Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Konglomerat
Dua tahun setelah kejatuhan Rizky, Odelyn Global Corp telah mendominasi pasar teknologi finansial di Asia Tenggara. Kita pindah dari kantor lama ke sebuah penthouse office di pusat finansial Singapura.
Gavin? Dia adalah CEO operasional gue. Dia bekerja 18 jam sehari hanya untuk memastikan laporan bulanan yang dia serahkan ke meja gue sempurna. Dia melakukan segalanya—menjemput gue, memastikan kopi gue tetap hangat, sampai menghadapi klien-klien sulit—hanya untuk mendapatkan satu pujian singkat dari gue.
Tapi gue tetap dingin. Hubungan kami murni profesional dengan sentuhan "bucin sepihak" dari Gavin. Gue nggak pernah bilang "I love you" atau janjiin hubungan serius. Gue cuma kasih dia hak untuk tetap berada di samping gue.
"Lyn, ini draf ekspansi ke pasar Eropa sudah siap. Gue udah revisi tiga kali sesuai kemauan lo," ucap Gavin sambil berdiri di depan meja gue dengan sikap hormat. Matanya selalu menatap gue dengan pemujaan yang nggak pernah luntur.
"Taruh situ," jawab gue tanpa menatapnya, mata gue tetap fokus ke layar monitor. "Kalau ada satu angka yang salah, lo tahu konsekuensinya, kan, Vin?"
"Gue tahu," Gavin tersenyum tipis—senyum yang penuh ketulusan meski gue cuekin. "Gue bakal benerin sampai lo puas."
Malam itu, gue menghadiri Gala Dinner pengusaha muda se-Asia di Marina Bay Sands. Gue tampil memukau dengan emerald silk dress yang menunjukkan aura otoritas gue. Gavin, seperti biasa, berdiri satu langkah di belakang gue sebagai pendamping sekaligus asisten setia.
Tiba-tiba, perhatian semua orang teralih ke pintu masuk. Seorang pria dengan tinggi hampir 190 cm masuk. Dia mengenakan jas custom-made berwarna abu-abu gelap. Wajahnya blasteran sempurna—rahang tegas khas Eropa, tapi dengan sorot mata cokelat dalam yang sangat Indonesia.
"Itu Hediva" bisik salah satu pengusaha di dekat gue. "Pewaris tunggal Vandermere Group dari London. Kabarnya dia ke sini buat cari partner strategis untuk proyek satelit mereka."
Hediva berjalan membelah kerumunan, dan secara mengejutkan, langkahnya berhenti tepat di depan gue. Dia mengabaikan semua orang penting di sana, hanya untuk menyapa gue.
"Ms. Odelyn, saya rasa?" suaranya berat, dengan aksen Inggris yang sangat kental dan seksi. Dia mengulurkan tangan, lalu mengecup punggung tangan gue dengan sopan—gaya gentleman Eropa yang nggak dimiliki Gavin.
"Gue Hediva. Gue udah baca semua jurnal riset lo di NUS. Impressive adalah kata yang terlalu kecil buat menggambarkan kecerdasan lo."
Gavin yang berdiri di belakang gue langsung menegang. Gue bisa merasakan aura kompetisi yang membakar dari tubuhnya. Tangannya mengepal di samping jasnya.
"Gavin, ini partner operasional saya," ucap gue memperkenalkan Gavin dengan nada datar.
Hediva melirik Gavin sekilas—hanya satu detik—lalu kembali fokus ke gue dengan senyum menantang. "Partner? Sayang sekali. Cewek se-jenius lo harusnya nggak cuma didampingi oleh seorang 'pelaksana'. Lo butuh seseorang yang bisa mengimbangi pikiran lo di level global, Odelyn."
Gavin maju selangkah, suaranya terdengar berusaha tetap tenang meski emosi. "Ms. Odelyn sudah punya tim terbaik yang dia butuhkan, Mr. Hediva. Dan tugas gue adalah memastikan nggak ada 'gangguan' luar yang buang-buang waktunya."
Hediva tertawa kecil, suara tawanya sangat elegan. "Galak juga asisten lo, Lyn. Tapi gue nggak bicara sama dia. Gue bicara sama lo." Hediva mencondongkan tubuhnya ke arah gue. "Gimana kalau kita bahas proyek satelit ini besok pagi? Cuma berdua. Di kapal pesiar gue. No business drama, just vision."
