Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan ke Markas
Hari Libur Sudah Berakhir.
Suasana di SMA Garuda mulai berubah. Zayden, yang biasanya terlihat nongkrong di parkiran belakang sambil merokok atau memutar-mutar kunci motor, kini lebih sering terlihat di perpustakaan atau di pojok kantin dengan buku kalkulus di tangan.
Meskipun gayanya tetap urakan, seragam tidak dimasukkan dan sepatu kets dekil tatapan matanya jauh lebih fokus.
Para siswa berbisik, "Panglima kita beneran kena sihir si Ice Girl."
Siang itu, Amy berjalan keluar kelas dengan pengawalan dua orang pria berjas hitam yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Ayahnya benar-benar mengirim pengawal. Zayden yang melihat itu tidak marah, ia justru mendekat dengan santai sambil membawa dua botol minuman dingin.
"Misi, Pak Satpam Ganteng," sapa Zayden pada pengawal Amy dengan nada konyolnya. "Saya cuma mau kasih asupan oksigen buat Tuan Putri. Nggak bawa senjata tajam kok, cuma bawa cinta yang tajam."
Salah satu pengawal hendak menghalangi, tapi Amy memberikan tatapan tajam.
"Dia teman saya. Biarkan dia bicara."
Zayden menyodorkan minuman itu ke Amy. "Amy, ntar sore sepulang sekolah, pengawal lo bisa nggak gue pinjem buat main catur di bengkel? Gue mau lo mampir bentar. Ada proyek yang mau gue tunjukin."
Amy ragu melihat ke arah pengawalnya. "Aku tidak tahu, Zayden. Papa memantau lewat GPS."
"Tenang," Zayden berbisik, "Gue udah bilang sama Dio. Dia bakal konvoi di belakang mobil lo pake motor, terus bikin pengalihan arus biar lo bisa nyasar ke bengkel gue selama tiga puluh menit. Gimana?"
Amy tersenyum kecil. Strategi Zayden selalu terdengar gila, tapi entah kenapa selalu berhasil. "Oke. Tiga puluh menit."
Sore harinya, rencana "Operasi Nyasar" berhasil. Mobil Amy terpaksa berbelok ke area bengkel karena jalan utama ditutup oleh gerombolan motor Dio yang berpura-pura sedang mogok masal.
Saat Amy turun dari mobil,kali ini diikuti pengawalnya yang bingung, ia melihat bengkel Zayden yang berbeda. Tidak ada lagi tumpukan sampah atau kaleng soda berserakan. Semuanya tertata rapi. Di dinding bengkel, ada papan tulis besar berisi desain mesin dan jadwal belajar Zayden.
"Selamat datang di masa depan kita, Amy," Zayden muncul dari kolong mobil tua dengan wajah penuh coretan oli, tapi matanya berbinar.
"Ini... kamu yang kerjakan semua?" Amy menyentuh meja kerja Zayden yang penuh dengan sketsa teknik.
"Iya. Gue mulai serius garap modifikasi mesin untuk balap resmi. Gue udah dapet kontrak kecil dari tim lokal," Zayden mengelap tangannya dengan kain kumal.
"Gue mau tunjukin ke lo, dan ke pengawal lo biar dia laporan ke bokap lo, kalau gue bukan cuma jago mukul orang. Gue jago bangun sesuatu."
Zayden menarik Amy ke pojok bengkel. Di sana ada sebuah motor tua yang sedang direstorasi, warnanya biru langit, warna favorit Amy.
"Ini bakal jadi motor pertama yang gue bangun atas nama cinta," ucap Zayden konyol tapi tulus.
"Nanti kalau kita udah kuliah, gue bakal jemput lo pake ini. Nggak ada suara knalpot berisik, mesinnya bakal halus banget kayak bisikan gue pas lagi puitis."
Amy menatap sekeliling. Di bengkel yang panas dan berbau bensin ini, ia merasa lebih aman daripada di dalam mansion nya yang sejuk. Ia melihat teman-teman Zayden, Dio, Bima, dan Hendi yang biasanya berisik, kini sibuk bekerja membantu Zayden.
Mereka semua benar-benar mencoba berubah demi mendukung bos mereka.
"Zayden," panggil Amy.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih sudah berusaha sehebat ini," Amy mendekat, mengabaikan pengawalnya yang mulai gelisah. Ia mengambil selembar tisu dan mengusap noda oli di pipi Zayden. "Aku bangga sama kamu."
Zayden mematung.
Sentuhan lembut Amy di pipinya terasa seperti sengatan listrik ribuan volt.
"Amy... jangan gitu. Nanti gue pingsan di depan anak buah gue, jatuh reputasi gue sebagai Panglima."
"Biarin aja," Amy tertawa lepas.
Tiba-tiba, Bima berteriak dari depan, "BOS! Gawat! Mobil item satu lagi dateng! Itu... itu mobil Chyntia!"
Zayden langsung mengubah posisinya, berdiri di depan Amy untuk melindunginya. "Anak itu beneran nggak ada kapoknya. Amy, lo masuk ke mobil lewat pintu belakang bengkel sekarang. Biar gue yang urus adik tiri gue yang kurang kerjaan itu."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