NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Rahasia di Balik Uap Belerang

Napas Sekar tersengal-sengal, paru-parunya rasanya mau meledak. Dia lari nembus rimbunnya pohon teh yang makin ke arah Kawah Putih makin kelihatan aneh daunnya nggak lagi ijo segar, tapi punya gradasi warna putih perak gara-gara paparan belerang yang bercampur sisa energi The Harvester.

Di belakangnya, Aris lari sambil sesekali nengok ke belakang, tangannya yang mekanik bunyi ngiiing tanda dia lagi kerja keras nahan beban alat-alat yang dia bawa.

"Kar, tunggu! Jantungnya... Jantung Emas itu makin panas!" teriak Aris sambil nyoba nyejajarin langkahnya.

Sekar berhenti sebentar, tangannya megangin tas selempang tempat Jantung Emas itu berada. Bener kata Aris, tas itu sekarang ngeluarin uap tipis. Getarannya nggak lagi cuma deg... deg..., tapi udah kayak mesin balap yang lagi dipaksa jalan.

Dan yang bikin Sekar makin bingung, tiap kali Jantung itu berdetak, ada kilatan cahaya emas yang seirama sama ledakan-ledakan energi yang kedengaran dari arah bawah tempat pria bermasker tadi lagi "bermain" sama pasukan Pak Wijaya.

"Kita harus ke Kawah Putih sekarang, Ris. Adrian bilang itu tempat paling murni. Kalau pria bermasker itu emang 'raga' Adrian yang lain, kita butuh jawaban kenapa ada dua versi dia sekarang," kata Sekar mantap. Ketangguhan Adrian seolah-olah nular ke dia. Dia nggak lagi ngerasa takut; dia cuma pengen tahu kebenarannya.

Mereka lanjut lari, nurunin tebing terjal yang licin sampai akhirnya bau belerang yang nyengat mulai nusuk hidung. Kawah Putih Malabar biasanya adalah tempat wisata yang tenang, tapi sekarang suasananya horor banget. Uap air yang naik dari kawah nggak lagi warna putih biasa, tapi punya pendar warna biru neon dan emas yang muter-muter kayak tornado kecil.

Pas mereka sampe di pinggir kawah, Sekar dan Aris langsung ngerem mendadak.

"Waduh... kita salah alamat atau gimana nih?" gumam Aris, matanya melotot.

Di tengah-tengah kawah yang airnya sekarang warna perak kental, ada sebuah struktur bangunan yang nggak masuk akal. Bukan gedung beton, tapi anyaman cahaya yang ngebentuk semacam sarang raksasa. Dan di sekitar sarang itu, ada makhluk-makhluk yang belum pernah mereka liat sebelumnya.

Bentuk mereka nggak kayak robot Cleaners yang kaku. Makhluk-makhluk ini transparan, badannya kayak terbuat dari air raksa yang melayang-layang. Mereka punya empat tangan yang panjang dan nggak punya wajah, cuma ada satu titik cahaya di dadanya. Ada sekitar sepuluh makhluk itu yang lagi sibuk "menenun" energi dari kawah masuk ke dalem sarang cahaya di tengah.

"Alien lagi?" bisik Aris sambil nyiapin senjatanya.

"Bukan," Sekar nahan tangan Aris. Dia ngerasain getaran dari Jantung Emas yang mendadak jadi tenang begitu mereka ngelihat makhluk-makhluk itu. "Mereka nggak kerasa jahat. Aura mereka... mirip sama energi ibunya Adrian yang gua rasain di portal dulu."

Salah satu makhluk itu tiba-tiba berhenti kerja. Dia noleh ke arah Sekar dan Aris. Tanpa ada suara kaki, makhluk itu meluncur di atas air perak dan berhenti tepat di depan mereka. Jantung Emas di tas Sekar mendadak keluar sendiri, melayang di udara, dan "ngobrol" sama titik cahaya di dada makhluk itu lewat frekuensi yang bikin telinga berdenging.