Malam setelah gala dinner, Gavin mondar-mandir di ruang kerja gue di apartemen. Dia nggak bisa tenang. Tangannya sibuk mengetik di laptop, mencoba menembus barikade informasi soal saingannya.
"Lyn, si Hediva ini... datanya hampir nggak ada di publik," lapor Gavin dengan suara frustrasi. "Keluarga Vandermere itu tertutup banget. Mereka punya kepemilikan saham di hampir semua bank sentral Eropa, tapi nggak pernah masuk daftar Forbes. Mereka invisible."
Gue menyesap teh chamomile gue dengan tenang. "Emang. Mereka itu old money sesungguhnya, Vin. Hediva itu pewaris tunggal yang sengaja disembunyiin buat jaga keamanan. Dia pinter, licin, dan punya koneksi yang nggak bisa lo beli pakai uang G-Corp dulu."
Gavin menatap gue, matanya penuh kecemasan. "Dan lo tetep mau pergi besok? Cuma berdua sama dia di kapal pesiar?"
"Ini soal bisnis satelit, Vin. Jangan norak," jawab gue dingin. "Tapi kalau lo mau ikut, lo tunggu di dermaga. Lo nggak punya akses ke kapal itu."
Gue bisa liat rahang Gavin mengeras. Dia ngerasa rendah diri, tapi cemburunya makin jadi. Dia tahu dia kalah kelas, tapi dia nggak bakal lepasin gue gitu aja.
Besoknya, gue sampai di dermaga pribadi. Kapal pesiar Hediva—The Silver Valkyrie—bersandar dengan megah. Hediva sudah menunggu di dek, mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya dibuka, sangat effortless chic.
Begitu gue naik, Hediva langsung menyambut gue. Tapi suasana berubah aneh. Di dek utama, sudah ada sepasang kakek-nenek elegan berwajah aristokrat Eropa dan seorang pengacara tua.
"Hediva! Jadi ini wanita yang bikin kamu akhirnya mau pulang ke London?" seru si wanita tua—Grandmother Vandermere—dalam bahasa Inggris yang kental.
Gue tertegun. Hediva berbisik pelan di telinga gue, "Sori, Lyn. Keluarga gue lagi krisis pewaris. Mereka maksa gue nikah supaya aset nggak jatuh ke tangan paman gue yang korup. Mereka ngira gue bawa partner bisnis itu artinya gue bawa calon istri."
Sebelum gue sempet protes, si Nenek sudah memeluk gue. "Cantik sekali. Cerdas lagi. Kamu tahu, keluarga kami butuh genetik seperti kamu buat memperbaiki garis keturunan Vandermere yang membosankan."
Hediva cuma senyum canggung ke arah gue, tapi ada binar "senang" di matanya. Dia kayaknya sengaja nggak meluruskan salah paham ini karena dia emang tertarik sama lo.
Gavin, yang ternyata nekat menyewa speedboat kecil buat nguntit dari jarak jauh, melihat interaksi itu pakai teropong. Dari jauh, pelukan si Nenek dan sikap manis Hediva ke gue kelihatan kayak acara lamaran.
Gavin langsung panas. Dia memerintahkan pengemudi speedboat-nya buat mepet ke kapal pesiar. Begitu cukup dekat, Gavin berdiri di ujung speedboat.
"Odelyn! Jangan dengerin dia! Itu jebakan!" teriak Gavin, suaranya kalah sama suara ombak tapi cukup buat bikin semua orang di dek menoleh.
Hediva berdiri di pinggir dek, menatap Gavin di bawah sana dengan tatapan meremehkan. "Mr. CEO, lo mau mampir buat minum teh? Atau cuma mau pamer speedboat sewaan yang berisik itu?"
"Gue tahu lo mau manfaatin Odelyn buat status keluarga lo, Hediva!" teriak Gavin lagi. Kali ini dia nggak pakai urat, tapi dia pakai argumen. "Gue udah pelajari struktur hukum Vandermere Group semalem. Lo butuh istri buat klaim hak waris minggu depan, kan? Jangan jadiin Odelyn alat!"
Gue berdiri di samping Hediva, menatap Gavin di bawah sana. Ironis banget. Gavin yang dulu jadiin gue alat buat pamer di kampus, sekarang teriak-teriak nyelamatin gue supaya nggak jadi alat buat cowok lain.
Keluarga Hediva malah makin antusias. "Wah, ada saingannya juga? Berarti wanita ini emang sangat berharga. Hediva, cepat berikan dia cincinnya sebelum pria di bawah itu naik ke sini!"
