Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Zafira
Fira pulang ke kost dengan langkah goyah. Kepala nya pusing, dada nya sesak, mata nya sembab abis nangis di taman tadi. Kartu nama Angga masih dia genggam erat di tangan, cincin berlian nya masih kejebak di pikiran.
Begitu masuk kamar, Fira langsung jatuh ke kasur sambil melototin langit langit. Kamar nya berputar, atau mungkin kepalanya yang berputar, dia nggak tau lagi.
Anggara kembali, mantan yang dia tunggu berbulan-bulan akhirnya kembali. Dengan penjelasan, dengan penyesalan, dan dengan cincin berlian.
Tapi Fira nggak bisa menerimanya gitu aja, sekarang Fira sudah jatuh cinta sama orang lain. Dan ia sudah menjadi pacar dari Ditya.
Fira mengambil ponselnya, melihat wallpapernya. Foto dia sama Ditya, saat di Alun-Alun Kidul waktu itu. Mereka berdua senyum lebar, wajahnya deket banget, mata berbinar.
Aditya.
Cowok yang mengisi hari-harinya belakangan ini, yang membuat dia merasakan jatuh cinta lagi setelah Anggara.
Ponselnya Fira berbunyi, sebuah pesan masuk dari Ditya.
...📩...
Ditya: Fira, kamu udah pulang? Istirahat yang cukup ya, jangan lupa makan malam. Aku sayang sama kamu.
Fira melihat pesan itu lama, jarinya pengen banget membalasnya, tapi dia bingung. Apakah ia harus jujur dengan Anggara yang kembali? Atau Fira harus diam saja dan nggak cerita sama sekali?
Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi, namun kali ini pesan dari nomor tidak di kenal.
...📩...
Nomor tak dikenal: Fira, ini aku Anggara. Aku tau kamu udah punya pacar. Tapi aku juga nggak bisa apa-apa, aku hanya berharap kamu bisa bahagia bersama laki-laki pilihanmu.
Anggara mencoba merelakan Fira dengan laki-laki lain. Tanpa Fira tahu, sebenarnya hati Anggara merasa hancur.
Fira mengambil ponselnya lagi, lalu menelpon Rania.
...📞...
"Hallo Fira? Ada apa? Kenapa suara kamu serak banget."
^^^"Ran, aku pengen cerita, sekarang. Boleh nggak kalo aku ke tempat kamu?"^^^
"Boleh dong. Kesini aja, aku tunggu."
***
Setengah jam kemudian, Fira udah duduk di kamar Rania sambil memeluk bantal, matanya masih sembab, badannya gemetar.
Rania duduk di sebelahnya sambil mengelus punggung Fira pelan.
"Fira, ada apa sih? Kamu keliatan berantakan banget."
"Ran, Anggara kembali."
Rania langsung melotot. "APA?! Anggara? Anggara yang ninggalin kamu, satu tahun yang lalu itu?!"
Fira mengangguk sambil menangis.
"Dia kembali lagi, Ran. Tadi sore di Tugu, tiba-tiba dia muncul gitu aja di depan aku."
"Terus, dia bilang apa? Kenapa dia bisa meninggalkan kamu gitu aja?"
Fira cerita semuanya, cerita tentang ayah Anggara yang sakit keras, Anggara yang malu dan pergi ke Jakarta buat kerja keras, tentang cincin berlian yang dia bawa.
Rania mendengarkan dengan rasa nggak percaya.
"Jadi, dia kembali dengan cincin, dan mengajak kamu untuk menikah?"
"Iya Ran, dia bilang dia udah siap. Udah punya kerjaan bagus, tabungan cukup. Dia minta aku kasih kesempatan lagi."
"Dan kamu jawab apa?"
"Aku nggak bisa nerima dia, Ran. Aku bilang kalau aku udah punya pacar."
Rania menghela nafas panjang, "Fira, apa kamu masih sayang sama Anggara?"
"Aku nggak tau Ran. Dulu aku sayang banget, dan dia cinta pertama aku. Tapi sekarang, saat bertemu dengan dia, rasanya seperti biasa aja. Sekarang aku udah sayang banget sama Ditya."
Rania diem sebentar, "Fir, dengerin aku baik-baik ya. Ikuti apa kata hati kamu, kalau menurut kamu Ditya yang terbaik, ya udah. Bilang terus terang sama Anggara, kalo kamu nggak bisa nerima dia."
"Aku udah bilang sama dia, tapi dia bilang kalo suatu saat Ditya nyakitin aku. Dia bakal selalu ada sampai kapan pun."
"Ya aku sih cuma bisa berharap, kalo Ditya nggak akan pernah nyakitin kamu."
"Tapi, Ran. Sebenernya aku sama Ditya itu mempunyai trauma yang sama, tapi dengan orang yang berbeda ," ucap Fira pelan.
"Maksudnya?"
Fira menghela nafas pelan, "Iya, jadi aku sama Ditya itu punya trauma yang sama. Aku punya trauma sejak kecil, trauma dengan bentakan, cacian, bahkan sebuah pukulan. Dan itu semua aku dapatkan dari ayah aku. Sedangkan Ditya sebaliknya, dia mendapatkan itu semua dari ibunya."
Rania merasa tidak percaya dengan apa yang Fira katakan, karena selama ini Fira nggak pernah cerita tentang luka di masa lalunya itu.
"Fira, kamu serius?"
Fira nggak menjawab, ia hanya mengangguk pelan.
"Tapi, kenapa kamu nggak pernah cerita soal ini?"
"Aku nggak berani cerita sama siapa pun, Ran. Karena kalo aku cerita, aku akan merasakan rasa sakit itu lagi."
Rania langsung memeluk sahabatnya itu, dan Fira menangis di pelukan Rania.
"Sebenernya aku juga takut, Ran. Aku takut kalo kita malah sama-sama mengingatkan tentang trauma kita masing-masing."
Rania mengelus punggung Fira pelan, "Aku yakin kamu bisa bahagia sama Ditya. Dan kalian nggak akan berantem hanya karena trauma kalian sendiri."
"Makasih ya, Ran, makasih banyak karena kamu selalu ada. Dan kamu nggak pernah bosen dengerin aku cerita."
"Sama-sama sayang."
Malem itu Fira tidur di kost Rania. Tidur sambil dipeluk sahabatnya. Dan saat ini Fira sudah memilih, bahwa ia memang sudah jatuh cinta sama Ditya.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