"Selamat datang, Sang Pembawa Janji,"sebuah suara masuk langsung ke otak Sekar dan Aris. Suaranya lembut banget, kayak suara ribuan lonceng kecil. "Kami adalah Para Penjaga Benih. Kami dikirim oleh Arsitek (Ibu Adrian) untuk menyiapkan wadah sebelum Sang Pewaris kembali."

Sekar memberanikan diri maju satu langkah. "Para Penjaga? Berarti kalian udah di sini sejak lama?"

"Kami selalu di sini, di sela-sela frekuensi yang tidak bisa dilihat manusia. Kami menunggu sampai Jantung Emas ini kembali ke tanah Malabar. Sekarang, raga baru sedang diproses di dalam sarang itu."

Aris garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal. "Tunggu dulu, Mbah Penjaga. Kalau raga baru lagi diproses di dalem sarang itu, terus siapa yang di bawah sana lagi berantem pake masker hitam? Itu juga Adrian, kan?"

Makhluk itu diem sebentar, titik cahayanya berubah warna dari biru jadi jingga. "Yang kalian lihat di bawah adalah 'Residu'. Itu adalah amarah dan sisa-sisa kemanusiaan Adrian yang tertinggal saat dia melewati portal. Itu adalah raga tanpa jiwa, sebuah bayangan yang hanya punya satu instruksi: melindungi Malabar dengan cara apa pun. Tapi dia tidak stabil. Jika dia tidak segera disatukan dengan raga yang ada di sarang ini, dia akan meledak dan menghancurkan seluruh gunung."

Darah Sekar rasanya membeku. "Maksud kalian... Adrian kebelah jadi dua?"

"Lebih tepatnya tiga,"makhluk itu menunjuk ke puncak gunung—tempat pohon raksasa Adrian berada. "Kesadarannya ada di pohon itu. Amarahnya ada pada si pria bermasker. Dan jiwanya yang murni sedang kami tenun di sini. Tugas kalian adalah menyatukan ketiganya sebelum Pak Wijaya dan teknologi 'Pemanen'-nya menyentuh tempat ini."

Sekar narik napas panjang. Dia ngelihat ke arah sarang cahaya di tengah kawah. Dia bisa ngelihat siluet tubuh manusia di dalemnya yang pelan-pelan makin jelas. Itu raga asli Adrian, raga yang dijanjikan ibunya.

"Gimana cara nyatuinnya?" tanya Sekar. Suaranya sekarang nggak ada ragunya lagi. Dia tahu dia punya misi besar.

"Kalian harus membawa si Residu (pria bermasker) ke sini. Jantung Emas akan bertindak sebagai magnet. Dan Aris... kamu harus menghubungkan memori chip yang kamu bawa ke sistem saraf sarang ini. Kami butuh data kemanusiaan yang ada di dalam chip itu untuk 'menjahit' kembali jiwa Adrian."

"Oke, bagian gua kedengeran teknis dan berbahaya. Gua suka," Aris nyengir, meski tangannya sebenernya gemeteran pas ngelihat makhluk transparan itu.

Tapi pas mereka baru mau mulai bergerak, sebuah getaran hebat ngeguncang Kawah Putih. Suara helikopter dan mesin berat kedengeran makin deket. Dari atas tebing, Pak Wijaya muncul bareng pasukan elitnya. Kali ini mereka nggak sendirian. Mereka bawa alat berat yang bentuknya kayak bor raksasa dengan ujung laser perak.

"Ternyata di sini kalian sembunyi," suara Pak Wijaya menggema pake pengeras suara. "Indah sekali. Sebuah pabrik raga ilegal di tengah kawah belerang. Dirgantara Group akan sangat senang mematenkan teknologi ini."

Pak Wijaya turun dari helikopter dengan gaya sombongnya. Dia natap makhluk-makhluk transparan itu dengan tatapan serakah. "Singkirkan makhluk-makhluk air raksa itu. Ambil sarangnya. Saya mau raga itu utuh!"

Pasukan Pak Wijaya mulai nembakin gas netralisir energi. Makhluk-makhluk Penjaga mulai memudar, mereka nggak punya kemampuan buat bertarung fisik. Mereka cuma pelayan energi, bukan prajurit.