Grandmother Vandermere sudah siap memberikan pelukan hangat lagi, tapi gue mengangkat tangan sedikit—sebuah isyarat stop yang sangat halus tapi tak terbantahkan.
"Maaf, Mrs. Vandermere," ucap gue dengan bahasa Inggris yang sangat formal dan tenang. "Saya menghargai keramahan keluarga Anda. Tapi saya ke sini atas undangan Hediva untuk membahas ekspansi satelit dan restrukturisasi aset, bukan untuk membahas masalah suksesi keluarga. Saya rasa ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan secara internal."
Si Nenek tertegun. Hediva justru tersenyum lebar. Dia nggak marah, dia malah makin terpesona karena lo berani menolak keluarganya secara elegan.
"Lihat, Grandma? Saya bilang kan, dia beda," Hediva menoleh ke arah pengawalnya. "Bantu pria di speedboat itu naik. Dia kelihatan sangat butuh oksigen... atau penjelasan."
Gavin akhirnya naik ke dek dengan napas memburu. Penampilannya agak berantakan kena angin laut, sangat kontras dengan Hediva yang klimis. Begitu kakinya menginjak dek, dia langsung berdiri di samping gue, protektif.
"Lyn, lo nggak apa-apa kan? Mereka nggak maksa lo tanda tangan apa-apa kan?" bisik Gavin panik.
Gue menatap Gavin datar, lalu beralih ke Hediva. Gue sengaja berdiri di tengah-tengah mereka, menciptakan jarak otoritas.
"Gavin, tenang. Dan Hediva, terima kasih sudah mengizinkan dia naik," suara gue jernih. "Mari kita luruskan satu hal. Pertemuan ini adalah murni bisnis. Hediva butuh otak gue buat menyelamatkan aset keluarganya dari pamannya, dan gue butuh infrastruktur Vandermere buat proyek global gue."
Gue menatap Gavin tajam. "Gavin, gue setuju ketemu Hediva karena ini langkah strategis. Gue nggak butuh 'pahlawan' buat urusan yang bisa gue selesaikan dengan kontrak. Lo di sini sebagai partner operasional, jadi bersikaplah profesional."
Lalu gue beralih ke Hediva. "Dan Hediva, soal 'salah paham' keluarga lo... gue hold dulu. Gue nggak suka buru-buru, apalagi kalau cuma dijadiin syarat waris. Buktikan dulu kalau kerja sama bisnis kita menguntungkan buat perusahaan gue, baru kita bahas hal lain. Itu pun kalau gue berminat."
Hediva tertawa pelan, lalu membungkuk sedikit, menghormat. "Sangat adil. Business first, then pleasure. Silakan duduk, Mr. CEO Gavin. Mari kita lihat seberapa 'operasional' Anda dalam membantu Ms. Odelyn membahas angka-angka ini."
Kami bertiga duduk di lounge terbuka. Di atas meja ada dokumen bernilai miliaran Euro.
Gavin mencoba menunjukkan taringnya. Dia mulai membedah celah hukum di kontrak Hediva dengan sangat detail—dia ingin membuktikan ke gue kalau dia masih "berguna". Sementara itu, Hediva menanggapi dengan sangat santai, sesekali melempar candaan cerdas yang cuma bisa dimengerti oleh orang yang selevel intelektualnya dengan gue.
"Gavin, poin itu sudah gue tutup di halaman 14," potong gue saat Gavin mencoba mendebat Hediva soal bunga pinjaman. "Lo terlalu fokus di pertahanan, kita butuh agresi di sini."
Gavin terdiam. Dia ngerasa terpukul karena di depan Hediva, gue secara nggak langsung bilang kalau cara berpikirnya masih "ketinggalan".
Tiba-tiba, Hediva bersandar di kursinya dan menatap gue dalam. "Lyn, lo tahu nggak? Paman gue bakal kirim orang buat nyari tahu siapa 'calon istri' gue ini. Begitu mereka tahu lo adalah otak di balik penyelamatan aset gue, lo bakal jadi target mereka. Gavin... apakah lo siap jagain dia dari orang-orang yang jauh lebih berbahaya dari Rizky?"
Gavin menatap Hediva, lalu menatap gue. "Gue udah kehilangan segalanya buat dia, Hediva. Nyawa gue pun bakal gue kasih kalau itu perlu."
Gue cuma menyesap kopi, nggak tergerak sedikit pun. "Nyawa nggak akan cukup buat lawan Vandermere, Vin. Kita butuh rencana yang lebih rapi."