bu. Sementara Katya... Katya masih banyak belajar."

"Cinta itu bukan soal siapa yang lebih dulu dewasa atau siapa yang lebih punya segalanya, Ya. Cinta itu soal saling melengkapi. Donny mungkin punya segalanya, tapi dia butuh hatimu untuk merasa hidup kembali."

Di ruang tengah, suasana mendadak hening. Donny telah duduk di depan meja akad. Ia mengenakan beskap putih dengan kain jarik yang serasi. Wajahnya yang biasanya tegas dan dingin, kini tampak tegang. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Baginya, memimpin perusahaan besar dengan ribuan karyawan jauh lebih mudah daripada mengucapkan beberapa kalimat ijab kabul di depan Arman.

Arman duduk di hadapan Donny, menjabat tangan sahabatnya itu dengan erat. Tatapan mereka bertemu. Ada sebuah pengertian mendalam yang melintasi waktu puluhan tahun. Dari kontrakan sempit ke meja akad ini, persahabatan mereka kini bertransformasi menjadi ikatan kekeluargaan yang tak terpisahkan.

"Saudara Donny Adiwangsa bin Surya Adiwangsa," suara Arman terdengar berat namun mantap.

"Saya, Pak," jawab Donny dengan suara yang terkontrol.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Katyamarsha binti Arman, dengan mas kawin berupa logam mulia seberat seratus gram dan seperangkat alat shalat, dibayar tunai."

Donny menarik napas panjang, menatap lurus ke mata Arman. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Katyamarsha binti Arman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Sah?"

"SAH!"

Suara saksi dan tamu undangan yang mengucapkan kata "Sah" bergema di ruangan itu, diikuti oleh doa yang dipimpin oleh penghulu. Di dalam kamar, Katya memejamkan mata, membiarkan air mata harunya jatuh. Ia kini bukan lagi sekadar keponakan atau anak sahabat. Ia adalah istri sah dari Donny Adiwangsa.

Saat Katya dituntun keluar untuk menemui suaminya, Donny berdiri dan terpaku. Ia tidak bisa berkata-kata melihat Katya yang berjalan perlahan ke arahnya. Wanita itu tampak begitu murni, begitu indah. Saat Katya mencium punggung tangan Donny, Donny membalasnya dengan kecupan lama di kening Katya—kali ini bukan lagi sebagai seorang pelindung, tapi sebagai seorang suami yang menyerahkan seluruh hidupnya.

---

Resepsi diadakan secara tertutup hanya untuk keluarga dan kerabat terdekat. Tidak ada wartawan, tidak ada kamera media yang mengganggu. Sore harinya, setelah acara selesai, tiba saatnya bagi Katya untuk meninggalkan rumah orang tuanya.

Prosesi pamitan berlangsung sangat mengharukan. Arman memeluk Donny dengan sangat lama. "Don, titip anakku. Jangan panggil aku 'Pak' lagi, panggil aku 'Ayah'. Karena sekarang, kamu adalah putraku."

Donny mengangguk, matanya memerah. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih sudah mempercayaiku."

Katya memeluk ayahnya erat-erat, seolah tidak mau lepas. "Ayah jaga kesehatan ya. Katya janji akan sering mampir."

"Pergilah, Sayang. Rumahmu sekarang adalah di mana Donny berada," bisik Arman.

Perjalanan menuju rumah besar Donny terasa sangat berbeda bagi Katya. Jika dulu ia masuk ke sana sebagai tamu, kini ia masuk sebagai nyonya rumah. Mobil mewah Donny memasuki gerbang tinggi yang otomatis terbuka, menapaki jalanan aspal di antara taman yang tertata sangat rapi.

Rumah itu megah, dengan arsitektur klasik modern yang didominasi warna putih dan abu-abu. Namun bagi Katya, rumah ini terasa terlalu luas dan sedikit sunyi.

Donny membukakan pintu untuknya. "Selamat datang di rumah kita, Katyamarsha."

Katya melangkah masuk, kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Pelayan rumah menyambut mereka dengan hormat, memanggilnya "Nyonya Donny". Panggilan itu membuat Katya merinding sekaligus canggung.

Donny menuntunnya menuju kamar utama di lantai dua. Saat pintu terbuka, Katya melihat sebuah ruangan yang sangat besar dengan jendela kaca yang menampilkan lampu-lampu kota Jakarta. Namun, pandangan Katya tertuju pada sebuah sudut di mana terdapat meja rias yang tampak sangat rapi, namun memiliki aura "masa lalu".

Ada sebuah foto kecil di sana, foto Marina, mendiang istri Donny.

Donny menyadari arah pandangan Katya. Ia segera menghampiri dan memegang pundak istrinya. "Maaf, Katya. Saya belum sempat merapikan semuanya. Jika kamu merasa tidak nyaman, besok kita akan ubah dekorasi kamar ini sepenuhnya sesuai keinginanmu."

Katya berbalik, menatap suaminya. "Om... eh, Mas..." ia mencoba membiasakan panggilan baru. "Katya tidak cemburu pada masa lalu. Marina adalah bagian dari hidup Mas yang membuat Mas menjadi pria sehebat sekarang. Tapi, Katya butuh waktu untuk merasa bahwa Katya benar-benar 'pulang' di rumah ini."

Donny tersenyum lembut, ia menarik Katya ke dalam pelukannya. "Kita punya seumur hidup untuk membuatmu merasa pulang, Sayang. Malam ini, jangan pikirkan apa pun. Kamu hanya perlu tahu bahwa di rumah seluas ini, satu-satunya tempat yang paling penting bagi saya adalah di sampingmu."

Malam itu, di bawah temaram lampu kamar pengantin yang baru, kecanggungan itu perlahan mencair. Donny memperlakukan Katya dengan sangat lembut, seolah-olah Katya adalah porselen yang bisa retak kapan saja. Ada rasa hormat yang sangat besar dalam setiap sentuhannya, sebuah bukti bahwa meskipun mereka sudah terikat dalam pernikahan, Donny tetap menjaga "kemurnian" Katya seperti nama yang ia berikan.

Namun, saat Katya mencoba memejamkan mata di pelukan Donny, ia samar-samar mendengar suara telepon dari ruang kerja Donny di sebelah kamar. Donny yang mengira Katya sudah tidur, melepaskan pelukannya perlahan dan keluar untuk mengangkat telepon itu.

Katya yang penasaran, bangkit dan mendekati pintu yang sedikit terbuka.

"Ya, Zaky? Ada apa malam-malam begini?" suara Donny terdengar serius.

"..."

"Sandra lagi? Dia belum menyerah? Apa maksudnya dia memiliki surat wasiat Marina yang asli? Itu tidak mungkin. Semua wasiat sudah disahkan di pengadilan."

"..."

"Jangan biarkan dia menghubungi Katya atau keluarganya. Saya tidak mau hari pertama pernikahan kami dirusak oleh omong kosong itu."

Donny menutup telepon dengan kasar. Katya kembali ke tempat tidur dengan cepat, berpura-pura tidur. Jantungnya berdebar kencang. Rupanya, bayang-bayang masa lalu dan dendam Sandra belum benar-benar berakhir. Di balik kemegahan rumah ini, ada rahasia yang mungkin sengaja disembunyikan Donny untuk melindunginya, namun rahasia itu justru mulai terasa seperti duri yang siap menusuk kapan saja.

1
awesome moment
sll bgitu kn?
awesome moment
g salah koq. p lg tanpa ikatan darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!