Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28# JALUR DARAH
Fajar di hari keberangkatan terasa berbeda. Tidak ada lagi keraguan di mata mereka. Luka-luka semalam memang masih membekas di kulit, namun tekad di dalam dada telah mengeras menjadi baja. Arlo berdiri di depan mulut batu raksasa, menatap barisan kawan-kawannya yang kini berjumlah lima belas orang. Rayden, meskipun pundaknya masih dibalut perban tebal dan wajahnya agak pucat, bersikeras untuk berjalan sendiri tanpa dibantu.
"Aku tidak mau digendong Finn lagi. Bau ketiaknya lebih mematikan daripada racun laba-laba," gerutu Rayden sambil mencoba menyesuaikan posisi tas pancinya.
"Dasar tidak tahu terima kasih! Padahal kemarin kau merengek minta disuapi!" balas Finn sambil memutar belatinya, meski tangannya tetap bersiap di dekat Rayden jika sahabatnya itu goyah.
"Cukup bercandanya," suara Arlo memotong udara pagi yang dingin. "Tujuan kita jelas. Menara Merah ada di depan mata. Kita bergerak dalam formasi serbu. Rick, Tom, kalian di sayap kanan. Zephyr, Rony, sayap kiri. Jangan biarkan apa pun memutus barisan ini. Kita berangkat!"
Perjalanan dimulai. Begitu mereka meninggalkan zona perlindungan batu, atmosfer dunia itu seolah langsung menekan mereka. Udara semakin tipis, dan bau belerang yang tajam mulai menusuk paru-paru. Mereka memasuki wilayah yang disebut The Ashen Path Jalur Abu sebuah dataran luas tanpa pohon yang dipenuhi oleh sisa-sisa kristal energi yang meledak di masa lalu.
Baru satu jam perjalanan, tanah di bawah mereka bergetar hebat.
"Semuanya, berpencar!" teriak Harry.
Dari bawah tanah abu-abu, muncul tiga ekor Vipera Silvestris berukuran raksasa. Ular-ular dengan sisik baja itu muncul dengan gerakan melingkar, mencoba mengepung rombongan di tengah dataran terbuka. Secara bersamaan, dari langit yang merah, terdengar jeritan melengking. Sekelompok Vulturus Scabios menukik tajam, memanfaatkan kekacauan di darat.
"Ini jebakan koordinasi!" teriak Dokter Luz sambil mengeluarkan pisau bedahnya yang tajam.
Pertempuran pecah dengan intensitas yang luar biasa. Adrenalin memuncak dalam hitungan detik. Rick dan Tom harus bahu-membahu menahan hantaman ekor Vipera Silvestris yang mampu menghancurkan batu. DUANG! Ekor baja itu menghantam tanah, menciptakan lubang besar tepat di samping Lily dan Cicilia.
"Mati kau, monster licin!" raung Tom sambil menghujamkan kapaknya ke celah sisik ular tersebut.
Di sisi lain, Zephyr dan Rony menari di antara maut. Zephyr melompat ke udara, memangkas Vulturus yang mencoba menyambar Naya. Gerakannya begitu cepat hingga hanya terlihat seperti bayangan perak. Naya sendiri tidak tinggal diam, ia menggunakan sisa-sisa bubuk peledak yang ia rakit bersama Harry untuk menciptakan distraksi cahaya, membutakan mata merah para monster.
Arlo berada di tengah, pedangnya beradu dengan taring tajam Vipera. Ia merasakan tekanan yang luar biasa pada lengannya. Selene berada di belakangnya, menggunakan tongkat panjangnya untuk memukul mundur setiap Silvan Striker yang tiba-tiba muncul dari balik gundukan abu, mencoba memanfaatkan celah dalam formasi mereka.
"Jangan menyerah! Terus dorong ke depan!" teriak Arlo, suaranya parau karena debu abu.
Ketegangan mencapai puncaknya saat Rayden terjepit di antara dua batu besar. Seekor Vulturus Scabios mencoba menyeretnya. Namun, Rayden yang sudah pernah merasakan maut, kali ini tidak hanya berteriak. Dengan satu tangan yang masih berfungsi baik, ia menghantamkan tutup panci besarnya tepat ke wajah monster itu dengan kekuatan penuh. TENG! Suara nyaring itu mengejutkan monster tersebut, memberi kesempatan bagi Lira untuk menusukkan belatinya ke dada makhluk itu.
"Bagus, Ray! Kau akhirnya menggunakan otakmu!" teriak Lira sambil memapah Rayden mundur ke tengah lingkaran pertahanan.
"Bukan otak, Lira! Ini insting ksatria!" balas Rayden sambil terengah-engah, meskipun darah segar mulai merembes kembali dari perbannya.
Luka-luka baru terus bermunculan. Pipi Dasha tergores dalam oleh kuku monster, dan kaki Harry mulai terpincang-pincang. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti. Perlindungan antar kawan menjadi satu-satunya hal yang menjaga mereka tetap hidup. Saat Rick terpojok, Cicilia melepaskan anak panah pelindung. Saat Zephyr hampir terkena semburan bisa ular, Arlo menahannya dengan perisai besinya.
Setelah pertempuran panjang yang menguras seluruh tenaga, mereka berhasil memukul mundur gelombang pertama predator tersebut. Bangkai-bangkai monster berserakan di atas abu putih, menciptakan pemandangan yang mengerikan.
Mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas di bawah bayang-bayang tebing hitam yang merupakan batas terakhir sebelum dataran tinggi Menara. Semua orang tampak berantakan. Pakaian mereka yang semula perak kini tertutup jelaga, darah monster, dan darah merah mereka sendiri.
"Berapa jauh lagi, Dokter?" tanya Arlo sambil mengusap darah di keningnya.
Dokter Luz menatap ke atas tebing. "Begitu kita mendaki tebing ini, kita akan melihat Gerbang Utama Menara. Tapi perjalanan ini akan menjadi yang tersulit. Kita akan terpapar sepenuhnya oleh serangan udara."
Naya mendekati Zephyr, memeriksa luka gores di lengan pemuda itu. Mereka tidak bicara, namun tatapan mata mereka saling menguatkan. Begitu juga dengan Arlo dan Selene yang berdiri bersisian, menatap puncak yang kini terasa begitu dekat namun sangat mematikan.
Lily dan Tom saling bertukar pandang, menyadari bahwa mereka tinggal beberapa langkah lagi dari jawaban atas semua penderitaan selama berbulan-bulan ini. Rony dan Dasha tetap waspada di barisan belakang, sementara Finn mencoba membalut ulang luka Rayden yang terbuka.
"Satu pendakian lagi, kawan-kawan," ucap Arlo, suaranya bergema di antara dinding tebing. "Menara itu mungkin punya ribuan monster, tapi mereka tidak punya apa yang kita miliki yaitu satu sama lain."
"Dan mereka tidak punya ksatria yang membawa peralatan masak!" tambah Rayden, mencoba mencairkan suasana meskipun suaranya gemetar menahan perih.
Tawa kecil yang singkat terdengar dari Harry dan Rick. Itu adalah tawa terakhir sebelum mereka memulai perjalanan yang berbahaya. Mereka mulai memanjat satu per satu, menggunakan tali dan tenaga sisa yang ada. Di atas sana, langit semakin memerah, dan kilatan listrik dari puncak Menara mulai menyambar-nyambar, seolah menantang lima belas jiwa yang menolak untuk mati itu.
Menara belum tercapai, namun detak jantung mereka kini berirama sama dengan langkah kaki yang menolak untuk mundur.
Btw semangat terusss min!!