"Woi! Jangan sentuh sarang itu!" teriak Aris sambil nembakin senapan lasernya. Tapi pasukannya Pak Wijaya terlalu banyak. Mereka pake perisai anti-energi yang bikin serangan Aris mental semua.

Sekar ngelihat Jantung Emas yang masih melayang. Dia tahu dia harus ngelakuin sesuatu. Dia inget omongan Adrian: "Gua adalah The Shark". Dan sekarang, Sekar harus jadi "The Shark" buat Adrian.

Dia lari ke arah Jantung Emas, dia tangkep jantung itu pake kedua tangannya. Rasa panasnya bener-bener luar biasa, kayak megang bara api, tapi Sekar nggak ngelepasin. Dia konsentrasi, manggil semua memori cintanya buat Adrian, semua harapannya buat Malabar.

"Adrian! Kalau lu bisa denger gua dari pohon itu... atau dari raga bermasker itu... GUA BUTUH LU SEKARANG!" teriak Sekar sekenceng-kencengnya.

Tiba-tiba, Jantung Emas itu ngeluarin gelombang kejut yang bikin semua orang di kawah terpental. Cahaya emasnya ngebentuk pilar yang nembus langit, nyambung langsung ke puncak gunung tempat pohon raksasa itu berada.

Di atas sana, Pohon Akar Adrian mulai bergetar. Akar-akarnya yang tadinya diem mulai bergerak liar, ngehancurin tanah dan batu. Dalam hitungan detik, pohon itu berubah lagi jadi wujud raksasa setinggi sepuluh meter. Dia nggak lagi duduk bermeditasi. Dia berdiri tegak, matanya nyala merah membara karena marah.

Raksasa itu loncat dari puncak gunung, melayang di udara, dan mendarat di tengah kawah dengan dentuman yang bikin helikopter Pak Wijaya hampir jatuh.

"SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU RUMAHKU?!"suara raksasa itu menggelegar, bikin pasukan Pak Wijaya ciut nyalinya.

Tapi di saat yang sama, dari arah semak-semak tebing, si pria bermasker (Residu) juga muncul. Dia lari dengan kecepatan cahaya, berdiri di sisi lain kawah. Badannya ngeluarin uap hitam yang pekat. Dia nggak ngomong, tapi auranya bener-bener haus darah.

Sekarang ada tiga Adrian di Kawah Putih Raksasa Akar yang penuh kekuatan, Si Pria Bermasker yang penuh amarah, dan Si Raga Murni yang masih belum bangun di dalem sarang cahaya.

Pak Wijaya bukannya takut, malah ketawa gila. "Bagus! Semuanya ngumpul di sini! Ini bakal jadi panen terbesar dalam sejarah manusia!"

Dia neken sebuah tombol di remotnya, dan tiba-tiba dari bor raksasa yang dia bawa, keluar sebuah jaring energi perak yang sangat luas. Jaring itu nggak cuma nyasar ke raksasa Adrian, tapi juga ke sarang cahaya dan si pria bermasker.

"Ini adalah jaring Neural-Link," kata Pak Wijaya. "Begitu kalian semua kejaring, saya bakal nyatuin kesadaran kalian secara paksa ke dalem server saya. Saya nggak butuh Adrian yang mandiri. Saya butuh Adrian yang jadi pelayan saya buat ngendaliin The Harvester!"

Jaring itu mulai nutup. Raksasa Adrian nyoba nahan pake tangan akarnya, tapi jaring itu ngebakar setiap sel organiknya. Si pria bermasker nyoba nembus, tapi dia malah kesiksa sama frekuensi yang dikeluarin jaring itu.

"Aris! Chip-nya!" teriak Sekar.

Aris lari ke arah konsol sarang cahaya di tengah kawah, ngelewati hujan peluru dari anak buah Pak Wijaya. "Gua lagi usaha, Kar! Tapi sistemnya minta sandi biometrik! Gua nggak punya sidik jari Adrian yang asli!"

Sekar ngelihat tangannya yang melepuh karena megang Jantung Emas. Dia ngelihat ke arah raga murni di dalem sarang. Dia tahu apa yang harus dia lakuin.

