Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hey, Siapa Namamu?
...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...
Minggu lalu akhirnya aku menemukan Andrei Fidelio. Aku pergi ke Philipine bareng Braun, tempat dia membunuh bajingan itu.
Buang-buang waktu, sih, karena Braun sebenarnya enggak butuh aku di sana. Sejak itu, semuanya jadi tenang dan aku makin sering menghabiskan waktu di perusahaan balet.
Aku berharap bisa lihat balerina misterius aku, tapi enggak ada tanda-tanda dia. Aku sudah cek semua data balerina dan dia enggak ada di antara mereka.
Kayaknya dia berteman sama salah satu balerina yang membolehkan dia masuk biar dia bisa nari tanpa harus membayar. Aku tanya ke satpam, resepsionis, tapi dia enggak punya gambaran siapa yang aku maksud.
Menyebalkan.
Duduk di auditorium kosong, aku mengecek email dan menemukan dua permintaan klien. Yang satu menyusup ke perusahaan buat mencuri informasi, dan yang satu lagi melacak pembunuh.
Aku terima dua-duanya. Saat dengar gerakan di salah satu pintu samping, aku menengok dan lihat petugas kebersihan dorong troli masuk ke auditorium. Waktu vacuum cleaner juga dibawa masuk, aku memutuskan pergi sebelum suara berisik dimulai.
Aku jalan ke arah studio, berharap bisa lihat balerina misterius aku. Sumpah, lain kali kalau aku menemukan dia, aku enggak bakal pergi sebelum tahu namanya.
Saat belok ke koridor, aku enggak dengar musik apa pun dan langsung sadar kalau dia enggak ada di sini.
Aku mengeluarkan napas kecewa saat masuk ke studio yang dulu dia pakai. Aku tarik salah satu kursi di dekat tembok lalu duduk.
Aku termasuk yang terbaik soal menemukan seseorang, dan aku bakal pakai kemampuan itu buat menemukan perempuan ini. Aku cuma perlu cek apakah ada kamera CCTV di sekitar, akses rekamannya, dan menemukan salah satu yang menunjukkan dia.
Setelah itu, pengenalan wajah cepat akan langsung membawaku ke dia.
Aku memutuskan menunggu sepuluh menit lagi, berharap enggak perlu mencari dia, dan saat duduk di studio, aku dengar langkah kaki.
Waktu sudah jelas dia enggak bakal datang malam ini, aku hampir berdiri ketika perhatian aku tertarik sama gerakan tiba-tiba.
Senyum menyebar di wajahku saat akhirnya melihat balerina misterius aku muncul, tapi aku tetap diam.
Dia enggak sadar ada aku dan aku memperhatikan dia menyambung HPnya ke speaker. Saat musik dimulai, dia berdiri di depan cermin besar yang menutupi seluruh tembok.
Dia melihat bayangannya sebentar sebelum mulai bergerak.
Aku kenal lagu itu karena aku penggemar berat Hans Zimmer. Itu yang dia bikin buat Bastille. Aku memutar lagu itu terus waktu pertama rilis.
Perempuan yang berhasil menarik dan menahan perhatianku bergerak seperti angin di lapangan terbuka.
HPku mulai bergetar dan aku langsung tolak panggilannya sebelum matikan perangkatnya. Aku enggak mau ada gangguan. Aku udah menunggu lebih dari seminggu buat pertunjukan ini.
Saat irama musik makin intens, dia seperti sedang menangkap udara, wajahnya penuh emosi sampai membuat napasku terasa tertahan.
Gila, dia cantik banget.
Perasaan aneh menyerang dadaku dan aku tahu, aku ingin tahu segalanya tentang perempuan ini.
Aku ingin menghabiskan berjam-jam ngobrol sama dia.
Aku ingin menjelajahi tubuhnya pakai lidah dan tanganku.
Aku ingin tidur sama dia sampai dia kehabisan napas dan mohon-mohon sama aku.
Dia lagi di tengah putaran waktu dia melihatku, dan hampir kehilangan keseimbangan saat berhenti mendadak.
Dulu, dia tetap lanjut menari buat aku, tapi malam ini dia malah menatapku sementara dadanya naik turun karena napasnya terengah cepat.