Dia lari nembus jaring energi yang lagi nutup, nggak peduli badannya kesetrum hebat. Dia nyampe ke depan sarang cahaya, terus dia tempelin telapak tangannya yang penuh darah ke kaca sarang itu.

"Sandi biometriknya bukan sidik jari, Ris..." bisik Sekar sambil nahan sakit. "Sandi biometriknya adalah... darah orang yang dia cintai."

Seketika, sarang cahaya itu berubah warna jadi emas murni. Seluruh kawah bergetar hebat. Jaringan energi perak Pak Wijaya mulai retak. Raga murni di dalem sarang ngebuka matanya.

Tapi yang keluar dari sarang itu bukan cuma cahaya.

Tiba-tiba, dari dalem air perak kawah, muncul ribuan tangan-tangan hitam yang kecil-kecil sama kayak yang dulu nyerang Adrian di simulasi Jakarta. Tapi kali ini, tangan-tangan itu nggak nyerang Sekar atau Adrian.

Tangan-tangan itu narik kaki Pak Wijaya dan anak buahnya ke dalem air kawah.

"Apa ini?! Apa yang terjadi?!" Pak Wijaya panik, nyoba nembak-nembak ke arah air, tapi pelurunya nggak guna.

"Kalian lupa,"suara Adrian terdengar, tapi kali ini suaranya berasal dari mana-mana. Dari raksasa, dari pria bermasker, dan dari raga murni. "Malabar bukan cuma tempat tinggal gua. Malabar adalah diri gua. Dan di tanah ini... gua adalah hukumnya."

Cahaya emas meledak dari tengah kawah, nyapu semua pasukan Pak Wijaya sampai bersih. Tapi ledakan itu juga bikin Sekar terpental jauh sampai dia pingsan.

Pas Sekar ngebuka mata lagi, suasana udah tenang. Kawah Putih balik lagi jadi sepi. Makhluk-makhluk Penjaga udah ilang. Aris lagi duduk di pinggir kawah sambil ngos-ngosan, megangin tangannya yang patah.

Di depan Sekar, berdiri seorang pria.

Dia nggak pake zirah akar. Dia nggak pake masker. Dia cuma pake kaos putih polos yang udah kotor sama celana jeans sobek-sobek. Wajahnya bener-bener wajah Adrian yang dulu tapi matanya punya kedalaman yang nggak masuk akal.

"Adrian?" tanya Sekar pelan.

Pria itu senyum, terus ngulurin tangannya buat bantu Sekar berdiri. "Gua balik, Kar. Maaf ya nunggunya kelamaan."

Sekar meluk Adrian kenceng banget. Rasanya nyata. Detak jantungnya nyata. Kehangatannya nyata.

Tapi pas Sekar ngelepas pelukannya, dia baru sadar ada yang aneh.

Adrian nggak punya bayangan.

Dan pas Sekar ngelihat ke arah air kawah yang udah jernih lagi, dia liat pantulan Adrian di air... tapi pantulannya bukan manusia. Di air, pantulan Adrian adalah sosok makhluk perak dengan sayap besar yang lagi natap Sekar dengan sedih.

"Adrian... lu sebenernya apa sekarang?" bisik Sekar ketakutan.

Adrian nggak jawab. Dia cuma ngelihat ke arah langit, di mana sebuah titik cahaya merah yang sangat kecil mulai muncul lagi, makin lama makin gede.

"Pak Wijaya cuma pion, Kar," kata Adrian dengan suara dingin. "Dia baru aja manggil sesuatu yang jauh lebih gede dari The Harvester. Dia manggil 'The Architect' yang asli. Dan gua... gua harus jadi sesuatu yang bukan manusia buat ngelawan dia."

Jika raga yang sekarang memeluk Sekar bukanlah manusia sepenuhnya, melainkan entitas yang melampaui logika, mampukah Sekar tetap mencintainya? Siapakah "The Architect" yang sebenarnya, dan mengapa kedatangannya membuat Adrian harus merelakan sisi kemanusiaannya sekali lagi?

Di saat titik merah di langit mulai menutupi matahari, keputusan gila apa yang harus diambil Aris dan Sekar untuk mencegah Adrian berubah menjadi monster yang sama dengan yang mereka lawan?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!