Pelan-pelan aku berdiri. Setiap langkah yang aku ambil ke tengah ruangan tempat dia berdiri, membuat ketegangan di antara kami makin terasa.
Saat aku sudah dekat, dia mendongakkan kepala, bibirnya sedikit terbuka, dan melihatku.
Aku mengangkat tangan, dan waktu ujung jariku menyentuh lengkungan rahangnya, arus ketertarikan langsung mengalir di tubuhku.
Aku lihat hasrat yang sama seperti di dalam diriku, terpancar di mata abu-abunya, dan itu membuatku menunduk sampai bisa merasa napas hangatnya menyentuh bibirku.
"Kamu ke mana aja?" tanya aku dengan suara rendah.
"Sibuk!" gumamnya, kayak lagi kesurupan.
"Hmm ...." Aku makin dekat dan tarik napas dalam, mencium aroma alaminya. "Jadi, ini bau kamu nanti setelah aku ngewe sama kamu?"
Tawa keras yang keluar dari mulutnya jadi reaksi terakhir yang aku harapkan dari pertanyaan itu.
Dia menjauh, geleng-geleng kepala, lalu bilang, "Wow. Ahhh ... oke."
Dia jalan ke arah HPnya, mencabut sambungannya, lalu langsung ke pintu.
Aku buru-buru mengejar dan cekal lengannya menghalangi dia kabur.
Ada ekspresi kaget di wajahnya waktu dia melihatku lagi. "Aku harus pergi."
Aku enggak kasih dia apa yang dia mau. Aku tarik dia lebih dekat dan tanya, "Siapa nama kamu?"
Dia geleng kepala lagi. "Aku enggak bakal kasih tahu nama aku!"
Penolakannya membuat gairah langsung mengalir di pembuluh darahku. Sebelum sempat berpikir ulang, aku angkat tangan satunya ke tengkuknya dan langsung menempelkan bibirku ke bibirnya.
Kalau aku pikir dia akan berusaha melawan, ternyata aku salah besar.
Si cantik berambut hitam ini membangkitkan tingkat gairah dalam diri aku yang belum pernah aku dapatkan dari perempuan mana pun, dan ciumannya berubah dari enggak direncanakan jadi kotor dan lapar dalam hitungan detik.
Dia mencium seperti dia sedang menari. Enggak sempurna, dan aku enggak bisa menebak gerakan berikutnya karena dia liar sekali.
Tangannya muncul di antara kami. Satu menyusuri dadaku, yang satu lagi langsung mencekal titid aku yang keras banget lewat kain celana.
Dia meremas sampai membuatku mengeluarkan erangan, dan aku enggak bisa menahan keinginan buat menggesek ke tangannya.
Gila.
Aku sungguh menginginkan dia.
Biasanya, paling enggak aku tahu nama perempuan sebelum aku genjod, tapi sekarang aku enggak peduli sama sekali.
Saat aku menyekal pinggang di celana pendek ketatnya buat aku tarik lepas dari tubuhnya, dia malah menjauh. Sebelum aku sempat narik napas putus asa, dia langsung kabur dari studio kayak kelinci yang ketakutan.
Butuh satu detik lagi sebelum aku lari mengejarnya. Waktu aku sampai koridor, aku cuma sempat melihat dia menghilang di tikungan.
Aku lari mengejar perempuan yang sedang memainkan permainan yang pasti bakal aku menangkan, tapi saat sampai di tikungan, koridor tempat dia berlari ... sudah kosong.
Dia ke mana, setan?
Enggak mau nyerah segampang itu, aku mulai mencari dia, bahkan sampai mengecek gudang, ruang ganti, dan kamar mandi.
Saat aku sampai di auditorium, dengan rasa kecewa aku sadar dia berhasil kabur dari aku.
Untuk sekarang.
Aku bersumpah, lain kali kalau aku lihat dia, aku bakal seret dia ke salah satu kantor, kunci pintunya biar dia enggak bisa kabur.
Aku dengar suara vacuum cleaner dari auditorium. Aku berbalik dan jalan ke pintu keluar buat pulang. Aku bakal cek semua kamera CCTV dari seluruh area.
Salah satunya pasti menangkap dia, setelah itu akan mudah buat menemukan dia.
JD penasaran Endingnya